23 April 2009

SenCity, Bikin Tunarungu Mendengar Musik

Apa yang terlintas dalam benak ketika membaca “SenCity?”

Sensitivitas? Kota? Kelompok musik?

Atau sejenis komedi situasi Seinfeld yang dibintangi Jerry Seinfeld?

Hal-hal itu juga terlintas dalam benak saya sepintas. Bayangan yang muncul sebelum dua orang teman saya menjelaskan maksud kata tersebut.

Kedua teman saya itu sekarang tinggal di Finlandia. Salah seorang di antaranya pernah bertandang ke Indonesia, saat saya berbincang sebentar dengannya di sebuah tanah lapang beberapa tahun lalu.

Mereka saat ini sedang bersiap untuk menggelar SenCity buat yang kedua kalinya diadakan di Finlandia pada sebuah klub malam di kota bernama Jyväskylä, 25 April 2009. SenCity rupanya adalah sebuah aktivitas seni pertunjukan yang melibatkan orang-orang dengan gangguan pendengaran, tunarungu, dan orang-orang dengan pendengaran normal dalam satu ruangan yang sama.

Biasanya SenCity digelar di sebuah klub malam atau diskotik. Kehadiran disc jockey mumpuni yang tidak sekedar paham bagaimana teknik menyajikan irama leng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng sangat dibutuhkan.

Sebuah pertunjukan ketika emosi dan gairah musik dikonversikan ke sejumlah indera perasa. Semakin banyak indera perasa bisa menangkap gairah dan emosi musik tadi, sebanyak itu pula usaha dilakukan.

Karena prinsipnya adalah menghilangkan kemustahilan.

Melodi musik, mungkin saja tak diterima oleh orang tunarungu. Namun, emosi dan gairah yang tersebar dari musik pasti bisa ditangkap.

Untuk melakukan ini frekuensi sejumlah alat musik, seperti instrumen bass ditangkap dan diterjemahkan menjadi getaran di lantai. Bersamaan dengan itu, sejumlah grafis, video, penari-penari yang pakai bahasa isyarat, efek lampu, dan tak lupa berbagai aroma yang bisa terbaui jadi penanda tersebar luas di udara bebas.

Idenya adalah buat menyatukan orang-orang dengan pendengaran normal dan tunarungu dalam satu kegiatan yang menjiwa. Tujuannya supaya kedua kelompok bisa membentuk senyawa.

Saling memahami, dan bekerja sama buat mewujudkan karya-karya luar biasa yang menembus batas-batas bagi manusia. Tembok-tembok yang sejatinya tidak ada.

Karena prinsipnya adalah menghilangkan kemustahilan.

Inilah SenCity.

Salah seorang teman saya yang sempat berkunjung ke Indonesia tadi, hari-hari belakangan ini jadi makin sibuk. Ia jadi semacam ketupel (ketua panitia pelaksana..hehe) SenCity Finland 2009 yang sedianya digelar di sebuah klub malam bernama Night.

Sedangkan teman saya yang satunya lagi, belum pernah saya berjumpa dengannya, bertanggung jawab buat urusan teknis. Posisinya mungkin bisa dipadankan dengan seksi akomodasi dan konsumsi serupa susunan kepanitian Peringatan HUT Kemerdekaan di Indonesia.

Beberapa pesan masuk dari teman-teman saya itu ke dalam kotak surat elektronik yang isinya mengingatkan soal acara tersebut. Mereka seperti ingin menggalang sebanyak mungkin hadirin dan hadirot untuk berpartisipasi.

SenCity yang kedua kalinya digelar di Finlandia itu merupakan bagian dari program yang digagas Skyway Foundation. Yayasan ini adalah bentuk lanjut dari sebuah kelompok yang menyelenggarakan acara bernama Deaf Valley dengan konsep serupa SenCity saat ini di sebuah klub bernama Nighttown di Rotterdam, Belanda, Maret 2003.

Selain Belanda dan Finlandia (yang akan jadi tuan rumah untuk kali kedua), Spanyol, Belgia, Amerika Serikat, Cile, Jamaika, dan Afrika Selatan pernah juga menggelar SenCity.

