02 April 2008

Awas Panas

Saya masih bocah ingusan ketika bunyi gemeretak terdengar dari atas genteng rumah milik Bapak dan Emak saya di Jakarta. Sejurus kemudian ada bunyi pletak pletuk datang dari atas genteng kandang ayam yang juga milik Bapak dan Emak saya di Jakarta.

Hari itu langit sedikit mendung. Saya sendiri, sepanjang ingatan saya, saat itu tengah bersiap untuk tidur siang.

Karena penasaran, saya berlari keluar. Saya kaget. Baru kali itu saya lihat ada es batu turun dari langit.

Ukurannya bervariasi. Ada yang sebesar bulir jagung. Juga ada yang sebesar kelereng seperti yang biasa saya mainkan.

Waktu itu saya belum paham kalau es batu yang datang dari langit itu dipicu kehadiran awan Cumulonimbus (Cb) yang sangat besar.

Emak saya hanya berkata singkat. Awas hati-hati, itu hujan es.

Bagian dasar awan Cb sendiri berwarna abu-abu. Formasinya bisa secara ekstrem berubah cepat. Misalnya, dari hanya seluas lima kilometer, tiba-tiba bisa drastis jadi seluas sepuluh kilometer persegi.

Es batu yang waktu itu saya katakan turun dari langit dan berpenampilan seperti kristal itu terjadi karena ada titik jenuh. Titik jenuh, atau yang dibahasakan kalangan ahli cuaca sebagai presitipasi itu terbentuk di awan Cb.

Prosesnya kira-kira begini. Air yang harusnya jatuh, terangkat oleh awan Cb gara-gara titik jenuh tadi. Air tadi semakin tertarik ke atas, hingga suhu ekstrem yang berada jauh di bawah nol derajat Celcius tercapai.

Ketika itulah, air membeku dan berubah jadi kristal es. Nah, gara-gara ada gaya tarik bumi atau gravitasi, maka hujan es pun terjadi.

Bunyinya gemeretak dan pletak-pletuk jika menghantam benda tertentu.

Sepekan terakhir ini, hujan es terjadi lagi. Kali ini menghajar Bandung, Jambi, dan Bekasi. Berdasarkan kabar yang saya baca, besar es yang tumpah ke bumi itu serupa dengan pengalaman saya saat masih bocah ingusan.

Hanya rentang waktunya menjadi lebih lama.

Hujan es yang terjadi saat saya masih bocah ingusan, tak lebih dari lima menit. Sekarang, bisa sampai lima belas menit.

Pertengahan Januari lalu, Kota Baghdad di Irak, berdasarkan berita yang saya baca disiram hujan salju. Salju langka yang terakhir kali turun 100 tahun lalu ini terjadi gara-gara angin dingin yang kering bersua dengan angin hangat dan lembab.

Maka, turunlah salju di atas negeri 1001 malam itu.

Perubahan iklim global yang ekstrem selama beberapa tahun terakhir dituding jadi biang keladinya. Gara-gara pemanasan global.

Sebuah slogan yang sekarang bahkan telah masuk dalam jerat kapitalisasi. Banyak konser musik diadakan atas nama pemanasan global.

Tak terhitung kegiatan yang dibikin dengan mengatasnamakan pemanasan global. Belum lagi politisi yang berjanji bahwa soal pemanasan global akan jadi prioritas kerjanya.

Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.

Sejumlah orang yang saya temui bahkan menyalahkan semakin banyaknya gedung-gedung pencakar langit dengan penampang kaca yang dibangun. Katanya, itulah penyebab utama pemanasan global lewat fenomena bernama efek rumah kaca.

Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.

Pemanasan global terjadi karena peningkatan suhu di bumi, laut, dan atmosfer secara rata-rata. Ini disebabkan tingginya tingkat gas-gas rumah kaca di atmosfer yang menyebakan terjadinya efek rumah kaca.

Gas-gas rumah kaca termasuk seperti uap air dan karbondioksida (CO­2). Uap air timbul karena proses alami. Tapi, konsentrasi tinggi CO2 ada gara-gara perilaku konsumsi energi, terutama energi dari bahan bakar fosil yang dilakukan manusia.

Efek rumah kaca sendiri sejatinya adalah proses ketika planet bumi dipanaskan oleh atmosfer. Akibat konsentrasi tinggi gas-gas rumah kaca, radiasi infra merah yang dipancarkan bumi akibat penerimaan energi utama dari matahari tertahan di lapisan atmosfer.

