07 March 2008

Kemasan Pemasaran

Ceritanya saya lagi keki dengan kualitas sepatu olahraga buatan salah satu perusahaan multinasional yang sangat jarang saya pakai. Karena saking jarangnya saya pergunakan, warna sepatu olahraga putih besar seharga ratusan ribu itu masih berkilat hebat.

Klaim salah satu raksasa produsen perlengkapan olahraga dunia itu soal produk alas kakinya yang empuk dan seolah bisa memberikan tenaga ekstra saat berlari pun masih terasa. Tapi yang jelas bikin keki adalah sambungan antara alas berbahan busa dan tubuh sepatu yang dilengkapi bahan kain dan kulit bertali yang mulai terbuka di sana sini.

Puncaknya, tenaga ekstra yang bisa diberikan saat kegiatan berlari atau berjalan dengan drastis jadi berkurang. Belum lagi tampilannya yang serta merta jadi buruk rupa.

Ah, jelas saja saya kecewa. Jelas lagi saya tengah kecewa pada diri sendiri.

Soalnya terbius klaim mematikan dari hebatnya kemasan pemasaran yang dilakukan salah satu perusahaan multinasional raksasa produsen perlengkapan olahraga dunia itu tadi.

Pada bagian ini saya teringat salah satu isi pembicaraan dengan Hermawan Kartajaya, salah satu pakar pemasaran di Indonesia. Katanya, pemasaran (marketing) selama ini sering salah dipersepsikan oleh masyarakat sebagai urusan yang semata-mata hanya berhubungan dengan masalah kemasan (packaging) dan persepsi produk.

Padahal di dalamnya terkandung tanggung jawab untuk bisa mewujudkan persepsi masyarakat tentang sebuah produk ke dalam kenyataan. Jadi, katanya lagi, pembentukan persepsi produk tanpa memperhatikan bagaiamana realitasnya di lapangan adalah bunuh diri paling cepat yang bisa dilakukan oleh suatu perusahaan.

Jika hal itu yang dilakukan, menurut Hermawan perusahaan bisa memanen keuntungan besar dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang perusahaan tersebut akan dipersepsikan hanya sekedar menjual janji belaka. Jadi pola yang baik itu harus bisa menciptakan apa yang disebut sustainable marketing enterprise.

Hermawan mencontohkan, beberapa iklan komersial yang cenderung melebih-lebihkan keunggulan produknya, tanpa memperhatikan keadaan yang sesungguhnya dari produk tersebut. Sebab menurutnya, menciptakan persepsi dan menciptakan realitas terhadap suatu produk adalah dua hal yang berbeda.

Pada bagian ini, saya makin awas, kalau produk-produk berkualitas minimalis bukan melulu dominasi produsen-produsen yang selama ini kita persepsikan begitu. Pada kasus saya, kekecewaan justru makin menjadi karena disebabkan buruknya kualitas produk salah satu produsen yang selama ini saya anggap termasuk salah satu yang superior.

Rupanya saya keliru dan telah termakan apa yang dinamakan persepsi produk akibat megahnya kualitas kemasan yang ujung-ujungnya bicara soal target penjualan.

Padahal, seorang pemasar yang baik menurut Hermawan tidak melulu berorientasi pada angka penjualan. Paling penting adalah bagaimana konsumen itu bisa terpuaskan oleh pelayanan yang diberikan.

Hermawan mengatakan, beberapa perusahaan besar di dunia yang berhasil adalah dengan menerapkan bahasa pemasaran yang mudah dimengerti konsumen dan tidak rumit. Perusahaan-perusahaan itu, kata Hermawan sangat menghindari penggunaan bahasa teknis walaupun dalam kenyataannya mereka sangan serius mengembangkan divisi riset dan pengembangan.

Selain itu, menurutnya pola pemasaran yang paling baik adalah dengan sesering mungkin mengasah pengalaman di bidang bisnis. Sebab intuisi bisnis, yang merupakan faktor kunci, akan dapat tercipta dari pola tersebut.

Hal yang menurutnya juga sangat penting dalam dunia pemasaran adalah permasalahan merek (brand) yang harus memiliki ciri khas. Ia menekankan adalah lebih baik untuk sedikit berbeda dibandingkan dengan menjadi sedikit lebih baik dalam melakukan pemasaran.

Yah, saya jadi tambah meyakini kalau keragaman dan perbedaan adalah modal buat mencipta kekuatan. Supaya segalanya menjadi lebih baik.

Beda.

5 komentar:

Therry said...

Ok. Spill it. What's the brand of the shoes? :P

Ehm.. kalau beli donat di J.Co, roti di Bread Talk, moisturiser merk Ponds Flawless White atau Loreal, biaya yang dibebankan ke kita itu kan sebenarnya 80% untuk promosi dan packaging ... isinya sebenernya sama aja ya kan?

Tapi orang tetep beli ..karenaaa...

GENGSII DWONKKKKKKKKKKS hahahha.. org2 malah lebih suka dgn kenyataan kalau SEMUA org lagi pada deman donat J.Co or Bread Talk or skin whitening products (heran gw ga bisa escape sama sekali dari situasi beli pelembab tok tanpa embel2 pemutihnya, karena pasti ada semua!)... justru lebih senang kalau 'sama dengan org lain'. So mungkin keragaman itu masih jauuuuuuuuuuh bgt kali ya bro dari agenda marketer2 Indo.

ah gengsi ... kata wajib org Indo yah keqnya :P

ingki said...

hehehe...it's sadida...

yup..atas nama ngikutin tren semua orang jadi berasa harus sama dgn orang laen..kagak peduli cocok apa nggak..nyaman atau tidak..murah dan mahal serta kualitas jadi pertimbangan nomor buncit..paling penting, ikutin tren dulu..

mungkin kite musti bikin institut manajemen keragaman..

gunkberg said...

milih mana avanza sama xenia??? orang2 pada beli lambang toyota....

ingki said...

@gunkberg..hehehe..yoi..padahal daihatsu udah diakuisisi ama toyota..

yonna said...

wanita dan anak2 adalah sasaran marketing paling empuk...saya pun juga suka kemakan rayuan iklan hehe.

what's in a name? gak ada, branding image tercipta karena berawal dari mutu produk atau profesionalitas penyedia jasa atau lain2 yang membuat mereka menjadi favorit orang banyak. bagi yang gak bisa mempertahankan hanya akan mengandalkan nama besar untuk menutupi kekurangan kualitas mereka. seperti yang ingki jelaskan, lambat laun mereka akan mati :)

trus jangan bohong dan berlebihan, sesuatu yang berlebihan justru dicurigai ada yang gak beres di belakangnya. kayanya iklan gak ada yang jujur yach...hehe, pasti lebay dan ngibul. demi klien, demi permintaan mereka, hmmm.

mutu itu nomer satu!

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.