24 January 2008

Lisensi Mengemudi

Penunjuk waktu digital di dashboard Isuzu D Max berkelir perak yang saya kendarai menunjukkan sudah 30 menit lewat dari jam empat pagi. Pagi buta itu saya sedang dalam perjalanan dari Provinsi Nakhon Ratchasima (Korat) ke Provinsi Chonburi, Thailand.

Pattaya yang terkenal dengan wisata pantai, apalagi hiburan di malam harinya, adalah titik yang mau saya sambangi di Provinsi Chonburi itu.

Di tengah lamat-lamat suara yang keluar dari sistem audio terintegrasi dengan nyanyian artis Thailand yang nyerempet-nyerempet cempreng dalam ukuran saya, tiba-tiba kampas rem mobil bongsor berkapasitas mesin diesel 2.500 cc itu mesti rela saya siksa. Berdecit, karena tanpa dinyana ada sepasukan polisi lalu lintas dalam temaram cahaya, dua di antaranya bawa senjata laras panjang, yang lagi merazia tiap-tiap pengemudi.

Dari berkali-kali pengalaman kena razia polisi di malam atau pagi buta, baru kali ini jantung saya gondal gandul luar biasa. Bukannya kenapa-kenapa, karena memang baru kali ini secara nekat saya sopiri kendaraan tanpa punya lisensi resmi internasional buat mengemudikannya.

Sepanjang hidup, saya baru punya lisensi mengemudi dengan huruf kapital A dan C di pojok kanan atas. Dua-duanya saya bikin di Sidoarjo. Tempat saya, istri, dan anak saya tinggal selama dua tahun terakhir.

Keputusan yang membawa konsekuensi seluruh dokumen resmi yang menyatakan identitas kepunyaan saya harus berubah, dari yang semula berlogo monumen nasional di Jakarta menjadi tanda tangan beberap pejabat di Kabupaten Sidoarjo. Termasuk lisensi buat mengemudi.

Saya sendiri belum pernah sempat punya lisensi mengemudi yang diakui di berbagai negara. Tak ada secuilpun dokumen izin yang mengamini kelakuan nekat saya mengemudi mobil bak terbuka berkabin ganda di pagi buta itu.

Makanya, jantung saya makin gondal gandul luar biasa. Setelah dicegat razia tentunya.

Okelah, sebelumnya saya perlu cerita dulu latar belakang kelakuan nekat saya itu. Sama sekali bukan upaya saya untuk bela diri. Semata-mata hanya usaha buat mengajak kita semua melihat seluruh soal dan peristiwa dari aneka sudut saja.

Adalah Aot Samrid, pemilik Isuzu D Max yang punya kantung udara SRS ganda buat mencegah pengemudi dan penumpang depan cedera parah jika terjadi benturan frontal itu, yang jadi alasan saya nekat. Pria paruh baya yang lebih saya akrabi dengan panggilan Sam itu menyewakan mobilnya untuk dipakai.

Seharian penuh di hari sebelum pagi buta itu, Sam menyopiri saya dan teman-teman saya, yang membayari biaya sewa mobil itu karena sejatinya saya tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk biaya sewanya, kesana kemari mengelilingi Korat. Pagi-pagi buta itu, Sam sempat pula menyopiri kami lagi dengan rute Korat-Pattaya dengan waktu tempuh rata-rata lima jam yang belum diakrabinya.

Selama hampir satu jam Sam pegang kendali di balik kemudi. Selama itu pula saya yang duduk di kabin belakang, karena kursi penumpang depan diisi kawan saya yeng terlelap, cemas dan sedikit waswas. Sebagai manusia juga, saya tahu persis bahwa Sam pasti sangat letih.

Caranya mempertahankan kesadaran dengan perlahan mengikuti nyanyian artis Thailand yang nyerempet-nyerempet cempreng dalam ukuran saya, dari sistem audio yang terintegrasi makin membikin saya yakin. Sam sedang diserang kantuk.
Kawan saya yang duduk di sebelah adalah orang yang pertama-tama mengambil alih lingkar kemudi. Tak sampai lima menit, ia meminggirkan lagi mobil rakyat dengan fasilitas ABS dan EDB terintergrasi itu. Disebut mobil rakyat karena di Thailand mobil jenis ini dikenai tarif pajak lebih murah dan harga bahan bakar yang lebih murah dibandingkan jenis mobil lain semisal sedan atau minibus.

Rupanya kawan saya mengalami keletihan serupa. Jadilah ia dan saya bertukar tempat duduk. Setelah yakin sabuk pengaman terkunci rapi, pedal gas pun langsung saya bejek.

