Departemen Kelautan dan Perikanan RI akan memberlakukan blanko surat izin penangkapan ikan (SIPI) baru pada 2008. Dengan alasan SIPI lama mudah ditiru karena hanya seberkas dokumen kertas, Perum Percetakan Uang Republik Indonesia atau Peruri pun dilibatkan.
Tujuannya apalagi kalau bukan menihilkan upaya pemalsuan SIPI lama. Teknologi cetak hologram dan tanda air (watermark) yang sudah dikuasai Perum Peruri jadi jaminan sulitnya SIPI baru dipalsukan.
SIPI perlu sebagai identitas bagi pengusaha penangkap ikan ataupun nelayan. Di dalamnya ada aturan soal pelabuahn pangkalan, pelabuhan muat atau singgah, dan daerah tangkapan yang diperbolehkan bagi setiap pemegang SIPI dimaksud.
Namun bukan itu kekhawatiran Subatin (43), nelayan pemilik kapal tangkap bermotor "Jaka Umbara"_berkapasitas 12 ton yang saya temui selagi beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jatim. Bukan soal cerita kalau "pencuri selalu lebih maju dari jagoannya," karena Subatin juga belum mafhum soal rencana penerbitan SIPI baru tadi.
Tapi, Subatin lebih khawatir soal masuknya nelayan-nelayan yang semestinya tidak beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong itu. Kata Subatin, sejumlah nelayan yang semestinya mendaratkan ikan di pelabuhan Perikanan Pantai, Muncar, Banyuwangi, Bali, dan Madura juga kerap datang ke Brondong.
"Itulah repotnya. Mereka kerap menjatuhkan harga ikan disini," kata Subatin yang juga biasa beroperasi hingga ke Pulau Masalembo, di ujung Paparan Sunda yang wilayah di sekitarnya punya julukan “Segitiga Bermuda Indonesia,” dengan kapalnya yang bermesin Yanmar berkapasitas 300 PK (paardekracht, daya kuda) itu.
Sekedar pengingat, wilayah di sekitaran Pulau Masalembo kerap disorot tajam gara-gara aneka rupa kasus kecelakaan transportasi laut dan udara yang kerap terjadi. Pesawat Boeing 737-400 AdamAir KI 574 dengan registrasi PK-KKW jurusan Jakarta-Surabaya-Manado yang 102 penumpang dan awaknya dinyatakan hilang tak berbekas pada pembuka tahun 2007 ini, tercatat sudah hilang kontak saat berada di atas perairan Masalembo. Begitu juga dengan kecelakaan KM Senopati Nusantara dan KM Tampomas yang terjadi di wilayah tersebut.
Kembali pada Subatin yang tampak cuek bebek dengan segala ihwal fenomena misterius di sekitaran wilayah laut yang jadi jalur pelayarannya, ia menyebutkan bahwa “persaingan” antara ikan-ikan yang didapatkan para nelayan di Brondong dengan nelayan-nelayan lain yang semestinya tidak mendaratkan ikan di tempat itu memang sedemikian tajam. “Untunglah, sampai hari ini kami belum pernah berkonflik,” katanya.
Namun, potensi api konflik itu tetaplah ada. Karena selain kapal antar pulau, terdapat pula sekitar 2.000 kapal nelayan di wilayah Brondong dan 2.000 kapal lainnya yang masuk wilayah lain.
Tentu ini belum menghitung kapal-kapal penangkap ikan besar yang biasanya memanfaatkan lampu merkuri di malam hari untuk memancing ikan-ikan dari berbagai jenis dan umur untuk naik ke permukaan. Metode yang menihilkan unsur “pembinaan prestasi” karena bibit-bibit ikan muda-mudi juga terpaksa ikut terjaring dan mati tadi banyak jadi favorit pengusaha ikan tangkap yang ingin segera untung besar.
Karena melibatkan modal lumayan besar, tak banyak nelayan mampu mengejarnya. Kebanyakan nelayan yang kecil-kecil seringkali harus gigit jari gara-gara kapal-kapal besar dengan jumawa merkurinya merampas terjang ikan-ikan di perairan mereka.
