02 April 2008

Jepit Sakit

Perempuan muda itu bernama Yuli. Ia bolak-balik dalam ruang berukuran 2,5x5 meter. Kulitnya putih kecoklatan.
Wajahnya ditumbuhi jerawat.

Keadaan normal akibat perubahan hormonal dirinya yang tengah hamil. Tingginya sekitar 165 sentimeter dengan bobot yang saya taksir tak lebih dari 70 kilogram.

Dari besar perutnya dan proporsi postur tubuhnya, saya perkirakan usia kandungannya baru saja menembus enam bulan.

Yuli tengah merawat salah satu kolega saya yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit. Kolega saya itu diserang penyakit tifus.

Sakit yang disebabkan bakteri bernama salmonella typhi yang menghajar bagian usus halus sehingga terjadi infeksi akut. Biasanya, penderita tifus yang disebut juga demam tifoid atau typhus abdominalis itu harus dirawat di rumah sakit setidaknya selama satu pekan. Ini supaya usus si penderita tidak makin kacau kondisinya atau terjadi komplikasi di sana-sini.

Karena itulah, tadi siang saya sempatkan menjenguknya.

Ruang perawatan itu sendiri dilengkapi pendingin udara. Ada televisi ukuran 15 inci menggantung dari atas plafonnya. Kolega saya hanya sendirian di ruang perawatan itu. Memang ada dua tempat tidur, tapi sepertinya tempat tidur tambahan itu diperuntukkan bagi penjaga pasien.

Yuli keluar dari ruangan itu. Sejurus kemudian dia kembali lagi. Saatnya bagi Yuli menambah obat-obatan ke dalam tubuh kolega saya. Tapi belum ada cairan tambahan yang hendak disuntikkan pada kolega saya terbawa dalam genggamannya.

Jadi, Yuli kembali keluar ruang perawatan itu. Dengan seulas senyuman ia balik kanan menuju troli obat-obatan yang diparkir di depan pintu masuk.

Tak lama, cairan obat tambahan dari tabung suntik berukuran medium masuk lewat pembuluh arteri radialis yang berada di bagian pergelangan tangan kolega saya. Kali ini cairan itu masuk lewat bagian pergelangan tangan kirinya.

Sensasinya seperti ada rasa sesak sejenak saat cairan obat itu masuk. Itu pengakuan kolega saya.

Yuli keluar ruangan dengan sigap. Perawat terlatih yang diawasi dan dilindungi Komite Perawat di tempatnya bekerja itu berkeliling lagi mengunjungi pasien-pasien lain dalam rumah sakit yang pakai nama tengah internasional tersebut.

Rumah sakit yang punya berbagai fasilitas canggih seperti alat bernama MRI (Magnetic Resonance Imaging) 1.5 Tesla untuk memeriksa tubuh dengan medan magnet besar tanpa gelombang radio, nihil operasi, tidak pakai sinar X, dan tanpa bahan radioaktif lainnya itu tampak ramai. Pasien, dokter, perawat, hingga tenaga administrasi punya kesibukannya sendiri-sendiri.

Tapi, kata kolega saya yang dirawat inap di sebuah kamar bertarif Rp 550 ribu per malam, dari jendela di sebelah kirinya kadang tampak pemandangan kontras. Dari balik jendela kaca itu, katanya suka berlarian tikus-tikus besar yang melompat dari satu rumah ke rumah lainnya.

Saya lirik jendela di sebelah kirinya. Di antara rumpun tanaman bambu berbatang kecil-kecil berwarna kuning yang saya lihat, saya saksikan kalau daerah itu merupakan wilayah permukiman padat.

Kata salah seorang kolega saya yang lain lagi, daerah itu memang dikelilingi permukiman kumuh. Karena kolega saya yang diserang tifus ini mendekam di lantai pertama, jadi ia mesti rela kebagian pemandangan itu. Kalau ia tinggal pada tingkat-tingkat di atasnya, mungkin ia bisa melihat jelas aktivitas dan denyut kehidupan di wilayah permukiman dengan bangunan yang berdiri seadanya itu.

Pada kamar dengan harga sewa lebih mahal Rp 50 ribu dari batas setengah juta rupiah atau masih dua kelas di bawah harga sewa ruang rawat paling mewah di rumah sakit itu, kolega saya mesti istirahat total. Tak bisa diganggu gugat.

Tapi saya jelas tak bisa berhenti menggugat soal pandangan “mengganggu” di balik kaca jendela sebelah kiri kolega saya yang tergolek lemah akibat tifus tadi. Sebuah pertunjukan soal ketimpangan dan kesenjangan.

Jadi, dalam perjalanan pulang hati saya terus bergolak. Apa yang akan terjadi kalau salah satu penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu terkena tifus.

