01 February 2008

Pilihan Keputusan

Namanya Nienke van der Peet. Saya bertemu dengan perempuan berkebangsaan Belanda itu pada suatu kegiatan di sebuah dusun kecil, di Kabupaten Kediri, Jawa Timur beberapa waktu silam.


Saya tak sempat ngobrol banyak dengannya. Hanya bertegur sapa sebentar, karena Nienke saat itu tengah sibuk jadi tutor bermain bagi bocah-bocah kecil. Mereka bersenda gurau di sebuah tanah lapang pada tengah-tengah kebun jagung yang ada di dusun itu.

Tutor, karena permainan-permainan itu sejatinya punya tujuan jadi medium pengajaran. Nilai-nilai dasar seperti pentingnya kerjasama, saling hormat serta percaya, dan pengutamaan untuk menggunakan logika dalam memecahkan persoalan, yang diberikan bukan lewat ucapan. Pengajaran lewat contoh nyata.

Menyenangkan, karena dibungkus dalam permainan.

Saya cuma mengamati gerak-gerik Nienke dalam kerumunan dari kejauhan. Sembari sesekali menjepretkan shutter kamera ke arah kumpulan permainan itu.

Satu dua jepretan menghasilkan fokus lumayan tajam ke titik perhatian kegiatannya. Saya amati dari jendela bidik. Lalu saya ulas lagi hasil fokus itu lewat layar kristal cair di belakang badan kamera.

Hasilnya sama.

Nienke tampak tak bisa dibedakan dari anak-anak kecil yang mengerumuninya. Ia tak bisa diidentifikasi utuh dari keceriaan bocah-bocah cilik yang bermain bersamanya. Mereka tampak serupa.

Dari sudut pandang itu semua, Nienke tampak sama dengan kanak-kanak yang saling bercengkerama dengannya. Sudut pandang sosial yang mengaduk-aduk emosi saya.

Jangan lihat Nienke dari sudut pandang fisik. Karena dengan rambut pirangnya ia tentu akan tampak sangat berbeda. Postur tinggi besarnya pastilah akan langsung memberikan kesan bahwa perbedaan itu demikian kentara. Belum lagi tutur bahasanya, yang tak diragukan lagi akan semakin mempertajam jurang perbedaan itu.

Jangan lihat dari situ.

Jadi saya teruskan kegiatan menjepret shutter kamera dengan sudut pandang sosial soal Nienke, yang saya pilih. Makin banyak foto terekam. Makin jelas lukisannya.

Gambaran utuh yang juga terefleksi dari raut gembira bocah-bocah cilik di salah satu dusun terpencil itu. Padahal, dari cerita beberapa orang di dusun itu, Nienke beserta beberapa orang rekannya baru saja usai memperbaiki saluran air.

Yah, saya memang melihat ada jalur air baru yang dibangun dengan susunan bata dan batu, beserta campuran semen dan pasir yang baru saja kering di sekitar lokasi bermain tadi. Sebagai tambahan, bangunan buat melancarkan aliran air tadi tidak berwujud seadanya.

Jangan bayangkan rupanya seperti hasil garapan proyek-proyek oleh kontraktor lokal yang menang tender dari sejumlah instansi pemerintahan. Hasil garapan yang rapuh dan renta. Bukan seperti itu.

Bangunan untuk aliran air garapan Nienke beserta teman-temannya ini demikian kokoh. Tersusun rapi dalam bentuk memanjangnya, dengan penyelesaian akhir yang digarap sempurna. Saya sungguh terpana.

Sebelum bertemu Nienke di tanah lapang dusun itu, saya berdiskusi banyak hal dengan rekannya. Namanya Wendy Wouters. Perempuan berambut kriwil dengan gaya bicara lugas dan tegas ini juga sama-sama berasal dari Belanda.

Mereka berdua punya dedikasi yang sama di dusun itu. Perbedaannya hanya pada usia. Juga kenyataan bahwa Nienke masih kuliah, dan Wendy yang sudah bekerja sebagai guru taman kanak-kanak serta pengajar kelas senam pada waktu sisa yang dimilikinya.

Tapi dua-duanya punya etos kerja keras. Memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya. Pada bidangnya.

Saya bisa pastikan itu ketika Wendy bercerita betapa keras hidup yang dijalaninya, selain apa-apa yang sudah dikerjakannya secara kasatmata di dusun tersebut. Betapa ia harus bekerja pada dua tempat berbeda, demi memenuhi tanggung jawab membayar aneka tagihan tiap-tiap bulannya.

Dua tempat kerja yang dicapainya dengan mengayuh sepeda. Mencoba bertahan di sebuah negeri yang sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Belum lagi ancaman banjir gara-gara wilayah itu dilewati tiga sungai besar.

Kenyataan yang membuat harga tanah di negara itu jadi sangat tidak rasional.
Fakta yang membuat Wendy tinggal di sebuah flat dan “bertumpuk-tumpuk” dengan orang lain.