Sepanjang perjalanan di atas aspal mulus dengan bidang jalan sangat lebar itu saya sangat terbantu oleh tata lampu mobil diesel senyap yang pakai sistem proyektor bernama “ellipsoid” itu. Fungsinya untuk meningkatkan daya terang dan meningkatkan jarak pandang pengemudi untuk obyek-obyek yang jauh sungguh berguna.

Termasuk ketika tiba-tiba saya menangkap sosok petugas-petugas berseragam di pagi buta tadi.

Kembali pada sesi pemeriksaan bernama razia tadi. Seorang petugas langsung menghampiri kaca jendela sebelah kanan tempat pengemudi, karena Thailand juga pakai sistem lalu lintas dengan kemudi di kanan yang serupa Indonesia ini.

Petugas itu menghampiri saya, saya yang kemudian dengan kikuk menekan tombol pembuka kaca elektris.

Muka saya tegang. Seperti biasa, pada situasi model-model begini, telapak tangan dan kaki saya langsung dibasahi keringat. Sebuah akibat langsung perintah dari miliaran sel otak lewat yang sukses menghantarkan pesan “bahaya” lewat jaringan dendrite dan axon, setelah sebelumnya menerima informasi yang masuk dari lima indera saya.

Sementara ini saya merasa tidak punya indera keenam, jadinya semua respon saya selama ini ya pasti diproses setelah info dari lima indera itu diterima miliaran neuron di kepala.

Sam terjaga dari istirahatnya. Dalam bahasa Thai, dia menjelaskan kalau saya dan rekan-rekan kerja saya sedang dalam tugas resmi. Sebuah acara olahraga setingkat Asia Tenggara yang kami semua harus menginformasikannya pada orang-orang di Indonesia.

Soalnya Indonesia kan bagian dari Asia Tenggara.

Tetap saja, petugas itu minta lisensi mengemudi saya. Walaupun tak sampai menggertak, saya tahu dia sedikit memaksa. Jadilah saya buka pintu dan merogoh kantung belakang sebelah kanan celana.

Sampai disitu saya tiba-tiba teringat cerita sahabat saya sedari SMA. Ia cerita, kalau temannya pernah “lolos” dari razia serupa itu di sebuah negara, hanya dengan menunjukkan surat izin mengemudi (SIM) dari Indonesia.

Tapi upaya “gila” itu mensyaratkan penggunaan SIM dengan aksara C di pojok kanannya. Artinya hanya SIM untuk mengendarai motor di Indonesia yang bisa dipergunakan. Semuanya sambil dilengkapi kalimat “C is for car.”

Itulah yang kira-kira, secara nekat saya coba. Maka, di bawah temaram cahaya saya keluarkan SIM C made in Sidoarjo itu. Sambil saya katakan “mantra” sakti tadi.

SIM C saya segera berpindah tangan. Petugas berbadan tegap itu membawa lisensi mengemudi seukuran kartu kredit berbahan plastik tadi ke depan lampu mobil. Sambil dibolak-balik, ia bertanya dalam tata bahasa pergaulan internasional yang patah-patah, “international license?” Begitulah petugas beraut muka tegas itu bertanya kepada saya.

Dengan semangat membara, saya jawab dengan satu kata saja “yes.” Tentu sambil saya ulangi hingga beberapa kali “mantra” nan sakti tadi.

Setelah dibolak-balik lagi selama beberapa kali, lisensi mengemudi yang saya bikin di Sidoarjo itu kembali berpindah tangan. Petugas berbadan tegap itu dengan beberapa kali kata “ok” yang keluar dari mulutnya, mempersilahkan saya untuk kembali meneruskan perjalanan.

SIM C made in Sidoarjo itu pun kembali lagi ke salah satu ruang di dalam dompet kulit halus pemberian istri saya. Lingkar kemudi saya akrabi lagi. Tak banyak yang bisa saya katakan, selain sedikit cekikikan sambil kembali menekan perlahan pedal gas supaya perjalanan bisa diteruskan.

Lagi-lagi bukan upaya bela diri jika saya tulis kisah ini. Sebetulnya saya pun kepingin meminta maaf kepada petugas-petugas tadi jika bertemu kembali, yang bisa saja dihukum atasannya karena kenekatan saya, pada kisah tadi.

Namun, pikiran panjang soal kemungkinan gangguan pada keselamatan yang lebih jadi kepedulian saya. Bahwa, keputusan radikal yang kadang menuntut kenekatan memang mesti diambil. Tepat jam tujuh pagi, kami berempat sampai di gerbang Pattaya.



2 komentar:

gunkBERG said...

Menggunakan kecerdikan untuk "mencerdiki" bangsa lain adalah tindakan yang lebih mulia daripada "mencerdiki" bangsa sendiri...

ingki said...

ah bung..bukan begitu maksudnya...saya jadi merasa tidak enak...

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.