Awal bulan lalu saya melayat dan mengucapkan salam duka pada keluarga almarhum Njoo Kim Bie. Njoo Kim Bie meninggal dalam usia 80 tahun di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius A Paulo, atau yang dikenal dengan RKZ (Rooms Katholiek Ziekenhuis) Surabaya.
Ia tutup usia pada 7 Januari lalu, persis pukul 22.45.
Njoo Kim Bie adalah atlet bulutangkis Indonesia yang jadi salah satu pengukir pertama nama Indonesia sebagai juara dan pengerek perdana Merah Putih ke puncak tiang bendera di pentas Piala Thomas 1958, Singapura. Lalu di tahun 1961, saat kejuaraan puncak bulu tangkis di kelompok pria yang pialanya disumbang oleh Sir George Alan Thomas pada 1939 itu diadakan di Jakarta, Njoo Kim Bie kembali mengantarkan Merah Putih ke puncak.
Njoo Kim Bie akhirnya menyerah setelah berjuang melawan kelainan pembuluh darah pada otak (aneurisma) yang menderanya sejak tiga tahun terakhir, sebelum menjalar jadi infeksi paru-paru. Njoo Kim Bie meninggalkan dua putri, empat cucu, dan lima cicit pada akhir hayatnya. Istrinya sudah lebih dulu wafat.
Njoo Kim Bie yang saat jayanya berpasangan dengan Tan King Gwan terkenal dengan aksi smes digdayanya. Itu wajar, mengingat Njoo Kim Bie adalah sosok dengan postur tinggi besar yang ideal.
Atlet bulutangkis seangkatan Ferry Sonnevile dan Lie Poo Djian itu juga merajai ajang Malaysia Open dan Indonesia Open antara periode 1959-1963. Njoo Kim Bie juga tercatat sebagai pemain sepak bola di kelas utama POR Tiong Hwa di era 1950an.
Semasa hidupnya, Njoo Kim Bie juga punya nama asimilasi Koesbianto. Sebuah kebijakan rezim orde baru soal pembauran yang sejatinya hanyalah pengarahan hubungan antar-etnis yang berat sebelah. Kebijakan yang menginginkan hanya satu etnis saja yang diharapkan melebur dalam komunitas masyarakat etnis lainnya.
Nama asimilasi yang ditolak untuk dipakai Njoo Kim Bie. Kata sejawat karibnya, Njoo Kim Bie punya argumentasi tersendiri untuk itu. Pendapat Njoo bahwa deretan abjad Njoo Kim Bie yang diberikan orang tuanya pastilah menyimpan makna tersendiri.
Makna khusus yang tak serta merta bisa digantikan oleh penyederhanaan dalam satu kata singkat. Koesbianto. Saya setuju. Kawan karibnya tadi meneruskan ceritanya pada saya. Bakat luar biasa hebat dalam menepok bulu yang ditunjang postur ideal pada Njoo Kim Bie, rupa-rupanya tidak berhasil mulus pada kesempatan pertama.
Keinginan buat membela Merah Putih di awal-awal sejarah yang harus terhalang gara-gara kebijakan soal asimilasi tadi. Kebijakan yang dalam praktik di lapangan mewujud jadi pemberlakuan kebijakan diskriminatif di bidang politik dan budaya. Semuanya ditujukan supaya ada "keseimbangan" dengan kekuatan ekonomi bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi.
Kekuatan yang dalam perspektif orde baru memang ditujukan sebagai motor utama penghela pembangunan. Dalam cerita sejawat Njoo Kim Bie tadi kepada saya, harus ada masa penantian cukup bagi Njoo sebelum ia benar-benar diakui, dipercaya, dicap, dan distempel sebagai Indonesia. Sebuah kisah yang saya terlalu amat sering mendengar, membaca, dan merasakannya. Semua demi satu kata tujuan.
Asimilasi.
Mengapa bisa begitu. Mungkin kira-kira begini ceritanya.
Ada beberapa kata kunci yang perlu diingat dalam pembahasan ini. Di antaranya seperti orde lama, komunis, RRC, orde baru, bahaya laten, parno.
Saat orde baru berkuasa, dengan Soeharto sebagai lokomotifnya, ada kekhawatiran tersendiri bahwa orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi akan cenderung memiliki orientasi politik ke negeri leluhur. Dalam hal ini, RRC dengan sistem politik berasas komunis, dipandang sebagai bahaya laten yang mesti dijauhi.
Cabut daya hidupnya semenjak dari akarnya.
Hal itu mewujud dalam kecurigaan-kecurigaan yang dibangun berdasarkan asumsi dan prasangka. Rezim orde baru menjadi sangat parno, ketakutan jika orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi akan punya orientasi politik yang serupa.
Karena itulah sejak jauh-jauh hari tanpa perlu memandang latar belakang profesi, pendidikan, atau apapun lainnya, segala akses politik bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi segera ditutup. Paling tidak dibonsai. Wujudnya kemudian yang paling kentara dan diresmikan jadi sebuah kebijakan, ya asimilasi tadi.
