Mata saya mendelik. Adrenalin terpompa deras. Sekujur badan terasa panas. Degup jantung berdesir hebat.
Mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa.
Sore itu puluhan ribu kepala yang mengaku sebagai manusia sedang tenggelam dalam lautan tontonan. Mereka ada yang duduk, berdiri, bersila, dan jongkok.
Mereka sedang mengelilingi 22 manusia di depannya yang saling berebut bola dalam lapangan berukuran panjang 100 meter dan lebar 64 meter.
22 manusia itu lagi berlaga memperebutkan satu bola dengan saling serang dan bertahan. Mereka berebut untuk jadi yang pertama menceploskan si kulit bundar ke jaring gawang seterunya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang budaya.
Berbeda etnis bahkan bangsa.
Mulanya yang saya lihat dan dengar hanya sebatas teriakan tanda dukungan atau sekedar cemoohan berbau teknis dalam bingkai laga pertandingan. Lama-lama bulu kuduk di tengkuk saya merinding.
Tegak berdiri gara-gara di salah satu sudut mulai terdengar cemoohan yang nadanya menjurus pada sentimen rasial. Lama-lama ada suara-suara hewan tertentu yang saya tangkap jelas tatkala ada pemain-pemain tertentu menguasai bola.
Suara itu makin hebat. Seiring dengan posisi kurang menguntungkan yang sedang mendera salah satu tim yang lagi berlaga di depan mata. Sejalan dengan makin banyaknya kejadian-kejadian tak menguntungkan bagi salah satu tim yang langsung ditanggapi pendukung tim lainnya.
Suara-suara hewan tertentu yang saya tangkap jelas tatkala ada pemain-pemain tertentu menguasai bola, makin menggedor membran telinga saya.
Mata saya mendelik. Tensi darah saya meninggi. Sekujur badan terasa panas. Degup jantung berdesir kencang.
Mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa.
Beberapa buah kepala yang mengaku sebagai manusia menengok kepada saya. Kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia dan jadi pelaku-pelaku utama cemoohan bernada rasis tadi.
Lagi-lagi, mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa pada mereka.
Apa yang terjadi selanjutnya hanyalah pandangan kosong serupa kerbau dicucuk hidung yang saya lihat dari berpasang-pasang mata yang menumpang pada kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi. Rupanya bisa yang saya semburkan untuk sementara belum bisa mereka buat serumnya.
Itu bukan kali pertama kejadian serupa beraksi langsung di depan mata dan telinga saya. Pada beberapa buah stadion di Indonesia yang sempat saya kunjungi, banyak pula aksi memuakkan dari kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi.
Mereka beramai-ramai mengucapkan makian bernada rasis. Mereka ramai-ramai merasa sebagai ras paling superior dan merasa berhak buat mengatur, memaki, mencemooh, mengumpat, dan menista ras yang lain.
Semuanya mereka lakukan dengan perayaan. Sembari tertawa. Sambil mengupas kacang kulit dan menghisap dalam sebatang rokok.
Lain kali ada politisi yang menyamarkan mukanya dalam benaman isu rasial. Mencoba mengambil hati calon pemilih dengan menista lawan politik berdasarkan identitas fisik berbeda yang dimilki.
Mengaduk-aduk emosi rakyat kebanyakan dengan isu orang asli, putra daerah, dan segala macam jebakan kultural bernada rasis. Mereka termasuk dalam apa yang saya sebut sebagai kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi.
Seakan perbedaan secara biologis yang dimiliki mampu jadi penentu capaian individu. Lalu bisa pula jadi indikator bagi stempel maju atau tidaknya sebuah peradaban serta budaya yang dipunyai.
Seolah perbedaan karakteristik fisik mampu membuat kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi jadi yang tertinggi dan berhak berlaku lebih tinggi.
Bukankah tak pernah ada pilihan sebelum seseorang itu dilahirkan ke dunia? Ingatkah kita pernah ada pilihan berganda yang ditawarkan saat masih dalam alam kandungan atau malah ketika di alam penciptaan?
Soal apa nama bangsa yang hendak kita diidentikkan dengannya. Soal warna kulit yang mau lekat pada diri kita nantinya. Soal jenis dan warna rambut yang ingin kita miliki di dunia. Soal bentuk serta warna mata yang mau kita punyai.
Saya ingat untuk tidak ingat bahwa tak pernah ada pilihan seperti itu yang ditawarkan pada saya. Sebelum saya dilahirkan dan hingga tulisan ini dibuat.
Saya jelas tak bisa memilih tatkala lahir dengan kulit yang kekuning-kuningan. Juga saya pasti harus menerima ketika hadir di dunia dengan bola mata hitam dan rambut dengan warna serupa. Begitupun ketika saya diidentikan dengan salah satu suku bangsa yang eksistensinya kini perlahan pelan mulai tergerus arus.
Saya dengan rela menerima dan merayakan hidup bahagia dengan semua itu.
Karena saya tak pernah bisa memilih mau pakai identitas fisik yang bagaimana dan seperti apa tatkala hadir di dunia sesaat setelah lahir.
Jadilah, mulut saya selalu menyemburkan rupa-rupa bisa kepada mereka yang mempraktikkan rasisme atau bahkan menjurus pada praktik itu.
Gara-gara sentimen rasial, muncul pelabelan tertentu terhadap komunitas suku bangsa atau bangsa, sub-etnis atau etnis tertentu. Hadir yang dinamakan stereotipe terhadap komunitas suku bangsa atau bangsa, sub-etnis atau etnis tertentu.
Sebuah keyakinan yang cenderung berlebihan sehubungan dengan kategori tertentu. Ini adalah sebuah lingkungan palsu (pseudo-environment) saat masyarakat saling berinteraksi.
