29 February 2008

Penyikat Rakyat

Bayangkan situasi seperti ini. Ruang tertutup, dengan sejumlah pendingin udara beroperasi pada kemampuan maksimal.

Semua jendela ditutup. Puluhan orang duduk dalam jarak dekat satu sama lain.

Sekali lagi, semua akses keluar masuk ditutup. Demi menjaga hawa dingin yang keluar dari mesin penyejuk ruangan buatan Jepang tak dikalahkan suhu panas di luar.

Lalu, puluhan orang tadi ramai-ramai menyalakan rokok mereka. Menghisapnya dan mengepulkan asap tebal beraneka aroma.

Mulai yang tercium keras menyengat hingga yang terbau seperti tisu terbakar. Dari yang berbunyi kretek-kretek hingga yang bersuara elegan dan hanya mengeluarkan bunyi seperti sssshhh.

Puluhan orang itu sedang bicara soal hajat hidup orang banyak. Mengenai nasib rakyat.

Segala aturan hukum dibahas. Aspek yuridis formal dibumbui semua hal yang sepertinya bakal menguntungkan nasib banyak orang lagi dibicarakan.

Ruang tertutup yang sejumlah pendingin udaranya dinyalakan dengan tambahan pekatnya asap rokok beterbangan tadi adalah ruang rapat resmi wakil rakyat.

Dewan perwakilan yang katanya terhormat dan kabarnya punya kehormatan.

Dalam ruangan itu hadir pula sejumlah tokoh ahli. Tokoh yang di depan namanya punya embel-embel mentereng, profesor.

Predikat yang disematkan gara-gara jadi guru besar salah satu disiplin ilmu di perguruan tinggi tertentu. Tapi, lagi-lagi ia pun asyik masyuk dengan sebatang rokok kretek yang dimasukkan dalam sebuah pipa dari gading berwarna coklat.

Maka saya ragu. Apakah ia profesor, prosesor, atau kompresor.

Saya yang terpaksa hadir dalam ruangan itu sudah mengeluarkan semua jurus. Mulai mendehem-dehem ringan sampai batuk-batuk dalam intensitas tinggi.

Sejak menendang-nendang kursi hingga protes keras dan langsung.

Toh, asap pekat masih terus mengepul.

Membuat mata makin perih dan sesak seperti menggumpal di dada.

Situasi belum berhenti sampai disitu. Soalnya pembahasan pun melebar jauh dari fokus asal.

Minimnya penguasaan persoalan jadi biang keladinya. Belum lagi tak ada catatan yang merekam soal isi pembicaraan.

Membuat pembahasan terus berputar layaknya komidi putar di pentas pasar malam.

Semua masih ditambah dengan kehadiran nakal tak kurang dari 4.000 jenis bahan kimia beracun dalam setiap batang rokok yang dinyalakan. Racun-racun kimia yang di antaranya termasuk zat radioaktif polonium-201, DDT yang lazim jadi racun serangga, hidrogen sianida yang kerap jadi “gas maut,” serta tentu saja, nikotin, tar, juga karbon monoksida saling berebut tempat memasuki paru-paru saya.

Padahal saya tengah berupaya serius mencari peretas buat melihat jernih masalah tak jelas yang mereka semua sedang berdebat kusir dengannya. Saya sungguh berusaha untuk itu.

Apa daya, saya harus disibukkan terlebih dahulu dengan upaya meringankan dada yang semakin sesak. Belum lagi mata yang jadi berair dan kepala yang sontak mengirimkan sinyal nyut-nyut.

Tapi saya tetap harus berada dalam ruangan itu. Supaya bisa mencari peretas buat melihat jernih masalah tak jelas yang mereka semua sedang berdebat kusir dengannya.

Maka saya pun jadi tak yakin kalau mereka sedang bicara soal nasib rakyat. Mungkin mereka malah sedang berupaya menyikat rakyat.

Itu adalah kemungkinan terbaik yang mampir di benak saya.

Padahal lagi, kadang-kadang apa yang mereka perdebatkan adalah soal-soal kesehatan buat masyarakat banyak.

Tapi saya tak yakin mereka benar-benar peduli.

Sudah hampir empat jam saya berjibaku dengan gumpalan asap pekat yang menyergap ke segala penjuru. Terus bergerak mencari bangku-bangku kosong yang tak ada rokok menyala di sekitarnya untuk berpindah dan sekedar menarik nafas.

Panas.



4 komentar:

Therry said...

loh ...

kok situasinya mirip pas gue kerja dulu, setiap ada meeting bulanan dimana kita semua staff R&D dipaksa meeting sampe malem, ngebahas hal-hal yg ngga penting, yang mestinya common sense dan anak umur 10 tahunan jg mestinya tau...

ga bisa minum ... makan siang telat ... makan malem juga telat ... sementara si managing director terus ngoceh-ngoceh ngga karuan soal pabrik, analisi kimia, cost-saving dan bla bla bla nya orang farmasi yang jelas-jelas ngga masuk di otak gue yang lulusan multimedia ...

dan ga ada satupun omongan si MD yang masuk di otak gue ... heran, perusahaan farmasi, mau mensejahterakan masyarakat dengan cara membuat pembuat obat nya menderita?

ironisnya ... itu pharmacists2 di kantor ngga ada satupun yg mau make obat buatan mereka sendiri ... bwakakakakaka ....boro-boro antusias mo bikin obat, lebih gede rasa dendam karena disuruh meeting sampe malem ngomongin hal yang ngga jelas ..

yg ada di otak kita2 smua saat itu cuma "gue pengen pulang. sumpah gue pengen pulang. laper. ngantuk. cape."

mirip kan bro??

ingki said...

hahaha...silly office eh?..untung gak ditambahin empat ribu jenis lebih zat kimia yang terbang bebas ye..parahnye, kalo ngikutin sidang anggota dewan, mereka sering pada kagak paham ama substansi masalah tuh..lebih parah karena mereka adalah pihak pengundang, yang kudunya sih, yah paling kagak tau dululah..jadi, bukannye ketemu solusi..yang ada makin banyak masalah baru timbul..satu pihak bilang nasi berasal dari gabah, pihak laen ngomong padi asal muasal nasi..fakta kalo beras yang ditanak bisa jadi nasi gak sempet ditengok..ngookk..

az&fa said...

coba mereka2 tuh yang pada ngebul hidup dijaman almahdi sudan... sudah dicambuk mereka... hehehe

ingki said...

@az&fa..hahaha..yoi, mungkin kudu digituin kali ye biar pada kapok..nice blog..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.