Nyaris dua pekan lalu saya bertaruh di bandara. Berjudi dengan kemungkinan untuk beroleh tiket penerbangan ke Jakarta.
Hanya sekitar tiga jam sebelum jarum jam mengeksekusi pergantian hari. Akhirnya saya dapatkan kepastian tiket berjadwal paling buncit itu.
Sebagai jaminan, saya tinggalkan kartu tanda pengenal. Saya tak mau berjudi dengan uang. Jadi, tidak saya tinggalkan persekot duit.
Saya pilih tinggalkan kartu tanda pengenal saja. Secepat kijang melesat, saya bergegas pulang.
Apa yang membuat saya seperti diburu ratusan tawon pada malam itu diawali sebuah keterkejutan. Saya sendiri tidak berencana ke Jakarta pada hari itu.
Tapi keadaaan sedang memaksa.
Kira-kira dua jam sebelum bertaruh di bandara, telepon genggam saya berdering. Istri saya mengabarkan kalau anak lelaki saya, kemungkinan besar esok harinya hingga beberapa hari ke depan tak ada yang bisa menjaga.
Saya, jelas hanya baru bisa bercengkerama dengan anak lelaki saya itu pada waktu-waktu tertentu. Tanggung jawab pekerjaan kadang merenggut sebagian waktu yang harus saya sisihkan pada anak lelaki saya itu.
Istri saya, setali tiga uang. Akhir-akhir ini ia sedang sibuk dengan berbagai proyek barunya yang menuntut konsentrasi tinggi. Jadi, rasanya belum memungkinkan buat menunggui aktivitas anak lelaki saya yang sedang berada dalam usia aktifnya sepenuh waktu.
Sejak beberapa hari terakhir itu, penjaga rumah yang juga menunggui aktivitas anak saya sehari-hari sedang tak aktif. Suaminya yang sedang diserang gangguan penyakit pada kandung kemihnya, dan terpaksa harus dirawat di salah satu rumah sakit lebih membutuhkan perhatiannya.
Sebetulnya, pada beberapa hari itu, mertua saya secara khusus datang dari Malang. Kecintaan serta kerinduannya yang mendalam pada anak lelaki saya membuat dirinya jadi semakin lengket dengan anak lelaki saya pada beberapa hari terakhir itu.
Tetapi kejutan itu akhirnya datang juga.
Kata istri saya, mertua saya bersama dengan keluarga besar harus segera bergegas ke Yogyakarta untuk suatu urusan keluarga. Jadi, saat itu memang tak ada pilihan.
Saya harus ke Jakarta.
Membawa serta anak saya untuk dititipkan pada nenek dan kakeknya. Emak dan Bapak saya.
Dengan mata yang masih terlelap, anak lelaki saya tidur dalam pangkuan menuju bandara. Tapi sejumlah guncangan gara-gara rusaknya jalan yang dibangun pakai pajak rakyat itu membuatnya terjaga juga.
Saya sorongkan botol berisi susu hangat kepadanya. Saya bisikkan cerita soal pesawat yang bisa terbang. Saya ingatkan pengalaman sebelumnya tatkala ia menembus awan untuk pertama kali bersama saya dan ibundanya.
Ia tertawa.
Inilah kali kedua ia terbang malam bersama saya, setelah beberapa kali sebelumnya menikmati sensasi terbang saat sinar matahari masih hadir. Tapi cairan putih berisi susu formula itu hanya masuk sedikit saja.
Anak lelaki saya lebih tertarik pada lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang dan papan-papan iklan yang memendarkan cahaya.
Sampai di bandara, sejumlah pasang mata memerhatikan kami. Bahkan ada yang menatap serius sejak ujung kepala hingga batas kaki.
Dengan mengenakan kaos, jins coklat, dan sepatu kasual serta satu ransel besar, satu tas jinjing, dan seorang anak laki-laki berusia 21 bulan yang saya gendong, bagi mereka semua saya lebih mirip seorang penculik. Atau, paling tidak orang tua putus asa yang sedang berebut hak pengasuhan anak.
Berpasang-pasang mata itu terus menerus mengawasi gerak gerik saya.
Seorang pegawai maskapai penerbangan yang bertugas mengonfirmasi kepastian keberangkatan saya akhirnya tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.
Berulangkali dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau dua orang yang akan berangkat itu maksudnya adalah satu penumpang dewasa dan satu penumpang balita.
Bukan orang-orang dewasa.
Ia juga bertanya, kenapa kok malam sekali. Yah, saya jawab saja kalau memang saya baru pulang merampungkan semua pekerjaan. Sambil saya kibas-kibaskan lengan, berharap aroma tak sedap hasil kerja saya seharian bisa dinikmatinya sebagai bukti.
Diam-diam saya tersenyum dalam hati gara-gara asumsi yang dibangun orang-orang atas dasar prasangka tadi.