Sebagai kompensasinya, ada akses luar biasa besar di lain ladang yang ditopang etos kerja maksimal orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. Tentu ya itu tadi, pembukaan akses ekonomi supaya jadi mesin utama kebijakan politik yang digariskan. Agar "seimbang."
Itu wujud resmi.
Pada bentuk-bentuk yang tidak resmi, rasa-rasanya terlalu banyak praktik kelam yang jadi torehan buruk sejarah kemanusiaan soal itu terjadi di negeri ini. Gara-gara asimilasi tadi, teramat banyak sahabat-sahabat saya semasa mengecap seragam putih-biru pada masa lima belas tahun silam, harus merasakan keganasan tetangga-tetangga mereka sendiri ketika amuk massa pecah, Mei 1998 lalu.
Karena asimilasi tadi, sungguh tercipta batas dan tembok maya yang tak kasat mata dalam berbagai upaya interaksi budaya. Akibat asimilasi tadi, sungguh tak terhitung sahabat-sahabat saya yang hingga hari ini demikian sulit menembus tembok kokoh bernama superioritas ekonomi yang tegak megah bak menara gading.
Sahabat-sahabat saya itu hingga kini hanya sanggup memikirkan bagaimana caranya memanjat menara gading superioritas ekonomi itu. Belum, belum sampai pada tahapan memikirikan cara membuat menara-menara yang lain.
Sungguh, didasari kebijakan asimilasi tadi saya seringkali sedih demi melihat banyak kenyataan betapa pembauran yang diharapkan orde baru dulu justru sedang dalam pementasan puncak makna kegagalannya. Saat dimana saya saksikan dengan mata telanjang dan demikian konfrontatif.
Kenyataan bahwa kini banyak sekali kumpulan-kumpulan sosial yang dibangun dalam sebuah wadah, hanya atas dasar-dasar kesamaan tertentu yang demikian naif dan menihilkan hakikat manusia sebagai makhluk yang sangat kompleks. Seolah tak ada lagi rasa percaya yang bisa diberikan dan diterima ketika bangunan sosial itu disusun dari berbagai macam rupa, rona, rasa, dan raga.
Saya lihat itu ketika mengantar istri dan anak saya ke sejumlah pusat perbelanjaan. Saya saksikan itu ketika memberikan materi pengajaran di sejumlah lembaga pendidikan. Saya buktikan itu saat mengunjungi berbagai kompleks perumahan.
Sayapun bisa dengan mudah membuktikan ini semua sekarang.
Semua karena pembauran yang salah konsep dan niat sejak awalannya. Pada hal yang lebih luas lagi, itu mewujud pada penerapan soal pemberlakuan SBKRI bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi.
Tak terkecuali buat Njoo Kim Bie.
Sebuah kebijakan yang berupa dokumen sebagai bukti bahwa seseorang itu benar-benar diakui ke-Indonesiannya. Tak peduli betapa tinggi prestasi yang sudah diberikan bagi Indonesia.
Jika peraih prestasi adalah orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi, SBKRI jadi harga mati. Sebuah kebijakan teknis yang jika merujuk pada sejarah awalanya berasal dari kebijakan ordonansi di zaman Belanda.
Tatkala ada empat golongan warga negara yang dibedakan dalam urusan-urusan soal pengurusan catatan sipil. Empat golongan yang dibedakan dalam ordonansi pada zaman Belanda itu masing-adalah mereka yang keturunan Eropa, Tionghoa, pribumi Kristen, dan pribumi Islam.
Bayangkan betapa rumit dan amit-amitnya, tatkala ada konsep berupa kelas-kelas manusia tersendiri yang tak masuk akal dan diadopsi, setidaknya dalam pemahaman ruang pikir, hingga kini.
Sistem inilah yang dijadikan dasar wajibnya SBKRI bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. SBKRI lalu meluas perannnya dan jadi terkait saat mau mengurus akta kelahiran, KTP, paspor, kartu keluarga, hingga sertifikat dari proses jual beli tanah.
Tahun 2006 lalu, Indonesia memang sudah punya undang-undang baru soal ini. Namanya Undang-undang (UU) No 12 tentang Kewarganegaraan, yang diresmikan 1 Agustus 2006. Namun tidak lantas gara-gara ini SBKRI langsung mati. Hmmm, ini akan saya bahas pada lain tulisan lain waktu nanti.
Sekarang saya sedang berangan-angan dalam sepi. Sampai kapan segala prasangka ini akan lekang. Lintang pukang bersama asumsi-asumsi busuk berfondasikan diskriminasi yang menghancurkan inti kesetaraan.
Njoo Kim Bie akhirnya dibaringkan pada peti mati putihnya. Tidak seperti istrinya yang memilih dikremasi, Njoo Kim Bie meminta jasadnya dikubur.
Satu set jas yang dipakainya adalah pakaian kebesaran dengan identitas milik PBSI. Organisasi bulu tangkis Indonesia yang jadi lahan mengabdinya hingga ajal menjemput.
Pada dada kirinya tersembul lambang organisasi itu. Bagi saya, hanya ada satu jenis manusia dalam hidup ini.
Manusia.
11 February 2008
Siapa Manusia
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
2/11/2008 03:33:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

0 komentar:
Post a Comment