Ada dua benda yang menghubungkan emosi saya dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam seminggu terakhir ini.
Pertama adalah kopi bubuk bermerek Ulee Kareng. Barang kedua adalah film dokumenter buatan seorang jurnalis lepas bernama William Nessen, berjudul “The Black Road.”
Film itu dibuat sejak kunjungannya ke bumi “Serambi Mekah” pada 2001 lalu hingga kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI ditandatangani di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.
Delapan bulan setelah bencana dahsyat berupa gelontoran gelombang tsunami menghajar sebagian besar wilayah NAD.
Kedua benda itu saya terima dari seorang sahabat. Seorang teman dekat yang saya kenal baik sejak kami sama-sama belajar di tingkat sekolah menengah atas. Sekolah yang sudah sama-sama kami tinggalkan sejak sembilan tahun lalu.
Sahabat saya itu bekerja pada sebuah perusahaan multinasional yang punya berbagai proyek pembangunan di banyak negara. Mulai Afghanistan hingga Indonesia.
Menjadi rekanan pihak ketiga bagi proyek-proyek yang biasanya diorder oleh organisasi non pemerintah, atau bahkan oleh pemerintah itu sendiri.
Sudah lewat satu tahun ini dia ditugaskan di NAD.
Minggu lalu kami bersua di Jakarta. Dia berikan pada saya kedua barang itu.
Benda pertama selalu bisa membuat sahabat saya itu merasa bodoh jika ia harus ikut-ikutan tren minum kopi di kedai-kedai kopi berlabel internasional yang kini marak di banyak kota besar. Soalnya sahabat saya ini sering sekali menghabiskan waktunya kongkow-kongkow dan minum kopi pada sejumlah kedai kopi tradisional di berbagai pelosok NAD.
Kebetulan, kopi yang digunakan di kedai-kedai kopi berlabel internasional dan sejumlah kedai kopi tradisional di berbagai pelosok NAD itu sama persis. Cita rasanya, berdasarkan pengakuan teman saya itu, jelas lebih nendang saat ia mereguk saringan biji-biji kopi jenis arabica itu dari tempat asalnya.
Semua masih ditambah dengan harga yang relatif jauh lebih murah dibandingkan saat biji-biji kopi itu diberi label mentereng dan masuk kedai-kedai kopi penjaga gengsi yang tersebar pada seantero Mal di Nusantara.
Sahabat saya makin merasa bodoh ketika suatu hari, tak jauh dari tempatnya ngopi di sebuah wilayah NAD, berdiri sebuah gudang penyimpanan biji-biji kopi yang baru dipanen. Biji-biji kopi hasil panen yang akan segera dipasok ke salah satu perusahaan multinasional yang gerai-gerai minum kopinya tengah jadi wabah dan tren gaya hidup di sejumlah kota besar di Indonesia.
Sahabat saya itu bingung. Kenapa kok saat ini tiba-tiba banyak orang Indonesia betah berlama-lama duduk di kedai-kedai kopi yang tersebar di berbagai Mal itu sembari membawa-bawa buku.
Kata saya, syukurlah, setidaknya pergeseran dari budaya menonton ke budaya membaca mulai terjadi. Atau, setidaknya sudah bisa ditonton sebagai seperti itu.
Saya buka segel kopi pemberiannya. Kopi dengan label Ulee Kareng tadi, yang sebetulnya adalah nama salah satu kecamatan di wilayah Banda Aceh.
Terbuat dari tanaman kopi berjenis arabica yang disebut-sebut lebih kaya rasa dibandingkan biang kafein berjenis robusta.
Saya jerang air secukupnya sampai mendidih. Saya bagi rata komposisi kopi dan gula ke dalam empat cangkir yang ada, sebelum saya tuang air yang tengah menggelegak dalam panci ke dalam cangkir-cangkir itu.
Malam itu, di teras depan rumah milik Bapak dan Emak saya, kami mengobrol sampai pagi. Bersama dua sahabat saya yang lain.
Sayangnya, karena keterbatasan pengetahuan dan keahlian saya dalam mengolah bulir-bulir kasar kopi yang idealnya disajikan dengan cara disaring itu, tak ada rasa aslinya yang keluar. Tetap saja, masih ada kenikmatan yang tanggal di langit-langit mulut.
Membekas panas di lidah.
Bulir-bulir kasar kopi bubuk itu kini masih tersisa banyak. Menunggu saya menguasai teknik terbaik untuk mengeluarkan rasa dan aroma aslinya.
Benda kedua adalah barang yang tak beredar di sembarang tempat. Sebuah rekaman gambar begerak dari petualangan jurnalistik William Nessen yang warga negara Amerika Serikat.
