20 November 2007

Pilih Sejarah (Mu)

Hampir semua jenis musik yang dimainkan pemusik independen (indie), juga dilagukan pemusik pop yang mayor. Berbagai aliran juga jamak saja dinyanyikan mereka yang berkutat dalam dunia “subversi” yang indie jika jalur pop yang mayor adalah sebuah “versi.”

Semua pun bersepakat, perbedaan paling kentara antara indie dan yang “tidak” merdeka sesungguhnya ada pada cara pemasaran. Jadilah, sebuah band indie dari Malang yang punya nama d’Kross pun demikian bangga tatkala album perdananya bertitel “Bhumi Arema” laku 5.000 kopi.

Sejumlah musisi mayor yang sudah masuk dalam lingkup hegemoni industri, seperti Ipang (vokalis, BIP), Indra Qadarsih (keyboard, BIP), dan Anto Baret yang punya kesibukan di Wapres (warung apresiasi) dan pentolan Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) di bilangan Bulungan, Jakarta Selatan itu digandeng buat kerjasama. Sejumlah video klip dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan juga diproduksi.

Lewat jalur pemasaran yang amat konvensional, tujuh anak muda yang punya perbedaan latar belakang sejarah itu pun sukses meraup penggemar. Jadwal manggung mereka di kawasan Malang Raya pada akhir pekan selalu penuh.

Memancing perdebatan. Karena sesuai kesepakatan soal “merdeka” di atas, yang namanya musik indie hanya dibedakan pada jalur pemasarannya saja yang tidak berada di bawah manajemen atau perusahaan-perusahaan rekaman besar (major label).

Jadi “soal”, karena musik dan lagu yang dibawakan d’Kross secara khusus didedikasikan pada klub sepak bola Arema Malang. Kera Ngalam (dibaca terbalik, Arek Malang) memang terkenal fanatik dalam memberikan dukungan pada Arema.
Maka, segala ihwal yang berbau Arema, tidak heran akan segera jadi konsumsi publik.



Tak terkecuali musik.

Lagu “Sore Ini” (Kita Harus Menang), yang idenya diambil dari salah satu folk song bangsa Cile bahkan sudah jadi semacam “lagu wajib” suporter sepak bola se-Indonesia. Pilihan untuk berkutat pada jenis musik dan pilihan lagu yang amat khusus, dengan hanya menyapa suporter sepak bola itu secara sadar dijalani kelimanya.


Heru “Ocep” (drum), Triandri Indra Laksana (bas), Adhet (kibor), Ayit (gitar), Ukee (gitar), Dio “Bononx” (vokal), dan Ajeng (vokal) merupakan tujuh punggawa yang mengawaki band dengan sasaran khusus suporter sepak bola itu.
Komposisi ini masih ditambah dengan kehadiran additional vocalist dari kelompok musik Red Spider, Erwin.



“Saya mulai gabung sejak 11 Mei lalu,” kata vokalis gondrong bertutur santun kelahiran Bandung, 13 Oktober 1967 yang menggemari jenis musik keluaran Pantera dan Metallica itu.

Referensi musik yang berbeda dari ketujuh personilnya membuat Enter Sandman oleh Metallica dan My Sacrifice ala Creed bisa saja tiba-tiba meluncur mulus pad sesi latihan. Sejumlah komposisi Red Hot Chili Peppers juga bukan nomor tabu dimainkan.

“Kami juga bukan hanya mendukung Arema, karena kami juga sudah punya lagu untuk Persema. Karena band suporter, kami ini sebetulnya terima saja jika ada kelompok suporter yang minta dibuatkan lagu,” jelas Ade Herawanto, dedengkot kelompok itu. Akan tetapi ia sontak mesam mesem begitu disodorkan kemungkinan bahwa yang akan meminta dibuatkan lagu adalah kelompok suporter Persebaya Surabaya.


Sejarah kelam antara dua kubu suporter ini membuat seolah ada dinding pemisah antara keduanya. Hingga kini. Pada lain tulisan, akan saya bhasa lebih dalam soal fenomena yang cenderung meresahkan tersebut.

Sebetulnya, bicara soal band suporter di Malang, Arema Voice yang mulai mengawali eksistensinya sejak 1989 juga layak dijadikan referensi. Akan tetapi, seperti kata salah satu eksponennya, Wahyu GV (gank voice), Arema Voice sejatinya adalah forum kolaborasi pemusik berkualitas dari tanah Malang.

“Pemusik di Arema Voice tidak sampai mengorbankan band asal, band mereka tetap nomor satu,” kata Wahyu yang tengah bersiap melepas album kelima. Saat ini, tak kurang 10 ribu kopi album keempat Arema Voice sudah beredar lewat jalur distribusi indie, yang dalam bahasa Wahyu sudah membentuk jaringan underground di seputar Malang, Bali, Jakarta, dan Bandung.

Sejumlah “pemusik serius” seperti gitaris Totok Tewel yang pentolan El Pamas (Elek-elek Arek Pandaan Mas) direncanakan Wahyu digandeng pada penggarapan album selanjutnya yang bakal berformat orkestra. Misi Arema Voice, diakui Wahyu, memang jadi semacam jembatan antara pemusik yang sudah matang dengan jam terbang tinggi, dengan para pemusik yang relatif masih hijau.


