25 April 2008

Suvarnabhumi Membumi

Beberapa waktu lalu saya ditinggal pesawat milik maskapai asal Indonesia yang terus menerus dicekal buat terbang di atas langit Eropa. Bukan gara-gara saya terlambat. Juga bukan karena saya alpa membawa tiket.

Tapi kesialan memang sedang mampir pada saya di siang terik itu. Ceritanya, tiket kepulangan saya kembali ke Jakarta, secara tak disangka tak terbawa oleh seseorang yang sebelumnya saya percayakan untuk mengurus soal itu di Jakarta.

Jadilah, saya tercecer sendirian di Bandara Suvarnabhumi, Racha Thewa, Bang Phli, Provinsi Samut Prakan, Thailand, pada siang menggantang itu. Suvarnabhumi yang kira-kira berarti sama dengan Tanah Emas.

Saya masih mencoba jurus nekat pada detik-detik terakhir. Sambil menerobos lorong-lorong penjagaan akhir petugas imigrasi.

Mencoba menjelaskan kalau saya adalah penumpang resmi. Kalau tak percaya silahkan cek sendiri. Kira-kira seperti itulah argumentasi konyol saya ketika itu.

Mengambil jarak sejurus, saya balik kanan tatkala upaya itu gagal. Saya pijit-pijit tombol di telepon genggam. Entah siapa yang saya hubungi.

Muka saya terasa panas. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung jatuh taat pada hukum gravitasi.

Sampai pada akhirnya burung besi yang sedianya saya tumpangi itu melesat jauh melawan hukum gravitasi.

Mata saya nanar. Menatap sekeliling. Mencoba menganalisa situasi. Mengenali ancaman sekaligus peluang.

Segera saya sadari, sebenarnya ini bisa dilihat sebagai sebuah berkah. Yah, segala sesuatu memang bisa diteropong dari berbagai sisi.

Jika ada pendapat positif, pastilah ada juga yang menganggapnya negatif. Kalau ada yang bilang sesuatu itu baik, bisa dipastikan pada kutub lain ada yang bilang sesuatu itu buruk.

Jadi, semua hal nilainya memang relatif. Tak ada kebenaran absolut.

Saya telepon seorang teman yang masih tinggal sementara di Provinsi Chonburi, Thailand. Tepatnya di lokasi wisata Pantai Pattaya.

Minta tolong supaya pulsa telepon saya diisi. Sekedar jaga-jaga saja kalau-kalau saya terpaksa menginap di bandara. Atau dari kemungkinan apa saja.

Sebuah mekanisme wajar pertahanan diri di daerah yang asing adalah dengan mendekatkan identitas kita dengan berbagai karakteristik yang dikenali. Inilah yang menjelaskan kenapa organisasi bersifat kedaerahan eksis di berbagai kota.

Juga asosiasi mengenai kumpulan bangsa-bangsa tertentu yang dinamis di negara-negara yang bukan rumpun mereka.

Pulsanya masuk. Nilainya 300 baht Thailand. Atau sekitar Rp 100 ribu.

Saya duduk di sebuah kursi. Ada beberapa orang dengan tas-tas besar di kanan kiri saya. Mereka tak peduli dengan kehadiran saya.

Tampaknya mereka penumpang transit dari sejumlah negara. Itu tampak dari muka mereka yang letih. Juga aroma badan yang tak lagi segar.

Ada pria tua berseragam berusia di akhir 50 tahun yang saya lihat wira wiri. Ia petugas resmi bandara itu.

Sepasang matanya awas mengamati gerak gerik saya. Ada seorang pria gagah berusia lebih muda mendampingi. Mungkin lelaki muda ini deputinya.

Akhirnya dia tak dapat memendam hasratnya untuk tidak menanyai saya. Pertama sekali pertanyaan yang meluncur deras dengan jantan dari balik bibir keriputnya adalah, apakah saya sudah punya tiket.

Saya bilang tak kalah gagahnya. Punya.

Pikir saya, daripada panjang urusan. Berhadapan dengan birokrasi di sebuah negara yang saya belum paham betul bagaimana aturan mainnya.

Jadi sekali lagi saya bilang.

Punya.

Secepat lalat merasakan bahaya, saya pun putar haluan troli berisi ransel besar dan berbungkus-bungkus barang bawaan. Sebelum ia meminta bukti nyata ucapan saya.

