Sebuah Toyota Kijang Innova hitam keluaran terbaru menyusuri jalan sempit yang hanya muat untuk papasan dua unit Morris Mini Cooper ala tunggangan Mr. Bean rancangan Alex Issigonis di tahun 1959. Pagi itu belum genap jarum jam menunjuk pukul tujuh.
Belasan warung sederhana yang berdiri di salah satu sisi jalan sempit yang diapit hamparan sawah kering itu juga masih tutup.
Ratusan buruh yang didominasi pekerja perempuan bergerombol di sekitar pintu masuk pabrik pembuat gitar hampir seluruh merek-merek premium. Mereka menunggu waktu masuk tepat pukul tujuh pagi setelah sebelumnya menggesek kartu pengenal elektronik untuk mengabsen.
Pabrik dengan luas sekitar 4.000 meter persegi itu terletak di tengah areal persawahan yang disulap jadi pusat pembuatan gitar elektrik khusus untuk pasar ekspor.
Tepat pukul tujuh pagi, sang kepala satpam memanggil masuk puluhan pekerja yang masih duduk-duduk di salah satu dari enam warung yang ada di depan pabrik itu. Persis seperti guru yang memanggil masuk murid-muridnya untuk bergegas ke dalam kelas, dari warung-warung yang berjajar tutup di pinggiran sawah kering yang telah dipanen.
Lewat sepuluh menit, ada satu dua orang pekerja yang mengetuk pagar dengan sistem buka tutup elektronis itu. Biasanya, buruh yang terlambat akan langsung menghadapi peringatan dari penumpang Toyota Kijang Innova hitam tadi, yang jadi salah satu pemilik pabrik tersebut.
Tapi hari itu ada dispensasi.
Ada pula mekanisme penggeledahan seluruh tubuh bagi pekerja yang hendak keluar atau pulang di perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dari Korea itu. Sebuah tindakan preventif guna mengamankan aset yang berurusan dengan berbagai peralatan kecil yang terkesan remeh temeh namun mahal itu.
Dengan disiplin tinggi ala Negeri Ginseng, tak kurang dari 600 pekerja yang 80 persennya adalah perempuan itu mulai mengerjakan aneka order sejak pukul tujuh pagi hingga 16.00 di hari biasa, dan 07.00 hingga 15.30 saat bulan puasa. Bicara order juga tak main-main, karena pesanan minimal di tempat ini adalah 1.500 unit dengan kapasitas produksi tak kurang dari 10 ribu buah gitar lisrik per bulan.
Bicara sumber daya manusia, jangan bayangkan warga Indonesia hanya terampil jadi buruh di tingkatan perakit saja. Satu-satunya desainer produk yang punya tanggung jawab penuh terhadap proses awal produksi seluruh pesanan gitar-gitar tadi adalah pria kelahiran Kabupaten Jember, Jatim.
Dengan fasih ia menjelaskan, tak kurang prinsipal dari 15 merek gitar dan bas elektrik di seluruh dunia mempercayakan produksinya dikerjakan di tempat itu. Sebut saja sejumlah model gitar seri Gio yang masuk kategori low end dan bas seri Ergodyne dan BTB yang termasuk kelas high end dari prinsipal bermerek Ibanez.
Atau lihatlah fakta produksi ini, 100 model merek Washburn, Yamaha semi akustik model SA-500, AE 500, SA 503 dan RGX 520, Electric Sound Products (ESP), Hammer, Peavey, Schecter, Condor, Parker, Morgan, Total Music, Tradition, Grand Mystery. Belum lagi merek Daisy Rock yang dikhususkan bagi kalangan perempuan dengan desain yang atraktif serta warna-warna cerah yang turut dibikin di pabrik itu.
Adapun Yamaha yang juga punya pabrik serupa di Pulogadung, Jakarta, memesan enam model produknya di pabrik itu.
Bahan dasar gitar-gitar kepercayaan berbagai musisi handal dunia itu pun sebagian besar “lokal punya,” karena asli Indonesia. Terutama adalah kayu untuk bodi yang biasanya mengaplikasi kayu mahogani, damar, agatis, atau sonokeling.
Hanya kayu mapel buat leher (neck) gitar yang mau tak mau harus diimpor dari Kanada. Semua bahan dasar tadi diramu dengan berbagai komponen elektris, pick up, tuning peg, senar dan berbagai asesoris lain yang biasanya barang impor dalam tiga model besar setiap gitar yang ada di muka bumi ini.