Karena itulah, formasi mereka terus berubah sejak album perdana dirilis. Hanya Wahyu sebagai vokalis yang terus bercokol.

Jadi, kini d’Kross lah yang dirasa paling mewakili semangat band indie di kalangan suporter sepak bola, khususnya di wilayah Malang Raya. Mereka juga kaya latar belakang, yang lantas dicampur sana sini hingga menghasilkan musik dan lagu suporter yang moncer tadi.

Campur sana campur sini, dari latar belakang yang berbeda. Campur sana campur, sekalipun beda latar belakang ada sejarah mula yang dipilih untuk refleksi hidup mereka kini.


Dalam kasus cerita saya di atas, anak-anak muda itu menjadikan roh Malang Raya sebagai semangat bermusik mereka. dengar saja salah satu lirik dalam lagunya yang berbunyi, ...lahir disini bumi para pemberani...kemana-mana dijuluki singo edan...



Kata Prof. Wang Gungwu yang Direktur East Asian Institute, National University of Singapore, setidaknya ada empat cara untuk menghubungkan masa lalu dan era ke depan seseorang.


Dua metode yang paling menonjol adalah mengakui sejarah yang diberikan dan diketahui dari komunitas mereka sendiri, sejauh mungkin, dengan mereproduksi apa yang disetujui dan dianggap layak untuk diinginkan. Satu lagi berupa upaya pencarian sejarah baru bersama dengan sesama warga negara yang berasal dari latar belakang budaya dan historis yang berbeda.

Adapun dua cara lain, yang kata Prof. Wang Gungwu lebih inklusif, adalah penyesuaian dengan era globalisasi ketika seseorang sanggup melampaui batas-batas bangsa dan memeluk sejarah umat manusia. Cara lainnya adalah kesanggupan merajut masa lalu pribadi secara inklusif, inilah yang membuat pendidikan modern serta teknologi menjadi sesuatu yang mungkin diterima.

Ocep yang lahir di Malang, 30 Maret 1978 sehari-harinya bekerja di sebuah agensi periklanan, selain tentu saja menggebuk drum. “Kuncinya ya sama-sama mendukung dan disiplin latihan aja,” kata pengidola gaya gebukan Tommy Lee (Motley Crue) dan mendiang John Bonham (Led Zeppelin) itu soal kekompakan bandnya yang menghasilkan kerapian bermain serta produksi karya musik yang mumpuni.

Ajeng yang lahir di Surabaya, 25 Agustus 1987 adalah jawara mocopat (soal ajaran atau sejarah Jawa yang disampaikan lewat cara menembang). Tarikan vokal penggila Celine Dion ini demikian terasa pada nomor Malang ke Bulan #1 yang ada di album perdana d’Kross.

Bicara asal usul, Adhet yang kelahiran Ternate, Ayit yang mbrojol di Lampung, Ukee yang nongol di Lampung, serta Bononx yang kelahiran Bandung layak dikedepankan. Bahwa untuk menjiwai kultur Malang dan aura sepak bolanya, sebagai prasyarat untuk bergabung dalam d’Kross, tidak melulu musti Gnaro Ngalam (dibaca terbalik, Orang Malang).

“Tetapi mereka memang harus suka sepak bola dulu. Bahkan pertana-tama sering saya ajak ke stadion untuk nonton bersma suporter,” kata Ade Herawanto.
Jadi, dunia subkultur musik yang diwakili oleh fenomena indie di Indonesia pada era ini setidaknya memang musti dibaca juga lewat metode-metode yang ditawarkan Prof. Wang Gungwu yang lahir di Surabaya itu.


Betapa penciptaan budaya tandingan yang berlangsung kini sudah tidak lagi peduli dengan segala ihwal soal ideologi dan identitas. Tahapan kita berdasarkan tesis Prof. Wang Gungwu baru sampai pada upaya pencarian sejarah baru bersama dengan sesama warga negara yang berasal dari latar belakang budaya dan historis yang berbeda.


Kadangkala ini pun rentan menjadi konflik. Terutama jika ego sudah membuncah saat berhadap dengan sejarah bentukan lainnya. Semoga saja asumsi saya salah.

Ketika semuanya sudah serba instan dan impor, harus secara jujur layaknya diakui bahwa yang namanya “musik merdeka” belum hadir di negeri ini. Baru sebatas cara pemasarannya saja.


Mungkin saja, d’Kross sebuah anomali. Sekalipun mereka sama sekali tidak menolak bergabung dalam geliat industri dan meninggalkan dunia indie.
Ini diamini langsung oleh Adhet, Triandri, Ocep, dan personil d’Kross lainnya. Manusia senantiasa mencari yang lebih baik dan lancar untuk hidupnya.
Bukan hanya memburu pelumasnya, namun juga penghela utamanya.


Foto: "Anto Baret sedang baraksi"

2 comments:

Anonymous said...

In my opinion it is obvious. You did not try to look in google.com?

Anonymous said...

[url=http://ebiteua.com/]znakomstva dlia seksa[/url]

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.