Anak lelaki saya makin aktif saat berada di ruang tunggu. Celotehnya makin ramai saat melihat rupa-rupa pesawat sedang parkir dalam jarak sekitar 20 meter dari batas dinding kaca.
Suaranya makin dominan saat tiba dalam kabin Boeing 737 seri 400 yang diluncurkan pada 1985 dan mulai terbang perdana pada 1988 berbalut interior dominan berwarna abu-abu itu. Gara-gara penjelasan saya kepadanya soal sayap pesawat beberapa waktu sebelumnya, ia ngotot menunjuk-nunjuk keluar kaca jendela sembari berucap kata sayap berulangkali.
Untung kami duduk persis di samping sayap kanan pesawat. Jadi, saya bisa tunjukkan pula mesin pesawat jet yang mencantel pada dudukan di bawah badan sayap (pylon) yang disinari lampu temaram dari area apron bandara. Tapi saya tidak yakin mau menjelaskan apa jenis mesin jet seri pesawat itu yang biasanya
beredar pada nama produsen Rolls Royce dari Inggris atau Pratt and Whitney dari Amerika Serikat.
Lepas landas, ia mulai berceloteh soal masuk awan, masuk awan, masuk awan yang terus disebutnya. Kata-kata itu diucapkannya berulangkali saat kami hendak menuju ketinggian jelajah pada jarak 33 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer di atas permukaan laut.
Tapal batas yang jadi ukuran efisien begi mesin-mesin jet komersial untuk beroperasi di lapisan atmosfer bernama troposfer itu.
Soal masuk awan itu beberapa kali memang sempat dialami anak lelaki saya saat terbang siang hari. Mulai dari kelompok awan stratus yang terdiri atas keluarga stratus, stratocumulus, dan nimbostratus yang ada di ketinggian hingga 6.500 kaki atau sekitar 2 kilometer di atas permukaan laut.
Kelompok awan menengah (alto) seperti altostratus, altocumulus pada ketinggian 6.500 hingga 18.000 kaki atau sekitar 5,5 kilometer hingga awan tinggi (cirrus) seperti cirrus, cirrostratus, dan cirrocumulus pada ketinggian di atas 5,5 kilometer dari atas permukaan laut.
Tapi malam itu ia hanya melihat gulita.
Maka, saya putuskan buat membacakan saja cerita untuknya. Ah, sialnya seluruh buku bacaan baginya lupa saya bawa.
Hanya ada satu buku tebal dalam tas saya yang bukan konsumsi bagi anak lelaki saya saat ini.
Jadi, saya raih majalah terbitan maskapai penerbangan yang saya tumpangi. Saya bolak-balik isinya, dan saya coba pilih artikelnya yang paling sesuai di antara tulisan-tulisan mencolok soal promosi gaya hidup yang menghamba pada paham hedonisme dan hasutan supaya berperilaku konsumtif itu.
Akhirnya saya temukan juga.
Sebuah tulisan soal tarian tradisional bangsa Jepang bernama Kabuki.
Ka artinya musik atau lagu. Bu bertafsir tarian. Ki punya makna akting.
Maka, kabuki berarti pula drama dengan musik dan unsur tarian yang lekat. UNESCO pada tahun 2005 menetapkan Kabuki yang eksis sejak 400 tahun lalu jadi salah satu di antara 43 karya puncak warisan budaya dunia yang tak bisa dinilai harganya.
Anak lelaki saya menunjuk-nunjuk foto-foto bercitrakan pemeran Kabuki dalam tata rias warna putih tebal di sekujur wajahnya dengan variasi warna warni merah, biru, coklat untuk menggambarkan karakter masing-masing.
Mulutnya berceloteh terus, ini apa, ini apa.
Saya pun juga berceloteh terus. Mengulangi penjelasan dari mula hingga akhirnya.
Tapi, lagi-lagi, perhatiannya teralih pada rupa-rupa foto dan gambar pesawat yang ada di majalah itu. Yah, saya turuti saja permintaannya sembari menjelaskan bagian-bagian gambar yang ditunjukknya.
Lembar majalah terbitan maskapai penerbangan yang saya tumpangi itu buru-buru saya balik ke halaman lain begitu yang dibuka anak saya adalah lembaran soal promosi gaya hidup yang menghamba pada paham hedonisme dan hasutan supaya berperilaku konsumtif tadi .
Lama-lama anak saya pun pun letih. Ia lalu memilih buat lelap saja. Toh, hak istirahatnya pada malam itu memang sedang saya rampas.
Tiba di tujuan, tak butuh lama bagi anak saya buat beradaptasi dengan keluarga besarnya di Jakarta. Membuat saya dengan hati lengang kembali lagi ke Surabaya.
Beberapa hari ke depan ini saya lagi bersiap buat menjemputnya. Dari cerita lewat sambungan telepon jarak jauh tiap harinya, saya dengar perbendaharaan celotehnya makin banyak.
