Barusan, secara tak sengaja, ada teman saya kasih ide buat menulis soal ini. Saya pun padu padankan tulisan ini dengan komentar yang sempat saya berikan buat tulisan karya Ian Badawi pada salah satu blog, beberapa waktu lalu.
Baiklah, ini tulisan akan berputar pada urut-urutan soal logika dalam realitas industri. Lebih menjurus lagi kenyataan di dunia hiburan. Kenyataan tontonan.
Mohon diper-sori apabila ini permulaan tulisan masih berputar pada mantan Presiden Soeharto yang wafat 27 januari lalu.
Begini duduk perkaranya.
Kata teman saya itu tadi, media di Indonesia (baca televisi) sekarang ini sudah pintar mengaduk-aduk emosi penonton. Katanya, sembari saya pinjam bahasanya, itu bisa dilihat saat tayangan di seputar wafatnya Soeharto disertai "lagu sedih dan efek-efek slow motion (serta) black and white (juga) blur gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998."
Sebuah tragedi sosial yang, katanya lagi, jreng-jreng membimbing kita semakin jelas menuju krisis ekonomi. Resesi yang memuncak sejak indikasinya tercium jelas setahun sebelumnya.
Akibat itu, seluruh negeri seperti sedang mengalami efek bius dosis tinggi. Hampir semua larut dalam kesedihan massal secara berlebihan. Semua secara berlebihan. Mulai hari berkabung nasional tujuh hari berturut-turut hingga gelar sebagai pahlawan nasional.
Dari situ, saya beberkan jika pertama-tama sekali apa yang terjadi pada realitas itu adalah sebuah contoh nyata dari bias kognitif bernama halo effect. Bias yang terjadi ketika sosok Soeharto yang populer dan atraktif itu dinilai punya kepribadian dan kemampuan yang diatas "rata-rata" kebanyakan orang.
Bias akibat karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya. Bias kognitif yang terjadi gara-gara kita menginginkan segala sesuatu itu sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Bukan kenyataannya.
Kecenderungan yang terjadi pada orang-orang untuk melihat sesosok lain di luar pribadinya sebagai pribadi yang baik atau buruk semata. Bukan pada kenyataan bahwa setiap orang pasti tersusun atas berbagai karateristik yang kompleks. Sesuatu yang pasti melibatkan konsep baik-buruk.
Seolah-olah kebanyakan orang tidak ingat lagi bahwa selain kebaikan, manusia juga tersusun atas unsur keburukan. Inilah bias kognitif bernama halo effect tadi.
Pada kasus di seputar wafatnya Soeharto tadi, kata-kata teman saya soal “lagu sedih dan efek-efek slow motion (serta) black and white (juga) blur gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998,” yang dipanggungkan media (televisi) menjadi faktor utamanya.
Faktor utama berupa “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya.”
Realitas di televisi inilah yang banyak orang melihatnya, setelah nyaris sepuluh tahun orde reformasi digulirkan, sebagai “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya.”
Ada masa “kekosongan kekuasaan” selama rentang itu. Membuat banyak orang menaruh harap. Sehingga saat “realitas” yang ditunjukkan media (televisi) soal seputar kematian Soeharto, inilah yang jadi “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya” itu tadi.
Kenapa kata realitas tadi saya berikan tanda kutip (“”)? Baiklah, di bawah ini kutipan yang saya copas dengan perubahan seperlunya, dari komentar saya sendiri pada artikel buah pikir Ian Badawi, yang saya terangkan di muka.
Kira-kira lima tahun lalu saat saya masih jadi tenaga lepas untuk sebuah usaha penerbitan buku, bertemulah saya dengan realitas yang waktu itu cukup membikin saya terkejut. Terkejut bukan karena saya lemah jantung, melainkan kenyataan serupa yang biasa saya temukan dalam bahan-bahan bacaan, kali ini tersaji utuh di depan indera penglihatan. Juga bisa saya dengar, saya baui, sembari menahan sesak di dada yang saya rasakan.
Ketika itu ada seorang artis cilik tersohor, yang tentu sekarang sudah besar, bercerita soal hidupnya kepada saya. Atas nama etika, saya tak bisa menyebutkan identitasnya. Jelasnya, ia tinggal bersama neneknya di Jakarta.
Kedua orang tuanya tetap tinggal di tanah kelahiran mereka. Sepanjang cerita ada nuansa janggal yang saya rasa. Ia tak seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ia memang ceria dan seperti tanpa dosa. Namun saya merasa, ada tembok besar di kanan-kirinya, yang menjaga supaya ia tetap ceria dan tanpa dosa.
