Tiga hari yang lalu saya bangun pagi-pagi sekali. Bergegas saya sambar gagang telepon.
Anak lelaki saya yang berumur 21 bulan berceloteh girang. Istri saya yang baru saja meninggalkan zona nyamannya sebagai karyawan serta memilih jadi seorang entrepreneur dan pagi itu tengah bersiap menemui salah seorang kliennya, tak mampu menyamai agresivitas anak lelaki saya.
Dalam sekejap gagang telepon yang dilewati jaringan kabel tembaga itu sudah berpindah ke tangan anak lelaki saya.
Pagi itu saya bermaksud menelepon adik perempuan saya yang bungsu di Jakarta. Beda usia sembilan tahun memisahkan kami.
Tiga hari yang lalu, sebagai siswi kelas akhir sebuah sekolah menengah kejuruan, adik perempuan saya yang bungsu itu mulai menjalani “perang” nya sendiri.
Ia mesti mengikuti sebuah proses bernama Ujian Sekolah Berstandar Nasional atau USBN.
Banyak orang menyebutnya dengan kependekan Ujian Nasional atau Unas. Ada juga yang menyingkatnya pendek sekali dengan dua huruf saja.
UN.
Dari seberang gagang telepon, adik perempuan saya yang bungsu terdengar gugup. Tapi saya tak bisa banyak berbuat. Hanya sedikit nasihat standar yang saya semburkan. Selebihnya saya malah lebih banyak berbincang dengan Emak saya.
Sebelum anak saya menyambar gagang telepon yang dilewati jaringan kabel tembaga tadi.
Dalam tiga hari belakangan ini badan saya kemudian jadi meriang tak karuan. Tidur tak nikmat. Bentol-bentol menyerang dan rasa gatal menghebat di seluruh tubuh.
Usai hari pertama ujian itu, saya lihat tayangan televisi soal sejumlah pelajar yang menangis tiada henti usai menjalani “perang” nya di hari pertama. Mereka tak menyangka soal yang disajikan sangat sulit.
Jadi, mereka menangis. Takut tak lulus saringan UN tadi.
Saya ingat adik perempuan saya yang bungsu. Gatal saya makin menghebat. Bentol-bentol kali ini sudah sampai di kulit kepala.
Segera saja saya raih gagang telepon lagi.
Memang soalnya sulit. Gara-gara itu pula beredar bocoran soal kunci jawaban UN di sekolah adik perempuan saya yang bungsu. Entah siapa penyebarnya dan apa motivasinya. Entah benar, entah tidak bocoran soal itu.
Adik perempuan saya yang bungsu bergeming terhadap tawaran menggiurkan itu. Alasannya sederhana.
“Gue takut ditangkap polisi,” itu katanya.
Jadilah ia melanjutkan “perang” nya itu dengan kejujurannya. Dengan caranya sendiri. Bersama prinsip yang diyakininya.
Ada mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika yang mesti dihadapinya dengan standar rata-rata 5,25 supaya bisa lulus. Tahun lalu, standar minimal ini masih berada pada angka 5.
Semuanya masih ada larangan tidak boleh ada nilai lebih rendah dari 4,25. Atau nilai minimal 4 pada mata pelajaran tertentu dengan mata pelajaran lain minimal 6.
Selain itu, sebagai siswi sekolah kejuruan, ia juga diwajibkan meraih nilai minimal 7 untuk sejumlah mata pelajaran kompetensi yang merujuk pada keahliannya. Nilai-nilai ini dipakai pula buat menghitung rata-rata nilai UN.
Hari ini sudah hari ketiga. Pada layar televisi saya saksikan sejumlah guru ditangkap polisi. Tuduhan membocorkan soal UN berikut kunci jawaban dengan gagah dialamatkan.
Mereka digelandang masuk ke kantor polisi. Hukuman penjara enam tahun menanti.
Seolah-olah tokoh-tokoh pengajar dan pendidik itu adalah penjahat kelas berat. Lebih jahat daripada pengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Lebih buas daripada koruptor.
Mau dikata apa. Berita yang disajikan di layar televisi tadi juga tak mencerahkan. Seolah hanya sekedar mencari sensasi.
Hanya melihat dari sudut pandang sosok guru yang semestinya di gugu dan di tiru, untuk kemudian dikontraskan dengan kelakuannya saat UN digelar. Perilaku yang dengan gagahnya disebut sebagai jahat.
Tak terpuji.
Membuat sejumlah guru yang digelandang ke dalam kantor polisi itu harus menutupi wajah mereka dengan selembar kain kecil. Atau dengan apa saja.
Tak ada ulasan tambahan. Soal gaji dan tunjangan guru yang belum sampai. Soal berbagai ancaman sanksi hingga pemecatan terhadap guru-guru itu jika ada anak didik mereka yang tak lulus UN.
