Percayakah anda jika saya katakan sebagian besar orang kaya di Indonesia tidak cerdas. Banyak OKB alias “orang kaya bodoh.”
Artinya, proses mereka menjadi kaya dan punya banyak harta tidak mengandalkan pada pemahaman utuh soal ilmu pengetahuan. Bolehlah jika di antara mereka banyak pula yang berpendidikan tinggi. Tapi soal pemahaman dari kandungan filosofi berbagai ilmu yang dipelajari, sungguh nihil sekali.
Tentu saya tidak sedang asal bicara. Mari sama-sama lihat contohnya.
Wuussss. Satu unit Bayerische Motoren Werke (BMW) seri tiga yang punya garis desain sportif kuat keluaran terbaru, mengasapi muka saya pada suatu sore. Mobil bikinan Jerman yang seringkali dipelesetkan kepanjangannya sebagai Bring More Women itu melesat beribawa melewati sepeda motor yang saya kendarai.
Tertarik lekukan bodi barunya yang lebih aduhai ketimbang keluaran tahun sebelumnya, saya mencoba mendekat. Hanya berhasil merapat selama beberapa detik, saya dikejutkan ulah penumpangnya yang tiba-tiba membuka jendela kacanya yang digerakkan secara elektronik.
Mekanisme elektronis produk-produk mobil BMW yang namanya diresmikan pertama kali pada 1917 oleh Gustav Otto dan Karl Rapp itu terbilang rumit. Lanjutannya terbawa pada harga suku cadang dan biaya perbaikan yang membubung.
Bisa saja sih bi-em tadi diserahkan pada sejumlah pebengkel tanpa lisensi. Namun garansi pabrik bisa langsung gugur, dengan kemungkinan besar kerusakan awal tadi merembet jauh kepada mekanisme lainnya.
Balik lagi ke BMW seri tiga keluaran anyar yang tiba-tiba wuusss di depan saya tadi. Selagi setengah kaca jendelanya terbuka, tanpa saya duga ada “wuusss” kedua hampir mampir ke muka saya.
Mau marah, kaca jendela tadi buru-buru tertutup lagi. Mau diam saja ya gondok alang kepalang.
Bagaimana tidak, jika “wusss” kedua yang dilempar lewat kaca jendela tadi berupa sampah anorganik. Serupa plastik, karena saya pun tak yakin itu plastik. Kesal. Tentu saja rasa itu buru-buru membuncah di dada.
Padahal slogan BMW sempat dikumandangkan bekas gubernur Betawi, Wiyogo Atmodarminto. Supaya warganya makin Bersih, Manusiawi, berWibawa. Sayangnya kali ini, slogan BMW itu kabur cepat dibawa BMW seri tiga keluaran baru yang saya tak yakin warna catnya.
Cerita mirip-mirip begini saya alami berkali-kali. Kadang-kadang saya tidak sedang diasapi BMW ketika itu terjadi. Bisa jadi yang melakukannya pengendara atau penumpang berbagai rupa SUV aneka merek yang masuk kelas premium.
Modusnya sama. Jenis sampahnya berupa-rupa. Mulai kulit pisang hingga puntung rokok.
Tapi semua pelakunya punya kesamaan. Sama-sama bodoh.
Kali lain saya temukan banyak sekali selokan tergenang hebat. Aneka sampah menumpuk disana.
Ironisnya saluran buangan air kotor itu termangu malas di depan jejeran rumah-rumah megah. Kalau saya punya uang seratus juta rupiah pun, dan nekat menebus satu unit saja dari jejeran rumah disitu, niscaya anjing penjaga rupa-rupa jenis seperti terrier, hound, hingga doberman adalah yang paling pertama memburu saya.
Ah, inilah lagi potret gagal soal pemahaman pendidikan yang belum bulat. Jadi lingkaran setan, karena banyak pula yang belum berpendidikan punya anggapan utuh kalau pendidikan tadi tak bisa mengangkat nasib.
Apa yang dilihat kebanyakan memang jejeran orang kaya bodoh yang seenak perutnya memamerkan hartanya, dan mempertontonkan kedunguannya. Jadilah persepsi itu tak lekang.
Tak usah jadi pintar dan memahami ilmu kalau hanya ingin kaya. Cari jalan pintas saja. Buang saja sampah itu sembarangan.
Banjir? Kan ada bantuan dari pemerintah. Pemerintah pun setali tiga uang pemahamannya.
Kalo nggak ya jangan deh. Ntar kalau tambah banyak orang yang pintar dan paham ilmu, susah dong ngadalin orang-orang itu lagi. Nggak bisa dong “serangan fajar” lagi kalau pas hajatan politik digelar.
Ah BMW, kini banyak pula di antara badut-badut itu yang menumpang kenyamanan padamu. Padahal kau lebih nikmat dikemudikan.
11 January 2008
orang kaya bodoh
Banjir? Kan berarti ada proyek. Kalau mendidik banyak orang supaya mereka pintar dan punya pemahaman utuh terhadap ilmu? Tunggu dulu.
Bisa dijadikan proyek tidak? Ada untungnya nggak?
yah, apa saya bilang kan. memang bodoh.
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
1/11/2008 07:54:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

4 komentar:
Hai Ingki....sorry ya baru mampir kasih komentar sekarang...aku cuma baca2 doang dari kemaren.
First of all...maafin kelakuan supir saya yang udah nyembur Ingki beberapa kali hehehe. Nanti saya tegur deh hohoho. Mendingan jadi orang kaya bodoh daripada orang miskin bodoh...hehehe.
Btw, saya baru tau kepanjangan BMW yang pertama dan kepanjangan yang kedua hehehe...bisa aja.
Bener Ki, kaya harta gak selalu berarti kaya hati dan jiwa. Cuma mobil doang yang bagus, kelakuan ancur hehe. Kampungan sih tepatnya. Baru punya mobil BMW doang yang harganya paling mahal 1 M tapi belagunya 1 Triliyun hehe. Heran ma kota Jakarta, bisa punya koleksi warga yang kelakuannya gitu hihih.
*Wondering too
hahaha...iya nih...makin bingung aja..tapi bingung aja nggak akan menyelesaikan masalah...yah, minimal kita mencoba untuk tidak seperti itu ya...semoga aja makin banyak yang membuktikan kata-kata cintanya ama jakarta dan indonesia...tentu dengan tindakan nyata...semoga
pendidikan negara kita kayak apa sih? kayaknya anak2 dididik untuk nilai tinggi saat ujian, gak diajari norma2 .. jadi gak punya kesadaran aja.
@yendoel..diajarin buat pinter, tapi sayang, yang ngajarin teramat sangat banyak yang nggak pinter..diajarin buat jadi orang baek, tapi sayang, yang ngajarin banyak banget yang jahat...
Post a Comment