09 April 2008

Gila Hormat

Pengamat politik dan aktivis sampai hari ini, M. Fadjroel Rachman, terakhir kali saya bertemu dengannya empat tahun lalu. Seorang kolega saya membawanya ke kantor mungil kami yang nyaman pada suatu malam di tahun itu.


Mereka berdua dulu satu tempat belajar pada sebuah kampus teknologi paling terkenal di Bandung. Sama-sama aktivis pergerakan. Bareng-bareng merasakan represi rezim orde baru yang totaliter.

Fadjroel berkali-kali merasakan hawa lembab penjara yang berbeda-beda. Ditahan terus gara-gara menolak kompromi dengan rezim orde baru.

Di suatu malam empat tahun lalu itu, kami semua mendengar kisah Fadjroel. Dia cerita banyak soal kondisi mutakhir politik tanah air waktu itu.

Kami diskusi hingga menjelang pagi. Sampai tak ada lagi makhluk malam yang mau melirik pada kami. Hingga detik jam dinding menjadi satu-satunya penyekat tipis di antara kami pada pagi dingin itu.

Barusan, saya nonton Fadjroel di layar televisi. Dia, dengan gaya khasnya yang selalu memamerkan deretan gigi putihnya di sela-sela argumennya, lagi berdebat keras dengan Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR RI Gayus Lumbuun.

Mereka dimoderatori seorang presenter laki-laki yang tak bisa menyembunyikan keringatnya yang mengucur deras. Entah pendingin ruangan dalam studionya yang kurang bekerja sempurna. Atau karena topik yang dibicarakan terbilang sangat panas.

Beberapa jam sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini dipimpin bekas jaksa karir Antasari Azhar, menangkap tangan seorang anggota DPR RI bernama M. Al-Amin Nur Nasution. Suami resmi pedangdut Kristina yang punya garis muka mirip Krisdayanti itu adalah anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.

Amin, sori sedikit gosip ala panggung selebriti, yang sempat mau diceraikan oleh Kristina tapi lalu rujuk lagi itu, ditangkap di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Diduga, Amin sedang terlibat tindak pidana suap menyuap.

Pasti, bukan Kristina yang sedang disuap Amin dalam hotel itu.

Sebetulnya Amin tak terkait langsung dengan debat antara Fadjroel dan Gayus. Di layar televisi yang saya saksikan barusan, Fadjroel dan Gayus sedang berdebat sengit soal lagu karya kelompok musik Slank yang berjudul “Gosip Jalanan.”

Lagu lama dari album Slank berjudul PLUR (Peace, Love, Unity, & Respect) pada 2005 lalu itu jadi heboh gara-gara sejumlah anggota DPR RI tersinggung setelah Slank yang konser gratis di kantor KPK akhir Maret lalu juga menyanyikan lagu tersebut. Lagu itu juga masuk dalam album baru mereka berjudul “Anti Korupsi” yang khusus didedikasikan buat KPK.

Ceritanya, Gayus yang bertugas sebagai pembela kehormatan para anggota dewan yang katanya terhormat itu lagi bertugas khusus mewakili rasa tersinggung sebagian anggota DPR RI terhadap lagu “Gosip Jalanan.” Kata Gayus, semua liriknya tak patut didengarkan.

Tak pantas diedarkan. Tak layak dijual.

Sebetulnya Gayus tersinggung pada lirik berbunyi, “Mau tau gak mafia di Senayan..Kerjanya tukang buat peraturan..Bikin UUD..Ujung-ujungnya duit..,”
Tetapi seakan ingin menunjukkan kalau seluruh lirik lagu itu sebagai tak bermoral lalu Gayus membacakan lirik ini dengan lantang.

“Siapa yang tahu mafia selangkangan..Tempatnya lendir-lendir berceceran..Uang jutaan bisa dapat perawan..,” Sembari mengulangi lagi kata-kata selangkangan dan lendir-lendir sebagai lirik yang tak pantas.

Fadjroel yang jago merangkai puisi itu kembali dengan gaya khasnya dan mempertanyakan lirik dan kalimat mana yang dianggap sebagai tak pantas. Tak bermoral.

Sembari mesam-mesem Fadjroel mengaku sebagai seorang slanker (penggemar Slank). Tak lupa Fadjroel katakan salam pis (maksudnya peace atau damai) yang jadi jargon wajib setiap slanker. Saya baru tahu informasi ini.

Informasi yang membuat Gayus makin keki.

Apalagi si presenter laki-laki yang tak bisa menyembunyikan keringatnya yang mengucur deras, mencecar Gayus soal ditangkap tangannya Amin. Katanya, itu seperti konfirmasi dan pembenaran lirik lagu “Gosip Jalanan,” yang Gayus sedang mati-matian berupaya menunjukkan betapa tak bermoralnya lirik lagu itu.

Tak pantas diedarkan. Tak layak dijual.