Soal utang-utang mereka yang menumpuk untuk sekedar bertahan hidup. Soal janji tunjangan sertifikasi yang praktiknya tak sepenuh hati.
Soal pemotongan anggaran program pendidikan tahun ini yang besarnya mencapai 10 persen. Dari jatah Rp 49 triliun dipotong Rp 4,918 triliun, hingga jadi Rp 44 triliun lebih sedikit saja.
Soal-soal yang pasti mendegradasi kesejahteraan guru-guru tersebut.
Tujuannya penghematan anggaran. Tapi tetap saja mereka yang dengan bangga menyebut diri sebagai wakil rakyat, dan minta dihormati serta merasa punya kehormatan lebih sehingga butuh sebuah lembaga khusus bernama Badan Kehormatan, wira wiri pakai fasilitas kelas satu.
Pejabat mana yang mau hidup melarat bersama rakyat. Jadi, anggaran mana yang dihemat.
Mau dikata apa. Berita yang disajikan di layar televisi tadi juga tak mencerahkan. Seolah hanya sekedar mencari sensasi.
Diam-diam saya bertanya pada diri sendiri. Ada kemungkinan yang sangat besar bagi saya untuk gagal dalam UN, jika saya duduk di bangku kelas terakhir SMA pada tahun ini.
Bayangkan saja, dengan standar minimal yang harus dipenuhi tanpa cela itu, saya harus menyelesaikan soal-soal yang meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.
Itu kalau saya memilih program IPS, jika saya memilih program IPA maka Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi siap menghadang.
Di program bahasa ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sastra Indonesia, Bahasa Asing, dan Antropologi. Jika program Keagamaan yang saya pilih, maka Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Matematika, dan Tasawuf atau Ilmu Kalam sudah menanti.
Semua harus lolos persis dengan standar minimal tadi. Bagi saya, itu sulit.
Soalnya, pertama, saya bukanlah manusia dengan kemampuan multi-intelejensia.
Kata Howard Gardner yang punya teori soal intelejensia (kecerdasan) ganda, setelah menemukan tujuh jenis kecerdasan manusia pada dekade 80an, ada sembilan jenis kecerdasan pada manusia yakni linguistik, matematis-logis, kinestetik, ruang-visual, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan, dan eksistensial.
Dua jenis kecerdasan tambahan ditemukannya lagi pada 1999 lalu.
Semua jenis kecerdasan tadi bisa ada pada manusia. Bisa juga hanya satu atau dua di antaranya saja.
Tetapi adalah tidak mungkin jika seorang manusia tidak memiliki satu saja di antara jenis-jenis kecerdasan yang kata Gardner ada sembilan macam tadi.
Bisa jadi gabungan beberapa jenis kecerdasan, atau semua jenis kecerdasan, atau dominasi hanya satu jenis kecerdasan itu tadi yang cenderung membentuk pola perilaku sosial seseorang dalam bermasyarakat.
Nah, hal tersebut rupanya selama ini belum tersentuh oleh pengambil kebijakan pendidikan negeri ini. Fokus utama sepertinya melulu soal kecerdasan matematis-logis.
Diukur angka. Dinyatakan dalam bilangan.
Padahal setiap orang punya tiga unsur penting. Selain fisik, jiwa dan pikiran juga aset berharga manusia. Hati adalah kunci. Organ tubuh paling bertanggung jawab terhadap segala tindak tanduk dan polah perilaku manusia.
Hati bisa berubah. Hati bisa diubah.
Tentu tabir ini takkan pernah terbuka jika selama hidup, yang melulu dicekokkan hanyalah berbagai standar konyol soal pendidikan yang tengah salah membaca peta di negeri ini tadi. Jadilah banyak orang terus memendam hasrat untuk memakai topeng orang lain dan menihilkan jati diri.
Jadilah banyak sekali terjadi aneka tren tidak penting yang menggelora tiap hari di negeri ini. Jadilah kita masih terus menerus terkungkung dalam budaya konsumsi.
Padahal kita kaya potensi dan semestinya bisa berproduksi. Banyak sumber daya alami yang bikin banyak negara lain iri. Banyak kekayaan berbagai dimensi yang seringkali bikin negara lain keki.
Sayangnya kita belum mampu mandiri. Lagi-lagi ini soal pendidikan yang belum diseriusi.
Belum-belum, anggaran pendidikan yang sudah amat sangat kurang itu justru dipotong. Supaya ada penghematan pengeluaran bagi negara.
Pejabat mana yang mau hidup melarat bersama rakyat. Jadi, anggaran mana yang dihemat.
Soal kedua, saya merasa tak cukup kuat menahan beban keharusan dari model UN kini. Logika soal standardisasi yang menurut saya amat sangat tidak logis.