Ternyata, tiket pulang yang tidak terbawa bukan hambatan bagi saya mencari tiket penerbangan lain ke Jakarta. Karena informasi panduan cukup jelas. Disajikan dalam bahasa Thai dengan aksara Brahmi dan bahasa Inggris dengan aksara Latin.

Setelah tanya jadwal tercepat penerbangan ke Jakarta pada sebuah maskapai asal negeri jiran yang maju berkat konsep low cost carrier, berikut harganya. Saya hitung persediaan duit.

Untungnya sejumlah lembar dollar Amerika Serikat masih saya kantungi. Pergilah saya ke gerai penukaran mata uang.

Lalu saya menunggu selama delapan jam. Sampai waktu keberangkatan dinyatakan.

Aktivitas menunggu di Bandara Suvarnabhumi yang dibuka resmi 28 September 2006 sebagai pengganti Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand yang dibuka sejak 27 Maret 1914 rupanya bukan persoalan.

Setidaknya bagi saya.

Tak ada calo. Tak ada petugas berkumis baplang yang bertampang menakutkan.

Cuma petugas bandara berseragam tadi. Petugas yang menanyakan tiket yang dimiliki.

Mengisi waktu selama berjam-jam itu juga bukan hal membosankan.

Dengan luas terminal 563.000 meter persegi dan menara kontrol 132,2 meter, menjadikan Suvarnabhumi sebagai bandara dengan luas terminal terbesar kedua dan menara kontrol tertinggi nomor satu di dunia.

Saya potret sana potret sini. Sampai saya ubah setelan memori kamera digital, supaya bisa lebih banyak menampung hasil jepretan.

Jadi, delapan jam pun rasanya masih kurang buat merayakan seisi bandara yang konstruksi runway paralelnya (masing-masing dengan lebar 60 meter serta panjang 4000 meter dan 3.700 meter) dan taxiway paralelnya sempat mengalami kerusakan serius itu.

Saat peristiwa itu terjadi, sejumlah penerbangan tertunda dan dialihkan pada 25 Januari 2007, menyusul perbaikan serius terhadap keretakan yang terjadi pada runway.

Tak perlu risau menunaikan ibadah lima waktu bagi umat Muslim. Terdapat mushalla yang nyaman dengan daya tampung lumayan serta akses yang mudah karena banyaknya papan penunjuk.

Ada begitu banyak deretan restoran, kafe, dan tempat leyeh-leyeh yang membuat seolah Cilandak Town Square Mall di Jakarta hadir di bandara itu. Saya bergegas ke toko buku yang penjaganya sempat tarik urat dengan saya, ketika di pagi buta beberapa hari sebelumnya saya tiba usai mendarat.

Waktu itu sikapnya tidak simpatik. Padahal saya cuma mau beli buku percakapan singkat dalam bahasa Thai yang beraksara Latin. Bukan Brahmi yang sepintas mirip aksara Hanacaraka dalam bahasa di Tanah Jawa itu.

Supaya bisa saya praktikkan.

Tapi buku yang saya maksudkan memang sepertinya tak dijual di tempat itu. Akhirnya saya putuskan buat berjalan ke jurusan lain.

Sebelum ke ruang tunggu keberangkatan, saya masih sempat mampir pula ke deretan toko yang nuansanya serupa di Pondok Indah Mall atau Plaza Senayan di Jakarta.

Tapi pasti, tak ada barang yang saya beli. Apa daya, persediaan lembaran uang di dompet sudah menipis sekali.

Saya juga tak punya solusi berupa kartu kredit, yang bagi saya masih lebih mirip serigala pemangsa di malam hari.

Informasi keberangkatan dan kedatangan dipampang di berbagai lokasi. Jadi, tak usah khawatir kelewatan informasi saat asyik masyuk berbelanja atau menikmati hidangan.

Tapi perut yang keroncongan tak bisa diajak kompromi. Jadi, saya pun mencoba hidangan nasi kare ayam seharga 85 baht yang belum termasuk pajak 10 persen, plus air mineral 15 baht.

Sayangnya, belum ada kesempatan bagi saya mengabadikan kesibukan lalu lalang pesawat di bandara yang didesain oleh Helmut Jahn dari biro arsitek Murphy/Jahn Architects itu. Tepat pukul delapan malam saya menentang hukum gravitasi.

