02 March 2008

Rasa Budaya

Nyaris sebulan lalu kami sekeluarga pulang ke rumah orang tua saya di ibukota negara. Ceritanya, salah satu adik perempuan saya melangsungkan pernikahan dengan pilihan hatinya.


Jadi, sebagai saudara kandung tertua, saya sudah tiba di rumah yang jadi tempat saya dibesarkan itu beberapa hari sebelum hari pernikahan dilangsungkan.


Berbagai persiapan yang berbau budaya, saya ikut terlibat di dalamnya.

Mulai mencari janur kuning, membeli kembang setaman, hingga menjemput keluarga roti buaya yang panjangnya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia. Sedari mengantar anggota keluarga ke sejumlah pasar tradisional buat menemukan bumbu khas, sampai mengawasi tersulutnya rentetan petasan besar-besar sepanjang lima meter yang jadi ritual pembuka acara.

Saya juga terlibat diskusi soal pakaian adat yang bakal dipakai termasuk hidangan jenis apa yang disajikan bagi para tamu nantinya.

Sebagai keluarga besar dengan banyak sekali anggota keluarga, rumah orang tua saya sejak beberapa hari menjelang hari yang ditentukan, sudah disesaki banyak anggota keluarga. Saya tentu amat senang.

Soalnya kesempatan seperti ini jarang sekali terjadi. Bahkan tidak di hari raya sekalipun.

Karena kami saling dipisahkan jarak. Mulai dari beda belasan kilometer, puluhan kilometer, ratusan kilometer, hingga ribuan kilometer.

Keluarga besar saya tersebar di berbagai kantong-kantong budaya yang berbeda di berbagai titik. Penyebab utamanya, karena sebagian besar dari anggota keluarga saya memang percaya penuh pada kenyataan soal beda-beda budaya yang ada di muka dunia.

Jadi, soal saling silang budaya dalam ikatan pernikahan adalah soal yang jamak saja. Itu pula yang terjadi pada saya, juga salah satu adik perempuan saya yang mau menikah tadi.

Salah satu adik perempuan saya ini punya calon suami, saat ini tentu sudah jadi suami, dari suatu wilayah yang dikenal punya julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat. Ini tentu jadi khazanah baru lagi buat keluarga besar kami.

Hal yang bisa jadi kesempatan sangat baik untuk saling mengenal, saling tahu, dan saling memahami perihal adat dan kebiasaan masing-masing. Itu pula yang terjadi pada diri saya selama bertahun-tahun ini.

Karena itu, saya bahagia luar biasa tatkala bertemu lagi dengan anak-anak dari sepupu-sepupu saya yang punya beragam model keceriaan.

Ada yang tertawa dengan rambut kriwul dan kulit putihnya yang bak pualam. Lalu ada pula yang terus cengengesan dalam balutan warna kulit coklat legam dengan rambut lurusnya yang hitam memanjang.

Pada pojok lain ada yang terlihat sangat gembira dengan rambut pirang dan wajah khas timur tengahnya. Juga ada yang riang dengan wajah oriental dengan penanda khusus pada sudut-sudut matanya yang menyempit.

Mereka semua saling bercengkerama, layaknya karib yang tak bersua puluhan tahun lamanya.

Maka, diskusi soal pakaian adat apa yang bakal digunakan hingga hidangan apa yang bakal disajikan tak perlu lama saya ikut berdebat di dalamnya. Kami sekeluarga sepakat agar adik perempuan saya beserta calon suami, saat ini tentu sudah jadi suami, menggunakan pakaian resmi perwakilan kedua budaya.

Ditambah pakaian khusus yang kira-kira bisa mewakili semua budaya di Indonesia.

Soal makanan, nah ini yang paling saya suka. Disajikanlah rupa-rupa masakan yang menurut keluarga besar saya merefleksikan semua yang ada.

Jadi hadirlah sate, gado-gado, pempek, tekwan, laksa, hingga bakso. Tentu ditambahi jenis-jenis kuliner standar yang dimiliki perusahaan penyedia jasa katering yang dipergunakan.

Dalam pencarian rasa budaya tadi, saya dan anggota keluarga besar tak sampai harus kehilangan dan menghilangkan ciri-ciri budaya yang melekat. Sekalipun sudah puluhan tahun tinggal di lain habitat dan tercabut dari akar budaya yang membesarkan, tetap ada rasa kepemilikan yang kental.

Namun tak lantas pula itu berkembang jadi sifat chauvinis yang menjadi isme.