SenCity yang berada di bawah ‘asuhan’ Skyway Foundation yang dipimpin seorang muda bernama Ronald Ligtenberg, adalah salah satu proyek di antara sekian banyak program lain. Program atau proyek buat mensenyawakan kaum difabel atau yang oleh sebagian orang dianggap cacat, dengan orang-orang kebanyakan yang selama ini dipersepsikan sebagai normal.

Selain SenCity, ada pula proyek bernama SENS11. Ini adalah pertunjukan musik yang diperuntukkan bagi penderita gangguan mental dan mereka yang tidak.

Pada proyek ini, setiap indera diberi semacam penanda. Metode ini memungkinkan setiap orang bisa mendapatkan pengalaman dan perasaan dari musik melalui emosi dalam musik yang diterjemahkan menjadi tanda-tanda tadi.

Lalu ada juga proyek bernama Seeing the Unseen. Ini merupakan teknik fotografi yang dilakukan oleh orang-orang tunanetra.

Mustahil? Tidak.

Karena prinsipnya adalah menghilangkan kemustahilan.

Sampai tulisan ini dibuat, saya belum pernah menikmati pertunjukan di diskotik manapun. Seorang teman saya di masa SMA dulu pernah membawa saya ke sebuah diskotik ternama di Jakarta pada suatu ketika. Namun oleh penjaganya saya diminta keluar karena waktu itu saya hanya pakai sandal jepit.

Tetapi, setelah memahami penjelasan dua teman saya tadi, rasanya ingin juga menikmati pertunjukan di dalam sebuah klub malam atau diskotik. Tentu dengan kehadiran disc jockey mumpuni yang tidak sekedar paham bagaimana teknik menyajikan irama leng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng-geleng saja.

Saya kepingin sekali merasakan emosi SenCity!

05 November 2008

Majapahit Pahit

Laju skuter bongsor dengan sistem transmisi otomatis Continously Variable Transmission yang saya kendarai mulai ajrut-ajrutan. Skuter keluaran terbaru buah pinjaman dari seorang rekan yang saya kendarai di siang bolong itu sedang melintasi areal luas tanah gersang.

Areal tanah berdebu yang kontur medannya sungguh menantang.

Sebuah wilayah di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur yang dijadikan industri pembuatan batu bata rakyat. Jalan setapak yang dibelah skuter pinjaman itu serupa yang biasa ditemukan di areal persawahan dan dibuat sebagai penanda setiap pematang sawah.

Bedanya di areal luas tanah gersang itu, jalan tersebut tidak sengaja dibuat namun karena jalan itu terbuat secara “alami.” Terbuat karena areal kanan kirinya masing-masing sudah tergerus dengan kedalaman sekitar dua meter.

Tergerus karena sejak puluhan tahun lalu masyarakat sekitar menggerusnya. Digali lebih dalam setiap hari untuk mengambil tanah sebagai pembuat batu bata.

Ribuan orang. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan. Semuanya berbaur dalam aktivitas menggali, mengaduk adonan tanah, mencetak bata, membakar, menjual.

Siang itu saya baru saja usai mengunjungi sisa-sisa candi pemujaan zaman Majapahit di abad ke-13 yang tiba-tiba saja ditemukan seorang pembuat batu bata. Ceritanya, seperti puluhan tahun sebelumnya, si pembuat batu bata itu tengah menggali tanah untuk bahan pembuat batu bata.

Selagi asyik menggali, matanya kemudian tertuju pada batu bata berelief yang tersembul. Ia melapor pada yang berwenang, dan sejumlah orang pun berdatangan.

Termasuk saya.

Sebagai kawasan yang dipercaya dan nyaris dipastikan jadi pusat Kerajaan Majapahit, wilayah seluas 11x9 kilometer persegi di Kecamatan Trowulan memang kaya akan temuan benda-benda sejarah. Temuan si pembuat batu bata tadi bukan yang pertama kalinya.

Banyak sudah temuan bersejarah sisa-sisa zaman Majapahit diungkap dari kawasan itu. Lebih tak terhitung lagi sejumlah temuan lain yang tidak dilaporkan.

Karena berbagai sebab.

