
Mesin bensin dengan sistem injeksi elektrik buatan lima tahun lalu itu menderum ringan. Putaran mesin berkapasitas isi silinder 1.800 sentimeter kubiknya saya batasi tak lebih dari 2.000 putaran per menit. Gigi transmisi hanya berkutat di nomor satu hingga urutan dua.
Dari balik kaca jendela depan, di jalan desa dengan lebar tak lebih dari lima meter itu, puluhan orang bersepeda motor menguasai badan jalan. Membuat pengendara lain tak punya kesempatan terbaik untuk mendahului mereka.
Termasuk yang punya hajat darurat, karena kecepatan yang diperagakan puluhan orang tadi dari atas motornya tadi sungguh sangat lamban.
Jagoan-jagoan tengik itu meraung-raungkan mesin yang biaya bahan bakarnya didanai kepentingan mereka menuju ke sebuah pertemuan politik di sebuah tanah lapang desa tersebut. Ada yang berdiri. Ada pula yang sambil iseng mengangkat tingi-tinggi kedua sepasang kaki, dengan bokong yang masih melekat di atas sadel.
Membuat pengguna jalan lain terpaksa minggir. Pejalan kaki yang sudah minggir jadi semakin minggir dan merapat ke pagar terdekat. Mengindari setan-setan jalanan.
Unjuk kekuatan. Mungkin itu yang mau mereka tunjukkan. Tetapi sungguh bagi saya terlihat seperti drama kebodohan.
Sebuah percik kecil dari kebodohan luar biasa besar yang membingkai utuh potongan kisah dungu para jagoan tengik tadi.
Tiga hari terakhir ini saya punya kesempatan melihat langsung proses politik di sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jatim. Proses yang akan menentukan siapa jadi pemimpin daerah itu untuk lima tahun ke depan.
Pesta menjijikan para politisi yang sering berlindung di balik topeng istilah pesta rakyat. Pemilihan kepala daerah secara langsung.
Pilkadal.
Unjuk kebodohan yang dipergakan para jagoan tengik tadi hanyalah salah satu eksesnya. Akibat langsung dari niat bulus buat menguasai panggung politik dengan hasil akhir menjamah utuh ranah kekuasaan. Supaya bisa lebih banyak lagi keuntungan didapatkan.
Agar makin hebat lagi pamor kuasa yang bisa menentukan segala.
Pada kesempatan ini ada empat calon penguasa tersedia. Saya tak mau pakai istilah calon pemimpin, karena kata ini punya konsekuensi yang lebih besar ketimbang sekedar jadi penguasa.
Keempatnya sempat saya ajak buat sekedar ngobrol santai. Buat yang pertama, saya langsung mencecarnya dengan rencana mula-mula yang dimiliknya jika jadi penguasa nantinya. Ia seorang pengusaha yang dalam hajatan para politisi kali ini punya sokongan dana luar biasa besarnya.
Saya sungguh amat nelangsa melihat banyak calon warga yang bakal dikuasainya kelak punya tingkat pendidikan yang amat memprihatinkan. Jadi, dalam rumah barunya yang didesain bergaya minimalis dengan perabot yang punya roh sama namun sungguh berharga maksimalis, saya cecar ia soal isu tadi.
Dengan sebatang rokok yang asapnya terus mengganggu saya sepanjang obrolan, ia hanya katakan sepotong rencana untuk mengadakan balai-balai latihan buat memenuhi kebutuhan praktis.
Kebutuhan dunia industri. Sebuah dunia yang lapangan bermainnya saja belum ada. Belum tertata, dan bahkan tidak ada dalam rencananya mula-mula.
Jadi saya sentil ia dengan itu. Dengan bersemangat pula ia katakana akan menggandeng investor kaya buat merealisasikan itu semua. Tentu, karena banyak warganya yang jadi petani, tekanan utama perlu diberikan untuk sektor agroindustri.
Termasuk bagaimana industri pupuk dan obat-obatan buat berjenis-jenis tanaman bisa direkayasa, diproduksi, dan dijual.