Fadjroel kembali pada argumennya. Bahwa itulah cara seniman bertindak dan menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Soal bahasanya yang terkesan hiperbolis, urakan, dan sebagainya, itulah ciri yang membedakan tiap seniman.

Gayus bergeming.
Kata Gayus, DPR RI bukan lembaga kebal kritik. Mereka tetap terbuka buat dikritik. Tapi Gayus punya syarat. Kritiklah dengan cara yang elegan.
Gitu sarannya. Sambil ngotot tentunya.

Mungkin, ini merujuk pada “permainan” anggota dewan yang katanya terhormat itu saat menelurkan sebuah kebijakan atau produk hukum dengan cara yang elegan. Cara yang teramat halus. Metode sopan yang bahkan dengannya kita kadang tak sadar kalau sedang dirampok habis-habisan.

Saat mereka enak-enakan bikin aturan soal kenaikan tunjangan diri sendiri. Ketika berbagai program tak masuk akal, seperti studi banding berharga miliaran rupiah seperti lolos begitu saja.

Padahal ada busung lapar dimana-mana. Ada kasus gizi buruk merajalela. Terdapat anak-anak putus sekolah dan tak mampu sekolah di seantero negeri.

Ini belum termasuk produk hukum yang hasil akhirnya hanya berpihak pada pengusaha dan penguasa.

Semuanya dilakukan dengan elegan. Sangat bermartabat. Sepertinya tak ada pihak-pihak yang dibuat tersinggung dan tersakiti hatinya pada saat itu semua dikerjakan. Soalnya kan mereka lembaga terhormat.

Fadjroel punya usul. Bagaimana kalau rasa tersinggung terhadap lirik lagu “Gosip Jalanan” itu dibawa ke domain hukum. Diajukan ke pengadilan. Supaya kemarahan itu bisa dipertanggungjawabkan.
Gayus ogah.
Katanya, biar rakyat banyak yang menilai soal tersebut. Soal apakah lirik lagu itu bermoral atau tidak.

Toh, kata Gayus memang banyak anggota DPR RI yang terbukti melanggar kode etik Badan Kehormatan DPR RI. Kata Gayus lagi, mereka semua, termasuk yang disangka melakukan tindak pidana korupsi, sudah ditindak. Tapi tak banyak yang tahu soal fakta itu.

Fadjroel bertanya. Kok nggak ada yang dipenjara.
Kata Gayus, kan tidak selalu harus dipenjara.
Fadjroel berucap, kok lucu ya, soalnya setahu Fadjroel orang yang melakukan korupsi harusnya ada di penjara. Senyum getirnya yang menampilkan susunan geligi putihnya nongol lagi.

Saya ngakak.

Pada akhir acara, ditampilkan prosentase survei kecil-kecilan soal pilihan responden. Apakah mereka percaya Slank atau DPR RI, atau tidak tahu mana yang mesti dipercaya.

Hasilnya, hanya nol koma sekian persen yang percaya DPR RI dan nol koma sekian persen yang tak tahu pihak mana yang bisa dipercaya.
Selebihnya, atau lebih dari 99 persen, memilih percaya pada Slank.

Meyakini bahwa lirik lagu “Gosip Jalanan” yang dinyanyikan memang seperti itulah realitasnya. Atau setidaknya, mendekati dan cenderung ke arah realitas itu.

Realitas yang kini dihadapi anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, M. Al-Amin Nur Nasution. Kenyataan bahwa memang ujung-ujungnya duit atau UUD versi Slank dalam lirik lagu "Gosip Jalanan" tadi.
Bisa jadi, Amin bakal dituntut cerai untuk kedua kalinya. Gara-gara menganggap terhormat dan minta terus-terusan dihormati, Amin sepertinya lupa bahwa ada banyak orang yang jauh lebih terhormat daripada dirinya.
Orang-orang yang tidak menerima dan melakukan suap, seperti yang sedang dituduhkan kepadanya.
Ah, kasihan Kristina.

11 komentar:

yuki tobing said...

Itu foto beliau yah ingki? Salut sama beliau.
Gila hormat, cocok dialamatkan ke para wakil kita emang, setahu saya sih kalo mau dihormatin mesti belajar menghormatin dulu kan ya, apa mereka menghormati kita dengan memberikan yang terbaik pada kita yang telah melalui sebuah proses demokratis mempercayai mereka.

Sebenarnya apa sih kriteria seseorang untuk dihormati? Pantes gak sih minta dihormati?

Soal etis-gak etis, saya rasa sih itu kembali ke diri sendiri saja. Lirik lagu Slank itu kan cuma sentilan belaka yang mungkin kenyataannya benar, jadi bingung siapa yang berperilaku gak etis. Maling teriak maling.

Oh ya ingki, soal nomor telepon pembuat pesawat, tunggu sebentar yah, hehe, belum berhubungan sama orang tua.

Tonny said...