Selagi asyik ajrut-ajrutan di atas sadel yang saya bagi dengan seorang kawan, sepasang bola mata tertuju pada gundukan tanah memanjang yang dipisahkan jarak hampir satu meter dari dasarnya. Mata saya tertumbuk pada susunan batu yang tersembul dari irisan gundukan tanah itu.

Saya dekati. Benar saja, itu susunan atau biasa dibahasakan sebagai struktur batu bata kuno peninggalan zaman Majapahit.

Bentuk batu batanya yang berukuran “raksasa” jadi pembeda dengan batu bata zaman kini. Struktur batu bata kuno yang tersaji jelas dalam ilustrasi foto tulisan ini seakan ingin berteriak memanggil rekan-rekan mereka.

Rekan seperjuangan yang sudah lebih dulu dijadikan adonan tanah guna membuat batu bata masa kini. Struktur batu bata kuno yang hilang karena ikut tergali dalam upaya mencari bahan baku pembuatan batu bata di masa ini.

Tak jauh dari tempat struktur batu bata kuno tadi tersembul, berdiri tumpukan batu bata yang sudah dicetak. Siap dibakar untuk kemudian dijual. Seperti sebuah ritual peremajaan atau daur ulang yang dianggap biasa.

Sekira setengah jam sebelumnya, sekitar lima meter dari lokasi penemuan candi pemujaan zaman Majapahit di atas, saya juga sempat masygul. Pada titik itu, tepat di balik alas kaki yang saya kenakan ada pula struktur candi dari batu bata kuno ukuran “raksasa” tadi.

Apa yang membuat saya keki adalah, tepat di atasnya, berdiri tempat pembakaran batu bata dari usaha pembuatan batu bata masa kini sebelum dijual. Di kanan dan kirinya, sejumlah orang juga tak acuh dan terus menggali dan menggali lagi.

Kata Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Puslitbang Budpar), tak kurang 6,2 hektar lahan di kawasan situs Trowulan hancur tiap tahun. Rusak karena digali tadi.

Saya sih, di satu sisi bisa mafhum. Pasalnya hal itu berkaitan dengan kepentingan ekonomi.

Jika orang-orang di kawasan itu tidak membuat batu bata, nyaris tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagi gantungan hidup. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI yang saya gedor-gedor soal ini pun memilih angkat tangan.

Negara tidak punya cukup uang untuk membebaskan seluruh lahan di kawasan itu dan mencarikan mata pencaharian pengganti bagi para pembuat batu bata. Penyelamatan aset sejarah Majapahit dilakukan bertahap.

Itulah pernyataan gaya “siraman es teh” dari sang Menteri buat mendinginkan rongga dada saya yang menggelegak di siang menggantang itu.

Sekarang saya lagi penasaran. Apakah rumah yang saya diami, dan sedang saya lunasi dengan cara mencicil lewat kredit perbankan ini mengandung pula sisa-sisa peninggalan zaman Majapahit tadi?

Masih sekitar delapan tahun sebelum hutang saya pada sebuah bank yang menjalankan fungsi intermediasinya berdasarkan prinsip syariah itu lunas. Tapi, saya yakin, peninggalan sejarah Majapahit di Trowulan tidak punya waktu sepanjang itu sebelum menghilang.

Lenyap, jadi batu bata di rumah anda!

12 October 2008

Sudahkah Amanah

Nyaris dua pekan sudah Idul Fitri 1429 Hijriah lewat. Setelah dua pekan itu, saya buka-buka lagi isi pesan singkat di telepon genggam saya. Melihat-lihat lagi siapa pengirim dan isi pesan di seputar Lebaran.

Satu pesan menarik perhatian saya. Pesan pendek itu berasal dari KH Salahuddin Wahid atau sering disapa Gus Solah.

Pesan singkat itu merupakan balasan dari pesan yang sebelumnya saya kirimkan. Kata Gus Solah yang adik kandung KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu begini:

“Terima kasih untuk silaturrahim. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga puasa membuat kita lebih amanah, lebih manusiawi dan lebih peduli terhadap sesama.”

