21 April 2008

Realitas Blues

Malam Jum’at kemarin mampir sebuah pesan singkat di layar telepon genggam saya. Sebuah informasi dari seorang sahabat saya di Jakarta.

Kabar soal jadwal tontonan yang dibawakan sejumlah pemusik blues di kota itu. Tontonan hidup yang tersaji di salah satu tempat nongkrong dan kongkow-kongkow sembari menyantap makanan dan menyeruput minuman.

Blues yang erat dengan realitas dan kejujuran fakta hidup. Blues yang mulanya banyak dibawakan kalangan tertindas di Amerika Serikat bagian Selatan.

Inilah akar bagi jazz dan rock yang dengan berbagai variannya, atau jenis musik apapun juga yang sekarang menguasai jagad hiburan dan jadi komoditas dengan ukuran utamanya pada aspek komersial.

Soal nilai jual.

Informasi yang sampai pada saya soal jadwal manggung tadi sejatinya adalah sebuah revisi. Soalnya, hampir satu bulan lalu kami berdua sedikit keki.

Setelah putar-putar beberapa lokasi hingga menjelang pagi, sajian hidup musik blues yang pada masa awalnya banyak bercerita soal kesedihan dan depresi itu tak juga kami temukan. Sebetulnya ada satu klub yang jadi andalan buat menyaksikan musik blues yang liriknya sering dinyanyikan berulang-ulang dengan sebuah larik kesimpulan itu.

Tapi, pada waktu pagi buta itu kami datang berkunjung, pintunya terkunci rapat. Ada sebuah papan penunjuk yang memastikan klub itu lagi tutup.

Kata sahabat saya, pemiliknya memang sangat moody. Keputusan buka atau tidak, tergantung juga jadwal manggung kelompok musiknya.

Yah, jadilah hari itu kami luntang luntung sampai menjelang waktu subuh.

Membaca pesan singkat di layar telepon genggam tadi, saya pun masih harus merem melek menahan keinginan buat mendengar dan menyaksikan tontonan itu secara langsung. Mau bagaimana lagi, tak kurang dari 900 kilometer jarak, kini memisahkan saya dan ekstase musikalitas itu.

Kebetulan, baru tiga hari yang lalu saya ketemu Andre Hehanussa. Kata Andre, yang dulu merintis karir sebagai salah satu vokalis Katara Singers, dia lagi bersiap meluncurkan album barunya pada bulan depan.

Mantan rekan duet Julio Iglesias lewat lagu berjudul To All The Girls I’ve Loved Before itu dengan percaya diri menunjuk dadanya dan dada saya dengan telunjuk tangan kanannya.

“Kau Adalah Aku,” katanya singkat.

Itu judul album barunya.

Digarap bersama Syarif Bastaman dan Adi Adrian. Nama terakhir adalah salah satu personel kelompok musik bernama KLa Project.

Kelompok musik yang mulai bikin saya patah hati sejak total empat personelnya berkurang pada 2001 lalu. Lalu, satu demi satu di antara mereka pun pergi.

Hingga sekarang saya belum mendengar lagi kabar baru dan baik soal KLa Project.

Padahal kalau ukurannya adalah menyukai seluruh hits KLa Project, saya ini termasuk KLanis. Sebutan yang kira-kira mirip dengan Slanker buat penggemar kelompok musik Slank atau Oi buat penggila Iwan Fals.

Kata Andre yang dulu gemar membawakan sejumlah komposisi milik The Manhattan Transfer saat bersama Katara Singers, “pertapaan” selama empat tahun menghasilkan album baru itu. Total berisi 12 buah lagu.

Namun Andre belum menjelaskan apakah album baru itu masih akan kental rasa rhytm & blues seperti ketika ia melejit lewat Bidadari, Karena Kutahu Engkau Begitu, dan Kuta Bali itu.

Tapi saya menduga referensinya tak jauh dari pengaruh jazz, rhytm & blues, dan pop. Jenis-jenis yang dilagukan The Manhattan Transfer yang dikagumi Andre karena harmonisasi komposisinya.

Jenis-jenis yang mengakar semuanya pada blues.

Tapi ada sedikit perbedaan antara The Manhattan Transfer dan KLa Project yang harmonisasi komposisinya juga saya kagumi.

Adalah fakta bahwa sejak mula berdiri pada 1972 lalu, The Manhattan Transfer tak pernah bubar hingga kini. Mereka terus eksis dan berlatih serius.

Sampai tulisan ini dibuat, komposisi vokal dua perempuan dan dua laki-laki itu masih terus eksis di jagad musik dunia.

Hanya salah seorang anggota paling awal, Laurel Massé, yang tidak lagi bergabung sejak kecelakaan mobil yang menimpa pada 1978 lalu. Cheryl Bentyne jadi pengganti Laurel Massé kemudian.

Andre yang bersungguh-sungguh soal album barunya dengan jadwal rilis pada 9 Mei nanti memastikan ada lagu dengan nuansa kritik sosial di dalam album barunya nanti. Inilah rupanya salah satu hasil pergulatan dan pertapaannya selama empat tahun.

Kembali pada akar blues yang bercerita soal realitas sosial.

Tapi lagi-lagi, suami Cut Rizky Theo itu belum menjelaskan soal perbedaan menangkap realitas sosial dan hubungan cinta asmara antar dua anak manusia.

Mungkin dia masih mau mencoba unsur kejutan.

Tapi mungkin pula karena Andre merasa tak ada bedanya antara dua hal itu. Lagipula, soal cinta kan melulu realitas sosial juga.

Ah, blues.

4 komentar:

gunkberg said...

Semakin prihatin terhadap skill para pemain band muda indonesia saat ini dikarenakan referensi musik yang terlalu menomor satukan komersialisme dari pada pendidikanbermusik...Jarang sekali mendengar grup band jaman sekarang membawakanlagu-lagu dengan tingkat kesulitan yang tinggi...yang penting ngetop....Dream Theatre ataupun Mr.Big semakin tidak terdengar dari balik pintu studio,digantikan oleh alunan melodi komersialisme itu tadi....hik hik hik...sedih rasanya.....

ingki said...

nah..ini komentar dari salah satu pelaku industri musik di negeri ini..bung gunkberg, ayo dong berbagi dengan kami..bagaimana suasana yang bung sering rasa dan dengar..juga yang bung suka lihat dari balik pintu studio musik yang bung jalankan...jika keadaan terus seperti yang sebagian bung gambarkan, lalu bagaimana selera industri ini mau dibawa ke depan..gimana bung..gimana..-mode mengguncang-guncangkan badan dinyalakan-

yonna said...

iya nih, makanya saya lebih suka denger lagu jadoel (lagu barat) dan jaman sekarang enakan denger lagu rap, R&B, hip hop atau lagu2 indonesia yang emang enak kaya Letto, Andity tapi lebih seneng denger om Peter, om Phil, Toto, dll yang notabenenya jadul kabeh :D

kapan2 kita rumpi om Peter yuk, Ki?!

ingki said...

@yonna..hayuk..hayuk..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.