Ceritanya saya lagi bersantai di depan televisi. Layar berwarna dengan penampang seluas 21 inci persegi itu menampilkan seorang artis ternama lagi beraksi.
Yah, bisalah ia kita sebut artis multi bakat. Bisa menyanyi. Mampu bikin lagu dan lirik yang membius. Pandai pula memainkan berbagai instrumen musik.
Akhir-akhir ini namanya terus mencuat. Bukan karena ada album barunya yang meledak. Tetapi lebih karena persoalan di seputar wilayah pribadinya.
Kembali ke layar televisi milik saya yang tengah memancarkan siaran langsung artis tadi. Saat itu, ia tengah menyanyi. Didampingi satu kelompok pemain band muda. Nama band itu dipilihnya berbeda dengan nama band induk yang membesarkan namanya.
Sebetulnya, ia kini sudah punya beberapa band di luar band induk yang membesarkan namanya tadi. Tentu semuanya berada dalam manajemen yang sama. Kira-kira, band induk yang membesarkan namanya itu tadi serupa logika holding company pada sebuah kelompok usaha dengan gurita bisnis dimana-mana.
Nah, sepintas suara yang keluar dari sistem tata stereo televisi milik saya yang buatan China itu terdengar sempurna. Sebuah televisi multi sistem dengan tabung sinar katoda yang sudah mulai buram di pojok atas kanannya. Tetapi lama-lama, kok suara yang ada malah terdengar terlalu sempurna.
Alias, bukan ukuran sempurna. Jika klaim yang disebutkan stasiun televisi penyiar si artis yang lagi nyanyi tadi adalah siaran langsung.
Jelas bagi saya, si artis multi bakat yang namanya lagi melambung gara-gara soal seputar ranah pribadinya tadi tengah mempraktikkan teknik lip sync.
Sebuah teknik bernyanyi yang merujuk artinya pada sinkronisasi gerak bibir dengan suara yang keluar dari rekaman berkualitas sempurna yang sebelumnya sudah disiapkan. Biasanya rekaman yang dipakai adalah standar rekaman dimana produk jadi berupa lagu dilempar ke pasaran dalam bentuk cakram padat atau pita kaset.
Lip sync kependekan dari sebuah istilah bernama lip synchronization. Sebuh upaya menyamakan gerakan bibir dengan rekaman suara yang diputar dan telah disiapkan sebelumnya.
Memalukan.
Sebetulnya saya jijik buat menonton lanjutan konser, jika bisa disebut begitu, dari si artis multi bakat yang termasuk jajaran penghibur papan atas berkat predikat yang disematkan padanya oleh sejumlah media. Tapi bagi saya ini memancing rasa penasaran.
Kenapa si artis multi bakat itu mau melakukannya.
Terlepas apakah konser itu, jika bisa disebut begitu, merupakan konser gratis atau tidak, tetap saja itu sebuah bentuk penipuan. Apakah memang standar siaran salah satu stasiun televisi yang menyiarkan konser itu, jika bisa disebut begitu, memang demikian adanya.
Mengharuskan kualitas suara yang yang keluar seperti detail rekamannya.
Walaupun untuk tujuan itu, rupa si artis multi bakat tadi megap-megap tak karuan seperti sedang keracunan obat.
Berupaya menyamakan gerakan bibirnya yang terus menerus disorot dari jarak dekat dengan rekaman suara yang keluar dari sistem tata suara canggih yang dipergunakan.
Jika memang standar yang dianut salah satu stasiun televisi yang menyiarkan konser, jika bisa disebut begitu, tersebut adalah kesempurnaan layaknya pita kaset atau cakram kompak, tetap ada keanehan. Mengapa juru sorot kamera terus menerus mengarahkan moncong kamera ke bagian muka si artis multi bakat tadi.
Membuat rupa si artis multi bakat tadi megap-megap tak karuan seperti sedang keracunan obat.
Pada titik ini saya tidak yakin, siapa yang memanfaatkan siapa. Siapa yang dimanfaatkan siapa.
Tapi jelas bagi saya, si artis multi bakat ini tak layak lagi jadi referensi. Lebih baik saya menikmati konser alami pemusik-pemusik jalanan yang menenteng-nenteng gitar bolong (baca: akustik), bas betot ukuran ekstra, serta seperangkat drum rakitan sendiri.
Kadang jika saya lagi beruntung, suka bertemu kelompok musik model begini yang melengkapi aksinya pakai harmonika dan permainan biola. Satu hal utama jadi pembeda mereka dan si artis multi bakat tadi.
Jujur.
12 April 2008
Tipu Bibir
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
4/12/2008 11:34:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

10 komentar:
Ngomongin siapa neh? Mulan Kwok ya? Eh sori, Mulan Jameela..
atau Maia Estianty yah??
huahaha ...
Maaf..atas nama etika penulisan, saya tidak dapat menyebutkan siapa si artis multi bakat yang saya maksudkan..mwahahahaha...
haiyah kirain ngomongin Dewi Perssik hehe...
ah ya, sebaiknya industri hiburan pun juga harus mempertimbangkan faktor edukasi, jadi meski ringan dan menghibur tapi masih sarat makna. nah ini kadang2 (atau sering?) malah mengeksploitasi keindahan tubuh, silakan aja tampil seksi tapi liat momen deh ya.
Karenanya kualitas suara, aransemen musik, kualitas lirik udah gak gitu diperhatikan lagi....yang penting diminati masyarakat :)
@yonna..makanya..kadang2 lebih sip nikmatin musik indie..ato pemaen2 band yang sering manggung di klub2..lebih maknyus..hehehe..mustinya bunyi peribahasa "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung" musti dikenalin lagi kali y..hehehe..
I Love Dewi Persik!
@therry..mau dong dengerin therry nyanyi..hehehe...
lip sync aja deh huahahaha
@therry..kayaknya bakalan susah banget kalo lip sync lagu-lagunya Dewi Persik..tapi bolehlah..hehehe..
goyangannya dong yang penting! wakakaka
@therry..ditunggu..segera..
Post a Comment