Selanjutnya, radiasi infra merah ini dipantulkan lagi ke bumi. Jika konsentrasi gas-gas rumah kaca makin tinggi, perubahan iklim berupa pemanasan global akan terjadi semakin ekstrem.

Makin cepat.

Sehingga ada spekulasi, dengan tingkat pemakaian energi yang terus meningkat seperti saat ini, suhu muka bumi akan naik hingga lebih dari empat derajat Celcius, 22 tahun dari sekarang.

Karena pemanasan global, lapisan es di kutub dan dimanapun juga mencair. membuat muka air laut meningkat. Bencana datang.

Banjir. Topan Katrina. New Orleans. Bengawan Solo. Pesisir pantai utara Jawa.

Dihantam bencana.

Karena itulah ada Protokol Kyoto.

Sebuah hasil perubahan Konvensi Kerangka Kerja PBB soal Perubahan Iklim. Ini kerja dan kesepakatan dunia soal pemanasan global. Tahap pertamanya akan berakhir pada 2012 mendatang.

Negara-negara yang setuju dan meratifikasi Protokol Kyoto punya harapan supaya emisi CO2 yang terutama akibat penggunaan energi dari bahan bakar fosil bisa dikurangi. Termasuk skema soal perdagangan karbon atau emisi tersebut.

Berupa kompensasi yang diberikan pada, biasanya, negara-negara berkembang yang masih punya hamparan lahan hutan supaya tetap menjaganya sebagai paru-paru dunia.

Sayangnya, negara adikuasa Amerika Serikat yang merupakan konsumen minyak bumi terbesar di dunia masih menolak menyetujui Protokol Kyoto. Amerika tak mau meratifikasinya.

Alasan utamanya, apalagi kalau bukan karena keserakahan ekonomi.

Tambah lagi, sejak akhir tahun lalu, negeri itu tengah dilanda resesi. Sebuah paket kebijakan ekonomi baru yang disiapkan untuk menyelamatkan negara itu dari bencana ekonomi, secara radikal akan mengubah bagaimana cara agen asuransi, calo properti, termasuk industri perbankan mereka dalam berbisnis.

Dalam hal ini, jelas tak ada prioritas bagi lingkungan.

Amerika Serikat tak mau mengurangi konsumsi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Soalnya itu akan semakin memperlambat laju ekonomi.

Terpuruk makin dalam ke jurang resesi.

Bali, akhir tahun lalu juga jadi tuan rumah Konferensi Dunia soal Perubahan Iklim. Namun, belum ada langkah maju dari pertemuan itu.

Tak ada kesepakatan soal deep cuts, atau pengurangan gila-gilaan konsumsi energi dari bahan bakar fosil penghasil utama CO2 yang tingkatnya jauh lebih gila. Soalnya, bagi negara-negara berkembang hal itu pun diprediksi akan membuat tingkat kemiskinan beranjak naik.

Apalagi bagi negara-negara maju yang makin hari kian serakah.

Sekarang, semua negara sedang berebut dan tarik menarik kepentingan soal energi yang digunakan. Berbagai macam skema kompensasi ditawarkan. Namun, tak ada tindakan nyata dilakukan.

Segala gebyar acara berbau pemanasan global dipertontonkan dengan penghamburan energi. Banyak penontonnya yang datang sendiri-sendiri dengan mobil-mobil pribadi.

Belum ada tindakan nyata dilakukan.

Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.

Beberapa bulan lalu saya putuskan menjual hatchback tua berkapasitas lima penumpang milik saya yang masih empuk suspensinya. Mobil pertama yang saya beli dari pemilik sebelumnya, setelah empat tahun hasil tabungan sebagai seorang pekerja itu saya lepas dengan mata berkaca-kaca.

Saya suka velg besar dan ban profil rendahnya yang gagah. Saya menikmati tarikan mesinnya di jalan tengah malam yang lengang.

Saya juga menikmati pertanyaan setiap orang yang selalu heran bagaimana mobil setua itu masih tampak kinyis-kinyis, sangat terawat, bebas keropos, mulus, dan wangi.

Bahkan, saya sempat berniat menambahi perangkat audionya supaya makin nyaman dalam balutan interior bersihnya dengan pendingin udara yang masih bekerja baik.

Apa yang mengganggu saya adalah kenyataannya sebagai peminum bahan bakar fosil yang unggul. Saya selalu malu bila berpapasan dengan angkutan umum, dan mendapati fakta mobil saya itu lebih boros dengan temperatur yang lebih cepat merangkak naik dibandingkan sejumlah angkutan umum tersebut.