Saya menduga, harapan agar puasa bisa membuat kita menjadi lebih manusiawi, sedikit dilatarbelakangi pengalaman Gus Solah sebagai mantan Ketua Komnas HAM. Adapun perihal kepedulian, mungkin saja sedikit dipengaruhi tanggung jawab Gus Solah saat ini sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, sejak tiga tahun lalu.

Sedangkan harapan agar puasa bisa membuat kita menjadi amanah, saya punya analisa Gus Solah tengah gelisah soal betapa banyaknya pemimpin di negeri ini yang tidak amanah. Pemimpin-pemimpin kelas nasional yang sehari-hari tentu banyak ditemuinya. Para pemimpin yang bahkan berasal dari lingkungan keluarganya.

Amanah.

Sosok pemimpin yang amanah bisa diartikan sebagai orang yang punya keahlian atau kemampuan. Jujur dan bisa diterima secara luas.

Soalnya setiap pemimpin punya amanat yang diemban dan mesti ditunaikannya. Amanat identik dengan tanggung jawab.  

Secara singkat, pemimpin yang amanah adalah yang bisa dipercaya. Mampu mempertanggungjawabkan seluruh kata-kata dan tindakannya.

Itulah yang diharapkan Gus Solah dari puasa tahun ini. Harapan saya juga.

Harapan bagi para pemimpin. Harapan bagi kita semua. Karena setiap orang, adalah pemimpin setidaknya bagi diri sendiri.

Sudahkah saya, anda, atau kita semua menjadi orang yang amanah pada tahun ini?

Setelah Lebaran dirayakan. Sesudah THR dan ketupat lewat? Seusai berpuasa satu bulan?

Saya belum.

30 September 2008

Pengadilan Menyesatkan

Akhirnya, saya punya kesempatan melongok blog ini. Baru saya tersadar, lebih dari sebulan saya tak acuhkan halaman ini.

Yah, bukan tanpa sebab, karena lebih sebulan didera kesibukan. Sebagian besar penyebabnya bersinggungan langsung dengan judul tulisan ini.

Pengadilan menyesatkan.

Pusing, karena orang yang tampil di foto ini sebagai terdakwa pembunuh semestinya tidak dihadirkan untuk didakwa. Nama terdakwa ini Maman Sugianto alias Sugik.

Umurnya belum genap 30 tahun. Ia punya seorang istri dan satu orang putri mungil.

Ia dihadirkan jadi terdakwa karena diduga ikut membunuh Moh. Asrori. Moh. Asrori, sebelumnya diidentifikasi polisi sebagai jenazah Mr. XX yang ditemukan di sebuah kebun tebu di Dusun Bra'an Desa Bandarkedungmulyo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, pada 29 September 2007.

Belakangan, berdasarkan uji DNA, jenazah Moh. Asrori adalah yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Very Idam Henyansyah alias Ryan dan sempat dinyatakan sebagai mayat Mr. X. Ryan pun mengaku membunuh Asrori. Lalu, dari tes DNA pula diketahui jenazah Mr. XX adalah Fausin Suyanto, seorang warga Nganjuk yang dilaporkan hilang setahun lampau.

Ah, ini salah satu keping puzzle yang sempat saya singgung lebih sebulan lalu.

Dari fakta itu saja, Sugik jelas bukan terdakwa yang tepat dihadirkan ke persidangan. Bahasa hukumnya telah terjadi error in persona. Orang yang ditarik sebagai terdakwa tidak tepat.

Cerita disertakannya Sugik ke persidangan berawal dari pengakuan dua terpidana, Imam Hambali alias Kemat dan Devid Eko Prianto, saat persidangan mereka akan memasuki agenda vonis. Sugik diseret ke persidangan secara tiba-tiba hanya bedasarkan pengakuan yang tidak diperiksa silang bukti keterlibatannya.

Kemat dan Devid kini sedang menjalani hukuman 17 tahun dan 12 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Jombang.

Vonis Pengadilan Negeri Jombang pada 8 Mei 2008 memutuskan mereka adalah pelaku pembunuh jenazah Mr. XX. Berita acara pemeriksaan (BAP) polisi dengan "meyakinkan" menunjukkan Kemat dan Devid sebagai pembunuh Mr. XX yang sebelumnya diidentifikasi polisi berdasarkan pengakuan keluarga adalah Moh. Asrori.

