15 February 2008

Bunuh Diri

Banyak orang lalu-lalang di depan blok rumah saya dua pagi lalu. Gara-gara diburu janji, saya tak acuhkan hal tak biasa itu.

Saya baru paham beberapa jam kemudian kalau sibuknya orang berlalu lalang itu karena ada tetangga saya yang baru tewas. Ia memilih cara tragis.

Bunuh diri.

Ternyata ia tak kuat menanggung kenyataan ditinggal istri lebih dulu ke alam baka. Pasangan hidup yang lebih dulu terenggut nyawanya karena jadi korban kecelakaan maut lalu lintas.

Tetangga saya itu pilih metode antik. Malam sebelum tewas, ia masukan sepeda motornya ke dalam kamar. Mesin penyejuk udara dinyalakan, bersamaan dengan deruman mesin bensin motornya. Kamar ditutup dan beberapa pil ditenggak.

Paginya, orang-orang ramai berkerumun. Kata beberapa tetangga saya yang kebetulan tak sedang diburu janji pada pagi itu, komplek perumahan yang kami tinggali sontak jadi pusat perhatian.

Orang-orang berseragam. Pihak-pihak yang sibuk dengan urusan dan kepentingan sendiri-sendiri.

Nyaris dua pekan sebelum peristiwa itu, saya temukan pula fakta mengiris kalbu di depan mata. Seorang pria muda tewas mengenaskan.

Lagi-lagi karena bunuh diri.

Ia pilih kereta api sebagai algojonya. Saya lewat di tempat kejadian hanya berselang tak lebih dari 20 menit usai keputusan buat membuang nyawa itu dilaksanakan.

Dari kartu tanda pengenal yang saya temukan, saya tahu bahwa pria muda itu baru saja genap menembus usia kepala dua. Ia pun tercatat sebagai pekerja sebuah kelompok usaha.

Seragam yang mengidentifikasi ia sebagai karyawan salah satu perusahaan terkemuka juga masih melekat padanya.

Petunjuk utama yang membuat saya yakin ia bunuh diri adalah sepeda motor miliknya. Tunggangan roda dua keluaran baru itu masih terparkir rapi di salah satu sisi perlintasan kereta api.

Jadi saya buang kemungkinan ia sedang alpa ketika menyeberangi perlintasan gulita di malam buta itu. Juga asumsi jika saat kereta api melintas ia sedang menuntaskan salah satu hajat utamanya.

Karena petunjuk kasat mata di lokasi kejadian membimbing saya pada kesimpulan itu.

Bunuh diri.

Fakta tersaji utuh di depan mata. Apa yang tak bisa saya gali lebih dalam adalah motivasi sesungguhnya para pengambil keputusan itu.

Kata istri saya, cita-cita mereka apa sih.

Semua masih berupa asumsi. Tak sanggup menahan beban sendiri. Tak kuasa mendapati kenyataan jauhnya kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Tentu, ada literatur Sigmund Freud dan Emile Durkheim yang mengupas soal bunuh diri.

Lewat pisau bedah psikoanalisis, Freud punya pendapat bunuh diri sejatinya adalah bentuk perlawanan seseorang ke dalam dirinya sendiri.
Dalam hal ini, kata Freud, orang-orang yang bunuh diri sebetulnya sedang dalam upaya untuk membuhuh bayangan benci terhadap orang tua mereka yang bersemayam dalam diri.

Durkheim punya analisa yang diklasifikasi jadi tiga. Adalah bunuh diri altruistik, egoistis, dan anomik yang dipandangnya jadi pembeda motivasi.

Beber Durkheim, bunuh diri altruistik terkait tuntutan tradisi. Harakiri di Jepang adalah contohnya.

Bunuh diri egois terkait dengan kegagalan sesorang untuk menyatu dalam masyarakat. Kata Durkheim, ini kerap melanda orang-orang yang kesepian dan merasa seperti ditinggalkan oleh dunia yang terus melaju cepat.

Sedangkan bunuh diri anomik terjadi karena ada gangguan keseimbangan proses penyatuan sesorang dengan masyarakat. Ada sebuah krisis kepribadian. Misalnya terjadi ketika seseorang tiba-tiba tercerabut dari zona nyamannya selama ini.

Atau ketika pukulan hebat menerpa seseorang dalam hidup. Saat pukulan itu menimpa di tengah percepatan perputaran bola dunia yang cenderung mengakibatan kegelisahan.

Dunia kekinian adalah dunia yang diklasifikasi Durkheim sebagai anomik tadi. Penuh anomali. Cenderung menyebabkan kegelisahan akibat kegagalan seseorang untuk menyatu dalam sistem besar yang bergerak cepat.

Lalu bunuh diri dijadikan solusi.

Tetapi saya masih bertanya-tanya terus dalam hati, Mengapa mereka memilih cara bunuh diri. Buat meretas masalah dan berharap bersua solusi.