Membran gendang telinga saya berdengung. Kombinasi raungan mesin scram jet yang menyeruak ke dalam kabin ditambah serangan influenza jadi perpaduan sempurna.

Tiga setengah jam kemudian saya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.

Kontras.

21 komentar:

yuki tobing said...

wah menarik sekali, sungguh mengingatkan saya akan film the terminal, film favorit saya yang dibintangi oom tom hanks dan catherine zeta jones.

tersesat di bandara yang menyenangkan emang bisa jadi gak begitu buruk, walaupun seingat saya bandara bankok itu menyimpan banyak cerita mengerikan, seperti anak kecil yang diambil organ dalam tubuhnya demi dijual di amerika latin sana. entah benar entah tidak.

well, saya belum pernah ke bandara barunya sih, terakhir saya ke sana 2005 belum jadi kali ya.

ingki said...

...hehehe..lumayan menyenangkan Ki..versi lain "Zeta Jones" juga gue temuin lho di bandara ini..beberapa bulan lalu sempet gue posting..judulnye "Supakan Ariya," walaupun udeh pasti alur ceritanye sama sekali gak mirip ama The Terminal...hahahaha...

oh ya..wah..itu kejadian di Bandara Don Muang apa Suvarnabhumi Ki? Ngeri juga ye..

yonna said...

haduh beberapa hari ini gue ktemu nama Oky, Ingki, Yuki yang notabenenya punya belakang "Ki" jadi rada keder neh hahaha.

WAh gokil juga pengalaman elo, tersesat di negri orang, kalo gue udah nangis bombay kali hehehe.

Untung yach elo panjang akal dan tenang jadinya selamat juga :)

Jadi pelajaran besar neh kalo tiket adalah barang maha penting yang gak boleh ditaro sembarangan alias harus nempel di tubuh bahkan kalo perlu dibawa mandi (ntar basah dong, hehe).

Tapi sayang kali itu Ingki gak ketemu ma cewe Thailand, another Supakan Ariya, hehe.

Therry said...

Oh.. I remember this Suwarnabhumi. What I remembered clearly was the good impression that I had upon Thailand having such a nice and clean airport as a contract to Jakarta's Soekarno Hatta.

Why did I say clean? Because upon arrival, I felt the heat, the same heat that I felt in my home country. And then I felt a sudden urge to go to the toilet.

And the toilet was clean.... as opposed to Soekarno-Hatta's toilet (masih pake gayung sama ember, WC model jongkok!!)that was really beyond words to describe.

Lo ngapain di Bangkok bro? Makan duren ngga? :D

Therry said...

Wadefak? I meant to say "as a contrast to Soekarno Hatta". Bloody typo.

ingki said...

@yonna..hahaha..soalnya cuma delapan jam sih..tapi kalaupun lebih dari itu, kayaknya malah makin gondok..duitnye makin menipis soalnye..hahaha...ya, hal penting lainnya yang gak boleh kelupaan adalah sebanyak mugkin membawa bahan bacaan..kita gak pernah tau apakah jadwalnya pas, ato bakalan ada penundaan kan..

ingki said...

@therry...yup, the airport was totally clean..nicely decorated with Buddhist icons and ornaments..i think there's a very strong commitment about this issue back there in Thailand..even in a public space such as traditional market nor the stadium, we won't see those who drop their litter on streets..

yah, biasalah..urusan sebagai buruh..hahaha..sayangnye kagak sempet berbangkok-bangkok ama durennye..mepet mumet jadwalnye..

ingki said...

@therry..that's why we're called human beings..

Therry said...

kenapa ya org Thailand bisa cintaaaaa banget sama rajanya. Orang kita? boro2 hahaha. Gue waktu ke sana pas raja Bhumibol lagi mau ultah, ya ampun itu dari sopir angkot sampe businessman pada pake gelang yang ada tulisan "We Love Our King" gitu, trus di mobil-mobil pribadi juga banyak sticker dengan tulisan yang sama.

Hebat bgt raja Thailand. Tapi dia emang baik sih, mikirin rakyatnya, as opposed to you know whaT!!!

ingki said...

