Beberapa orang lelaki dewasa berbadan tegap dengan raut muka tegas mendatangi kamar milik salah seorang tokoh masyarakat, tempat saya menginap ketika waktu subuh belum lagi genap.
Saat itu saya tengah bermalam di Pulau Raas, Madura. Pulau terpencil yang hanya bisa dicapai dari Pelabuhan Dungkek di ujung timur Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur dengan waktu tempuh sekitar empat jam pelayaran dengan kapal-kapal kayu renta.
Namun waktu tempuh sekitar empat jam tadi jika gelombang laut berada dalam batas normal. Artinya, jika sensasi naik perahu-perahu tadi sudah melebihi perasaan saat naik wahana kora-kora di Dunia Fantasi, Jakarta, maka waktu tempuh bisa semakin molor luar biasa.
Pasalnya, kisah-kisah mengenai perjalanan perahu-perahu tadi hingga ke perairan Australia saat badai tiba, sungguh cerita yang tak jarang terjadi.
Pintu kayu jati dengan pernis khusus pada satu di antara sangat sedikit rumah bagus dalam wilayah pulau terpencil itu berderik halus. Pemilik rumah memberi tahu, sebuah praktik kecurangan di tengah laut yang saya harus tahu.
Sebuah kain sarung bertenun yang disampirkan di atas sajadah, yang dipinjamkan pemilik rumah kepada saya, langsung saya kenakan. Tanpa cuci muka dan kumur-kumur, saya ikuti derap cepat langkah sejumlah laki-laki berbadan tegap dengan raut muka tegas tadi.
Melewati dinding-dinding kusam. Melaju terus di antara wajah-wajah kuyu yang hanya diterangi lampu temaram dari daya listrik hasil gerakan mesin diesel yang dijatah kerjanya.
Kami sampai di tepian pantai. Ada puluhan kapal kecil yang sandar, atau lebih tepatnya sengaja disandarkan. Bukan karena pemiliknya sengaja memilih waktu istirahat. Tetapi dipaksa dengan sengaja untuk beristirahat.
Tidak karena nelayan pengelola kapal-kapal kecil dan renta itu sedang sakit. Namun mereka memang sedang dipaksa menjadi sakit.
Setidaknya itu bisa saya lihat dari profil keluarga mereka. Anak-anak yang mesti rela mengecap pendidikan seadanya. Benar-benar hanya seadanya dari realitas fisik yang sebetulnya tidak ada.
Tidak ada, karena bangunan fisik sekolah yang ada umumnya menunjukkan ketiadaan. Tembok yang jebol. Atap yang hilang. Bangku dan kursi yang lenyap.
Tenaga pengajar yang raib.
Saya dekatkan tubuh saya semakin ke pinggir bibir pantai. Dalam remang-remang cahaya menjelang fajar datang, sejauh mata saya memandang ada cahaya benderang yang terpancar dari kapal super besar.
Kata sejumlah laki-laki berbadan tegap dengan raut muka tegas yang mendatangi pintu kamar saya tadi, itulah praktik yang selama ini membuat mereka lunglai. Kelakuan yang membikin sendi-sendi hidup mereka jadi linu.
Cahaya benderang tadi diproduksi dari lampu merkuri. Daya sorot kuatnya menarik perhatian berjenis-jenis ikan dari segala macam kelompok usia buat naik ke permukaan.
Masuk dalam perangkap. Tanpa seleksi. Mana ikan-ikan yang sudah senior dan layak ditangkap. Mana ikan-ikan yang masih yunior dan harusnya jadi pelapis dulu dalam mata rantai makanan ekosistem di bawah laut sana.
Jika sempat mengetahui soal metode penangkapan ikan dengan pukat harimau, maka kira-kira metode penggunaan lampu merkuri punya hasil akhir yang mirip. Sekalipun lampu merkuri tidak menerjang habis terumbu karang, seperti yang dilakukan pukat harimau, tetap saja tak ada klasifikasi saat lampu merkuri beroperasi.
Semuanya disikat. Semuanya diembat.
Parahnya lagi, itu dilakukan nyaris terang-terangan. Dalam wilayah perairan yang harusnya jadi kedaulatan nelayan-pemilik perahu-perahu kecil dan renta tadi.
Dikerjakan dengan sangat rapi dan terencana. Oleh pemilik kapal-kapal besar yang tak memikirkan apa yang sedang terjadi pada penduduk pula-pulau di sekitarnya.
Kapal-kapal yang seringkali menaikkan bendera negara lain, yang hampir tak satupun orang-orang di pulau itu mengenalinya. Karena sepanjang hayat, hanya Merah Putih yang mereka tahu sebagai bendera. Pengetahuan yang didapat dari warisan tutur dari mulut ke mulut.
Bukan bangku sekolah.
Secara sistematis dan terencana, penduduk tanpa daya di pulau-pulau terpencil itu sedang mengalami apa yang dinamakan dengan perenggutan kedaulatan.Kedaulatan yang mestinya bisa dimiliki. Supaya keluarga mereka bisa merdeka dalam arti sesungguhnya.
Agar pendidikan yang harusnya dipahami sebagai modal dasar meretas kemiskinan bisa dilangsungkan dengan sempurna.Tanpa tembok sekolah yang jebol. Tanpa atap bangunan sekolah yang hilang. Dengan bangku dan kursi yang lengkap.
Dalam temaram cahaya di pinggir batuan, seorang laki-laki yang jadi perwakilan kumpulan berbadan tegap dengan raut muka tegas tadi berkata pada saya. Bahwa jika ini terus menerus terjadi, jelasnya akan ada perlawanan yang dilakukan.
Pastinya dengan kekerasan.
Saya terhenyak. Mustahil rasanya jika saya mencoba tenangkan batinnya saat itu. Hanya sedikit mencoba berempati padanya dan semua laki-laki berbadan tegap beraut muka tegas yang hadir disitu.
Orang-orang yang jadi satu-satunya ujung tombak dan harapan bagi keluarga masing-masing.
Kami kembali lagi susuri jalan-jalan kecil berpasir dan terjal berbatu. Melewati dinding-dinding kusam. Melaju terus di antara wajah-wajah kuyu yang hanya diterangi lampu temaram dari daya listrik hasil gerakan mesin diesel yang dijatah kerjanya.
Saya sampai kembali dalam kamar milik salah seorang tokoh masyarakat, tempat saya menginap tadi. Sejenak saya diam dan tepekur. Menunggu datangnya nyaringnya panggilan bagi hati, di saat pertama bagi embun terakhir melepaskan kesederhanaannya.
Kali ini waktu subuh sudah genap.
02 February 2008
Himpitan Tekanan
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
2/02/2008 10:55:00 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

0 komentar:
Post a Comment