Satu troli besar berisikan barang-barang bawaan saya sorong kesana kemari dalam lorong-lorong di Bandara Suvarnabhumi, Racha Thewa, Bang Phli, Provinsi Samut Prakan, Thailand. Saya bukan sedang bingung cari gerai buat check in atau melacak lokasi loket imigrasi.
Hari itu saya sedang mencari tiket penerbangan paling cepat ke Jakarta, setelah pesawat yang semestinya saya tumpangi dengan pongahnya meninggalkan saya. Hmmm, ini terjadi bukan karena kesalahan maskapai penerbangan itu, juga bukan gara-gara keteledoran saya.
Tepatnya ini terjadi karena kelengahan seseorang yang mestinya membawa tiket saya untuk kembali ke Jakarta, ternyata malah melupakan tanggung jawabnya. Tiket itu rupanya masih tertinggal di Jakarta. Jadilah, saya luntang-luntung mencari setitik harapan di siang bolong itu.
Untunglah, ada beberapa orang yang punya informasi berharga buat saya. Juga dibantu petunjuk-petunjuk umum yang tertera jelas di beberapa lokasi. Sampailah saya di salah satu gerai maskapai penerbangan yang terkenal gara-gara sistem operasional dengan konsep low cost yang ujung-ujungnya berakibat jadi tiket low fare bagi konsumen seperti saya.
Itulah jadwal penerbangan paling cepat yang bisa saya temukan. Tapi itupun masih harus saya tunggu dalam waktu delapan jam ke depan. Tak mengapa, mungkin saja ada hikmahnya.
Jadilah aktivitas putar-putar bandara dengan luas terminal 563.000 meter persegi dan menara kontrol 132,2 meter, yang menjadikan Suvarnabhumi sebagai bandara dengan luas terminal terbesar kedua dan menara kontrol tertinggi nomor satu di dunia itu segera saya akrabi. Jepret sana, potret sini.
Saya pun mulai naik turun eskalator berkali-kali. Sebuah upaya menangkap aura bandara baru yang dibuka secara resmi 28 September 2006 sebagai pengganti Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand yang dibuka sejak 27 Maret 1914 silam.
Hasil nyata yang segera saya tuai adalah letih. Maka saya putuskan buat sekedar duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di lantai dua bandara yang punya konstruksi runway paralel (masing-masing dengan lebar 60 meter serta panjang 4000 meter dan 3.700 meter) dan taxiway paralel yang juga sempat mengalami kerusakan serius itu.
Diam. Soalnya hanya satu dua orang yang menemani saya duduk. Itu pun tak terjadi dalam durasi lama. Rata-rata hanya lima menit. Untuk kemudian beranjak lagi.
Hanya ada seorang perempuan muda yang duduk terpisah jarak hanya satu setengah meter dari posisi saya yang sedari tadi tekun dalam pandangan lurusnya ke depan. Kami berada di bagian kursi panjang yang sama.
Tertarik buat sekedar mengobrol, saya sapa dirinya. Sempat pula ia menyangka saya sebagai orang Thai, sebelum saya pastikan kepadanya kalau saya warga negara pengekspor pesawat ke negaranya sejak bertahun-tahun lalu. Juga setelah ia yakin dengan pasti mekanisme yang dulu sempat terjadi dari alur ekspor-impor itu adalah pembayaran dengan skema imbal dagang lewat hubungan antar pemerintah (government to government) dengan komoditas beras ketan yang negara saya terima.
Kami langsung telibat perbincangan hangat. Fokusnya soal pengembangan pendidikan di negara-negara berkembang. Lebih menohok lagi di kawasan seputar Asia Tenggara.
Sebelumnya, mungkin perlu saya ceritakan siapa rekan mengobrol saya yang dari kartu namanya tertera ejaan Supakan Ariya sebagai pengenal namanya. Dari usianya, ia hanya satu tahun di atas saya yang saat ini baru menjejak umur lewat satu tahun dari batasan seperempat abad.
Di usia begitu muda, ia rupanya sudah punya posisi puncak pada salah satu perusahaan kimia berskala internasional. Belakangan saya tahu lagi, ia berencana untuk melakukan “ekspansi” dengan mundur dari pekerjaannya selama ini, demi mencari tantangan profesional yang lebih besar.
Latar belakang pendidikannya relatif bagus. Ia keluaran sebuah lembaga pendidikan tinggi di belahan barat dunia. Karena itulah, segala ide yang dicerapnya bisa dengan mudah dideskripsikannya dan diterangkannya dengan lugas kepada saya.
Setidaknya ada tiga bahasa yang dikuasainya. Selain bahasa Thai, ia juga jago berbicara dalam bahasa Mandarin dan tentu saja mahir berbahasa Inggris. Lewat tata bahasa terakhir inilah kami saling bertukar pemahaman.