Pengalaman dia selama pergolakan di NAD sepanjang 2001-2005.
Plot maju mundur yang digunakan Nessen lumayan memikat. Cerita dibuka dengan gambar kehancuran masif usai tragedi tsunami pada akhir 2004.
Sebuah kontras tersaji, saat hantaman derita tengah menghajar akibat terjangan bencana, permusuhan antara GAM dan Pemerintah RI yang belum selesai membuahkan nuansa curiga dimana-mana. Ada pertanyaan. Ada pukulan dan hajaran.
Kisahnya kemudian mundur, saat Nessen yang anak seorang pengacara itu masuk ke NAD pertama kalinya pada 2001 lalu. Nessen langsung menjalin kontak strategis saat itu dengan Panglima Koops Brigadir Jenderal Bambang Dharmono.
Nessen didampingi seorang perempuan muda berdarah Aceh yang bertugas sebagai pemandu dan penerjemah, Shadia Marhaban, yang punya tekukan garis muka seperti lazimnya gadis-gadis Portugis. Perempuan cantik beranak dua yang diam-diam juga mengampanyekan perlunya Aceh supaya merdeka hingga ke luar negeri ini akhirnya jadi istri resmi Nessen, satu setengah tahun setelah Nessen masuk ke NAD.
Shadia adalah kontak utama Nessen pada gerilyawan bersenjata GAM. Berkat Shadia, Nessen akhirnya bisa hidup selama beberapa bulan bersama pasukan GAM.
Nessen ikut berlarian di belakang aksi tembak menembak bersama GAM. Bertemu juru bicara GAM, Sofyan Daoud. Berlari menyelamatkan jiwa saat kontak senjata dengan TNI terjadi.
Nessen bertemu orang tua bernama Abu yang anggota GAM. Abu pernah dilatih tentara Amerika Serikat saat zaman mudanya dulu.
Sebuah kepentingan Paman Sam saat kecenderungan pemerintah Indonesia waktu itu yang mengarah pada blok komunis. Lalu ada gambar dropping senjata dari atas pesawat transpor Amerika Serikat.
Dari sudut pandang orang pertama itu, Nessen kepingin tahu seberapa besar pengaruh dan arti tuntutan merdeka bagi masyarakat NAD. Apa sesungguhnya peran yang dimainkan GAM, yang didirikan sejak 1976 itu.
Sebuah perang panjang yang sejarahnya dimulai saat penyerbuan Belanda ke wilayah itu pada 1873. Bukti sejarahnya hingga waktu itu tertinggal di kompleks pemakaman Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Tempat Jendral Kohler dan anak buahnya dimakamkan setelah tewas dalam serangan tersebut.
Termasuk peran Amerika Serikat dalam memformalisasi GAM. Dalam sebuah wawancara, terlihat jelas kalau generasi awal gerakan itu memang dilatih oleh serdadu-serdadu Paman Sam.
Kemudian ada gambar kopi khas Aceh disaring di sela-sela itu. Becak bermotor. Shadia yang akhirnya jadi jurnalis juga.
Shadia dan Nessen. Nessen dan Shadia.
Musliadi yang adalah aktivis HAM di NAD dan salah satu kawan karib Nessen, jadi pendamping Nessen saat Nessen menikahi Shadia. Tak lama setelah itu, Musliadi diambil paksa dari tempatnya tinggal.
Musliadi dibunuh.
Mei 2003, status gencatan sejata dicabut. Operasi darurat militer.
Nessen bergabung lagi dengan sejumlah kontaknya di pasukan GAM. Selama enam minggu Nessen mendokumentasikan perang terbuka GAM-TNI.
Dari sudut pandang GAM.
Bambang tak ingin ada pemberitaan dari sudut pandang GAM, sehingga ia terus berupaya mengontak Nessen supaya kembali.
Nessen bergeming.
Kondisi putus asa dan ketidakmampuan lagi untuk membedakan batasan realitas perang membuat Nessen akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri. Ia dijemput Bambang di Desa Paya Dua, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara pada minggu terakhir, Juni 2003.
Dipotret fotografer dan direkam juru kamera televisi. Tak ada wawancara.
Setelah ditahan selama 40 hari, Nessen dideportasi. Shadia dan dua orang anaknya sudah mendapat suaka di Amerika Serikat.
Lantas Nessen dapat kabar. Abu akhirnya juga dibunuh.
Setelah tsunami, Nessen kembali ke Indonesia. Mengunjungi sejumlah kenalan lamanya. Dia lihat kehancuran dimana-mana.
Delapan bulan setelah itu, Nessen, Shadia, dan Bambang bertemu lagi di Helsinki, Finlandia. Shadia mewakili pihak GAM.