Tetapi itu tembok artifisial belaka. Jadilah sepanjang cerita kami berdua, praktis tak tercipta leluasa. Tidak seperti suasana yang terbangun ketika saya dan anak-anak kecil lain saat kami bercengkerama.
Bicara dandanannya, jangan bayangkan ia seperti dalam konsep anak-anak kecil tetangga atau bocah-bocah lain di keluarga besar kita. Karena rupanya lebih mirip orang dewasa. Lengkap dengan riasan tebal yang menutupi sekujur mukanya.
Pakaiannya pun jauh dari rasa bahagia yang biasa hinggap pada anak-anak seusianya. Semuanya seperti serba terpaksa.
Tetapi kepada saya, lagi-lagi ia mengaku bahwa dirinya sangat gembira melakoni itu semua. Neneknya, hampir mau melakukan apa saja demi kesuksesan cucunya.
Jadwal kerja hingga dini hari pun bukan soal yang perlu diperdebatkan. Soalnya sang cucu dituntut lengkap. Bisa nyanyi. Pandai lenggak lenggok dan menari. Juga mesti bisa beraksi saat syuting di depan kamera televisi dan sorotan lampu beribu watt. Bahkan hingga dini hari.
Inilah watak industrialisasi. Terutama jika bicara pasar hiburan yang sarat dominasi kapitalisasi.
Ia punya logikanya sendiri, sebagai prasyarat dan syarat demi kelanggengannya. Kejayaannya. Semuanya dikomodifikasi.
Akhirnya ini meminggirkan hakikat manusia dalam kutub bernama komersialisasi. Bahkan lihatlah saat bulan suci.
Penetrasi industrialisasi tetap tak bisa dihindari. Tontonlah televisi. Banjir sekali mata acara yang seperti membuat agama masuk dalam jerat ketat industrialisasi.
Soalnya saat semua hal masuk dalam realitas pasar hiburan, semua hal itulah yang menyesuaikan diri dengan realitas pasar hiburan.
Ada rating. Ada prime time. Ada slot iklan.
Termasuk agama, saat masuk dalam realitas pasar hiburan, mau tak mau harus ikut logika dan realitas yang berlaku dalam pasar hiburan. Maka lihatlah betapa menjamurnya dominasi program televisi yang menjadikan dakwah hanya sebagai basa-basi. Jadilah agama harus rela tersubordinasi dalam pasar hiburan yang jadi inti.
Sekali lagi, inilah industrialisasi. Melahirkan anak kandung bernama budaya konsumtif yang dirumuskan dalam Collin’s Dictionary of Sociology sebagai kekuasaan kultural dalam masyarakat kapitalis modern yang berorientasi kepada pemasaran dan pemakaian barang dan jasa pelayanan.
Atau juga bisa diartikan sebagai budaya yang membedakan status dan membagi pangsa pasar dari masyarakat modern saat cita rasa individu tidak hanya merefleksikan lokasi-lokasi sosial, seperti jender, umur, pekerjaan, etnis, dan sebagainya. Tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sosial dan gaya hidup individu para konsumen.
Logika pasar hiburan adalah bagaimana menjadikan segala rupa ihwal yang masuk ke dalamnya sebagai komoditas yang laku dan bisa dijual. Jika tidak, harap minggir. Segala ihwal demi menyematkan predikat layak jual tadi pun dilakukan.
Pada fenomena sosial yang terjadi di seputar wafatnya Soeharto, saya temukan lagi “realitas” serupa. Saya katakan pada teman saya tadi yang punya dugaan dengan asas praduga bersalahnya, soal pembenaran teori konspirasi agar tayangan-tayangan di seputar wafatnya Soeharto memang dibuat indah dan agung sesuai pesanan, bahwa sejatinya ini hanyalah sekedar realitas pasar hiburan.
Bahwa dengan semua tontonan di seputar wafatnya Soeharto itu, yang juga membuatnya kesal karena mengganggu program-program acara lain yang biasa disaksikannya di televisi, adalah sosok Soeharto yang sebenarnya justru sedang terpinggirkan dari realitas sesgungguhnya. Dalam “realitas” itu, sosok Soeharto justru sedang termarjinalisasi.
Karena sejatinya, apapun yang masuk dalam realitas pasar hiburan pasti butuh banyak penyesuaian. Termasuk wafatnya Soeharto.
Sehingga hakikat Soeharto sebagai manusia seutuhnya justru sedang terpinggirkan dalam kutub yang bernama komersialisasi. Sehingga lagi, ketika masuk dalam realitas pasar hiburan tadi, Soeharto harus rela diiringi "lagu sedih dan efek-efek slow motion (serta) black and white (juga) blur gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998,” persis seperti kata-kata teman saya tadi.
