Sejumlah pemahat batu alam yang berjejer di sepanjang kawasan Trowulan, Mojokerto akhir-akhir ini sedang bekerja dalam diam. Mereka tetap giat, namun diam.
Tenggelam dalam kesenyapan lesunya pasar akibat minimnya orderan pada wilayah kerja yang di zaman dulu hiruk pikuk karena jadi pusat Kerajaan Majapahit itu.
Saya sempatkan mampir di salah satu gerai pahat yang ada di kawasan itu. Nama pemiliknya Ribut Sumiyono. Tetapi ia sungguh tidak sedang punya nafsu untuk ribut-ribut.
Lagi-lagi, ia bekerja dalam diam. Meskipun tetap giat.
Pengusaha seni pahat patung batu yang punya gerai bernama “Selo Adji” di salah satu sisi Jalan Raya Jatisumber, Dusun Jatisumber, Desa Wates Umpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu tengah bingung memutar otak.
Bagaimana tidak, jika jumlah pesanan patung yang mampir semakin sedikit dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah perajin yang bekerja padanya pun terpaksa diciutkan. Dari jumlah 25 orang, kini menjadi hanya 11 orang saja.
Patung-patung itu sendiri kebanyakan memiliki pangsa pasar di luar negeri, seperti ke benua Eropa dan Amerika. Untuk pasar lokal, sejumlah pelaku industri pariwisata seperti para pengusaha hotel dan villa kerap jadi penyerap terbesar produk-produk patung batu yang kualitas pahatannya terbilang sangat halus itu.
Ribut menyebutkan, sejak jumlah pesanan meledak pada tahun 1998, jumlah pesanan mengalami penurunan drastis sejak tragedi bom Bali terjadi pada 2002 silam. Sejak saat itulah, jumlah pesanan belum pernah lagi tercatat dalam angka tinggi.
Sembari terkekeh, Ribut bertutur jika ia lebih suka nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah kala itu. Katanya, jumlah yang bisa mencapai hingga Rp 14 ribu untuk tiap satu dollar Amerika Serikat sungguh membuatnya bisa berbahagia plus sedikit berbangga.
Bidang usaha yang digelutinya memang sangat rentan terhadap isu keamanan. Ribut menyebut, tak kurang dari 50 kelompok perajin yang secara rata-rata memiliki 20-25 orang pekerja untuk tiap kelompoknya itu, kini praktis hanya sekedar menunggu pembeli datang.
Ketiadaan akses terhadap pasar jadi sebab utama lesunya salah satu insdustri kerajinan rakyat itu kini. Kata Ribut, selama ini tidak ada perhatian ataupun kegiatan yang dilakukan instansi pemerintahan yang berkepentingan terhadap industri tersebut dalam mengatasi soal yang ada.
Ribut juga belum mengetahui sejauh mana efektivitas pemanfaatan teknologi informasi yang hanya dipergunakan pemerintah daerah sambil lalu itu terhadap peningkatan pesanan. Padahal yang dibutuhkan bukan sekedar implementasi kebijakan bernuansa proyek berbau crash program seperti itu, melainkan kebijakan menyeluruh yang berpihak pada kepentingan pelaku usaha yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah.
Padahal lagi, Ribut sama sekali belum pernah menggunakan akses ke lembaga perbankan untuk beroleh kucuran kredit. Selama ini, usaha itu dibangunnya dari nilai nol rupiah. Dari mula-mula hanya jadi pegawai rendahan pada gerai pahat serupa milik orang lain.
Hal sama dialami pula oleh Suwojo dan Ibnu, pengelola gerai bernama Wisnu Murti Art di Jalan Raya Wringin Lawang, Jatipasar, Trowulan, Mojokerto, Jatim, yang tak punya akses pada pasar. Kesibukan di gerai itu kini hanya sekedar menyelesaikan bentuk-bentuk sederhana dari bahan baku yang sudah ada, tanpa kesibukan berarti menyelesaikan pesanan yang memang belum ada.
Ketiadaan sentuhan tangan pemerintah terhadap persoalan tersebut juga mewujud runtut dengan tidak adanya inisiatif dari kalangan perajin untuk mengentaskan persoalannya sendiri. Sekalipun sangat rentan dipermainkan pihak ketiga dalam soal kesepakatan harga, di kelompok-kelompok perajin itu belum ada satupun kelompok besar, perkumpulan, atau semacam paguyuban yang menaungi mereka.
Padahal, perkumpulan besar ini bisa melindungi dan memperjuangkan kepentingan para perajin tersebut. Sebut saja soal standar harga layak yang mestinya bisa dinikmati seluruh perajin.
Ini belum lagi jika bicara kepentingan konsumen, soal standar kualitas mutu produk yang mestinya bisa diperoleh. Padahal, jika dirunut lagi setidaknya wilayah di sekitar Jatisumber sudah sejak tahun 1970 an jadi sentra penghasil patung batu. Untuk bahan bakunya didatangkan dari sejumlah daerah.
Kata Ribut, untuk jenis batu hitam ia mendatangkannya dari wilayah Gunung Kelud. Sedangkan untuk jenis batu hijau, didatangkan dari Blitar dan Pacitan. Adapun jenis batu putih, diambil dari wilayah Wonosari dan Pacitan.
Sedangkan batu putih harganya labih mahal. Bentuk patung juga tak bisa besar, karena bahan dasar batu putihnya sendiri kecil.
Harga patung jadi berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 20 juta. Semuanya bergantung pada kualitas kerja dan kerumitan desain.
Segala bentuk patung bisa dikerjakan. Asalkan ada kesepakatan pasti soal bentuk, kualitas, dan harga. Sayangnya, kemampuan luar biasa itu saat ini belum bisa dimaksimalkan seluruhnya.
Terbuang. Sayang.
13 February 2008
Terbuang Sayang
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
2/13/2008 06:17:00 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

0 komentar:
Post a Comment