Yakni model bolt on (penyambungan antara leher gitar dan bodi menggunakan baut), set in neck (penyambungan antara leher dan bodi gitar menggunakan sejenis lem), dan set through neck (leher gitar yang masuk ke dalam bodi gitar dan biasanya berharga jauh lebih mahal dibandingkan dua model sebelumnya).
Kata sahabat saya yang kebetulan berkebangsaan Korea dan jadi ketua asosiasi pengusaha asal negara itu di Surabaya, kualitas gitar-gitar tadi termasuk sempurna. Selain itu, karena dibuat dalam jumlah masif, jadilah produk-produk made in Indonesia itu tadi pemain pasar dunia terbesar nomor dua setelah produk serupa asal China.
Tapi ia menambahkan, gara-gara kualitas kayu dari alam Indonesia yang jauh lebih bagus, maka kualitas akhir gitar-gitar yang diproduksi disini pun mendekati sempurna. Faktor penunjang lain, apalagi kalau bukan ketersediaan tenaga kerja yang relatif murah.
Sayangnya, memang belum ada merek lokal dengan kekhasan tersendiri yang mampu berjaya dan berkibar hingga jauh ke negeri seberang. Sementara, seperti banyak terjadi industri lainnya, kita harus terus terlena dalam lautan jadi “tukang jahit” produk kepunyaan orang lain semata.
Sedari dulu selalu saja ada ungkapan yang terucap dari bibir sebagian pengusaha dari Indonesia, di hampir segala bidang produksi, bahwa apapun bisa saja dibuat asal ada contoh produknya.
Sebuah ungkapan yang mencerminkan sikap kepingin meraup untung sebanyaknya tanpa perlu repot memikirkan urusan konsep dasar dan filosofinya. Sikap yang menihilkan upaya buat melakukan riset dan pengembangan produk terus menerus.
Sikap dasar yang jadi warisan terus gara-gara salah kaprah pendidikan yang memang tak pernah mengajarkan seseorang supaya terus mencari jawab atas segala tanya.
Padahal kualitas sumber daya manusia Indonesia sungguh tidak rendah. Semenjak saya percaya penuh bahwa tak ada itu yang namanya konsep bangsa superior-inferior.
Bohong semua itu pendapat yang menyebutkan ada bangsa yang memang diadakan supaya jadi pemalas dan sebaliknya. Semenjak saya percaya penuh bahwa hanya ada satu jenis manusia di dunia ini.
Manusia.
Sekarang tinggal niat, kemauan, usaha, dan doa. Mau menaiki dinding rintangan atau malah menghindarinya.
Pilih.
10 March 2008
Potensi Diri
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
3/10/2008 06:54:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

2 komentar:
Saya tertarik mengomentari paragraf ini:
"Semenjak saya percaya penuh bahwa tak ada itu yang namanya konsep bangsa superior-inferior.
Bohong semua itu pendapat yang menyebutkan ada bangsa yang memang diadakan supaya jadi pemalas dan sebaliknya. Semenjak saya percaya penuh bahwa hanya ada satu jenis manusia di dunia ini.
Manusia."
Ok saya setuju. Tapi pada kenyataannya memang terjadi demikian. Memang sulit dipercaya. Memang diciptakan suatu bangsa untuk menjadi lemah dan tergantung dengan bangsa yang lebih kuat, contohnya adalah IMF yang sering menawarkan utang kepada Indonesia dan kemudian kita dibelit dengan berbagai cara agar tetap bergantung pada IMF. Seperti jebakan batman dalam komik, tapi it happens, welcome to real life :)
Kenapa dibuat begitu? Macam2 sebab, kenapa ada bangsa dibuat malas, lemah, bodoh, miskin, dll karena jika dibiarkan maju, kuat, pintar, kaya, dll akan menjadi musuh yang mematikan bagi bangsa yang merasa terancam eksistensinya. Masuk akal bagi saya.
But, ini pendapat saya, bagimu pendapatmu bagiku pendapatku, thanks
benar yonna, itulah ketidakadilan dan jurang kesenjangan yang diciptakan oleh rezim yang terutama mengabdi pada kepentingan modal..saya masih percaya bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya meretas kegilaan sosial ini..menjadi sedikit musykil karena di negara kita pendidikan seolah bintang yang sulit digapai..jadi barang eksklusif yang hanya bisa dilihat dari depan etalase..belum lagi jika bicara mutu dan hasil akhir yang bisa diberikan proses pendidikan tadi pada kemajuan pikir..
Post a Comment