Namun saya ingatkan lagi, sebagian besar lahan pada daerah yang akan dikuasainya nanti sudah masuk dalam fase kritis. Terlalu renta akibat sedemikian lama digerojok bahan-bahan kimia buat menambah unsur hara.
Saya pancing ia dengan konsep pertanian organik. Ide yang secara tiba-tiba membuatnya bersemangat, karena merasa seperti sedang dapat tepukan tangan.
Katanya, tentu saja pertanian organik jadi sebuah keharusan. Sebuah jawaban yang membuat saya makin keki, karena baru saja ia katakan buat menggerojok lahan dengan jaminan ketersediaan pada pupuk-pupuk industri.
Belum lagi saat ia katakan mau menggratiskan saja biaya pendidikan hingga tingkat menengah pertama. Kata-kata yang kemudian ia ubah lagi karena menurutnya masih akan sangat tergantung dari dari anggaran yang bakal bisa disediakan.
Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.
Maaf untuk saya katakan, jika tak ada jawabannya yang bisa membuat saya terpuaskan. Karena ungkapan yang terus melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.
Sungguh membingungkan.
Lalu saya bertemu dengan calon penguasa kedua. Ia bekas tentara. Puluhan tahun menjadi serdadu.
Seperti filosofi peluru yang melesat tanpa ragu, maka seperti itu pula kira-kira calon penguasa kedua ini.
Seorang bekas serdadu yang terbukti sukses menjalankan dwi fungsi tentara di masa lalu. Posisi terakhirnya sebagai komisaris utama dan presiden direktur dua perusahaan berbeda membuktikan itu.
Calon penguasa yang sudah puluhan tahun melanglang buana keluar dari kampungnya ini merasa sangat perlu mengidentifikasi lagi karakternya. Soalnya banyak orang sudah melupakan siapa dirinya.
Jadilah, ia demikian bernafsu mendatangi tempat lahirnya. Mendatangi satu-satu orang-orang di wilayah yang sudah berpuluh tahun ditinggalkannya.
Tanpa sungkan didatanginya pemilik rumah yang jadi tempatnya menumpang dilahirkan, dan mencoba sekuatnya mengingatkan sang pemilik rumah kalau dirinyalah si anak hilang.
Membuat banyak orang jadi makin heran. Sehingga ia berulangkali mesti menegaskan janji buat menomorsatukan tanah kelahirannya itu jika jadi penguasa kelak.
Janji yang dibungkus modus balas budi.
Pemahaman pasti soal belati yang pasti berkarat jika tak ada yang merawat. Itu pula yang terus menerus dilakukan calon penguasa ini pada orang-orang yang jadi calon penguasaannya kelak.
Saya tanya kepadanya, masih dengan pertanyaan serupa pada calon penguasa pertama. Soal pemahaman orang-orang terhadap pendidikan.
Lagi-lagi calon penguasa kedua ini hanya punya solusi parsial.
Setelah menjanjikan soal-soal pertanian yang katanya bisa diretas dengan sangat mudah jika ia berkuasa, lagi-lagi hanya sekedar balai-balai pendidikan dan latihan yang katanya bakal digerakkan. Supaya tercipta banyak tenaga-tenaga terampil yang bisa siap segera dipakai.
Calon penguasa ini juga punya rencana serupa almarhum penguasa orde baru yang terhadap BJ Habibie berpuluh tahun lalu. Memanggil pulang orang-orang berpendidikan dan berkualitas asal daerah itu supaya mau jadi motor pembangunan.
Bola mata saya berhenti berputar. Tidakkah ia sadar bahwa dunia kini tengah bergerak cepat dengan logika modal yang tak mengenal batas wilayah identitas.
Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.
Sungguh membingungkan.
Lalu secara iseng saya tanya bagaimana soal peran tentara dalam relasi kuasa dengan dirinya kelak. Hanya jawaban diplomatis yang bisa diberikan, dengan menegaskan kalau dirinya hanyalah pensiunan tentara.