Bahwa karakter budaya yang ada memang selayaknya hanya dipakai buat mengenali konsep diri. Itu akan membimbing pada sebuah keputusan.
Mau jadi lebih baik, atau malah lebih buruk.

Bukan lantas mengagungkan budaya sendiri dan menghempas jatuh budaya yang lain. Atau sebaliknya.

Soalnya bukan standar budaya yang menentukan baik buruknya nilai seseorang. Tetapi lebih pada kata-kata dan perilaku seseorang itu dalam kehidupannya.
Pada pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Paling penting, soal-soal itu semua tidak ada kaitannya dengan berbagai identitas budaya dan kebudayaan yang ada. Memang, salah satu hasil kebudayaan adalah nyatanya rupa-rupa yang bisa dirasa. Seperti bahasa, alat-alat buat menopang hidup, kesenian, sistem kepercayaan, juga berbagai organisasi sosial.

Namun, budaya juga perkara ide, gagasan, aturan, dan segala norma yang tidak kelihatan. Abstrak.

Apa yang terjadi pada keluarga besar saya saat, waktu itu, pemerintah masih berkutat dengan urusan monokulturalisme yang mengharuskan adanya asimilasi kebudayaan adalah sebuah praktik multikulturalisme. Juga bukan praktik panci peleburan (melting pot) yang justru menghilangkan berbagai varian asing dari konsep kebudayaan yang dijadikan induknya.

Tapi multikulturalisme.

Perubahan-perubahan sosial seperti itulah yang kira-kira terjadi pada keluarga besar saya selama bertahun-tahun. Terjadi alami dan tanpa prasangka setelah kontak intens dijalin dengan berbagai kebudayaan lain.
Budaya yang sebelumnya dirasa asing. Tapi itulah esensi penciptaan lain rupa dan lain rona di antara kita.
Supaya saling kenal dan saling memahami. Bukan untuk tahu dan mengambil jarak darinya.
Apalagi sampai merasa paling bisa tanpa ada kemampuan untuk paling bisa merasa.

Malam itu, sehari sebelum saya sekeluarga kembali pulang ke tempat tinggal sekarang yang terpisah 900 kilometer lebih, kami sekeluarga besar berkumpul ramai-ramai di ruang tengah rumah orang tua saya yang berhiaskan akuarium besar berisi rupa-rupa jenis ikan hias.

Kami potong satu-satu anggota keluarga roti buaya yang panjangnya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia. Saya dapat bagian kepala induk buaya yang sebelumnya berulangkali dinaiki anak saya, yang menyangka roti buaya itu seperti mobil-mobilan yang biasa dikendarainya.

Anak saya dapat anggota terkecil keluarga roti buaya yang panjang tubuh kepala keluarganya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia tadi.
Saya menerawang. Kapan lagi kesempatan tercepat mengulangi pengalaman ini.

2 komentar:

yonna said...

pertama2, selamat ya buat pernikahan adiknya Ingki, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah amin :)

budaya? hmm..itulah salah satu manfaatnya tinggal di jakarta. bergaul dengan bermacam2 orang dari berbagai suku, ras, dll yang bisa memperkaya wawasan kita dan mendewasakan sikap kita agar menerima perbedaan :)

gak dapet dipungkiri, meski berasal dari satu suku dan daerah, tapi yang namanya perbedaan budaya pasti ada, walau berskala kecil. maksudnya, cara berpikir, selera, cara bersikap, dll setiap orang meskipun mereka bersodara kandung pastilah beda. eh itu termasuk budaya gak ya hehe, maksudnya tetep ada perbedaan karena perbedaan udah suatu keniscayaan :)

untuk budaya, emang saya sendiri suka kaget meliat tradisi dari budaya lain yang saya anggep bizzare dan begitu pula orang lain yang merasa lucu meliat budaya asal saya. membicarakan perbedaan budaya bagi saya adalah pertukaran informasi yang bisa mengakrabkan hubungan silaturahim para pembicaranya.

dan saya pun juga menanti momen2 seperti ini. sama2 waiting list yah Ki, hehe. salam, nice article nih :)

ingki said...

yonna, makasih ya untuk doanya..perjumpaan dengan budaya-budaya lain secara langsung ataupun tidak memang akan mengubah pola pikir dan cara pandang terhadap suatu hal..namun tak jarang, terjadi kasus-kasus resistensi yang berujung pada konflik..bukan soal mudah meretasnya..namun jalan diskusi bisa jadi salah satu pintu masuk untuk membedahnya..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.