Juga banyak sekali “kreativitas” usil terbaru yang dilakukannya setiap hari. Membuat saya tak sabar menunggu hari menjemputnya.
Apa yang saya takutkan, sepertinya bakal ada permintaan khusus dari Emak dan Bapak saya supaya anak lelaki saya itu tinggal saja bersama mereka seterusnya.
Wah, sepertinya ini tugas berat saya selanjutnya.
01 April 2008
Kerja Keluarga
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
4/01/2008 08:16:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

8 komentar:
Cerita Ingki sama anaknya kayak cerita bapak saya sama adik saya yang paling kecil, dia berjarak 12 tahun sama saya, dan dia penggemar berat pesawat, ada sekitar 300an model pesawat di rumah saya di Jakarta akibat hobinya ini. Bapak saya selalu sibuk menceritakan jenis2 pesawat, spesifikasinya, dan lain2nya ke adik saya, haha, sekarang adik saya bisa menjelaskan dengan detail semuaaa jenis boeing dan airbus, maskapai mana yang menggunakan boeing yang mana pun dia tahu.
whoaa...gitu ya ki..iya nih..anak saya ini demen banget ama pesawat..sejak dua minggu terakhir ini di jakarta, dia bahkan udah punya lima model pesawat baru yang dibeliin neneknya..semuanya udah dioprek sana-sini dan kayaknya tinggal bagian badan pesawat (fuselage) ama bagian sayap dan sirip tegaknya aja yang masih utuh deh..hahaha..yah, itulah cara belajar paling efektif kan..eniwei jauh juga ya jarak umurnya ki, emang sekarang brapa taun?..saya sendiri baru aja melewati batas 27 tahun di dunia..salam buat keluarga ya..
Salam juga buat keluarga mas ingki, saya mah masih 21 tahun, masih bocah, haha. Sama, pesawat adik saya juga suka dia banting-banting, sayapnya entah kemana, jadi jelek bener dah pokoknya, cuma sejak dia tambah gede dia jadi gak ngerusak lagi, malah dipajangin di rak. Oh ya, kalo suka pesawat model, saya ada telpon pembuatnya, langganan adik saya sih, hehe, bisa dipesan sesuai keinginan, misal Tobing Airlines Boeing 747-400 berwarna merah, harganya juga lumayan murah, mereka juga melayani pembuatan pesawat komersil beneran. Dulu kebetulan nonton RCTI dia nongol diwawancara, dikasih telponnya pula, semangat langsung adik saya,.
hehehe..masih sama-sama usia kepala dua..sama kok bocahnya..bocah tua nakal..hehehe..boleh juga tuh ki soal pembuat pesawat modelnya..infonya via japri aja ya..ke ingkirinaldi@gmail.com...tengkyu banget ki..
wah anak gue senengnya apa ya? pesawat? gak tau juga, dia seneng maen apa aja. tapi aku lagi berusaha mengarahkan hobinya untuk gemar membaca buku, dari umurnya masih itungan bulan udah kubeliin dan kuajak baca buku. tentu aja bukunya yang hard, kalo yang biasa bisa dirobek dan ditelen hehe.
sebagai orang tua usia 20-an kayanya boleh juga kita tukeran tips parenting nih, Ki, hehehe
@yonna..wow..kebiasaan membaca yang ditularkan sejak dini emang baik sekali..
hehehe..tips pertama ape ye..oh iye, anak gwe lagi demen banget mengkhayal..jadi gwe ikutin aje jd tokoh seperti keinginannye..trus barusan gwe ngobrol2 ama tmen gwe yang guru tk..jangan langsung kaget kalo ada kata-kata "aneh" diucapkan anak..selidiki dulu maksud dia sebenarnya dari mengucapkan kata-kata "aneh" itu sebenernya apa..
@Ingki
yah namanya masih bayi, meski udah dibeliin buku tapi gak cuma dibaca doang tapi juga dijilat dan digigitin hehehe.
iya dunia anak emang dunia penuh imajinasi. saya masih ingat dulu saya mengkhayal dan menjadikan boneka, bantal dan guling sebagai lawan bicaranya hehehe, karena udah akrab makanya dikasih nama, ampe sekarang nama itu dipertahankan. suami gue kaget gue masih menamakan bantal guling tsb, gue sih beralasan utk ngebedain ma punyanya dia. hoehoeheoeo, gue rasa pengaruh dunia anak2 masih tertinggal di diri gw. kayanya gw nih yang perlu diselidiki, kenapa masih namain bantal guling padahal udah setua ini....heheheheh, thanks
@yonna..hehehe..pengaruh masa kanak-kanak emang yang akan paling melekat dan berpengaruh terhadap perkembangan diri selanjutnya..masih wajar dan gak perlu penyelidikan lebih lanjut kok..hehehe..
Post a Comment