Kapal yang dimiliki Subatin termasuk kategori kapal penangkap ikan antar pulau yang jumlahnya di seluruh Brondong hanya 72 unit di antara ribuan kapal penangkap ikan lainnya yang tidak punya "trayek" antar pulau. "Tahun lalu jumlahnya masih 100 unit. Tetapi karena tekanan harga dan kenaikan bahan bakar sekarang turun," papar Subatin yang juga sebagai Sekretaris Paguyuban Nelayan Gendong (antar pulau) itu tadi.
Sayangnya, paguyuban itu pun belum mampu membendung masuknya nelayan-nelayan dari luar daerah yang disebutkan tadi. Subatin menyebutkan, peran paguyuban yang didirikan sejak 10 tahun lalu itu hanya sekedar tempat menjalin kekompakan.
"Misalnya ketika saya di Pulau Masalembo kehabisan uang, maka teman-teman dari paguyuban bisa meminjamkan dulu, begitu sebaliknya," papar Subatin yang baru saja tiba usai melaut bersama 12 anak buah kapalnya itu.
Konsentrasi terbesar paguyuban itu memang baru sebatas pemenuhan kebutuhan finansial sesama anggota dengan mengandalkan satu rasa satu itu tadi dan belum menyentuh urusan kebijakan. Paling mentok, paguyuban itu menyediakan jaminan kesehatan bagi ABK yang sakit, yang uangnya ditanggung bersama hasil iuran Rp 20 ribu setiap kapal yang mengambil balok es untuk melaut.
Bagaimana tidak, jika untuk sekali melaut dengan durasi sekitar lima hari, Rp 14,5 juta mesti dipasrahkan sebagai biaya operasional. Di dalamnya termasuk biaya solar sekitar 500 liter untuk menempuh 340 mil laut jarak pergi pulang dari Brondong-Pulau Masalembo-Brondong, biaya makan, es balok, dan sebagainya.
Pengeluaran untuk kapal seharga Rp 100 juta jadi sepadan jika hasil pembelian dari tengkulak mampu menutupi biaya operasional. Jika tidak, maka sistem bagi hasil yang diterapkan bersama ABK kemungkinan besar tiak banyak manfaatnya lagi.
Supari, tengkulak yang sedang membongkar muatan Kapal Motor Mahardhika yang baru saja mencari ikan di sekitar di sekitar Pulau Mamburit, Kalimantan Selatan mengatakan jika satu kilogram ikan tongkol saat ini dibelinya seharga Rp 4.000 dari para penangkap ikan. “Nanti mungkin lakunya bisa sekitar Rp 7000,” katanya soal harga yang bisa didapatnya dari hasil pelelangan.
“Bisa menutup biaya dan untung jika harga bagus dan tangkapan banyak. Kalau tidak, ya rugi lah,” kata Subatin demi harapan tangkapan melimpah dan harga sempurna. Sembari membatin dalam hati, Subatin kemungkinan besar terus berharap persaingan tak sehat antar nelayan bisa dihindari, dan ikan-ikan yang dicari tetap lestari.
06 December 2007
Persaingan Ikan
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
12/06/2007 08:11:00 AM
0
komentar
Link ke posting ini
05 December 2007
Pesantren (Harusnya Dianggap) Keren
Almarhum KH Hasyim Asy’ari belajar silat sekitar delapan bulan pada masa-masa awal pendirian Pondok Pesantren (PP) Tebuireng. Gurunya adalah Kyai Saleh Benda, Kyai Abdullah Pangurangan, Kyai Syamsuri Wanatara, Kyai Abdul Jamil Buntet, dan Kyai Saleh Benda Kerep dari Cirebon.
Bukan tanpa alasan, karena Dusun Tebuireng masa itu adalah sarang perjudian, pelacuran, perampokan, dan banyak perbuatan jahat lainnya.
Jadi perlu, karena santri-santri awal KH Hasyim Asy’ari yang tak kurang dari 28 orang, kerap harus menghadapi ancaman serangan celurit dan pedang yang bisa saja menghujam bacok di malam buta ke dinding anyaman bambu bekas warung pelacuran yang dibeli KH Hasyim Asy’ari sebagai cikal bakal pondokan.
