27 January 2008

Reuni Lagi

Kata-kata Albert Camus yang saya baca suatu ketika soal makna persahabatan sungguh mampu membuat saya membenamkan diri dalam renungan. Filsuf asal Perancis yang dianugerahi Nobel sastra pada 1957 itu kira-kira berujar begini “persahabatan terkadang berakhir dalam cinta, tapi cinta dalam persahabatan takkan pernah berakhir.”

Pendapat filsuf yang kerap diidentikan dengan aliran ekstensional dengan postulat bahwa dengan hilangnya kekuatan transedental maka bebas pula seorang manusia yang menjadikan ia berkuasa dan bertanggung jawab sepenuhnya. Anggapan soal identifikasi itu yang selalu ditolaknya, sehingga menjadikan Camus lebih lekat dengan filosofi absurdisme soal bagaimana upaya manusia untuk mencari arti di alam semesta ini bakal menemui kegagalan, karena sejatinya tak pernah ada arti yang benar-benar bisa dicari hubungannya, setidaknya dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Absurd. Pada Camus, absurdisme mewujud jadi dualisme ide. Soal hitam-putih, baik-jahat, kanan-kiri. Semuanya untuk memberikan tekanan supaya banyak orang mengapresiasi soal-soal kehidupan dan menghargai kebahagiaan. Bukan malah merayakan kejahatan dan hal-hal buruk di lembah hitam.

Seperti salah satu kata-katanya yang saya kutip di muka tulisan.

Baru saja saya ikut konferensi digital dalam jejaring dunia maya. Pesertanya hanya empat. Saya dan tiga sahabat yang saya kenal sedari SMA. Dalam hal ini aplikasi yahoo messenger yang punya peran besar memediasi kepentingan kami.

Seperti biasa, kami saling berbagi kabar terakhir. Soal kami atau soal siapa saja yang layak diobrolkan. Semuanya pasti diwarnai canda gila.

Sebelumnya saya perlu sedikit beri latar. Obrolan kami berempat pada waktu-waktu tertentu bisa berkembang jadi lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dan seterusnya. Bergantung pada siapa-siapa yang bisa, tertarik, dan sempat buat ngobrol soal macam-macam hal bersama.

Ini (akan saya bahas dalam lain tulisan) karena, sedari SMA memang tak ada batas ataupun sekat pergaulan dalam lingkungan kami. Siapapun bisa masuk dan pegang kendali. Soalnya memang tak ada tokoh sentral. Semuanya bisa jadi pemimpin dan pegang kontrol, sekaligus jadi pengikut dan mengamini keputusan paga saat yang bersamaan.

Jelasnya lagi, semua orang punya hak yang sama untuk dihina dan menghina. Yah, ini memang salah satu produk budaya kota besar, Jakarta, tempat kami semua rata-rata dibesarkan. Kota dimana semua kebudayaan bisa melebur jadi satu (melting pot), sekalipun percikan di sejumlah titik kota kerapkali masih kami rasakan.

Tapi, sekali lagi, rasa-rasanya saya belum pernah merasakan percikan serupa itu hadir dalam komunitas kami. Bukannya mau mencoba unggul sendiri dan menonjolkan diri kami, namun jika ada selisih paham, paling mentok hanya sekedar urusan yang lumrah terjadi di periode umur itu.

Periode umur yang kata seorang ahli perkembangan kemampuan kognitif, Jean Piaget, merupakan periode paling puncak dan terakhir dalam tahap pertumbuhan formal. Karena itulah, seorang sahabat saya yang lain dan termasuk yang juga saya kenal sedari SMA, punya teori menarik soal periode usia remaja yang dulu sama-sama kami jalani dengan ceria itu.

Kata salah seorang sahabat saya yang masih keturunan Timur Tengah itu, jika mau melihat seperti apa cermin dewasa seseorang, cukup perhatikan jejak rekamnya semasa SMA. Beberapa tahun kemudian, saya beberapa kali membuktikan kesahihan terorinya itu, meskipun terdapat juga bias di sana-sini yang menurut saya wajar saja dalam sebuah pengamatan gejala sosial.

Pada masa ini sudah ada pola pikir yang jelas dalam menghadapi dan mengantisipasi masalah. Karena itu pula, banyak ide dan imajinasi yang harus bisa terpuaskan saat menjalani periode usia ini.

Pada kasus kami (agaknya ini juga perlu saya eleborasi dalam tulisan lain), ada kelompok cheerleaders bentukan yang kami sahihkan dan merajalela di berbagai panggung ibukota. Jika bayangan orang kebanyakan soal sosok pemandu sorak yang melulu harus perempuan, maka persepsi itu sedikit kami redefinisi. Kenapa sedikit, ya, karena definisi yang berubah hanya dari soal perubahan kata “perempuan” menjadi “laki-laki.”

Soal peran maupun segala identitas sosial yang melekat dalam istilah pemandu sorak tadi tetap pada pemahaman awalnya.

Itulah sebagian fragmen kisah di masa-masa tersebut. Seolah semua hal bisa dan harus dikejar.