Semua dibangun berdasarkan prasangka.
Prasangka ini dipelihara terus dalam sistem nilai yang diyakini bersama. Prasangka ini tak lekang bersama lingkungan primer dimana kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi hidup. Prasangka ini terus berpendar di lingkungan keluarga, teman sepermainan, dan sebagainya.
Gara-gara itu semua, terjadi pembantaian dan pembersihan etnis atau bangsa tertentu oleh etnis atau bangsa lain (genocide). Gara-gara prasangka yang berakhir pada stereotipe, ada rekan saya yang berulangkali menuai kecewa tatkala berupaya masuk dalam lingkungan keluarga pujaan hatinya yang berbeda latar belakang bangsa dan budaya.
Berkali-kali ia kecewa hingga berkali-kali pula hidupnya hanya berteman sepi.
Terjadi rupa-rupa bentuk diskriminasi sosial. Ada marjinalisasi. Terdapat pula bau anyir menyengat dari praktik itu semua.
Hidup adalah soal perbedaan dan bagaimana membingkainya dalam harmoni. Hidup menjadikan perbedaan sebagai keniscayaan yang mesti dijalani.
Beda ras, agama, dan budaya adalah hal tak sama dengan penerimaan utuh yang mesti bisa dijalani tanpa prasangka.
Macam-macam pilihan semisal untuk berbeda warna politik, genre film dan musik kesukaan, hingga makanan favorit, adalah perbedaan yang bisa saya terima dan akan saya hidup bahagia bersamanya. Tetapi, jika ada yang mengambil pilihan untuk jadi rasis, maka maaf jika kata ini yang pertama terlontar kepadanya.
Najis.
13 March 2008
Rasis Najis
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
3/13/2008 07:11:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

9 komentar:
yang sabar, om heheh
wah jelas aja keluar kata2 makian rasisme, ini ngomongin suporter bola kan? hehe wajar aja kalo makian itu keluar dari mulut mereka. dari orang2 yang mayoritas tidak berpendidikan baik akademis maupun akhlak.
ya gimana lagi ya....mereka gitu loch, salam
*btw, baru pindahan blog nih hehe
hehehe..iya..sabar..sabar..yah, kalo perilaku rasis sepertinya nggak hanya didominasi orang-orang yang dalam persepsi kita tidak berpendidikan..saya menyaksikan berulangkali dalam berbagai kesempatan, orang-orang yang selama ini kadung dicap sebagai berpendidikan tinggi malah menunjukkan sikap yang diskriminatif...jelas, dalam hal ini mereka telah gagal memahami intisari atau saripati ilmu yang mereka pelajari..sayang sekali..melihat sebagian dari mereka berperilaku rasis..pun, saya juga kadang masih sering tersenyum demi melihat orang-orang yang dalam persepsi kita tidak berpendidikan malah lebih bijaksana..lebih toleran..pastinya, tidak memilih jadi rasis..eniwei, selamat pindahan ke alamat baru ya :)
ingki, postingan yang sangat menarik, hal2 yang berbau rasisme kerap menarik perhatian saya, terlebih karena saya sedang mengobservasi fenomena rasis terhadap ras minoritas di kawasan Eropa Tengah yang jelas menimbulkan ketegangan dalam hubungan bilateral antar kedua negara.
wooww..studi yang sangat menarik..negara2 mana aja nih yang jadi fokusnya..ditunggu sekali perkembangan observasinya ki..
@Ingki
nah itu dia, saya gak berani ngomong duluan hehe.
perlakuan diskriminatif juga datang dari orang berpendidikan tinggi. susahnya, kalo hanya otak yang disekolahin dan ngejar titel, tapi hati dan kepekaannya gak disekolahin ya gitu deh. apalagi kalo dia tidak punya empati dan kerendahan hati, pasti dengan mudahnya mengeluarkan kata2 berbau rasis kepada orang lain.
gak beda ma orang gak berpendidikan dong?! Apa bedanya orang bertitel dengan orang tidak bertitel kalo mereka punya perilaku yang mirip? gak ada bedanya ya, salam
@ingki: makasih kawan, hehe, objek pengamatannya negara2 balkan sama eropa tengah saja, nanti kalau jadi saya publish.
baru baca2 artikel2 lama blog ini, asik2, sukses kawan. allow me to link your blog.
@yonna, hehehe..orang yang bertitel ama yang nggak bertitel emang nggak ada bedanya lho..mereka manusia..mungkin yang jadi pembedanya adalah pilihan yang diambil untuk jadi manusia yang seperti apa kali ya..saya juga nggak pernah pake titel kok..hehehe..
@yuki, wow..menarik sekali kawan..ditunggu publikasinya..
dengan senang hati jika blog ini di "link" oleh yuki..semoga bermanfaat..karena sejatinya ini hanyalah sekedar pengalaman sederhana sehari-sehari..saya yakin bung yuki punya pengalaman yang jauh lebih seru dan asik di luar sana..
oh iya, saya mohon izin untuk menggunakan artikel "Berinvestasi Melalui Membaca" sebagai salah satu ilustrasi untuk pelatihan di FH Unair pada hari ini..salam...
di Indonesia sepertinya juga sama. ada organisasi2 sesama suku. dan pernah juga ada satu suku membantai suku lainnya...
@isnuansa..persis..itulah akibat yang mesti ditanggung dengan harga sangat mahal, bahkan tak terhingga..akibat gagalnya banyak sekali manusia Indonesia memaknai pentingnya pemahaman terhadap pendidikan..banyak di antara kita hidup dalam jerat kebencian akibat prasangka yang tak jelas ujung pangkalnya..tentu saja, hal2 begini harus direvolusi..
Post a Comment