Dari pengakuan Kemat dan Devid, tanpa alat bukti yang mendukung, Sugik diajukan ke persidangan sebagai terdakwa ketiga. Belakangan Sugik dan Devid mengaku disiksa habis-habisan untuk memenuhi BAP polisi yang akan dijadikan dasar bagi Jaksa Penuntut Umum mengajukan dakwaan dalam persidangan.

Dari salinan visum et repertum yang bisa diperoleh diam-diam, tak disebutkan luka atau trauma bekas pukulan benda keras pada jenazah Mr. XX yang ditemukan di kebun tebu. Padahal, Sugik didakwa karena perannya memukul bagian belakang kepala korban dengan kayu.

Dari informasi di lapangan, pertarungan politik berebut kekuasaan di tingkat desa juga jadi salah satu sebab diajukannya Sugik jadi terdakwa. Kisah singkatnya, Sugik yang jadi tim sukses salah seorang calon yang akhirnya sukses betulan jadi "pemimpin" desa, rupanya sudah "diincar" oleh calon dan tim sukses yang tidak sukses alias kalah. 

Dendam membara dan sakit hati tak terkira berujung pada pembalasan tiada tara. Fitnah pun merajalela.

Kembali pada teknis persidangan yang menyesatkan.

Pada dakwaan pertama, disebutkan dengan yakin Kemat adalah orang yang memiliki dan menyopir minibus Suzuki Carry warna biru untuk menjemput korban. Pada surat dakwaan bagi Sugik, karena ia baru diajukan ke persidangan usai vonis bagi Kemat dan Devid dijatuhan, disebutkan Sugik adalah yang berperan sebagai sopir.

Rupa-rupanya JPU telah menyadari "kehebatan" mereka. Karena, berdasarkan cerita sejumlah anggota keluarga, sekalipun memiliki mobil Kemat sungguh tidak bisa menyetir. 

"Bahkan, demi kepentingan sat rekonstruksi, ada seorang polisi yang mengajari terlebih dahulu Kemat agar bisa menyopir mobil," kata salah seorang anggota keluarga Kemat.

Tapi, paling hebat dari seluruh kesesatan itu adalah penyangkalan terhadap hasil uji DNA. Tes yang akhirnya memastikan Mr. X sebagai Moh. Asrori dan Mr. XX sebagai Fausin Suyanto.

Kemat, Devid, dan Sugik diajukan ke persidangan dan divonis serta dijadikan terdakwa karena diyakini membunuh Mr. XX yang dalam dakwaan JPU disebutkan sebagai Moh. Asrori. Majelis hakim yang mulia pun menyebutkan Kemat dan Devid sebagai pembunuh Moh. Asrori, atau jenazah Mr. XX yang ditemukan di kebun tebu.

Padahal Mr. XX adalah Fausin Suyanto. Kemat, Devid, dan Sugik tidak tahu menahu siapa itu Fausin yang hingga kini pembuhnya masih misterius.

Pak hakim dan pak jaksa bergeming soal hasil uji DNA.

Kitab undang-undang hukum acara pidana atau KUHAP adalah yang berulangkali disebutkan pak hakim sebagai dasar melakukan persidangan, saat berulangkali saya tanyakan itu. Jadi, hingga saat ini persidangan terhadap terdakwa Sugik masih terus berlangsung.

Saksi-saksi terus dipanggil. Adu argumentasi selaksa debat kusir dan pertanyaan-pertanyaan bodoh memekakkan sepasang telinga tiap kali persidangan digelar pada Kamis tiap minggunya.

Nasib Kemat dan Devid yang kini menanti dari balik bui tergantung pada sebuah proses bernama Peninjauan Kembali atau PK. Lewat keputusan Mahkamah Agung, Kemat dan Devid kini berharap terbebas.

Kurang dari setengah jam saat saya menaruh tanda baca titik di akhir tulisan ini, 1 Syawal 1429 Hijriah datang menjelang. Saya harap, ini jadi bulan pencerahan.

Selamat Lebaran! Mohon maaf lahir dan batin!



Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.