Bahkan mereka yang bunuh diri secara sendiri tak bisa saya pahami. Apalagi mereka yang sampai mengajak anggota keluarga dan komunitasnya dalam prosesi bunuh diri ini.

Sungguh saya tak mengerti.

Belum lagi mereka yang bunuh diri dengan tujuan untuk membunuh orang lain. Bom bunuh diri jadi nyatanya.

Saya sungguh tak paham. Heran.

Mengapa orang bunuh diri terus jadi misteri dalam hati. Ada surat wasiat ditinggalkan. Berharap bisa dijadikan petunjuk dan pegangan buat mereka yang ditinggalkan.

Tetap saja saya heran.
Mengapa mesti bunuh diri.

Bukankah menjadi hidup dan berkehidupan adalah hakikat manusia. Saya berulangkali menyaksikan berjenis tanaman dan aneka spesies hewan berjuang hebat mempertahankan hidup.

Semut dan lebah yang terorganisasi hebat dan terus bekerja tanpa henti siang malam. Pohon rambutan dan cempaka yang sesekali meranggas demi bertahan hidup dan hanya meregang nyawa di saat-saat terakhirnya karena usia yang memang sudah renta.

Mereka tak pernah bunuh diri. Hewan dan tanaman.

Manusia.

Lebih rendahkah martabat dan kedudukan manusia dibandingkan tanaman dan hewan?

10 komentar:

gunkberg said...

Till death do us part = orde lama

No death do us part = orde baru

Will death do us part? = orde reformasi

gunkberg said...

dalam kasus diatas mungkin si wanita akan berkata
"why death does not do us part.."

-maaf bungki tapi gak bisa ditahan komentar diatas...

Therry said...

"Lebih rendahkah martabat dan kedudukan manusia dibandingkan tanaman dan hewan?"

I believe so. Liat aja kelakuan manusia jaman sekarang, dah lebih rendah dari binatang.

Gue aja sampe jijik kadang2, mikir, dunia macam apa yg gue tinggalin ini.

Mungkin mereka2 yg bunuh diri jg merasakan hal yg sama seperti gue, udah eneg sama dunia? He3x..

ingki said...

@gunkberg..hehehe...mungkin gara-gara dia hidup di orde reformasi ya bung..

@therry..hehehe..kalo jijik bin eneg ama kelakuan sebagian manusia sih gwe ngalamin jg hampir tiap hari ther...cuman jangan terus2an kali ye..soalnye kekuatan penyeimbang tetep perlu..hitam ada saat putih hadir..kebaikan berarti saat kejahatan muncul..supaya gak eneg terus2an?..nyok bareng2 kite buat perbedaan...

Therry said...

asli kadang gw pesimis bro, soale the evil ones keep on outnumbering the good ones...

nonton berita di tv aja udah males, isinya kalo ngga org di demo, di gusur, di bunuh, di penjara, di gebukin, di mutilasi dll dll

depressing!!

btw, pasang comment spam aja, keqnya bnyk yg spam deh!

ingki said...

@therry..pesimis kadang diperlukan, cuman jangan terus2an..paling penting menyemai terus benih buat skeptis..terhadap apapun..tapi jangan jadi apatis..terhadap apapun..pasti ada celah menganga buat tiap solusi segala..walau kadang kaum spammer bisa bikin depresi juga..hahaha..thx 4 d advice..

LiSan Skywalker said...

Mati itu gampang, hidup itu sulit, kalo pemberani tetap harus hidup ^o^

ingki said...

@lisan skywalker..bener banget tuh..pokoknya musti berani lah..nggak sulit2 banget kok..asal mau...

yonna said...

hey ingki...pa kabar nih?

bunuh diri ya? hmmm topik yang agak berat dibicarakan...hmmm.

pendapat pribadi saya, jangan sampe kita bunuh diri karena merasa sudah putus asa dan tidak punya jalan keluar lagi. jika hidup yang dijalani terasa sangat buruk, maka untuk apa ambil resiko pindah ke dunia lain yang tidak kita ketahui sama sekali apakah lebih baik daripada hidup di dunia atau malah lebih buruk karena harus bertemu dengan makhluk Tuhan lainnya (malaikat) yang entah ramah atau tidak ramah ma kita? belum lagi harus bertemu dengan Tuhan yang kita tidak ketahui apakah Dia menginginkan dan merindukan kita? jangan pernah ambil resiko yang tidak kita ketahui baik-buruknya. walau gak gampang, tapi dicoba dulu gak ada ruginya kali ya?! hmmmm....thanks salam

ingki said...

hai yonna..alhamdulillah kabar baek...iya, yang bener emang yang terpenting adalah keberanian buat menghadapi apapun di dunia..saat ini..bukan pusing soal masa lalu, atau bingung soal masa depan..tetapi fokus aja dulu di hari ini..saat ini..resiko pasti ada, dan kemungkinan untuk melakukan salah juga niscaya hadir..tapi, hal itu pasti jauh lebih baik daripada cuma diam..menanti..nggak pasti...iiiii...

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.