18 February 2007

jalan daendels


kira-kira setengah radius putar jarum jam lagi sebelum dzuhur tiba. derum mesin bensin 1.800 sentimeter kubik dengan sistem injeksi bahan bakar elektronis itu meraung kencang.

sistem suspensi bekerja keras menstabilkan sasis. membuat bodi mengayun-ayun, kadang berguncang. ditambah decit kampas rem yang berjibaku memakan cakram dan teromol masing-masing.

klakson, lampu jauh, dan lampu sein bergantian menunaikan tugasnya. miliaran sel otak bekerja cepat. bergantian prioritas kerja.

antara keputusan menggerakkan lingkar kemudi, atau memindahkan tuas perseneling. menekan pedal kopling, rem, atau membejek pedal gas.

lawan-lawan di jalan nyaris semua tak imbang. setidaknya punya kapasitas 6.0 liter. memiliki 10 roda atau 12 roda. sarat muatan. dengan bunyi yang membuat membran gendang telinga bergetar hebat.

ruas-ruas jalan yang melebar dan menyempit. bergelombang serta berlubang. ditambah minimnya penanda sepanjang jalan, membuat katup-katup jantung semakin giat memompakan darah.

belum lagi rupa-rupa perbaikan di sepanjang jalan. pasang tanda disana sini, dengan maksud agar hati-hati, tetapi malah kadang bikin keki.

entah apa yang ada dalam pikiran gubernur jenderal Willem Herman Daendels, saat membangun jalur itu hampir dua abad silam. jelasnya, belasan ribu nyawa meregang sia-sia dalam proyek prestisius yang juga dikenal sebagai Jalan Raya Pos itu.

kini, rute itu memang sudah jadi aset nasional. punya dan jadi tanggung jawab pemerintah. aspal, rumah makan, spbu, dangdut koplo jadi bumbu pelengkap.
jalur itu urat nadi transportasi setiap hari. punya beban ekonomi yang berpengaruh besar terhadap kinerja rupiah.

tiap tahun, saat mudik tiba, beban jalur itu semakin berat. bisa berlipat, karena hampir semua kepentingan dilewatkan rute itu.

maka tak heran, berita soal penumpukan arus kendaraan. cerita soal sarana penunjang atau infrastruktur, seperti jembatan, yang kerap mengalami kerusakan kerap kita dengar.

lebih konyol lagi, semua pekerjaan perbaikan seakan dimepetkan waktunya dengan lebaran. saat ramadhan.

ketika tuntutan menahan hawa nafsu mesti dipenuhi. kita disuguhkan godaan untuk memaki.

ah, Daendels mungkin telah melakukan genocide selama memerintahkan membuat jalan itu. tapi adalah konyol jika tetap membiarkan jalur itu punya berbagai julukan mengerikan.

belasan ribu nyawa melayang, tidaklah setimpal dengan 1.000 kilometer yang dihasilkan. tetapi, adalah layak perhatian berlebih ditujukan pada 1.000 kilometer jalan yang punya dampak nasional.

jendela dibuka. udara segar dihirup.
bunyi suspensi terdengar.

nyit, nyit, nyit berdecit. mirip suara tikus terjepit.

17 February 2007

kiss and tell

tiga tahun lalu, ketika industri jurnalisme profesional mulai gue tekuni, berkenalanlah gue dengan ungkapan seperti judul di atas. bukan sejenis film komedi romantis.

tapi anjuran agar tulisan menjadi seringkas mungkin.

keep it short, simple, and tell. maksudnya, jangan berbuih-buih dan terlampau banyak bumbu. karena akan mengacaukan "masakan" secara keseluruhan.


minggu kemarin, anjuran itu gue anjurkan kembali pada orang lain. temen-temen muda yang tertarik jadi jurnalis tulis. sungguh, bukan tanggung jawab mudah. mengenalkan dunia baru dalam tempo kurang dari tiga jam.

persoalannya bukan sebatas kiss and tell yang harusnya disampaikan. bahwa paling penting bukan soal bagaimana cara kita menulis. bukan juga seberapa banyak teori yang menyertainya. tetapi sikap mental yang kudu dibangun selama proses itu.

kualitas memang nyaris identik dengan penguasaan teknis. tapi, tanggung jawab terhadap dampak tulisan perlu lebih dahulu dipatri. mereka harus diyakinkan, profesi ini layaknya panggilan hati. didedikasikan bagi kepentingan kemanusiaan.
ada ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan manusia lain yang bakal terpengaruh olehnya. bukan sekedar kiss and tell, setelah itu terima bayaran dan kelayapan menikmati akhir pekan.

maka, adalah sangat zalim jika profesi ini disalahgunakan. dijadikan kendaraan melanggengkan perselingkuhan dengan kekuasaan. semua demi mengeduk keuntungan finansial.

gue nggak tahu, apakah temen-temen muda itu nangkep maksud gue. soal tujuan mulia yang kudu dimiliki jurnalis. bukan sekedar kiss and tell. bukan hanya bicara 5W+1H plus so what. tidak sebatas hard news dan features. tidak melulu soal piramida terbalik.

