31 March 2008

Menulis Gratis

Mata saya terbelalak. Udara dingin menyergap.

Pagi buta itu baru tiga jam saya terlelap dari ujung tengah malam.

Dalam balutan kaos tipis seharga sepuluh ribu per lembar saya beringsut keluar kamar. Sebelum tidur, saya memang sudah berniat untuk membuat materi sederhana sebagai salah satu bahan presentasi pelatihan tulis menulis.

Jadi, tak perlu jeritan alarm khusus buat membangunkan saya.

Sebuah kegiatan yang digelar salah satu kelompok mahasiswa yang berhimpun pada salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Ah, pelatihan yang tertera dalam ketentuan dan judul acara milik penyelenggara itu saya lebih suka membahasakannya sebagai ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Supaya saya yang masih bodoh ini bisa ikut merasakan nikmatnya mereguk sirup manis pengetahuan. Ada ilmu baru yang bisa saya peroleh.

Jadilah, penyeimbang catu daya listrik saya nyalakan. Komputer rakitan dengan otak berupa prosesor low end bertitel celeron buatan raksasa Intel kemudian berdenyut ogah-ogahan.

Saya nyalakan program aplikasi winamp buat memutar suara dan bunyi dalam format mp3. I Dont Want To Live Without Your Love, milik kelompok musik Chicago yang sempat dituntut perusahaan angkutan di Chicago saat menggunakan nama The Chicago Transit Authority meluncur manis lewat dua pengeras suara terintegrasi monitor.

Dari satu singel ke ke tembang lain, energi band berusia 41 tahun itu merayap naik dan merasuk. Saya bolak-balik bahan bacaan.

Lalu saya bayangkan kira-kira seperti apa bahan pengalaman yang bisa dibagikan sesuai dengan permintaan. Tak terasa satu jam lewat. Hanya dua paragraf berhasil rampung.

Saya lebih tenggelam dalam racikan brass rock dari Chicago yang awalnya pakai nama The Missing Link itu. Sekali dua kali saya berdiri di antara kursi. Sekedar merasakan entakan aransemen David Foster dan beningnya vokal Peter Cetera dalam beberapa nomor selanjutnya.

Setengah jam menjelang waktu subuh, energi ekstra itu datang juga. Akhirnya selesailah materi singkat dan sangat sederhana yang sebagian besar isinya saya sarikan dari pemikiran milik salah seorang mentor saya, Luwi Ishwara.

Berikut ini adalah hasilnya.

Penulisan bukan tujuan. Penulisan adalah alat untuk menyibak, menunjukkan, mencapai kebenaran.

Proses ini sangat mengutamakan kejujuran. Jadi, jujurlah sejak mula hingga akhirnya.

Jujurlah pada pilihan temanya. Jujurlah terhadap sumber-sumbernya. Jujurlah akan bahasanya. Jujurlah pada metodenya.

Mestinya sebuah tulisan tidak lebih hebat dari kejadiannya. Peristiwa, dalam hal ini, adalah ukuran pertama bahasa seperti apa yang akan digunakan dalam tulisan. Ini secara langsung berkait pada gaya tertentu yang dimiliki penulis.

Kekhawatiran adalah hal pertama harus dibuang sebelum proses penulisan dimulai. Susunlah bagian-bagian tulisan dengan berdialog pada diri sendiri soal urut-urutannya.

Fokus.

Kata Don Fry (Poynter Institute for Media Studies), ada lima langkah penulisan.

1. Menyusun gagasan
2. Melaporkan
3. Mengorganisasi (rencana dan urutan)
4. Konsep
5. Memperbaiki

Pasti, sebagaimana keunikan sidik jari dan susunan kode DNA seseorang, maka tak ada satu pun metode atau teknik menulis yang benar-benar pas untuk seorang penulis. Sebagaimana kesukaan kita yang cenderung berbeda untuk setiap genre musik dan film yang ada.

Gaya tulisan adalah pilihan. Sebagaimana uniknya lagu-lagu Benyamin Suaeb atau sudut gambar serta cara penggarapan kisah yang dipilih Garin Nugroho dalam berbagai filmnya.