Bukan lagi jadi tentara.
Ia juga pastikan banyak investor bisa diundang. Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.
Saya pindah ke calon penguasa nomor tiga. Calon yang ini punya hubungan sangat khusus dengan orde sebelumnya.
Birokrat tulen, yang didukung pengalaman puluhan tahun di bawah organisasi pohon besar.
Pohon yang kabarnya sangat rindang dan nyaman bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya dengan sulur akar menyebar ke segala arah dan terkadang menghisap habis unsur hara yang jadi keperluan pohon-pohon lainnya.
Calon yang ini didukung tim dengan intelejensia berpolitik (baca membodohi orang lain) yang sangat mumpuni. Pengalaman puluhan tahun yang didukung sulur akar menyebar ke segala arah dan terkadang menghisap habis unsur hara yang jadi keperluan pohon-pohon lainnya di berbagai tempat tadi jadi dukungan utamanya.
Jadi, sekalipun calon penguasa nomor tiga ini sama sekali tak punya kelebihan kecerdasan, di mata para pendukungnya ia tetap jadi insan paling cerdas.
Saya tanya padanya soal politik aliran dan aliran politik yang pasti mewarnai masa kekuasaannya kelak.
Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.
Sungguh membingungkan.
Kemudian saya tanyakan soal pemahaman pendidikan. Dengan bersemangat ia janjikan bakal banyak orang yang dikirim buat tugas belajar.
Jawaban yang kemudian ia ralat sendiri karena katanya masih sangat tergantung dari anggaran yang bakal bisa disediakan.
Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.
Sebetulnya saya sudah agak malas buat berdiskusi dengan calon penguasa keempat. Namun saya paksakan juga buat bertemu dengannya.
Calon penguasa yang keempat dan juga punya latar belakang sebaga pengusaha ini langsung mengajukan rencana buat mendirikan saja sebuah universitas di daerah itu.
Itu ia katakan demi mendengar cecaran saya yang terus menerus soal buruknya pemahaman orang-orang pada pendidikan.
Namun tak ada penjelasan yang runtut soal bagaimana perhatian terhadap kualitas itu bakal diberikan. Soal yang berkait erat dengan pemahaman pendidikan itu nantinya.
Hanya ada janji politik buat meningkatkan kesejahteraan para guru. Sebuah janji yang tentu baru bisa diwujudkan setelah ada kepastian soal naiknya anggaran di bidang pendidikan.
Lalu ia pun dengan sangat yakin bakal banjir investor yang datang buat menggairahkan industri pertanian di daerah itu. Tapi saat itu ia pasti sedang lupa lupa kalau perlu kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.
Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.
Sungguh membingungkan.
Belum lagi potensi konflik horisontal, seperti yang baru saja saya temukan saat kampanye salah satu calon. Layaknya orang-orang yang tak paham pendidikan dan bagaimana membingkai perbedaan dalam sebuah lukisan utuh.
Hampir saja pecah konflik.
Itu terjadi tatkala ada penguasa lokal di salah satu desa yang menolak lapangan di desanya dipakai buat kampanye salah satu di antara empat calon penguasa tadi.
Alasannya sepele, sang penguasa lokal tadi bukanlah pendukung salah satu calon penguasa yang mau kampanye tadi. Ia pendukung setia calon penguasa yang lain.
Lagi-lagi ini terjadi gara-gara pemahaman yang nihil soal pendidikan. Ujung-ujungnya hampir tak ada orang yang mau menerima perbedaan.
Bukan hanya calon rakyatnya, tetapi juga calon penguasanya.
Belum lagi, di antara empat calon penguasa tadi rata-rata berangkat lewat dukungan mesin-mesin poltik yang lagi-lagi berlindung di atas nama rakyat kebanyakan.
Tentu pula, ada sokongan dana dari sejumlah pemodal yang pasti berharap banyak imbal budi yang bisa dipanen kelak saat jagonya jadi pemenang tarung kekuasaan itu.
