Terakhir kali saya berkunjung ke Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada pengujung pekan lalu. Gedung olahraga itu buatan tahun 1962 yang dulu sempat pula dinamai Istora Senayan.
Istora kependekan dari Istana Olahraga. Istora berada di kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, Jakarta, yang kira-kira hanya berjarak sepuluh kilometer dari rumah Emak dan Bapak saya.
Satu pekan sebelum kunjungan saya yang paling akhir pada pengujung pekan lalu, saya datang ke Istora untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lamanya. Ingatan saya sendiri sudah samar-samar, kapankah terakhir kali saya berkunjung ke Istora sebelum kunjungan saya di dua pekan lalu itu.
Juga, untuk tujuan apakah saya kesitu, bertahun-tahun lalu itu. Dua pekan lalu, tujuan saya kesitu karena penasaran mau tahu.
Seperti apa kondisi terakhir gedung olahraga berkapasitas paling mentok 8.500 orang, sekalipun ada juga yang bersikukuh Istora bisa menampung hingga 10 ribu manusia, yang bakal dipakai buat menggelar perebutan Piala Thomas dan Piala Uber 2008 itu.
Perebutan dua piala yang jadi lambing supremasi kekuatan bulu tangkis bagi negara perebutnya. Dua piala, yang akan dipisahkan tempat laga perebutannya, mulai tahun 2010 mendatang itu.
Kalau sempat merasakan atmosfer Jakarta pada pertengahan tahun 1980an, sontak atmosfer itu juga yang saya rasakan tatkala pertama kali menjejak lagi lantai Istora, dua pekan silam. Atmosfer Jakarta yang kala itu didominasi taksi warna kuning dengan armada Toyota Corolla generasi ketiga, bus-bus beratap setengah lingkaran dan bertingkat bermerek Leyland buatan Inggris milik perusahaan Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD), hingga gelontoran lagu-lagu almarhum Gombloh yang berkarakter itu.
Saya baui aroma khas masa lalu itu saat pertama kali masuk pintunya. Melongok-longok ruangannya. Mendengarkan dinding-dinding kusamnya berbicara.
Merasakan kedigdayaan bangunan itu sebagai salah satu “mercu suar” Orde Lama saat menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1964.
Darah saya menggelegak. Sebagian karena bangga, sebagian lagi karena merasa kecewa.
Bangga karena di masa yang sudah berpuluh-puluh tahun lewat itu, Indonesia, sempat ditakuti dan disegani dunia gara-gara insiatif dan prestasi. Salah satunya berani dan digdaya saat Soekarno memutuskan buat jadi tuan rumah Ganefo, pada 1963 lalu.
Ganefo adalah kependekan dari Games of New Emerging Forces yang diikuti ribuan atlet dari 48 negara yang lagi berkembang di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Ganefo yang berasal dari negara-negara Nefo atau New Emerging Forces ditujukan sebagai simbol lawan frontal bagi Old Developed Forces (Oldefo) yang diwakili oleh negara-negara industri kapitalis.
Kecewa, karena ingat pembangunan proyek mercu suar yang didanai oleh pinjaman dari pemerintah Uni Soviet kala Indonesia masih mesra dengan blok komunis itu dilakukan saat himpitan hidup bagi rakyat kebanyakan benar-benar dirasakan sebagai penderitaan. Masa dimana Emak dan Bapak saya sedang berjuang habis-habisan buat mempertahankan eksistensi mereka.
Kini, dua pekan lalu, rasa bangga itu tak sempat bersemayam lama. Tak menunggu satu jam setelahnya, kebanggaan itu terkikis habis.
Kecewa, makin berlipat ganda.
Bangunan gagah yang dibangun buat menunjukkan supremasi olahraga Indonesia ke mata dunia, supaya martabat bangsa ini terangkat, itu makin lekang oleh waktu yang menggerusnya. Tembok-tembok kusam enggan menatap balik sorotan tajam sepasang bola mata saya.
Saya naik ke bagian paling atas Istora, tempat dimana lampu-lampu sorot yang besinya dipasang paten dengan kerangka atap ke tengah lapangan dicantelkan.
Besi-besi kokoh memang masih menggantung dan menggenggam erat satu sama lain. Tapi landasan untuk menjejak sungguh bikin hati kebat kebit. Beberapa sambungan antarbagian sudah renggang. Menimbulkan bunyi gemeretak yang seketika menciutkan hati kalau diinjak.
Jalinan kabel berdebu yang terancam efek getas menjuntai disana-sini. Menciptakan habitat paling bagus buat binatang pengerat. Debu tebal menggumpal dan saling bergumulan tatkala sepasang kaki datang menerjang.
Turun ke bawah.
Sebagian besar bangku buat penonton yang masih terbuat dari lonjoran kayu panjang bercat kuning, sepintas mengingatkan saya pada tulang bale-bale bambu di depan rumah khas orang Betawi.
Seorang pekerja dengan santai mengayunkan sapu ijuknya yang nyaris sudah terkikis habis di antara susunan meninggi bangku-bangku kayu yang terbuat dari lonjoran kayu-kayu panjang itu. Ia berikan saya jalan melintas, yang tak segera saya indahkan.
Matanya menatap heran. Ucap saya, silahkan saja teruskan pekerjaan Bapak. Ia menyapu lagi dengan sigap. Tak kalah sigap, saya pencet berkali-kali shutter kamera yang moncong lensanya mengarah lurus ke sosok pekerja yang menyapu itu, dan efek alami etos seorang pekerja pun tercipta.