Bagaimana mau menyamakan ujian dengan standar nasional, jika selama tiga tahun menempuh pendidikan dan menyerap pengetahuan, tak ada standar yang bisa dirasakan.
Dari Sabang sampai Merauke.
Saya dan adik saya masih beruntung. Kami sekolah di Jakarta. Sekolah yang masih lengkap meja, kursi, dan papan tulisnya.
Sekolah yang masih punya laboratorium komputer dan perpustakaan. Sekolah yang punya lapangan olahraga dan beralaskan tegel keramik mengkilap.
Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kami yang bersekolah di sekolah-sekolah yang fasilitasnya tak selengkap seperti yang dimiliki sekolah kami. Bagaimana saudara-saudara kami yang bersekolah dengan guru-guru yang kehadirannya untuk mengajar tak bisa diprediksi, apalagi dipastikan.
Tetap saja, mereka harus menempuh UN juga. Dengan standar akhir yang disamakan!
Soal ketiga, saya merasa fokus pendidikan makin lama makin buyar. Orang semakin dituntut untuk belajar semua hal, tanpa menjadi paham akan hal-hal yang dipelajarinya.
Tanpa fokus.
Tanpa maksud meremehkan, saya merasa segala beban mata pelajaran yang saya harus hadapi selama tahun-tahun saya sejak bersekolah nyaris tanpa guna. Saya baru benar-benar merasa terfokus tatkala bertemu dengan banyak orang untuk berdiskusi.
Ketika saya main teater. Saat saya menikmati permainan lagu dan musik. Tatkala ada topik-topik yang memang merangsang saya untuk bergumul lebih jauh dengannya.
Manakala saya sedang melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah pedesaan terpencil dengan penduduk dan keadaan aslinya. Saat saya bertemu realitas.
Jadi bayangkanlah, berapa tahun waktu saya habiskan percuma untuk mempelajari hal-hal yang tak saya minati.
Tapi harus saya pelajari. Supaya dapat nilai.
Agar bisa lulus.
Kali lain saya tanya adik perempuan saya yang lain, yang sudah lulus dari sebuah institut kesenian ternama di Jakarta. Dia mengaku, rasa-rasanya tak ada hal yang bisa diingat ataupun manfaat yang dicerapnya selama tahun-tahun mengecap aneka mata pelajaran di sekolah.
Ia baru menemukan jati dirinya yang utuh tatkala memutuskan ikut pendidikan lanjutan pada sebuah institut kesenian ternama di Jakarta itu. Sejak dua semester awal sudah banyak hasil yang bisa diperlihatkannya.
Kini ia merasa itulah dunianya. Sebuah dunia yang baru ditemukannya dalam lima tahun terakhir ini.
Jadi bayangkanlah, berapa tahun waktu yang dihabiskan adik perempuan saya yang sudah lulus dari sebuah institut kesenian ternama di Jakarta itu secara percuma, untuk mempelajari hal-hal yang sebetulnya tak ia minati.
Tapi harus dipelajarinya. Supaya ia dapat nilai.
Agar ia bisa lulus.
Hari ini sudah hari ketiga. Diam-diam ada perasaan bangga menyeruak terhadap adik perempuan saya yang bungsu, yang baru saja usai menjalani UN.
Terhadap pilihannya. Terhadap prinsipnya. Terhadap kejujurannya.
Dik, apapun hasil UN bagimu nanti, entah kau lulus ataupun tidak, kau akan tetap jadi pahlawan sejati bagiku. Abangmu.
UN. United Nothing.
24 April 2008
Setan Pendidikan
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
4/24/2008 07:11:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

3 komentar:
I feel sorry for them. Lucky I didn't have to go through it :P
It's just as bad as Japan when it comes to this issue. Hopefully no students will commit suicide if they fail though. Yikes.
wah Ki, gue turut ngucapin semoga adik lu lulus ujian UAN ya, amin.
meski gak ngrasain gimana heboh UAN, tapi pas keponakan gue mau ujian lulus SMP ke SMA sekitar taun 2006, gue juga ikut deg2an karena meliat realitanya lewat TV, koran, radio dll banyak banget korban ketidalulusan UAN...duuuhhh merinding!!!
untungnya keponakan gw lulus dan dia malah ditrima di SMA Terbaik SEindonesia :)
gimana ntar dunia pendidikan jaman anak kita ya, Ki? kita sekolain ke luar negri aja yuk?! *kalo ada duitnya hehe, amin
@therry..
i hope so.
it's worse than in japan. since we don't have that standard.
@yonna..
makasih ya doanya..hehehe..boleh juga tuh sekolah ke luar negerinye..bang-bing-bung..nyok kite nabung..
Post a Comment