Apakah mereka akan dirawat pada ruang yang sama. Ruang yang persis di sebelah rumahnya. Mungkin berbatasan dengan ruang tempatnya tidur, makan, dan buang hajat sekalian.

Jika para penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu dihajar demam berdarah, maukah rumah sakit megah yang pakai nama internasional di tengahnya itu menerima mereka. Andaikata ada anak-anak penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu diserang diare, bisakah atas nama kemanusiaan mereka dirawat oleh perawat-perawat serupa Yuli di rumah sakit yang pakai nama tengah internasional itu?


Dalam hati, air mata saya menetes.

Baru sebulan lalu saya main-main ke salah satu poliklinik yang ada di sebuah desa. Bukan sebuah desa terpencil, karena masih ada aspal mulus selebar enam meter yang membelah areal persawahan di kanan kirinya.

Saya longok ke bagian dalam poliklinik desa itu. Ada seorang ibu menggendong bayinya. Saya tanya, kemana bidannya. Ibu itu menggeleng pelan dan menunjuk arah keluar.

Saya tak tahu apa keperluan ibu yang menggendong bayinya di poliklinik desa itu. Saya juga tak mengerti kemana perginya bidan, bukan dokter, yang berdinas di poliklinik desa dengan banyak sekali kambing yang lalu lalang di tanah lapang sebelah kanan bangunannya.

Apa yang saya tahu penyakit bisa bikin sakit. Pada orang-orang tidak mampu dan kurang mampu, penyakit bisa bikin kondisi makin terjepit.

Dalam hati, air mata saya menetes.

Kira-kira tiga tahun lalu saya berkunjung ke rumah Muhammad Asyarafi Hayyan. Saat itu bocah kecil yang kerap disapa Rafi itu baru berusia tiga tahun.

Waktu itu sudah lewat pukul sembilan malam. Tapi Rafi belum tidur. Ia hanya dibaringkan begitu saja pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya.

Rafi adalah salah seorang bocah penderita pembesaran kepala atau hidrosefalus. Jaringan pembuluh darah terlihat jelas di kepalanya yang membesar.

Saya sentuh kepalanya. Terasa lunak pada bagian atas dan belakangnya. Mirip sensasi menyentuh balon yang diisi air.

Kedua bola matanya menari. Tapi tak banyak ekspresi yang bisa dibuatnya. Berulangkali hanya batas garis putih yang saya tangkap dalam tatapan matanya.

Lalu saya goda Rafi.

Responnya bagus. Ia mencoba berbicara. Tapi tak ada kata yang terdengar. Kedua tungkai kakinya digerak-gerakkan, mencoba posisi yang nyaman.

Ia mencoba berbicara. Tapi tak ada kata yang terdengar.

Dalam hati, air mata saya menetes.

Gigi Rafi kala itu ompong. Luruh hancur gara-gara susunan geligi itu sering bertabrakan saat ia kejang-kejang. Guguran gigi-gigi itu larut bersama feses yang diproduksi tubuh kecil Rafi dari mekanisme ekskresi.

Kata kedua orang tuanya, Rafi lahir lewat prosedur cesar. Sebuah proses persalinan yang memerlukan penyayatan di bagian perut guna mengeluarkan bayi dari kandungan.

Pembesaran kepala itu sendiri sudah terdeteksi sejak Rafi ada di kandungan. Tapi prosedur medis guna mengatasi kelainan itu yang berharga amat mahal membuat orang tua Rafi mundur teratur.

Dengan tindakan hanya paling memungkinkan lewat operasi, biaya yang dibutuhkan jelas makin berlipat. Ayah Rafi yang bekerja pada salah satu rumah sakit sebagai seorang tenaga pengamanan tak kuasa mengejar tingginya biaya kesehatan yang menggedornya di pagi buta.

Rafi kecil hanya tergolek pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya. Soalnya akses beroleh pengobatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu masih jadi mimpi siang bolong di negeri ini.

Karena ayah Rafi tak mampu, bocah kecil itu hanya tergolek pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya. Gara-gara layanan kesehatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu masih jadi janji politisi setiap hari, Rafi tergolek tanpa daya.

Akibat hasil korupsi yang dianggap rezeki, layanan kesehatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu, banyak pejabat berargumen biaya kesehatan memang selayaknya mahal.

Ah, saya memang hanya bisa bermimpi Rafi dirawat oleh Yuli. Nyaman dalam ruangan berpendingin udara bertarif sewa Rp 500 ribu setiap harinya. Merasa aman dengan standar rumah sakit yang pakai kata internasional di tengahnya itu.
Apa yang saya tahu penyakit bisa bikin sakit. Pada orang-orang tidak mampu dan kurang mampu, penyakit bisa bikin kondisi makin terjepit.


Dalam hati, air mata saya menetes.