Dengan mendengar dan melihatnya, kita bisa merasa tahu dan akrab dengan pemilik gaya itu. Begitulah sebaiknya penulis yang memilih identik dengan gayanya sendiri. Kita tentu tak akan pernah puas hanya dengan meniru kan?

Berbedalah.

Hindari gelontoran kata-kata pengabur makna. Buanglah keinginan untuk jadi seekor gurita dalam penulisan (octopus writing). Hal yang terjadi saat tinta yang disemburkan gurita dalam samudera justru bertujuan untuk mengaburkan pandangan ketimbang sebaliknya.

Kata Robert Gunning yang jadi konsultan sejumlah surat kabar harian terkemuka, ada sepuluh prinsip menulis dengan jelas.

1. Usahakan kalimat rata-rata pendek.
2. Pilih kalimat sederhana daripada yang kompleks.
3. Pilih kata-kata lazim.
4. Hindari kata-kata tak perlu.
5. Beri kekuatan pada kata kerja.
6. Tulis seperti ketika berbicara.
7. Pergunakan istilah yang bisa digambarkan pembaca.
8. Hubungkan dengan pengalaman pembaca, beri konteks.
9. Gunakan variasi.
10. Tulislah untuk menyatakan, bukan mempengaruhi.

Lantas, bagaimana upaya terbaik untuk mulai menulis?

Mulailah membaca!

Saya baca ulang lagi tulisan yang bakal jadi materi bagi-bagi pengetahuan itu tadi. Lantunan azan subuh membantu saya menghayati.

Paginya saya bergegas, dan menghitung cermat waktu tempuh supaya tidak terlambat. Saya sendiri sering merasa keki jika mendapati ada janji molor dari waktu yang disepakati.

Maka, saya berpegang teguh untuk tidak memperlakukan orang lain serupa itu. Waktu adalah hal paling mahal. Berapapun uang dimiliki, waktu takkan mungkin bisa dikembalikan lagi.

Sebetulnya, seorang rekan saya yang sedianya memaparkan soal-soal mengenai kegiatan berbagi pengetahuan yang diberi titel pelatihan tadi. Tapi, suatu dan lain hal membuat saya yang harus berdiri di depan kelas dan memberi pemaparan.

Tak banyak yang saya paparkan. Hanya materi singkat yang sudah saya buat beserta tambahan dari materi kepunyaan salah seorang rekan saya tadi.

Justru saya memohon supaya ada banyak-banyak pertanyaan. Supaya saya yang masih bodoh ini bisa ikut merasakan nikmatnya mereguk sirup manis pengetahuan.

Alhamdulillah, itu berhasil.

Mulai dari yang tanya soal metode dan teknik. Sampai pada gaya hingga ruwetnya prosedur penelitian supaya menghasilkan tulisan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pertanyaan soal mungkinkah ada kemungkinan tulisan itu jadi menarik kalau tidak bombastis. Soal bisakah tulisan itu memikat jika kalimatnya tidak beranak cucu dan bercicit canggah.

Soal-soal teknis yang saya pastikan agar jangan khawatir terhadapnya.
Soalnya setiap individu pasti punya cara, metode, teknik yang hanya akan sesuai benar untuk dirinya saja.

Soalnya setiap manusia pasti unik seperti beda sidik jari dan urutan kode DNA yang dimiliki.

Jadi, tak perlu pusing tujuh keliling soal tembok besar bernama teknik menulis dan segala metodenya. Paling penting pegang saja prinsipnya.

Jujur.

Pada bagian menjelang akhir, saya sentil sedikit mereka. Bahwa, aktivitas membaca sejatinya adalah “ibu” bagi kegiatan menulis.

Menulis dan membaca ibarat fenomena ayam dan telur. Tidak ada tulisan tanpa kegiatan membaca.

Mau baca apa kalau tidak menulis?

Menulis dan membaca. Membaca dan menulis. Ayam dan telur. Telur dan ayam.

Apa lebih dulu. Saya pun tak yakin.

Apa yang saya yakini, keduanya harus dilakukan.

Jadi, sekali lagi saya katakan, mulailah sebuah kesenangan baru dengan membaca.