Di ujung lain pada dua minggu yang silam saat ujung-ujung persiapan itu, sejumlah panitia takzim mendengarkan taklimat dari salah seorang pemimpin mereka. Berkumpul dalam lingkaran besar sambil berdiri di atas lantai kayu yang bakal segera dipasangi empat karpet hijau sebagai tempat buat pebulu tangkis dari 16 negara berlaga.
Sejumlah pekerja lain bersiap menaikkan beberapa rangkaian lampu sorot yang disewa dari salah satu rumah produksi untuk dinaikkan sebegai penerang lapangan laga. Lampu-lampu sorot yang digunakan sepanjang kejuaraan itu digelar, karena pada akhirnya memang tak ada lampu-lampu sorot asli bawaan Istora yang dipakai.
Lampu-lampu sorot baru, yang tak jelas spesifikasinya dengan salah satu penutup bola lampunya yang terbuat dari bahan mika harus pecah beberapa hari sesudahnya. Pecah, persis tatkala salah satu partai antara Tim Uber China menghadapi Jerman dan Tim Uber Denmark melawan Malaysia.
Serakan bahan mika yang kemudian jatuh di antara lapangan nomor tiga dan empat itu membuat Jerman memilih buat menghentikan saja laga. Sebuah peristiwa langka yang kemudian melahirkan analisa prematur dari penyelenggara.
Kata analisa buru-buru itu, lampu itu pecah gara-gara ketika itu terjadi, ada sejumlah orang berada di jalur besi-besi kokoh yang memang masih menggantung dan menggenggam erat satu sama lain. Jalur landasan yang untuk menjejak sungguh bikin hati kebat kebit dengan sambungan antarbagian sudah renggang, yang bisa menimbulkan bunyi gemeretak dengan seketika menciutkan hati kalau diinjak.
Jalur yang beberapa hari sebelumnya saya pijak dan jalani.
Jadi, polisi pun dipanggil sebagai petugas resmi untuk bertanya soal kronologi pada sejumlah orang yang dicurigai dan dituduh sebagai pencemar nama Indonesia sebagai penyelenggara, gara-gara disangka sebagai penyebab pecahnya mika pembungkus bola lampu sorot tadi.
Polisi yang bikin saya ngeri. Karena tiba-tiba saja saya merasa tengah berada di tengah-tengah medan pertempuran bersenjata dan bukan pertandingan olahraga.
Hanya dugaan dan prasangka. Tak pernah ada analisa dan data teknis yang mendahului.
Soal spesifikasi. Soal hitung-hitungan matematis logis yang mestinya jadi patokan.
Ketimbang hanya dugaan fisis belaka. Bahwa getaran, tak peduli seberapa besar amplitudonya, bakal jadi penyebab paling bertanggung jawab terhadap pecahnya mika pembungkus bola lampu yang disewa dari salah satu rumah produksi tadi.
Di luar, orang-orang mengantre tiket masuk tanpa kepastian. Anak-anak kecil dan bayi ditidurkan begitu saja di atas lembaran-lembaran koran dan kain yang jadi alas seadanya.
Ada yang mengantre sejak subuh. Tanpa kepastian pengetahuan kapan loket kusam yang sempit itu akan dibuka. Selepas waktu dzuhur, loket kumuh itu akhirnya dibuka.
Orang-orang mendesak. Sejumlah ibu-ibu yang datang sejak matahari terbit sepenggalah memilih mundur. Saya bisa jadi kurus kalo harus ikut-ikutan mengantre begitu, kata seorang ibu-ibu paruh baya berbadan subur kepada saya.
Tak sampai setengah jam, loket ditutup. Orang-orang berteriak kecewa.
Di dalam, penyejuk udara menggelontor angin dingin. Sedingin Istora yang membekukan prestasi bulu tangkis Indonesia.
Seolah, tak ada lagi yang ingat kalau dulu Emak dan Bapak saya dan generasi seusia mereka lainnya harus rela bertaruh rasa sejahtera dan kesempatan berbahagia supaya bangunan megah pencipta rasa bangga itu bisa berdiri.
Saya marah.
26 May 2008
Istora Jakarta
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
5/26/2008 06:56:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

4 komentar:
gue ke Istora kalo ada pameran Buku (Islamic Book Fair atau Jakarta Book Fair) doang.
Udah kalah pesona ma mall-mall di Jakarta ya?! :)
@yonna..hehehe...yah, gue tambah sedih kalo ngliat kenyataaan sekarang, betapa Senayan Sports Complex udeh dikepung ama pemodal-pemodal raksasa yang mengintai dan siap mencaplok begitu komunitas olahraga lengah dan ada kesempatan tercipta...
@ingki
iya ki, kok kayanya orang jakarta khususnya dipengaruhin untuk konsumtif, result-oriented, hura2 yah?!
gue kasian liat tim thomas-uber kita kemaren, secara fisik dan mental kayanya masih kalah dari tim cina dan korea. gila deh tuh mereka hebat banget, gue salut ma korea meski baru kali ini lolos ke final tapi kegigihannya sempet membuat cina pontang-panting, yang gokil pas deuce tuh siapa deh lupa, dahsyat! meski korea kalah, tapi kalah terhormat.
gue gak nyalahin tim thomas-uber sama sekali, gimana mereka mau maksimal kalo hidup mereka gak terjamin, biaya buat latihan, dll dikorupsi?
kalo soal suporternya, salut banget buat suporter Indonesia, heboh :D
@yonna..yah..itulah kalo suatu urusan diurusin sama yang bukan ahlinya...jadi kacau balau bin berondong petong kan...
Post a Comment