Katanya kepada saya, ia terlahir sebagai anak tunggal. Sebetulnya ia punya seorang suadara laki-laki. Tetapi itu adalah saudara tiri yang berbeda orang tua dengan sepasang orang tuanya kini.
Karena saudara tiri laki-lakinya itulah ia berada di bangku panjang itu dan tengah mengobrol bersama saya. Ia rupanya tengah menunggu kedatangan saudara tiri laki-lakinya itu, yang juga menempuh pendidikan tinggi di lain negeri.
Kembali pada fokus obrolan yang kami perbincangkan. Tak pula saya menyangka, ternyata ide yang membenam di dalam kepalanya punya kesamaan dengan mimpi-mimpi yang selama ini saya punya.
Soal pendidikan. Tentang bagaimana hak dasar itu mestinya bisa diperoleh dengan mudah dan murah. Akses maksimal yang harus dibuka untuk penduduk di seluruh negeri.
Perbincangan akhirnya sampai pada konstelasi politik di masing-masing negara. Soal-soal mengenai kekuasaan yang sangat memengaruhi kebijakan fokus soal yang tengah kami diskusikan.
Anasir-anasir politik yang selalu saja berkawan karib dengan kepentingan buat merengkuh kuasa. Mengeduk keuntungan. Menihilkan nurani.
Sama saja profilnya di tiap-tiap negara, terutama pada konteks negara-negara berkembang di kawasan Asia Tenggara yang sedang kami bicarakan.
Okelah, sesekali perbincangan memang masuk pula wilayah yang pop. Perbincangan seputar mengapa logika kapitalis selalu saja punya berbagai bias di dalamnya. Hingga hal itu pula yang merasukinya.
Soal-soal yang membuatnya punya kesimpulan bahwa perempuan-perempuan asal Vietnam lebih memiliki aura eksotis dan wanita-wanita dari China yang disebutnya punya kulit yang lebih bagus. Semuanya jika dibandingkan dengan “kenyataan-kenyataan” serupa yang ditemuinya pada bangsa-bangsa lainnya.
Sebuah topik bicara yang saya rasa perlu waktu lama buat membedahnya, karena saya rasa ini berarti pula ada upaya saya buat mendekonstruksi ruang paham pikirnya. Bahwa apa yang disebutnya di muka, sejatinya hanyalah upaya penguasaan yang sangat sistematis dari skenario besar tata dagang dunia.
Skenario yang akhirnya mendikte selera banyak sekali budaya di dunia, jika tak mau dikatakan semua. Sebuah kenyataan miris yang bisa ditangkap justru setelah elemen-elemen lokal pada berbagai budaya tadi lelap tergerus oleh selera global yang diatur sempurna oleh logika pikir pemilik modal besar.
Jadilah, untuk sementara saya hanya mesam mesem saja demi menanggapi betapa dengan semangatnya bercerita itu semua.
Tak perlu waktu lama buat mengembalikan fokus diskusi yang tengah memanas tadi. Sampai akhirnya saya meyakinkan padanya, jika semua mimpi ideal soal pendidikan tadi takkan bisa digapai jika terus-terusan berharap pada kesadaran pemerintah dan orang lain untuk memulainya.
Kata saya kepadanya, yang mulai manggut-manggut tanda setuju, ini semestinya dimulai dari diri sendiri. Saya yakinkan, kalau orang-orang seperti kita pun bisa memulai gerakan seperti itu.
Lakukan. Berikan. Apa yang jadi kemampuan kita sementara ini. Tak usah menunggu untuk sampai di puncak sebelum mulai mencicil mimpi-mimpi ideal kita. Tak perlu menunggu hal ideal terjadi sebelum mulai menjadikan sesuatu hal lainnya menjadi ideal pula.
Telepon genggamnya berdering nyaring. Ia pun minta diri, karena yang ditunggunya sudah tiba. Saya pun kembali pada aktivitas semula.
Dorong-dorong troli ke kanan dan kiri. Berharap masa penantian delapan jam segera saya lalui.
25 January 2008
Supakan Ariya
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
1/25/2008 09:27:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

2 komentar:
ah Ingki yang sebelah kanan atau sebelah kiri ya? hehehe
Nama orang ya kirain apaan...hmmm...senang ya bisa bertemu dengan orang yang "tepat". Maksudnya tepat adalah bertemu dengan seseorang yang bisa menstimulasi wawasan dan kecerdasan komunikasi kita...saya mengagumi keramahtamahannya dengan bertegur sapa ma Ingki...secara dia cewek tapi dia gak merasa canggung atau risih negur seorang asing cowok lagi duluan :)
I think the friendship is about to begin...hope it will be the nice one :)
yup, semua hal adalah soal bagaimana kita mau memulai. tentu ada faktor niat yang menjadikan sesuatu itu akan menuai hasil baik atau buruk. aku mau kasih komen ke yonna, tapi harus join di multiply dl ya..yah, via friendster aj d:)
Post a Comment