Setelah dirasa cukup, salah satu pahlawan nasional ini pun percaya diri melakukan ronda sendirian demi menjaga keselamatan santrinya. Aneka cobaan dilalui dan sedikit banyak ilmu kanuragan yang dituntut KH Hasyim Asy’ari, atas izin Allah SWT, membantunya mengatasi aneka gangguan jahat tersebut.
Sejarah awal PP Tebuireng yang berhasil gemilang mengubah kawasan yang dalam persepsi banyak orang adalah “sampah” itu terus lestari hingga kini, dalam usianya yang ke-108 tahun pada 5 Agustus lalu.
Beberapa waktu lalu saya bertemu KH Irvan Yusuf, mantan Sekretaris Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang. Gus Irvan yang juga putra almarhum KH Yusuf Hasyim (pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng 1965-2006) itu sejak awal diskusi sudah menekankan, kalau pesantren semestinya jangan diperlakukan seperti bengkel mobil.
Sekalipun sejarah awal pendirian memang berhasil mengubah sesuatu wilayah yang dianggap nista jadi mutiara. Gus Irvan yang juga cucu KH Hasyim Asy’ari. itu bereaksi saat saya tanya persepsi sebagian orang tua kini sebelumn mendaftarkan anaknya ke pesantren, yang kira-kira mirip ilustrasi bengkel mobil tadi.
“Pada satu sisi itu bagus, karena menganggap pesantren sebagai lembaga pembinaan akhlak dan moral. Tetapi ada sebagian orang tua yang mengibaratkan seperti memasukkan mobil ke bengkel, keluar sudah mulus. Tapi kan tidak semua mobil bisa dibikin mulus, kadang harus diganti,” kata Gus Irvan yang juga kemenakan mantan Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid, atau yang kerap disapa Gus Dur itu sembari terkekeh.
Makanya, sebelum seseorang mondok di PP Tebuireng, ada sesi wawancara yang mesti dilewati. Di antaranya bertujuan untuk memfilter calon pemondok soal latar belakang persoalan yang membelitnya.
Gus Irvan bertutur, salah satu sasarannya ialah mengetahui riwayat kesehatan sang calon. Jika calon pemondok punya ketergantungan terhadap obat terlarang, dengan sangat menyesal Gus Irvan mengatakan PP Tebuireng tidak punya sarana untuk memperbaiki hal tersebut.
“Tapi kadang-kadang ada juga yang sembunyi-sembunyi. Setelah satu atau dua bulan kita baru kaget karena ternyata anaknya punya ketergantungan. Kadangkala kita atasi dulu karena sudah telanjur masuk, tapi kalau selama dua bulan tidak bisa sembuh, ya orangtuanya kita panggil, dan mungkin dipulangkan,” beber Gus Irvan yang juga keponakan KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah yang jadi pengasuh PP Tebuireng kini.
Sebagai pesantren tua yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1899, PP Tebuireng sejak mula memang tidak ditujukan sebagai “bengkel mobil.” Perannya sejak permulaan lebih diharapkan sebagai “pabrik mobil,” yang mencetak tokoh-tokoh dalam khazanah sejarah Indonesia, sebelum dan sesudah masa kemerdekaan.
Demi tujuan itu, PP Tebuireng adalah pesantren pertama yang memperkenalkan pelajaran umum dalam struktur kurikulum di tahun 1929, dengan tambahan pelajaran bahasa Inggris dan Belanda selain Indonesia dan Arab yang sudah lazim dipakai.
Kebijakan yang sempat menuai kontroversi di kalangan ulama sendiri, terutama karena sempat muncul fatwa haram dari KH Hasyim Asy’ari soal pemakaian dasi bagi umat Islam karena dianggap sama dengan penjajah.
