11 February 2008

Luka Jakarta

Pandangan mata saya menatap lurus ujung sayap yang ditekuk milik pesawat Airbus A320. Bagian yang disebut winglet pada salah satu spesies buatan konsorsium Eropa Airbus Industries itu punya fungsi utama buat menghemat bahan bakar.

Cara kerja winglet adalah dengan menjadi alat handal menembus vorteks, yang secara sederhana merupakan penghambat laju pesawat di udara. Vorteks ada karena perbedaan tekanan udara antara penampang atas dan bawah bagian sayap-sayap pesawat.

Dengan winglet, tak perlu ada akselerasi mesin berlebihan yang berarti membesarnya kucuran bahan bakar saat pesawat menghadapi vorteks. Winglet adalah pisau. Alat sederhana yang hanya berupa lekukan di ujung sayap.

Namun akibatnya sungguh tidak sederhana.

Dengan winglet, lebih jauh jarak bisa ditempuh, lebih murah biaya perawatan mesin yang dikeluarkan, dan pastinya lebih banyak orang dan barang bisa terangkut dalam pesawat.

Dari ujung winglet, mata saya menembus lurus ke batas horison. Menikmati indahnya pagi dengan jarak ribuan meter dari muka air laut. Di batas paling bawah, dalam hitungan menit akan segera saya masuki wilayah ibukota negara.

Hari itu hanya berselang sehari ditutupnya Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, setelah lagi-lagi banjir yang makin hari makin parah terulang kembali. Pertunjukan kolosal yang tragis jutaan kaki kubik debit air yang enggan mengalah dari kuasa manusia yang serakah.

Banyak mobil masih tergolek tak berdaya di sepanjang tol bandara. Seebagian besar adalah angkutan taksi serupa yang sedang saya tumpangi. Kata seorang sopir taksi kepada saya, mereka itulah yang terjebak banjir dan terpaksa membiarkan mobil tunggangannya berendam dalam kubangan bercampur air laut.

Sebagian di antaranya adalah sopir-sopir angkutan umum, yang sama-sama tak berdayanya seperti mobil tunggangannya yang kebanjiran. Apakah setelah banjir surut masalah mereka pun susut? Tidak juga.

Kata sopir taksi berperawakan mungil yang mengantar saya tadi, setidaknya sopir-sopir angkutan umum tadi mesti membayar hingga Rp 5 juta yang diangsur dari potongan pendapatan mereka tiap-tiap bulannya. Itu sebagai biaya tambahan ongkos rekondisi mobil-mobil tunggangan yang mengalami mati suri usai dihajar pertunjukan kolosal yang tragis jutaan kaki kubik debit air yang enggan mengalah dari kuasa manusia yang serakah.

Soalnya tentu tak ada perusahaan yang mau menangggung rugi sendiri.
Tak ada istilah force majeure dalam dunia banjir.

Jangan-jangan, angsuran banjir kali ini belum lagi lunas, bulan depan sudah datang lagi banjir yang lebih dahysat. Semua dianggap jadi bagian rutinitas yang seolah tak bisa diretas ujung pangkalnya.

Padahal tak ada istilah force majeure dalama dunia banjir.

Entahlah. Sepertinya banyak manusia Jakarta kini makin tumpul saja otaknya.
Menganggap apa-apa yang mereka rasakan, alami, dan lakukan merupakan bagian dari nasib dan takdir yang seolah tak bisa diubah.

Lidah banyak orang seolah kelu tatkala banyak pejabat sontoloyo berlindung atas nama bencana yang merupakan kehendak penguasa semesta. Tiarap di atas kidung doa sembari berharap agar kejadian serupa takkan terulang di masa-masa berikutnya.

Tapi mereka semua lupa berusaha.

Banyak yang abai tatkala kebiasaan membuang sampah sembarangan jadi hal jamak dikerjakan. Tak ada yang peduli saat ludah berserakan di seluruh pelosok kota. Siapa yang mau perhatikan ketika banyak mayat tikus bergelimpangan di ruas-ruas jalan utama.

Itu semua disengaja.

Mereka tiarap di atas kidung doa sembari berharap agar kejadian serupa takkan terulang di masa-masa berikutnya.

Tapi mereka semua lupa berusaha.

Saya lihat makin banyak bangunan-bangunan megah berdiri sombong di tengah-tengah miskinnya akses terhadap ruang-ruang publik dan tempat bersemayamnya debit air. Tenggelam dalam kesombongan sendiri, karena toh akhirnya banyak di antara bagungan-bangunan megah itu yang mesti rela kosong melompong.

Kali waktu saya mantapkan pegangan jemari di lingkar kemudi. Mencoba waspada sembari melirik kaca spion kanan dan kiri. Semua rambu dan tata aturan saya penuhi.

Apa daya, saya hanya jadi binatang jalang di antara kerumunan setan. Saat berperilaku sopan di jalan jadi barang haram. Ketika kaca spion yang saya awasi bolak-balik justru jadi sasaran empuk hantaman pengemudi-pengemudi tak tahu diri.

Saling serobot saling sikut, jadi jamak dan bukan barang terlarang. Saat tiba-tiba ada satu spesies bajaj tua beroda tiga yang tiba-tiba mendesak ruang sempit saya di antara himpitan bus kota, pengemudinya hanya mengerling pada saya.