Saya kemarin juga ngak sengaja nonton acara itu. Sumpah ngakak abis. Padahal acara dialog serius dengan topik serius tapi bisa membuat penontonnya ketawa-ketawa. Seolah-olah kayak lagi nonton empat mata nya tukul saja.

Pak gayus malah selalu menjawab pernyataan dengan memutar mutar dulu atau mundur dari pertanyaannya.

Apalagi waktu Pak Gayus, yang selalu menekankan pernyataan tentang kritik harus sopan dan santun, ditanya balik oleh si presenter laki-laki mengenai kritik yang sopan itu contohnya bagaimana. Pak Gayus malah menolak menjawab.

Dan yang bikin sebel itu label tidak sopan yang disama ratakan tanpa memandang latar belakang dan sudut pandang yang berbeda. Sopan itu relatif.

Menurut saya dialog kemarin itu tidak mengena dari tujuan awalnya dialog itu diadakan (kalaupun ada). Kayak cuma buat mengisi kekosongan spot dialog aja. Tapi lumayan juga kalau buat ketawa ngakak sebelum tidur. :D

ingki said...

hehehe..itu foto abdi dalem di Keraton Surakarta Ki..kebetulan tahun kemaren pas lagi maen kesana..ya udah, jeprat-jepret dikit deh..sebagai ilustrasi aja..selama ini kan kehidupan di keraton identik dengan sikap hormat..apalagi sikap para abdi dalem sama para pemimpinnya..pokoknya pasrah abis ama raja-raja mereka deh..nah, kayaknya para anggota dewan kita yang katanya terhormat itu, mau diperlakukan serupa..menganggap kita-kita ini sebagai abdi dalem mereka..

jelasnya, sebelum seseorang dihormati, maka yang bersangkutan harus belajar dan mempraktikkan bagaimana menghormati duluan..

yoi..biasanya yang bunyinya paling nyaring..lha ya itu kan..yang biasanya melompong...hehehe...

oh, santai aja Ki..gue nggak buru-buru kok..sekarang anak gue lagi mengembangkan kemampuan isengnya secara menyeluruh..hahaha...

cewektulen said...

di tipi mana ya, kok gw nggak nonton...hiks...

ingki said...

@Tonny...hahaha...bener bung Ton..itu dialog nggak menghasilkan apa-apa..selain yah, setidaknya saya bisa mengendurkan urat-urat syaraf..

bener..sopan itu relatif..sama lah kayak nilai kebenaran yang nggak pernah absolut di dunia ini..

jadi makin miris yah Ton..gara-gara pemahaman pendidikan yang buruk, satu demi satu akibatnya sekarang keliatan makin jelas...

ingki said...

@cewektulen..di stasiun televisi yang dulu pake jargon "Ngetop" itu lho..yang paket program beritanya sekarang rajin disiarkan dari dalem Mal itu lho..

yonna said...

@Ingki
ya ampiyun, di SCTV ya, hehe kirain di Metro TV.

wahahha....topic of the week nih, Mas Amin resmi jadi tersangka dan mbak Kristina harus ditinggal ma suaminya.

ck, gak tau deh mo ngomong apa, emang negara kita udah caur banget ya?!

Tonny said...

wew, cepet juga balesnya. :D
oya, salam kenal mas.

Mungkin bukan cuma pemahamannya yang salah. Bisa Sistem atau prakteknya juga.
Bukannya kenyataannya cuma diambil ijazahnya doank. :D
Tanya kenapa?

Weleh, kok jadi gosip pemerintahan :D

ingki said...

@yonna..hihihi...kita nyanyi "Gosip Jalanan" aja..kalo ngomong dah abis deh kayaknya kata-kata...

@tonny..tadi soalnya pas lagi di d depan meja bung..begitu ke lapangan..yah, wassallam..hehehe...salam kenal juga bung..

ya, karena pemahamannya salah, akhirnya merembet ke sistem dan praktiknya..akhirnya bisa beli ijazah apa saja dimana-mana..hahaha..

bukan gosip kok bung..ini fakta yang bisa keliatan jelas hampir setiap hari..

Afra said...

Waduh soalan gila hormat ini udah menjalar sampai kemana2 nih..Ga cuma para pemimpin bangsa aja lho..Untuk urusan di kantor dan tempat lain juga. Kenapa ya kok orang2 sangat menggilai si hormat ini. Sombong dan tidak membumi...
Mudah2an generasi muda bisa terlepas dari momok gila hormat ini deh...

Salam Sukses Ingki...

Afra
www.aframayriani.wordpress.com

ingki said...

@afra...semuanya diawali dari salah pemahaman di bidang pendidikan..logika senior-yunior yang amat diagungkan..praktik ospek yang tanpa kejelasan tujuan..terus begitu sampe tua..hmmm bener ye..Mudah2an generasi muda bisa terlepas dari momok gila hormat ini deh...

Salam Sukses Juga Afra..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.