Kini, di atas lahan lama seluas dua hektar dan lahan baru seluas delapan hektar berdirilah Madrasah tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah, SMP A Wahid Hasyim, Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah, SMA A Wahid Hasyim, Madrasah Diniyyah, dan Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’Ari beserta seluruh fasilitas pendukung di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Jumlah pemondok tak kurang 1000 putra dan 170 putri dengan sekitar 40 pembina yang masing-masing bertanggung jawab maksimal terhadap kegiatan 40 santri, serta sekitar 200 guru dengan 95 persennya berkualifikasi S1.
Dari empat lembaga pendidikan menengah formal, justru SMP A Hasyim Asy’ari dan SMA A Hasyim Asy’ari yang lebih diminati. Dalam pandangan Gus Irvan, itu dikarenakan orangtua santri yang tetap ingin anaknya punya basis pengetahuan umum luas namun tumbuh dalam lingkungan pesantren yang memberikan keteduhan batin serta jauh dari ingar bingar kota.
Adapun Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari merupakan lembaga pendidikan setara S1 yang baru dimulai sejak 2006, dengan Pengsuh PP Tebuireng KH Salahuddin Wahid sebagai rektornya. Menurut Gus Irvan, sebanyak 30 santri pilihan lulusan setingkat aliyah akan masuk ke Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari tiap tahunnya dan digratiskan biaya belajarnya.
Selain untuk menampung santri dengan potensi tinggi namun terbatas dari sisi finansial untuk mengejar pendidikan lanjutan ke Mesir ataupun Arab Saudi, Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari juga ditujukan mencetak kader bagi PP Tebuireng. “Kalau untuk gelar, hingga saat ini masih dibicarakan dan tinggal menunggu waktu dari Departemen Agama,” papar Gus Irvan yang yang cucu pendiri PP Tebuireng KH Hasyim Asy’ari itu.
Gus Irvan menekankan, PP Tebuireng adalah lembaga yang mendorong seseorang untuk berorganisasi. Ia menuturkan, biasanya lulusan PP Tebuireng yang melanjutkan ke perguruan tinggi jadi aktivis di kampusnya.
“Sekarang ini juga sedang dimulai untuk memberikan kemampuan menulis kepada para santri,” tutur Gus Irvan soal kesadaran baru sejak Gus Solah yang adik Gus Dur itu menjadi pengasuh PP Tebuireng sejak tahun lalu.
Pada obrolan itu saya sedikit singgung soal dikotomi pesantren tradisional dan modern dan dimana sesungguhnya posisi PP Tebuireng. Mengenai ini, Gus Irvan justru balik bertanya definisi pesantren yang modern. Karena menurutnya, batas kedua kata itu saat ini sudah lebur dalam sistem pengelolaannya, sekalipun yang dikaji adalah kitab-kitab salaf karya ulama-ulama terdahulu dengan penekanan pada ilmu agama seperti soal-soal fiqih, tauhid, dan tasawuf maupun ilmu bahasa dan tarikh.
Soal perkembangan teknologi informasi yang meruyak dalam berbagai sisi kehidupan, PP Tebuireng punya kebijakannya sendiri. Disadari, sehebat apapun perlindungan yang diberikan, jika dalam diri seseorang tidak terdapat benteng kokoh maka tembok iman bisa dengan mudah jebol.
“Mau kita proteksi bagaimanapun juga, pasti bisa jebol. Lha di luar pondok banyak warnet kok,” ucap Gus Irvan saat ditanya penerapan metode pemblokiran situs-situs tertentu yang bisa diakses santri lewat internet di lingkungan pondok.
Meski begitu, PP Tebuireng tak sepenuhnya pasrah pada kondisi iman para pemondok, karena seperti kisah kuda sahabat Nabi Muhammad SAW yang tetap mesti diikat dulu pada tiangnya sebelum dipasrahkan pada Allah SWT agar tidak hilang.“Memang ada akses yang kita blok, tetapi tidak sampai 20 persen,” papar Gus Irvan.
Soal perkembangan teknologi informasi yang banyak membuat orang seperti tergagap, memang terjadi juga di PP Tebuireng. Kata Gus Irvan, PP Tebuireng kini tengah mempertimbangkan lagi untuk memperbolehkan para santrinya menggunakan telepon genggam. Produk teknologi yang jamak dipanggil hape (handphone) itu dilarang digunakan santri PP Tebuireng sejak dua tahun terakhir.