Setelah menjual hatchback tua berkapasitas lima penumpang yang masih empuk suspensinya itu, ada perasaan lega tatkala mengayuh sepeda di jalan raya. Memang, berulangkali saya mesti tarik urat dengan pengendara jalan lain yang egois dan seenaknya saja seperti mau menabrak saya.

Sepertinya pilihan ekstrem ke sepeda kayuh masih butuh banyak penyesuaian dan pembiasaan.

Karena itulah, sekarang saya lebih sering nyemplak di atas sadel bebek beroda dua yang kapasitas silinder mesinnya tak lebih besar dari 125 sentimeter kubik.
Pastinya, bebek bermesin dengan dua roda ini jauh lebih irit.

Paling tidak, emisi CO2 yang diproduksinya lebih sediikit dibandingkan hatchback tua berkapasitas lima penumpang bekas milik saya yang masih empuk suspensinya itu.

Jalanan kini memang terasa makin panas bagi saya.

Tapi saya bisa makin awas.

8 komentar:

Therry said...

Hehehe ... sedih ya ngelepas mobil yang banyak kenangan :D

Tapi ya mau gimana lagi bro, kalo boros dan berkontribusi terhadap polusi mau ga mau harus dilepas, well u did the right thing, dude!

gue jadi inget pas harus ngejual escudo gue ... ya ampun itu mobil borosnya minta ampun, tapi berhubung mobil pertama yang gue pake belajar nyetir dan ke kantor rada2 berkaca2 jg pas ngelepasnya hiks2 ...

sekarang ganti pake carry moon nih hahahahaah ...

gimana anaknya bro? sehat2?

ingki said...

hehehe..yoi ther..melepas bagian sejarah memang selalu jadi hal menyedihkan..tapi kadang itu memang harus dilakukan..eniwei, pencinta suzuki nih..hehehe, berdasarkan pengalaman, karimun agak rentan di bagian kaki-kakinye tuh..yah, namanya mobil kota, jadi begitu dipaksa sehari semalam bertarung di jalur ekstrem luar kota, besoknya malah nongkrong seharian penuh di bengkel punya tetangga..

alhamdulillah, anak gwe sehat2 ther..ni baru aja nyampe jemput die dari rumah neneknye..kosakata nye makin melimpah ruah..

Therry said...

oh yah? maren ini gue pake ke semarang mayan kuat seh tapi keqnya gua mo ganti rodanya neh secara roda standar yg dari karimun nya kurang "nendang" :D

huhuh sebenernya kalo gue mo jujur, pengennya seh crossover bwakakaka ...

masih bedua-duaan ama anak bro?? bisa ngomong apa aja dia? foto lempernya ngga dipajang lagi? :D :D :D

cewektulen said...

btw, nunggu2 bisa merasakan hujan es suatu saat nanti..

ingki said...

@therry..yah, berarti emang pas giliran gue lagi sial aje kali y..apalagi ntu pinjeman, jadi kagak tau juga cara ngerawat dari yang punya pegimane..

hahaha..pantesan lembur mulu..bang-bing-bung buat x-over ye..

wuih, baru aje gue jemput tuh..pokoknye segala hal diomongin trus minta diajak ngobrol juga kalo lagi ada orang diskusi..nah, yang bikin makin takjub..masak dah gape godain cewek..hahaha..lagi nyari momen lagi neh buat bikin seri "lemper" selanjutnye..

@cewektulen..sabar aje ye mbak..berdasarkan prakiraan ahli-ahli di bmg, sampai bulan mei ini tetap ada potensi turunnya hujan es di sejumlah daerah..jadi, semarang pun sepertinya punya peluang nja..

yonna said...

walah gue kira judulnya kiasan, taunya beneran ya hehe.

eh gue serem deh kalo udah hujan es, takut nimpa kepala, atap mobil dan payung....palagi di bandung kemaren kabarnya esnya gede banget, sanggup bikin KO.

yah global warming, hmmm.

LiSan Skywalker said...

Wah Therry ma Ingki lagi ngomongin mobil... *diem sambil megangin sepeda*

ingki said...

@yonna..hehehe...iye tuh..jaman gue kecil mah kayaknya lucu aja ada ujan es..sekarang..kok jadi kayak pelem horor ye...

@lisan skywalker...gue lagi dalam posisi ngomongin doang dan kondisi nggak punya lagi ntu kendaraan beroda empat...#bengong sembari buka sepatu yang ditetesin air liur#

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.