@therry..jangankan pas doi ulang tahun..di hari-hari biasa aje Raja Bhumibol Adulyadej ntu bener2 jadi ikon nasional banget..sampe abg2 tu kalo jalan2 ke mal dengan bangganye pake "baju kerajaan" dengan warna kuning ato pink yang ada simbol kerajaannye..gue aja ampe beli beberapa biji ntu polo shirt warna kuning ngejreng berlambang kerajaan..baju yang kalo gue pake disini pasti disangka aktivis salah satu partai yang punya pengalaman puluhan tahun..mungkin karena Thailand gak pernah dijajah kali ye (satu-satunya negara di Asia Tenggara yang punya "nasib" begitu)..jadi pemimpin2nye gak pernah tau gimane caranye buat nginjek-nginjek rakyat..kebalikan ye ama, yah lo tau siapa kan...

Therry said...

Gue tau baju itu!! Dulu pengen belii tapi ga sempet hiks .... malahan dulu pengen beli gelangnya tapi gak yakin gitu. Lo beli ga?

HAhah iya kalo dipake pasti dikirain kaos partai, tapi kan kaos partai Indo ngga ada yang model polo bo, cuma oblong doang ... kaga modal bgt!

yup bener bgt tuh salut sama ABG2 disana, waktu gue ke MBK aja ada shrine buat raja nya yang segede gaban gitu di lobby depan, trus ABG2 yang lewat dengan baju modis, rok mini dan tanktop begitu ngelewatin shrine langsung nangkupin tangan dan ngedoain rajanya ... huhuh... kalo disini sih yang ada malah didoain biar mampus ...yah you know who lah mwekeke

ingki said...

@therry..mwahahaha..gue punya yang kuning juga yang pink..emang nyesel banget kalo gak sempet beli..tapi kalo pas dipake disini kadang suka nyesel juga, tiba2 jadi pusat perhatian..hehehe..wah, kalo gelangnye yang temanye "love melulu" itu gue nggak sempet liat tuh..kalo gue liat, pasti gue sikat..lumayan buat lucu2an..hehehe..

Therry said...

Iya gw jg mikir gitu, orang di 7-11 aja dijualin koq, harganya 100 baht ahahaha....

kapan2 maen kesono lagi deh pas si bhumibol ultah, lagian maren ini cuma ke bangkok doang, gak ke pattaya...
liatin emerald temple sampe terbengong2. Eh eh tapi yang pas disuruh nyelupin bunga ke aer apa gitu sambil ngucapin permohonan itu lumayan seru jg loh hahahaha...

ingki said...

@therry..coba gue dulu beli rada banyak ye tuh baju2..jadi bisa gue jual dmari..hehehe..kalo pattaya mah, kesan awal gwe lingkungannye gak tlalu bersih..yah, emang ntu tempat baru bener2 idup pas malem2..jadi kalo siang2 ya tidur aje kali ye..wah, kalo ritual yang terakhir gwe blom sempet nemuin tuh..

Therry said...

ke emerald temple, ada koq. itu yg templenya dari emas semua. gila kinclong bgt, pas gue ke sono lagi panas2nya, trus sinar mataharinya mantul2 gitu dari patung2nya. tapi emas asliii loohhh....

oh trus nanti ada acara duduk di dalem ruangan bekas rajanya suka duduk disitu trus kita harus dieeeeeeem ga bole ngomong, sepatu jg dilepas... pokoknya bener2 peaceful bgt deh.

waktu di jalan liat ga banyak org2 yang jualan kaki lima keq di indo tapi kadang2 suka ditinggal ama yg dijualnya? katanya sih org Thailand percaya bgt sama karma, jadi meskipun lapak ditinggal gitu gak ada yg brani nyolong, takut kena karma kecolongan balik huahahaha....mantap jg ya.

ingki said...

@therry..oh..gwe mah gak sempet keliling ksono..aduh..jadi pengen..kapan lagi ye balik ksono..kali ntar agendanye musti jalan2 melulu niy..

Therry said...

iya ajak family aja bro biar keren *apa coba* heheh biar asik kamsud gw :D

ingki said...

@therry..*nabung, nabung, nabung*..biar keren dan asik..hehehe

Therry said...

huhehehehe... update!!!

ingki said...

@therry..baru sempet niy..hehehe

Anonymous said...

http://connections.blackboard.com/people/7f7182205e Buy Accutane Online,
http://connections.blackboard.com/people/16ca99c49e Buy Aciphex Order

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.