Menyepakati perjanjian damai dengan Pemerintah RI dan setuju soal opsi otonomi yang diperluas bagi NAD.
Baru pertengahan bulan Maret lalu, Nessen dideportasi lagi untuk kali kedua. Nessen masuk ke NAD lewat Kuala Lumpur, langsung ke Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.
Status cekal terhadapnya baru ditandangani ulang pada 8 Februari lalu.
Kata sahabat saya yang kini tengah sibuk kesulitan mencari banyak tenaga terampil di NAD, mantan anggota GAM sekarang bertransformasi jadi pengusaha yang menyuplai kebutuhan berbagai proyek rekonstruksi usai bencana tsunami. Sahabat saya bilang, sampai kini sebagian besar rakyat NAD di wilayah perkotaan memang masih menikmati bantuan yang terus dikucurkan.
Tapi ia mengingatkan, tak lama lagi, banyak lembaga donor akan meninggalkan NAD. Terutama yang program-program rekonstruksi fisiknya sudah dirasa selesai.
Tinggal menyisakan beberapa proyek pembangunan komunitas yang memang butuh waktu relatif lebih lama.
Pembangunan sosial.
Kata sahabat saya, dia belum bisa membayangkan bagaimana jika waktu itu akhirnya tiba. Sekarang saja, sahabat saya itu sudah dipusingkan oleh sebagian karyawannya yang minta gajinya dinaikkan.
Saya sendiri masih penasaran dengan cita rasa asli kopi Ulee Kareng yang dibawanya. Tapi sahabat saya itu menambahkan, kalau masih ada lagi jenis kopi Gayo, yang menurut versinya dua kali lebih nendang rasanya.
Pun, membuatnya relatif lebih mudah dengan hanya diseduh pakai metode biasa. Itu sudah mampu membangkitkan cita rasa aslinya. Dengar-dengar, inilah jenis kopi organik paling unggul di dunia.
Sahabat saya juga menjanjikan akan ada lagi seri selanjutnya dari jejak rekam audio visual serupa yang dibawanya. Plus kopi Gayo tentunya.
Saya sih kepinginnya merasakan langsung di tanah aslinya.
Siapa tahu saya bisa bertemu Shadia.

7 komentar:
kayanya judulnya lebih cocok "Kopi Aceh" atau "darah dan kopi Aceh"hehehehe.
kalo ngomong kopi Aceh, kebetulan suami pernah kasih oleh2 kopi Aceh buat aku, tapi karena kita gak minum kopi, akhirnya aku taro buat mengharumkan lemari pakaian, sadar ada yang tidak beres di lemari kami, dia ngomel2 karena katanya tu kopi bukan sembarang kopi, kopi kualitas nomer 1 bahkan di se-Indonesia pun, dia mendapatkan kopi itu dengan resiko disandera GAM atau ditembak karena cuma dari merekalah dia bisa mendapatkan kopi itu, kenapa gak pake kopi beli di warung aja?! dll omelan yang retorik dan panjang lebar mbikin saya terbengong2 doang.
saya merasa bersalah sudah melakukan pelanggaran Hak Asasi Kopi, please forgive me?! :D
hehehe..bener juga ya..kayaknya yang cocok judulnya "kopi kelam" ye..gue ganti pake judul itu aja deh..
hahaha..nah, kalo naruh kopi bubuk di lemari pakaian sih belum pernah gue kerjain tuh..waduh..pantesan aja..dapetinnya susah..masak ditaruh di lemari pakaian..
psstt..kalo emang nggak minum kopi..boleh-boleh aja tuh kopinya ditransfer..hehehe..
oh iya diganti kirain artikel baru, thanks udah mau mempertimbangkan masukan gue :)
wah kopinya udah dibuang hehe.
secara filosofis, bener juga omongan suamiku yach, dibalik kopi Aceh tersimpan cerita, perjuangan, tragedi, kengerian, dll yang di mana saat kita menyeruput segelas kopi Aceh dengan enak padahal kalo dipikir2 Aceh yang dahulu bergolak ternyata masih sempet bikin kopi (padahal dengan kondisi kritis mending beli deh, boro2 bikin kopi dengan tenang, hehe).
hehehe..ironi daerah konflik..kayak berlian sierra leone..emas freeport..minyak irak..yah..ironis..
Apakah kopi aceh mengandung......???
@gunkberg..kopi Aceh sepertinya tidak mengandung......???
tetapi kalau salah satu varian produk dodolnya saya duga memang mengandung......???
soalnya pernah ada kejadian di mana banyak sekali kolega saya mengalami sensasi santai sambil ketawa-ketawa sendiri setelah menyantap dodol Aceh yang saya duga mengandung......???
Salam kenal
Post a Comment