Seperti banyak orang lain di negara Kincir Angin berpenduduk 16 juta jiwa, yang total luas wilayah negaranya masih lebih kecil dari luas Provinsi Jawa Timur itu.

Jadilah Wendy sangat heran luar biasa demi menyaksikan banyak Jaguar dan Toyota Alphard hingga Ferrari wira-wiri di jalanan Kota Surabaya. Tapi ia pun tak kalah takjubnya, saat melihat kenyataan jomplangnya taraf hidup di dusun yang kini dihampirinya.

Saat kami hiking di salah satu bukit di dusun itu, Wendy dan kawan-kawannya dari Belanda juga tak kunjung merasa percaya. Perbedaan nilai tukar mata uang yang tiba-tiba mendapuk mereka pada sebuah realitas baru.

Menjadi kaya, dalam arti punya kedaulatan dari sisi ekonomi.

Atau setidaknya memiliki uang dalam jumlah yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya saat uang milik mereka dikonversikan dalam rupiah. Perbedaaan nilai tukar yang membuat Wendy, Nienke, dan kawan-kawan mereka merasa ikut pula sebagai pemilik Jaguar dan Toyota Alphard hingga Ferrari, yang sliweran di jalan-jalan Kota Surabaya tadi.

Di tengah nafasnya yang makin tersengal-sengal akibat saya paksa naik ke bukit dengan sudut curam, Wendy berkisah soal pengalamannya mengajar di dusun itu. Bagaimana ia dengan dedikasinya merasakan, banyak potensi dan bakat luar biasa yang terpendam dan terus begitu di dusun itu.

Sayangnya, kata Wendy lagi, semua berjalan seperti dalam rutinitas lingkar setan. Antara kemiskinan dan buruknya pemahaman pendidikan.

Kata Wendy, hal ini membuat murid-murid dengan bakat dan potensi luar biasa tadi tak pernah bisa meretas jalan buat bebas dari kungkungan kemelaratan.

Akses yang sulit, karena letak sekolah yang sangat jauh, kerap dijadikan alasan.

Alasan yang turun temurun dan dianggap jadi keniscayaan. Alasan yang lantas dikuatkan oleh sistem kepercayaan. Sebuah sistem pemahaman yang lagi-lagi tak diterima utuh akibat buruknya pengertian pada pendidikan.

Lagipula tak pernah ada contoh bulat yang hadir di dusun itu. Bahwa jadi orang terdidik pasti bisa meningkatkan taraf hidup. Pasti bisa memutarbalikkan realitas sosial dan punya kehidupan ekonomi yang mapan.

Belum ada.

Itulah lingkaran setannya, kata Wendy yang punya tato bergambar kupu-kupu mungil di bagian punggungnya. Ia pun tak kalah heran, mengapa tak disediakan saja terlebih dahulu akses pendidikan itu tadi.

Toh, banyak mutiara yang nyata-nyata belum tergosok di dusun itu.

Untuk sesaat, lensa kamera saya menangkap ekspresi bingung di wajah Nienke.

Ekspresi yang hadir, kemungkinan ketika ada kekhawatiran yang tiba-tiba terlintas dalam ruang pikirnya.

Bahwa ia tak bisa ada di dusun itu berlama-lama. Bahwa pada akhirnya, ia tak bisa lagi berkarya bersama anak-anak itu semua. Bahwa akan seperti apa lagi jadinya bangunan sosial di dusun itu nanti.

Bahwa ekspresi serupa yang juga hadir di wajah Wendy, saat kami sama-sama sampai di puncak bukit terjal itu.

Peduli kini. Nanti. Pilihan. Keputusan.



2 komentar:

yonna said...

dan orang bule pun terheran2 melihat salah satu suasana kota dan desa di Indonesia.

heran dengan kenyataan yang ajaib ini.

dari kenyataan ajaib itu lah yang menempa seorang miskin fasilitas menjadi seorang yang tangguh dan bermental baja. karena baginya, keterbatasan bukanlah halangan hanya tantangan. buruknya keadaan mampu melecut semangatnya untuk mewujudkan impiannya akan kehidupan yang lebih baik, indahnya impian yang melecut semangatnya untuk meninggalkan kehidupan yang tidak layak ini.

saat membaca kisah sukses orang-orang yang tadinya hidup serba kekurangan, saya terngiang dengan nasihat ini "Just because they have fancy sneakers, don't mean they run fast" (Jon Bon Jovi)

kekuatan hati, kekuatan impian, kekuatan mental, kekuatan iman dan dukungan orang sekitar yang mampu membuat orang bertahan kemudian menang dari ajaibnya kenyataan hidup.

nice article :)

ingki said...

yonna, sayangnya belum banyak orang di Indonesia yang punya keinginan buat berbagi dengan sesamanya...sebesar keinginan dan bukti yang ditunjukkan orang-orang seperti nienke dan wendy...banyak memang yang mencoba, namun kebanyakan hanya berakhir di bibir saja...huehehehe...kayak judul lagu jadul ye...

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.