4 komentar:

yuki tobing said...

Ah, ibu saya adalah seorang dokter spesialis, beliau selalu marah2 saat melihat pelayanan kesehatan yang sudah tidak maksimal, mahal pula. Dia tidak pernah mencharge sedikit pun pasien dari kalangan susah yang berobat kepadanya, dia selalu berkata kalau jadi dokter itu pekerjaan sosial, bukan untuk mendapatkan uang, kalo mereka sembuh juga kita seneng, jadi intinya gak layak membikin harga suatu pelayanan kesehatan menjadi tinggi. Yang kaya bisa berobat ke rumah sakit internasional bahkan ke luar negeri, eh yang miskin teronggok di pojok ruangan kamarnya saja di rumah menahan sakit.

Pemerintah kayaknya kurang memberi subsidi ke bidang-bidang pelayanan sosial, atau sudah ada dan dikorupsi saya juga tidak tahu. Selain pendidikan, saya percaya bidang kesehatan juga harus disubsidi. Siti Fadillah Supari adalah Menteri yang hebat, dia telah membuktikannya saat ia berani menantang Amerika dalam masalah penelitian virus flu burung dan dia juga kerap mengambil tindakan tegas atas rumah sakit yang ogah-ogahan melayani pasiennya. Mari kita lihat sepak terjang lebih lanjutnya.

ingki said...

Wah, tolong sampaikan salam hangat dan hormat saya untuk ibunda Yuki.

Benar, idealnya memang sebuah profesi itu adalah panggilan. Apalagi yang berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Adalah tidak pada tempatnya jika kita menjadikan manusia lainnya sebagai obyek semata. Sebagai komoditas.

Apa yang sering saya dengar dari teman-teman saya yang memilih profesi dokter, adalah betapa sulitnya mereka berproses menjadi seorang ahli. Betapa sulitnya mereka untuk bisa praktik dengan mandiri. Selain karena beban resmi, dalam arti tuntutan akademis dan administratif, ada pula beban-beban siluman yang membuat kesulitan makin menjadi. Membikin segala niat seperti barang mustahil.

Ini, yang saya duga menjadi akar mengapa pasien banyak dipandang dari sisi sebagai komoditas belaka. Belum lagi bicara rezim industri farmasi. Pengalaman pribadi saya pada posting berjudul "Awas, Kejahatan Medis," adalah kenyataan yang bikin mata hati saya makin awas.

Yuki, sekali lagi tolong sampaikan salam hangat dan hormat saya untuk ibunda Yuki. Saya yakin beliau salah satu di antara makin sedikit dokter yang ideal dalam pandangan saya kini.

Ah, saya jadi ingat tokoh Patch Adams.

Benar sekali, ini sebetulnya tanggung jawab pemerintah. Seperti juga pendidikan. Mengapa setiap orang selalu yakin kalau biaya sekolah untuk jadi seorang dokter memang harus mahal. Mengapa setiap orang mesti percaya kalau biaya perawatan kesehatan memang selayaknya mahal.

Soalnya negara tidak mau mengurus dengan serius. Sudah begitu kebocoran anggaran yang terjadi pun bisa bikin miris hati.

Tambah lagi, tatkala negara sudah tak mau lagi mengurusi dengan serius, negara pun dengan entengnya menyerahkan mekanisme itu semua pada pihak swasta. Jelas, ketika modal hadir dari pihak swasta, logika selanjutnya adalah menggandakannya menjadi untung. Bagaimana laba itu bisa diperoleh. Tentu dengan menarik bayaran setinggi mugkin pada peserta didik. Pada pasien.

Memang ada beasiswa. Memang ada kebijakan menggratiskan biaya rawat bagi sejumlah kasus penyakit berat yang jadi pusat perhatian karena diekspos besar-besaran.

Tetapi berapa besar prosentase pemberian-pemberian gratis yang insidental itu dibandingkan kasus-kasus lain tatkala banyak orang harus putus sekolah. Ketika anak-anak kecil menderita dan berkarib dengan maut gara-gara gizi buruk.

Tak banyak.

yonna said...

@Ingki
mungkin ini salah satu cara mengurangi kemiskinan yaitu membiarkan orang miskin mati kesakitan. nah kalo orang miskin banyak yang mati, pasti angka kemisikinan berkurang kan? hehehehe, yang diberantas malah orangnya bukan kemiskinannya. peace!

jadi, pihak yang harusnya bertanggung jawab itu pantas disebut manusia gak? hmmmm

ingki said...

@yonna..wuah..kayaknya kalo bener gitu, kejam sekali ye..lebih jahat dari genosida..hmmm, sepertinya kalau yang semestinya bertanggung jawab malah menyimpang, ia layak dipertanyakan statusnya sebagai manusia..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.