Setelah pengunaannya meledak di PP Tebuireng sejak 2002, menurut Gus Irvan dalam perkembangannya terbukti hape justru banyak mengundang kemudharatan. “Tetapi kita juga paham kalau dipergunakan secara benar, hape akan sangat membantu komunikasi antara orang tua dan santri. Makanya kita masih mempertimbangkan lagi,” sebutnya.
Itu kalau soal teknologi informasi. Tetapi kalau soal kebiasaan merokok, PP Tebuireng punya garis tegas sejak sepuluh tahun terakhir. Setelah dua kali kedapatan merokok, orang tua santri akan dipanggil dan langsung dipulangkan.
Persoalan bahaya kesehatan terhadap santri bersangkutan dan rekan sekamar serta kemungkinan gangguan terhadap kondisi keuangan santri jadi latar belakang larangan itu.
“Makanya, jika di pesantren (Tebuireng) sedang ada kegiatan, perusahaan rokok tidak akan (jadi) sponsor,” tutur Gus Irvan sembari tersenyum.
Dari hasil diskusi itu, saya menyimpulkan bahwa semestinya pesantren memang tidak lagi dianggap sebagai lembaga pendidikan yang jadi pilihan kedua. Tentu saja setelah ada pertimbangan matang soal leburnya persepsi soal dikotomi tadi. Bahwa ihwal pengetahuan dunia dan selubung ilmu akhirat bukanlah hal yang mesti dipisahkan.
Justru keduanya harus saling bergabung. Terintergrasi. Inheren. Jika sudah demikian, pada beberapa kasus dan contoh-contoh pesantren yang ada, salah satu institusi pendidikan ini harusnya dianggap sebagai salah satu diantara yang keren.
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
12/05/2007 07:30:00 AM
0
komentar
Link ke posting ini
03 December 2007
Tanya Saja
Ceritanya saya lagi kembali lagi ke kelas. Berbagi ilmu dengan rekan-rekan muda. Sebuah kegiatan menyenangkan yang sudah berbulan-bulan ini saya tinggalkan.
Tapi saya terkadang suka sedih sendiri jika menemui kenyataan betapa daya kritis sebagian kita seakan telah hilang. Termasuk di ruang-ruang kelas yang sempat saya sambangi. Sunyi. Jikapun ada hampir pasti tak menimbulkan diskusi.
Sepi.
Walau tak persis, itulah yang sedikit banyak saya alami lagi dua akhir pekan yang lalu. Kebetulan materi yang saya sampaikan soal bagaimana wawancara itu dilakukan. Mungkin karena sore yang sudah tinggi, antusiasme seperti sudah pergi.
Padahal sudah saya berikan kata kunci. Bahwa saya tak hendak menggurui. Justru saya ingin membagi, mereguk, dan merengkuh juga kebajikan yang pasti juga banyak dimiliki pendengar materi yang saya sampaikan tadi.
Sayapun bilang sejak awal. Materi yang tersaji ini hanya soal teknis. Adalah soal etika yang harusnya jadi fokus perhatian. Saya sudah paparkan soal ini pada tulisan kiss and tell di halaman blog ini pada bulan Februari tahun lalu.
Tapi sebagai bagian tanggung jawab profesional, saya beberkan lengkap ihwal permintaan mengisi materi tadi. Tentu saya selipkan sedikit-sedikit soal ihwal mengenai etika tadi. Tentu lagi, karena materinya bernama wawancara, maka sebelumnya saya bikin kontrak sosial supaya kelas itu jadi riuh rendah oleh pertanyaan-pertanyaan. Kami sepakat.
Mulailah saya cuap-cuap. Saya ulas bahwa wawancara adalah salah satu bagian sumber berita. Jika sumber berita adalah jantung jurnalisme, bolehlah kita sebut wawancara sebagai darahnya.