Di ujung sepelemparan mata saya ada satu unit hot hatch Peugeot 206 yang beken di ajang reli dunia lagi terjebak di jalur busway. Pengemudinya tak menyangka, jalur sombong yang dipaksakan membelah macetnya ibukota dan dengan percaya diri dilewatinya itu, ternyata belum selesai pengerjaannya.

Jadilah ia terjebak di tengah-tengahnya. Tak bisa melewati separator, mustahil untuk mundur, apalagi maju terus.

Saya melambaikan tangan pada pengemudinya lewat kaca jendela.

Jalan raya di saya depan tiba-tiba ditutup. Ada dua kubu suporter sepak bola sedang berkelahi dan saling amuk. Dari perkembangan selanjutnya yang saya tahu ada satu nyawa yang meregang dan menemui penciptanya di tengah-tengah peristiwa sia-sia dan tanpa makna itu.

Apa yang saya rasakan saat itu sungguh bikin sesak di dada. Ingin rasanya saya mengajak salah satu pentolan kelompok suporter itu untuk berkelahi saja.

Jalan ditutup.

Membuat perjalanan saya sebagai penjemput rombongan dari bandara ke kawasan selatan Jakarta harus memakan waktu tak kurang lima jam lamanya. Membuat salah seorang anggota keluarga saya harus merasakan dampak parah gara-gara serangan dadakan penyakit degeneratif di esok harinya. Ingin rasanya saya mengajak salah satu pentolan kelompok suporter itu untuk berkelahi saja.

Hujan tiba-tiba mengguyur.

Tak lama, hanya sekitar lima belas menit. Apa daya, tiba-tiba saja di depan saja sudah menghadang genangan sekitar setengah meter.

Jalan merayap, memaksa mesin bekerja lebih keras. Kadangkala ditingkahi suara-suara aneh dari belakang sistem gas buang.

Lalu saya lihat makin banyak anak-anak kecil berserakan di pinggir-pinggir jalan dan setiap perempatan. Mereka dieksploitasi. Dijadikan tameng orang-orang dewasa tak tahu diri yang menjadikan anak-anak kecil itu umpan buat mengail duit recehan.

Politisi dan pejabat sontoloyo ramai-ramai memanfaatkan semua isu dan kekacauan ini buat mengatrol pamor. Diliput dan diperhatikan kanan-kiri.

Memanipulasi data dan omongan bahkan pikiran supaya supaya terkenal.
Berjanji macam-macam buat menuntaskan itu semua persoalan. Memberikan harapan semu pada orang-orang yang kebetulan mereka tahu dengan persis, takkan berani melawan.

Atau setidaknya mempertanyakan soal nasibnya, soal haknya dengan lebih kritis.

Ujung-ujungnya kucuran duit. Entah darimana asalnya, pokoknya uang dan diakui industri perbankan. Bisa diinvestasikan dan dibuat alat melanggengkan umur kekuasaan. Syukur-syukur bisa dijadikan praktik sempurna pencucian uang.

Selalu berulang.

Tumpukan sampah makin menggerus sempitnya jalan raya. Tak ada lagi pengemudi dan pengguna jalan yang mau peduli. Mereka semua memakan habis daya hidup kota. Setengah mati saya coba parkir di tengah jahatnya penetrasi semua kebusukan itu.

Saya pelankan laju kendaraan ketika sekonyong konyong saya tangkap keceriaan bocah-bocah usai sekolah yang melintas di tengah jalan. Sorot mata mereka masih menyimpan banyak harapan. Setumpuk impian.

Akankah mereka saya, anda, dan kita rela sia-siakan. Terus larut dalam serakan sampah-sampah busuk ibukota. Tenggelam dan jadi bagian buruk serta ruwetnya sistem tak berujung pangkal.

Mata saya menatap lurus winglet Airbus A320. Pesawat efisien yang beken bagi maskapai penerbangan dengan konsep low cost carrier.

Winglet yang handal menembus hambatan berupa vorteks.
Perangkat sederhana yang tak rumit tapi berdampak besar terhadap keseluruhan sistem.

Saat bersamaan, makin banyak politisi dan pejabat sontoloyo berkoar soal aneka perkakas nan rumit buat meretas persoalan Jakarta. Saling beradu argumentasi dan membuat rakyat kebanyakan yang kebetulan tak paham esensi pendidikan makin melongo seperti bego.

Seolah banyak politisi dan pejabat sontoloyo itu pintar dengan gelar doktornya, seakan mereka tak ada tandingannya. Sepertinya uang menjadi inti segala.

Satu-satunya yang mereka punya dan terus mereka pikirkan untuk punya dan menambahnya. Entah dengan jalan lurus atau bulus. Soal nurani dan hati, saya kok meragukan mereka memilikinya.

Padahal, tak ada satupun perkakas rumit yang mereka ajukan tadi benar-bener menyentuh akar persoalan. Tak pernah ada yang bicara pentingnya pemahaman terhadap pendidikan.

Sebuah perkakas sederhana yang tak rumit tapi berdampak besar terhadap keseluruhan sistem.

Pendidikan. Paham.

0 komentar:

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.