Membaca bisa apa saja. Maka, menulis pun bisa soal apa saja.

Mengenai media, tak usah bingung apalagi linglung.

Lalu, lewat artikel “Berinvestasi Melalui Membaca” karya Yuki Tobing yang saya sudah minta izin kepadanya untuk bisa dipergunakan sebagai salah satu bahan ilustrasi, saya paparkan mengenai relasi semua hal yang saya terus cuap-cuap sejak mula-mula.

Saya bilang, dulu saya tidak kenal dan tidak tahu siapa Yuki. Tetapi karena tulisannya yang saya baca lewat blog, saya jadi mengetahui soal Yuki.

Saya berharap provokasi saya berhasil. Hasutan supaya banyak di antara peserta atau juga penyelenggara yang segera mulai menulis dan membaca, membaca dan menulis.

Pada media apapun juga.

Menulis dan membaca. Membaca dan menulis.

Gratis.

4 komentar:

yuki tobing said...

Waaah, suka Chicago juga yah, hehe, saya juga penggemar mereka, ini pas lagi muter lagu mereka pula.

Thanks for mentioning my name, hehe, senang bisa membantu, mudah2an artikel itu bisa berguna dalam pelatihan kemarin. Terima kasih juga lohh ama rangkuman prinsip menulis di atas, kayaknya perlu banyak perbaikan nih di artikel2 saya. Kalimatnya suka kepanjangan, kompleks, nulis gak kayak berbicara, dll, hhm.

Soal nomer 10, bukannya justru kita menulis untuk mempengaruhi pembaca?

yonna said...

@Ingki dan Sherwin

lah sammmmaaaa gue juga demen ma Chicago!!! Gue punya CD The Best Of Chicago, CD Peter Cetera album You're The Inspiration dan CD David Foster album The Best of Me. Wuahahha...kapan2 kita bahas mereka yuks, gue suka banget ma suaranya Peter Cetera yang dijuluki man with angelic voice dan suka ma aransemen David Foster. gokiiilll bisa ada temennya gini, biasanya jarang ada anak muda yang seleranya jadul hahahaha.

bentar yak, untuk komentar lainnya menyusul, gue masih surprais mengetahui Ingki dan Sherwin suka ma Chicago hehehe

yuki tobing said...

@yonna:
hehe, jadi malu saya masih muda. ah selera musik saya emang agak jadul kayaknya, tapi chicago bener2 sebuah keajaiban. yonna suka juga toh.

ingki said...

@yuki..hehehe..Chicago lumayan banyak menginspirasi tindak tanduk romantika gue..hehehe..

terima kasih juga buat ilustrasi artikelnya..itu penutup materi yang asik dan nendang banget (kicker)..

soal nomor 10, elaborasinya kira-kira gini..itu lebih pada soal niat kita sebelum menulis ki..pilihan pertama adalah untuk menyatakan dulu peristiwa yang ada, bukan pada keinginan buat mempengaruhi..terutama pada tulisan-tulisan keras yang perlu dipublikasikan segera (hard news)..tidak usah pakai kata-kata muluk nan canggih dengan tujuan supaya orang lain ternganga-nganga..menyatakan peristiwa adalah yang pertama..bukan terlebih dulu pada keinginan dan upaya untuk mempengaruhinya..tetapi pada akhirnya pengaruh itu memang yang akan tampak sebagai hasil akhir..pengaruh seperti apa..dalam hal ini akan sangat tergantung tingkat keputusan pembaca..pastinya sebisa mungkin hanya pernyataan dengan tafsir tunggal saja yang dituliskan..sekalipun sukar, tulisan yang multi tafsir sebaiknya dihindari..sekali lagi, ini terutama untuk tulisan-tulisan keras yang perlu dipublikasikan segera (hard news)..

@yonna..gue juga demen banget ama lagu-lagunya Benyamin Suaeb lho..lagu-lagu jadul itu tahan lama dan punya karakter..Gank Pegangsaan, The Rollies, Toto, The Police, The Doors, dan Pancaran Sinar Petromak (PSP) juga keren lho..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.