Sebelum masuk pada bahasan wawancara, saya pun mengajak semua yang ada di kelas itu untuk melihat dahulu apa itu sumber berita. Apa pengertian dan bagaimana tahapan sumber berita yang penting dalam proses pengumpulan informasi.
Maka saya katakana soal pendapat Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik dalam Journalism Monographs, November 1996, setidaknya ada empat petunjuk yang bisa membimbing wartawan dalam mengumpulkan informasi. Yakni obeservasi langsung maupun tidak langsung dari sumber berita, proses wawancara, pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik, dan partisipasi dalam peristiwa itu sendiri.
Pada tahapan observasi saya jelaskan bahwa ada prosedur pra peristiwa (pra event) dan pasca peristiwa (post event). Tahapan ini bisa diartikan sebagai persiapan bekal sebelum menuju “medan perang,” dan melengkapi apa yang masih kurang usai pulang dari “medan perang.” Untuk petunjuk penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik dan partisipasi dalam peristiwa itu sendiri, kiranya tidak perlu saya elaborasi lebih jauh.
Lalu saya teruskan dengan kata-kata seperti ini…Baiklah, sekarang mari sama-sama fokuskan perhatian pada proses wawancara. Apa yang hendaknya diutamakan dalam proses wawancara adalah soal kepercayaan.
Pasalnya ini seperti meminta orang lain, seringkali baru kita kenal, untuk bercerita soal-soal yang terkadang sensitif. Jika pewawancara, dalam hal ini wartawan, gagal mendapatkan kepercayaan narasumber maka berita atau tulisan yang berkualitas hampir bisa dipastikan gagal didapatkan.
Bertemu langsung narasumber dan menangkap seluruh ekspresi, gerak-gerik, dan terutama sorot matanya adalah wawancara paling ideal. Ada pemanfaatan maksimal lima indera jika bisa melakukannya. Ini semua memberikan nuansa, visi, dan rasa yang kaya dalam tulisan atau berita yang disajikan.
Pewawancara juga mesti mengupayakan agar narasumber tidak beralih dari subyek yang diperbincangkan. Karena interaksi verbal ini memang ditujukan untuk menggali informasi atas suatu masalah khusus. Ada sudut pandang yang dipilih.
Ada pula wawancara per telepon. Kini, karena perkembangan teknologi informasi, wawancara pun bisa dilakukan lewat layanan pesan singkat, chatting via jaringan global yang disediakan sejumlah aplikasi seperti Yahoo Messenger, panggilan video di jejaring internet yang disediakan berbagai aplikasi seperti Skype, dan aneka metode lain yang menihilkan tatap muka langsung.
Namun yang terbaik tetaplah bertemu langsung, karena alasan pemaksimalan kelima indera itu tadi.
Saya pun bicara soal perkakas wawancara kini banyak pula ragamnya. Berbagai perangkat teknologi kini rata-rata sudah punya kemampuan merekam suara dan bahkan gambar. Ukurannya pun sudah jauh lebih kecil ukuran segenggam tangan.
Namun buku catatan, bagi banyak wartawan, tetap yang utama. Bisa mencatat dengan segera, tanpa perlu memutar ulang ingatan kita.
Hal yang juga saya tekankan lagi adalah hal yang perlu diperhatikan dan hendaknya dihindari pada kesempatan pertama bertemu narasumber adalah sikap terburu-buru mengeluarkan segala perkakas wawancara itu tadi. Simpanlah dulu barang-barang pembantu tadi dan andalkan terlebih dahulu fungsi ingatan sampai benar-benar diperlukan, dan tanyakan pada narasumber apakah ia nyaman dengan penggunaan aneka perkakas pembantu wawancara tadi.
Hal yang juga sebaiknya dihindari adalah bicara berlebihan. Bukanlah pewawancara yang baik jika ia terus mendominasi jalannya percakapan. Sebaliknya pewawancara justru mesti berhasil menanamkan kepercayaan pada narasumbernya untuk berbicara sebanyak-banyaknya, ini yang saya tambahkan sebagai hal utama yang mesti diperhatikan.
Biarkan narasumber bicara banyak tentang apa saja, hingga pewawancara mendapatkan fokus yang diinginkannya. Kembangkan pertanyaan terbuka dan tertutup pada waktu yang tepat.