Meminjam sebuah kalimat dari Christina Aguilera yang kira-kira pernah ngomong begini, “gue selalu pengen album gue sendiri dirilis sebelum gue lulus dari SMA.” (I always wanted to have my own album released before I graduated from high school). Kira-kira itu kalimat diucapkan sembari menunjukkan tampang mupeng. Maka kira-kira begitulah letupan emosi kami buat menggapai segala ide yang membuncah di dada dan menggejolak terus di kepala.

Balik lagi dalam obrolan via jejaring teknologi digital tadi, seorang sahabat saya yang sedari dulu tertarik pada ide soal bagaimana logika modal menemukan pelabuhan idealnya bercerita soal warung sate yang mau dibukanya. Ceritanya, awal bulan depan bakal ada soft opening rumah makan itu.

Jadilah kami berencana berkumpul di tempat itu. Saya sendiri sebelum tahu ada rencana itu, sudah punya gagasan sendiri yang nyaris pasti soal kepulangan ke Jakarta pada hari-hari pertama di bulan Februari.

Rencana pernikahan yang insya Allah akan dijalani salah seorang adik perempuan saya jadi pembenar utama rencana mudik tersebut. Sebagai saudara kandungnya, sudah barang tentu peristiwa bersejarah itu tak mau saya lewatkan.

Kembali lagi soal rencana kumpul-kumpul kami di warung sate milik salah seorang sahabat saya tadi. Rencana yang sayangnya bukan hal mudah diwujudkan.

Soal kepentingan utama yang kini sudah jadi beda-beda di antara masing-masing kami. Terutama sekali itu jadi masalahnya, karena masing-masing dari kami kini sudah punya urusan sendiri-sendiri. Belum lagi jika bicara soal jarak dan waktu yang jadi salah satu penghalang besarnya.

Yeah, rencana ini memang baru sebatas kami diskusikan. Reuni lagi. Setelah beberapa waktu terpisah jarak dalam waktu yang panjang. Saya pun tak tahu pasti, siapa saja di antara kami yang bisa ikut serta dan saling bertemu muka nanti.

Lama mengobrol, satu di antara kami minta diri. Akhirnya obrolan itu bubar dengan sendirinya. Lama juga saya tepekur lagi memahami absurditas ala Albert Camus tadi.

Friendship often ends in love, but love in friendship - never." (Albert Camus, 1913-1960)



5 komentar:

yonna said...

Ingki yang mana ya? hehe

Friendship tidak bisa dijeda oleh hubungan cinta...karena jika menyangkut perasaan maka sulit memulai dari nol seperti saat dimana sebelum memutuskan berpacaran. I agree with that.

Sebagai cewek yang punya temen cowok, saya pernah terlibat hubungan cinta ma salah satu dari mereka dan sayangnya setelah kandas kita tidak berhubungan seperti teman, seperti dulu saat kita belum berpacaran.

Makanya saya gak mau lagi, karena saya gak mau kehilangan mereka dan kehilangan momen2 di mana mereka menjadi teman dan sahabat yang asik punya dan seru....saya gak mau keilangan itu....lebih baik kita dipisahkan oleh kesibukan masing2 daripada karena rasa itu telah berubah, sekalian saja dipisahkan oleh maut daripada dipisahkan oleh sakit hati.

Moga2 nyambung ma artikel ini hehe...nice one :)

ingki said...

yeah, buat saya gak ada tuh yang namanya istilah bekas sahabat. kata-kata mantan pacar mungkin bisa, tetapi kalau "dulu dia teman saya," wah, saya gak pernah kenal kalimat itu. soalnye, punya temen berjuta-juta orang pun buat saya masih terlalu sedikit. aku mau kasih komen ke yonna, tapi harus join di multiply dl ya..yah, via friendster aj d:)

gunkberg said...

"Don't walk behind me; I may not lead. Don't walk in front of me; I may not follow. Just walk beside me and be my friend."

-Albert Camus

gunkberg said...

=====Towal-Towel=====
Teman itu memang selalu abadi, entah itu dipisahkan oleh jarak,waktu, ataupun kesempatan...
Awal bergabungnya saya dalam towal towel adalah merupakan berkah dari "sing gawe urip" lewat provokasi beberapa rekan yang akhirnya membuat saya terjerumus jua dalam lembah kenikmatan itu...
Saya sendiri tidak mengerti kenapa dulu bisa-bisanya tergabung dalam towal towel-group penari latar yang terdiri dari sekumpulan laki2 normal,tulen dan sama sekali tidak terdeteksi terkena gangguan pada syaraf otak..
Tidak pernah terbersit dalam hati saya rasa penyesalan yang ada hanyalah kebanggaan..
Yang sampai sekarang saya syukuri adalah bagaimana dalam kumpulan itu kami menjadi satu kesatuan yang utuh dan selalu yakin bahwa semua masalah akan dapat teratasi bila dihadapi bersama-sama..
Maju terus kawan-kawan mari kita raih semua dalam hidup sebelum bertemu sang khalik...

ingki said...

ah, bung gunkberg ini memang pria dengan seribu solusi...hehehe...iye ye, kok bisa-bisanye kite jadi anggota tim cheerleaders..pake acara masuk majalah pula...majalah "gadis" lagi...ck,ck,ck...

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.