Publicity, publicity, publicity is the greatest moral factor and force in our public life. Joseph Pulitzer (1847-1911)

awas, kejahatan medis!

baru tiga minggu lalu anak gue ada "gangguan kesehatan." maka, pergilah ke salah satu dokter yang kata khalayak ramai, paling bagus.

embel-embel di depan namanya pun mentereng. profesor.

resep ditulis, obat ditebus untuk kemudian diminum si kecil. "umur-umur segini emang gangguannya pada masalah pencernaan. nanti dua tiga bulan lagi, biasanya batuk, pilek, dan sebagainya," kata sang profesor dengan lagak "sok yes" nya itu.

gue dan bini pun rada tenang. walau penjelasan itu cuma keluar sangat singkat. padahal, sepanjang pemeriksaan, gue terus mencecar si profesor dengan aneka macam pertanyaan.

meski nggak puas dengan sekedar jawaban, "ya," "oh, tidak begitu," "bukan," dan sebagainya, kita sedikit terhibur.

tapi seminggu berselang, gak ada perubahan. kembali ke tempat yang sama. kali ini resep jadi berlipat ganda. ditebus, terus dicekokkan lagi buat si kecil.

rasanya pengen nangis tiap liat si kecil minum obat. sekuat tenaga dia coba meronta menolak obat yang rasanya bener-bener pahit itu. perubahan kentara belum juga kelihatan.

dua minggu lewat, bini mulai panik. berangkatlah kita ke dokter lain untuk cari 2nd opinion.

kejutan.

"itu cuma gangguan kesehatan biasa". wajar. "emang harus begitu kalau asupan asi dikombinasi susu formula, karena memang asi yang nggak cukup." "apalagi kalau susu formulanya merek anu, hasilnya pasti begitu."

gubrak.

berarti selama tiga minggu anak gue disumpelin racun. gendeng bin sableng.

terus, si dokter baru yang lebih "wise" itu juga memutuskan tidak ada obat yang harus dia resepkan. faktanya, itu memang gangguan kesehatan semata. bukan "gangguan kesehatan" yang merujuk maknanya pada penyakit.

pulang dengan perasaan dongkol. gue teringat pernah baca literatur soal tipu menipu model begini.

bener aje. itu bahan bahan bacaan tergeletak di antara buku-buku lain yang mejeng pada rak buku di rumah.

mau tahu yang sebenarnya? bahwa ternyata bayi itu punya imunitas yang lebih tinggi daripada kita manusia dewasa. bahwa ada orang lain menderita pilek, batuk, dsb, kemungkinan bayi untuk juga tertular sangatlah kecil.

bahkan kalau mereka tinggal dalam satu rumah sekalipun.

karena bayi jauh lebih kebal daripada kita. penjelasan logisnya adalah, selama sembilan bulan lebih dia "bertapa" di kandungan ibunya dengan asupan yang sangat sempurna.

bahwa, pemberian obat-obatan -apalagi antibiotik- kepada bayi akan sangat berpotensi menurunkan daya kebal itu secara drastis. semakin banyak obat dikasih, semakin loyo daya imun si anak terhadap berbagai agen penyakit.

maka, mata rantai sakit, pergi ke dokter yang nggak "wise," terus dikasih obat aneka rupa, sakit lagi (tambah parah), ke dokter yang juga nggak "wise" lagi, obat lagi, adalah lingkaran setan yang seharusnya TIDAK dialami bayi.

jelas kan, penjelasan si profesor itu cuma akal-akalan belaka. pake acara memprediksi sakit anak gue segala dalam dua tiga bulan ke depan lagi. huh, emangnya siape luh?!

gue yakin, banyak juga yang pernah ngalamin ini. atau udah tahu, baik lewat bahan bacaan atau pengalaman, tapi karena berbagai sebab jadi lupa model-model kebohongan publik kayak gini terus merajalela.

maka, paling baik emang kita kumpulin dulu informasi sebanyak mungkin sebelum pergi ke tenaga medis. disanalah saat paling tepat untuk diskusi, kalau perlu berdebat, soal apa yang udah kita tahu dan diagnosa yang sang dokter berikan.

seorang temen gue yang juga gondok banget ama penipuan kayak gini paling hobi kalo disuruh ngeyel ama dokter. dia bahkan pernah nanya, "dokter dulu waktu kulliah IP nya berapa sih?"

iya betul, tanya saja, kenapa tidak? karena bukan tak mungkin, embel-embel profesor mungkin hanya salah tulis dari yang seharusnya prosesor, atau kompresor.

salam!

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.