Maksudnya, jangan langsung membuka percakapan dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup yang bersifat menohok dan menyerang. Bukalah percakapan dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan biarkan narasumber bercerita dulu dengan nyaman. Simpan pertanyaan-pertanyaan kunci yang berpotensi merusak suasana di bagian-bagian akhir atau pertengahan wawancara.
Proses wawancara bisa disebut sukses jika narasumber mau dan rela untuk mengatakan apa yang sebetulnya dipikirkan dan tengah dirasakannya. Bukan sebaliknya, ketika narasumber malah sibuk memikirkan apa yang hendak ia katakan pada si pewawancara.
Hal ini menuntut kemampuan pribadi dari si pewawancara. Rasakanlah apa yang hendak disampaikan narasumber, tanpa kehendak untuk mengadili. Mengertilah sudut pandang yang dipilih narasumber dalam memberikan penjelasan tersebut.
Saya terangkan pula bahwa setidaknya ada sepuluh tahapan wawancara dalam prosesnya.
1. Jelaskan maksud wawancara
2. Lakukan riset latar belakang
3. Ajukan janji untuk wawancara
4. Rencanakan strategi wawancara
5. Temui narasumber
6. Ajukan pertanyaan
7. Lanjutkan hingga ke inti wawancara
8. Ajukan pertanyaan-pertanyaan keras yang berpotensi menyinggung (bila
perlu)
9. Redakan dampak ketersinggungan narasumber akibat pertanyaan-
pertanyaan anda
10. Akhiri dan beri kesimpulan
Tapi saya tambahkan kalau sepuluh tahapan ini bukan harga mati. Mengingat wawancara adalah proses “meminta” kepercayaan dari narasumber. Sedikit banyak ini melibatkan seni tentang bagaimana kepribadian anda bisa mengerti orang lain.
Terkadang wawancara juga harus dilakukan tanpa janji. Seketika. Harus mencegat narasumber entah dimana.
Namun yang pasti, lakukanlah persiapan. Karena seseorang yang berangkat ke medan laga tanpa persiapan, ia akan pulang tanpa kehormatan.
Saya ingatkan pula agar hal ini jangan jadi beban, karena bukankah orang-orang yang malu bertanya akan mengalami sesat di jalan.
Saya pun mengunci isi materi itu dengan menyebutkan bahwa, makalah ini pun tidak akan sampai di tangan anda. Jika saya tidak bertanya kemana harus mengirimkannya.Itulah yang saya sampaikan dalam suatu kelas pelatihan dua pekan silam.
Memang timbul pertanyaan. Rasa ingin tahu.
Namun terbatas hanya pada segelintir individu. Tak ramai seperti isi kontrak sosial yang saya ajukan di muka. Kontrak yang kami semua telah sama-sama bersepakat terhadapnya.
Hmmm…padahal kelas yang saya hadiri ini diisi individu-individu yang tengah menempuh pendidikan tinggi. Bukan kelas dasar atau menengah atas.
Sudah tinggi.
Saya jadi garuk-garuk kepala lagi. Tentu ini saya lakukan setelah keluar dari ruang kelas tadi. Jujur saja saya makin ngeri. Kok daya kritis kita seperti makin terkebiri dari hari ke hari.
Saya takut lagi. Kalau hal-hal begini tak segera direvolusi, bukan tak mungkin bangsa ini mengalami mati suri.
Padahal tak ada yang perlu ditakuti dari kelakuan bertanya. Skeptis. Menggugat. Kritis. Jika asumsinya bertanya adalah kelakuan orang-orang yang tidak tahu, tidak paham, tidak mengerti, sehingga rasa malu justru yang timbul paling dulu mungkin iya.
Tapi percayalah, ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakmegertian itu hanya akan mendera kita paling lama lima menit selagi proses bertanya ada. Selebihnya, kita akan jadi manusia tahu segala di dunia. Untuk selamanya.
Maka, tanya saja.
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
12/03/2007 09:17:00 AM
2
komentar
Link ke posting ini
