04 February 2008

Tulus Murni

Sudah satu tahun lebih tujuh bulan ini saya punya anak lelaki. Selama waktu itu pula saya banyak sekali pelajari pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan yang sepenuhnya belum bisa saya pahami.


Akhir minggu ini, setelah terpisah di lain kota selama satu minggu, saya bisa bercengkerama lagi dengannya. Yeah, apa yang bisa saya akui disini selain perasaan bahagia yang membuncah. Rasa kangen yang terpuaskan.

Sepertinya ia pun merasakan hal serupa. Anak lelaki saya yang mulai rajin menirukan setiap suara yang mampir di telinganya itu tak mau melepaskan diri dari gendongan saya.

Padahal ia biasanya demikian gesit. Berlari kian kemari. Menggoda siapa saja. Membutuhkan upaya estra buat sekedar menggendongnya.

Kali ini ia berbeda.

Selama dalam gendongan itu, di antara tutur kalimat yang belum genap, ia seperti bercerita kepada saya. Cerita yang belum bisa saya pahami utuh. Kata-kata yang hanya bisa saya rasakan.

Badannya yang bersuhu hangat semakin didekapkan pada dada saya. Kepalanya dilekatkan pada pertemuan antara pangkal leher dan batas dagu saya.
Ia teruskan kisahnya. Cerita yang belum bisa saya pahami utuh.

Tak berapa lama, dua orang bocah perempuan cilik tiba. Anak yang satu, saya perkirakan berusia sekitar tiga tahun. Sedangkan yang lain, tak lebih dari lima tahun.

Anak saya baru pertama kali bersua dengan mereka.

Saya biarkan anak saya masuk dalam dunianya. Dunia mereka bertiga. Tangan mungil kedua bocah perempuan cilik tadi dicium oleh anak saya. Salam perkenalan dan sebuah pertunjukan rasa hormat pada yang dirasanya lebih berusia.

Lima menit pertama, saya melihat masih ada canggung di antara mereka. Sejak menit keenam hingga entah selama berapa jam mereka bermain, apa yang saya lihat hanya keceriaan khas anak-anak.

Mereka saling bekerjasama. Mereka saling menjaga.

Kebetulan tak jauh dari tempat pertemuan ketiga bocah ini, ada sebuah bangunan taman kanak-kanak. Bocah tertua berinisiatif membimbing anak saya ke sejumlah wahana permainan itu.
Saya diamkan saja mereka.

Toh, inisiatif itu dipegangnya teguh hingga akhir. Bocah perempuan itu tak melepaskan pengawasannya. Termasuk ketika tiba-tiba anak saya berlari keluar bangunan taman kanak-kanak itu demi mengejar seekor kucing dan memuaskan rasa penasarannya pada mobil-mobil yang lewat.

Mereka temukan cara mereka sendiri untuk saling menjaga. Berinteraksi. Bekerjasama.

Lama berselang, rintik hujan akhirnya memisahkan mereka. Anak saya pun kembali dalam pelukan saya.

Bukan sekali dua kali saya temukan keajaiban serupa. Kali lain saya temukan anak saya sedang bersikeras mempertahankan haknya dari serbuan teman sebayanya.

Berebut soal siapa yang paling pantas jadi pemilik suatu permainan. Saling adu kuat soal pendapat masing-masing. Teriakan-teriakan hingga tangisan bisa saja ditemui dalam proses tadi.

Jangan pisahkan mereka. Biarkan saja sebagaimana adanya. Karena percayalah, lima menit kemudian mereka akan berlaku seperti layaknya sahabat yang terpisah puluhan tahun. Main bersama lagi. Tertawa berbarengan lagi.

Tanpa dendam. Tanpa luka.

Satu pelajaran yang pemahaman saya terhadapnya belum saya kuasai utuh. Baru sebagian yang bisa saya mengerti, dengan bagian lain yang belum bisa saya identifikasi dan pahami.

Kali lain saya juga sering dibuat takjub. Betapa perasaan murni anak-anak yang terpancar dari sorot jernih matanya sungguh bukan kisah kiasan. Nurani yang memancar tulus dan sungguh bisa membedakan, siapa-siapa saja yang berniat bagus dan siapa yang punya rencana bulus.

Itu benar terjadi.

Anak saya termasuk yang bisa dengan mudahnya membedakan apakah seseorang itu punya niat yang tulus atau sebaliknya. Membuat saya terkadang merasa tak enak sendiri, saat ada sejumlah orang yang terang-terangan ditolaknya untuk mendekat.

Sementara ada sebagian besar lainnya yang justru dengan gembira disambutnya. Siapapun orangnya. Darimanapun asalnya. Tak peduli apakah baru kenal atau sudah bersamanya semenjak kali pertama ia merasai nafas di bumi.

Ia tahu. Ia sungguh tak bisa dibohongi. Ia paham.

Siapa yang tulus. Siapa yang bulus.
Murni.

4 komentar:

aroengbinang said...

dunia anak yang terpendam dalam di pikir, rasa dan jiwa, namun tidak pernah lepas sepanjang hidup, seperti pondasi yg tak pernah terlihat, namun tegar menopang struktur di atasnya...

ingki said...

benar om...karena itulah pondasi ini harus dibangun dengan kokoh semenjak mula-mula...agar ia mampu menopang struktur di atasnya...

yonna said...

ingki anaknya lucu deh....liat foto2nya lagi dong :)

wah anakmu 1 taun 7 bulan ya? kalo anakku bulan ini 13 bulan...hehe.

hmmm....sebagai sesama ortu muda, saya merasa sedang bercermin saat membaca artikel ini. pendapatmu, pendapatku juga, gelisahmu gelisahku juga, setujumu setujuku juga, dll. saya jadi teringat ma anak perempuan saya yang sedang di rumah bermain dengan nenek dan pengasuhnya, dan ketika saya pulang matanya berbinar dengan pulasan senyum tulusnya mengejar saya minta digendong. ada bidadari memelukku, ada bidadari tersenyum padaku, ada bidadari yang masa depannya adalah tanggung jawabku dan suamiku. berjuta rasanya setelah jadi ortu ya, Ki?!

saya punya pendapat bahwa untuk mendidik anak yang soleh maka ortunya harus menjadi ortu yang soleh dahulu...meski basic anak soleh adalah karunia Tuhan, tapi kalo dia tidak dididik oleh ortu yang soleh dengan cara yang soleh (benar dan baik) pula, maka gak mungkin dia menjadi anak yang soleh, itu yang saya camkan setelah melahirkan dan masih setengah lelah, menahan sakit habis melahirkan. alhamdulillah, Tuhan mempercayai saya untuk mengemban amanah besar ini, semoga saya bisa menjalaninya dengan sebaik2nya amin.

ow ya, aku juga nulis artikel serupa di multiply ku loch hehe...kayanya masih relevan ma artikel ini deh?! hmmm

nice, good, thanks

ingki said...

owwhh..baru ulang tahun dong si kecil..salam buatnya ya..semoga jadi anak sholehah dan sumber kebahagiaan buat ortunya...

hmm..semua capek dan letih hilang ya kalo udah ketemu anak...setuju tuh...

ya..pola ajar yang terbaik adalah dengan memberikan contoh..semoga kita semua terus diberi kekuatan untuk belajar dan makin memahami hakikat ini semua ya..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.