Pasti juga, takkan ada lagi prioritas diberikan bagi rakyat kebanyakan saat kekuasaan sudah dalam genggaman, seperti yang tertuang dalam janji politik yang disemburkan hebat dari mulut berbisa saat masa kampanye dan upaya merenggut hati dilakukan.
Prioritas pertama perhatian dan kepentingan tentu saja akan dibayarkan bagi kaum pemilik modal dan penyandang dana dan dukungan sebelum calon penguasa tadi benar-benar jadi penguasa.
Intinya bagaimana upaya lebih dulu yang dilakukan adalah mengembalikan modal yang terlanjur keluar tadi. Barulah, jika ada sisa waktu dan dana, kadangkala berlagak jadi pahlawan kesiangan.
Jadilah bagi saya, proses pilkadal tak lebih dari sekedar analogi para kadal yang sedang berganti sandal.
Calon-calon penguasa picik yang bak sandal dan perlu diganti secara periodik supaya bisa dipakai para kadal buat menginjak-injak rakyat kebanyakan. Selalu dan masih saja terus begitu
Menyedihkan.
21 February 2008
Sandal Pilkadal
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
2/21/2008 07:15:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

3 komentar:
Mampuslah Indonesia kalo calon 'penguasa' nya pada goblok semua kaya gitu.
Omong2 soal Pilkada, Jakarta jadi makin ancur lebur gara2 si kumis tengik dengan ide2 brillian nya dia membuat Jakarta jadi kota yang paling aman sejahtera buat para kriminal.
btw bahasa lo kian hari kian puitis aja.. :P~
soalnye sedari awal sebagian besar kite tuh nggak mau mengakui kegoblokan. jadilah, orang berlomba-lomba buat menutupi kegoblokan mereka dengan kegoblokan-kegoblokan yang lain.
persis litani kebohongan yang nggak bakal terputus sebelum seseorang mengaku dengan jujur.
padahal mengakui kegoblokan adalah titik awal buat belajar sesuatu yang benar secara relatif, karena memang tidak ada kebenaran yang absolut. jika ini dipahami, niscaya aneka jenis perbedaan bukan lagi tembok halangan.
justru seluruh pokok perbedaan bakal jadi sandaran kekuatan.
dengan menyadari sebagai orang goblok, penggunaan akal pikir bisa maksimal. supaya pemahaman makin sempurna dan kebijakan pikir akan segala bisa segera dirasa.
untuk kasus si kumis..mmm, sedari awal gwe jg nggak yakin ama klaim "serahkan pada ahlinya," yg digembar-gemborkan kesono kesini..soal gmana meretasnya, sementara ini yang bisa dilakukan tentu melakukan dulu sesuatu yang ideal itu buat diri kita dan orang-orang terdekat..
barulah perlahan buat komunitas dan kelompok sosial yang lebih luas lagi..kalo nungguin si kumis dan jajarannye bergerak, paling mereka mentok bakal bilang "serahkan pada ahlinya,"...hahaha..keburu tua di jalan dan syukur kalo gak dihajar tronton duluan...
hehehe...mungkin ini gaya bahasa dipengaruhi juga oleh makin saling silang dan sengkarutnya pertunjukan dunia..
Saya membaca artikel ini dari awal hingga pertengahan, saya pikir ada apa ramai-ramai berbondong-bondong seperti itu dijalan raya. Tapi, ketika saya membaca tulisan ini dipertengahan artikel,
"Mungkin itu yang mau mereka tunjukkan. Tetapi sungguh bagi saya terlihat seperti drama kebodohan."
Saya langsung tertawa terpingkal-pingkal !
Tapi lucu juga, menarik untuk disimak.
Omong-omong, rata-rata prilaku orang tak berpendidikan seperti itu di Indonesia adalah memang hal yang biasa. Menghambur-hamburkan energi bumi hanya untuk hal bodoh seperti itu, bukankah lebih baik jika bensin dan bahan bakar yang dipakai untuk mencari nafkah mereka?
Sungguh ironis ya...
Post a Comment