Begitulah.
31 January 2008
Tontonan Hiburan
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
1/31/2008 09:34:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

6 komentar:
Bukannya menyalahkan kerusuhan mei 98 ataupun menentang dengan keras kedatangan orde reformasi di tahun yang sama tetapi "ya mbok"(meminjam istilah orang jawa yang bisa diartikan "kalu bisa")diundur gitu loh waktunya...sekali lagi bukannya menyalahkan kerusuhan mei 98 ataupun menentang dengan keras kedatangan orde reformasi di tahun yang sama
karena dampaknya adalah ter-eliminasinya drama kolosal yang telah direncanakan sedemikian rupa kualitasnya untuk menyambut perpisahan kakak kelas, mungkin ada pepatah no pain no gain untuk hal ini (reformasi maksudnya)....
Sekali lagi bukannya menyalahkan kerusuhan mei 98 ataupun menentang dengan keras kedatangan orde reformasi di tahun yang sama tetapi ya mbok......
hahahaha...bener banget nih..saya lupa memasukkan fragmen ini dalam tulisan-tulisan soal ini...hahahaha....gara-gara amuk massa di bulan mei 1998 itu, seluruh rencana pementasan yang sudah sampai pada taraf "tinggal manggung" jadi gagal total ya bung...sampe sekarang, kadang saya masih suka dihantui mimpi buruk soal itu lho...hahahahahaha...bener bung...mbok ya...
baca posting ini gw jadi inget kata dosen gw soal kekuatan media televisi, khususnya siaran2 berita, yang megang motto, "If it bleeds, it leads'.
Kaya acara macam Buser, Sergap dll, meskipun sadis dan banyak darah maling dipukulin belepotan dan berceceran kemana-mana, tetep aja orang suka nonton acara begituan.
sama kaya berita kematian mang Ato, meskipun mbosenin dan sok menggugah emosi, mau gak mau org tetep aja nonton (gue ngga! gue ngga! hahahaha); mungkin disebabkan karena rasa penasaran atau juga karena kaga punya TV cable ha3x.
begitu juga dengan infotainment - meskipun semua stasiun TV punya acara infotainment andalan masing2, isinya dan gambarnya seh sama aja, cuma di tweaking2 dikit biar dramatis, sampe2 pembawa acaranya aja pasang tampang sok serius gitu padahal dia cuma ngomongin kehidupan maia ama dhani ahmad. Bah.
jelasnye, kalo kecenderungan ini semakin berat ke arah "kegemaran dan kehausan" akan kekerasan, berarti masyarakat kita emang lagi sakit.
situasi yang terjadi saat negara kehilangan wibawa atawa fungsi kontrol terhadap warganye sendiri. sehingga banyak terjadi kasus-kasus jahat yang anarkis, soalnye emang nyaris udah kagak ada lagi yang percaya ama yang namanye itu penegakan hukum.
apalagi kepercayaan ama para penegakye.
lama-lama, ini negara bisa jadi kayak masa jahiliyah ato serupa dengan praktik di zaman "wild west." saat kagak ada hukum nyang bisa dijadiin patokan buat bermasyarakat.
semua orang berbuat atas kehendak sendiri. maen tembak, maen bacok, maen sikat.
persis kata lo soal "meskipun sadis dan banyak darah maling dipukulin belepotan dan berceceran kemana-mana, tetep aja orang suka nonton acara begituan."
kalo inpoteinmen, pegimane ye..lagi-lagi ini soal pemahaman masyarakat kita ama pendidikan yang ancur banget.
pemahaman pendidikan lho ya, bukan tingkat pendidikan. sering liat pan, pendidikan tinggi tapi kagak paham esensi ilmu nyang dipelajarin.
yeah, (mode menghela napas)...
Oh, kalo soal infotainment seh gue rasa mayoritas orang Indo demen aja ngeliat selebriti juga ternyata punya masalah dalam kehidupannya dan mereka itu ngga perfect2 bgt ha3x.
cuman gw kalo nonton infotainment gitu ga ngerti abis artis2 yg dibahas jg gw ga tau, sapa dan darimana trus ngetopnya karena apa.
Jangan2 kaya Paris Hilton, "Famous for Being Famous"?
Hahahaha.
Oiye bener bgt bro, org yg berpendidikan tinggi blom tentu pinter, blom tentu juga tastenya bagus. Gue sering ketemu kok org udah sekolah jauh2 ke luar negeri tapi pemikirannya masih picik, masih rasialis, masih materialistis, wah heran aja gw.
Yeahh -mode slenge'an-
@therry
mungkin waktu sekolah mereka lebih memilih belajar lewat tipi..hehehe..
Post a Comment