28 May 2008

PON Bloon

Nyaris tiga tahun lalu saya singgah di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Kira-kira dua jam setelahnya, waktu saya habiskan buat menempuh perjalanan darat menuju Samarinda yang jaraknya sekitar 120 kilometer dari Balikpapan.

Jalan aspalnya waktu itu mulus. Bentangan alamnya berkelok-kelok dan naik turun dengan sudut elevasi yang menantang.

Nyaris tak ada kendaraan lain yang berpapasan dengan saya selama periode beberapa menit dalam perjalanan itu. Baru pada menit-menit berikutnya, satu dua kendaraan mulai terlihat.

Untuk kemudian hilang lagi pada menit-menit selanjutnya.

Untunglah waktu itu matahari persis berada di ubun-ubun. Mungkin nyali bakalan sedikit ciut jika perjalanan panjang itu ditemani bulan dan bintang, atau lebih buruk lagi, langit gelap di malam kelam.

Sampai di Samarinda, saya bergegas ke kompleks olahraga di Sempaja, Samarinda Utara, yang di antaranya terdapat Stadion Madya Sempaja. Nama Sempaja sejatinya adalah sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Samarinda Utara.

Stadion Madya Sempaja di Samarinda itu bakal jadi salah satu lokasi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional atau PON XVII yang direncanakan mulai 6 Juli mendatang. Bersama Samarinda dan Balikpapan terdapat pula sejumlah daerah lain yang masuk wilayah administratif Kalimantan Timur seperti Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau yang akan jadi lokasi berlaga atlet-atlet dari seluruh Nusantara selama sepekan lamanya.

Pada kompleks olahraga Sempaja itu berdiri pula Hotel Atlet bertingkat delapan yang setara fasilitas hotel bintang tiga berkapasitas setidaknya 600 orang. Pada kawasan bekas rawa dengan luas total sekitar 50 hektar itu, berdiri juga sejumlah bangunan lain, seperti pusat pendidikan dan latihan bagi atlet, gedung olahraga (GOR) serba guna, dua buah GOR latihan, dua gedung asrama atlet, dan fasilitas lintasan olahraga luar ruang.

Nyaris dua tahun lalu, semuanya masih dalam tahap pembangunan yang total jenderal sudah menyedot duit Rp 300 miliar. Tapi, masih dianggarkan lagi Rp 600 miliar buat membangun Stadion Utama Palaran, yang tepat berada di wilayah kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Samarinda.

Hari ini saya baca di media, sejumlah sarana olahraga itu baru siap pada pertengahan bulan depan, termasuk Stadion Utama Palaran yang belum kelar digarap. Pasokan listrik juga jadi ancaman paling serius saat PON digelar nanti, yang hingga tulisan ini dibuat belum bisa diselesaikan.

Soal pembangunan dan pembenahan infrastruktur pun setali tiga uang. Jalan berlubang yang rawan ambles di berbagai titik serta terbatasnya kemampuan Jembatan Mahakam sebagai satu-satunya penghubung antarwilayah bakal jadi kengerian tersendiri.

Barusan, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang pelatih olahraga yang sudah malang melintang mengurusi atlet. Tahu persis rupa-rupa borok dan luka yang menganga pada sistem pembinaan olahraga di Indonesia.

Kami punya kesimpulan bulat. Penyelenggaraan PON adalah sesuatu yang sangat bloon.

Mengapa? Tentu saja, cobalah lihat fungsi dan keluarannya.

Tak pernah ada tim nasional berkualitas mumpuni yang mampu berprestasi, katakanlah saja, di tingkat Asia Tenggara yang dihasilkan dari hajatan besar bernama PON. Juga, tak semua atlet tingkat nasional bisa ikut PON dan membela daerahnya dengan rupa-rupa alasan.

Argumen usang bahwa PON adalah instrumen pemersatu bangsa merupakan ungkapan lama yang tak lagi sesuai. Pada banyak sekali kasus, PON justru memicu konflik pembinaan olahraga antardaerah.

Bahkan, PON secara langsung telah menihilkan esensi olahraga itu sendiri. Bagaimana mau bicara soal sportivitas jika kasus perpindahan atlet antardaerah yang menghalalkan segala cara marak setiap menjelang PON digelar.

Membuat subur bisnis pemalsuan Kartu Tanda Penduduk dan bentuk dokumen penguat identitas lainnya yang di negeri ini seperti semudah membuat kartu nama biasa. Bagaimana mau bicara pembinaan prestasi olahraga jika dari tahun ke tahun yang terus jadi andalan adalah atlet-atlet tua.

Tiba-tiba sebuah perintah masuk di malam buta dari seorang petinggi daerah kepada seorang pembina olahraga. “Dapatkan satu emas itu pada pertandingan final yang terakhir besok, BAGAIMANAPUN CARANYA!”

Tentu perintah itu diterjemahkan juga dengan berbagai cara di lapangan laga.

Soalnya kredibilitas dan peluang si pemimpin daerah tadi dalam proses suksesi politik rutin tiap lima tahun sekali, jadi pertaruhan jika daerah yang dipimpinnya gagal di PON. Jadi, segala anasir politis pun mau tak mau ikut berjubelan dalam arena olahraga.

Sekonyong-konyong ada bisikan, skandal jual beli medali pun terjadi. Siapa sepakat dengan harga, bisa langsung dibungkus.

Peduli amat dengan bonus kemenangan yang ditawarkan, jika tawaran buat mengalah dalam suatu laga justru lebih menjanjikan. Rupiah.

Sportivitas? Itu hanya omong kosong di siang bolong.

Bagi pemenang PON, hanya terberkas eforia yang lantas cepat hilang sempurna laksana jejak di atas pasir yang tersapu ombak. Kekalahan pun tak lantas diterima dengan lapang sebagai bagian dari pertandingan.

Ujung-ujungnya konflik. Berebut dan saling klaim sebagai daerah asal pemilik atlet.

Diperebutkan, karena tanpa atlet andalan tersebut tak mungkin daerah bersangkutan bisa dapat emas dan mengalahkan daerah lain. Tanpa emas, tak ada bonus kemenangan yang siap dikucurkan dari duit rakyat bisa mengalir mulus ke kantong-kantong pengurus atau siapapun yang punya kepentingan atas itu.

Atlet dan kemenangan. Logika sapi perah lagi.


Nyaris tiga tahun lalu, saya sempatkan pula mampir ke Tenggarong yang jadi ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang kaya raya itu. Tenggarong yang kira-kira berjarak 30 kilometer dari Samarinda.

Katanya di lokasi itu ada tempat wisata bernama Pulau Kumala.

Pikir saya, bolehlah sekedar melarikan diri dari kegilaan di atas. Saya coba wahana kereta gantungnya.

Tapi apa yang saya saksikan dari atas gantungan kereta itu malah bikin saya makin gila.

Berjejerlah barisan rumah-rumah kumuh yang tak layak dengan penghuni yang jadi kelas sosial terpinggirkan dalam masyarakat di daerah yang sungguh kaya raya itu. Saya tak berani menatap gugusan bangunan rakyat yang berdiri seadanya itu.

Sungguh saya tak kuasa jika ada sepasang mata saja di antara bangunan-banguan di bawah itu yang menatap iri pada saya. Saya yang sedang berada dalam kereta, yang dengan sombongnya berjalan menggantung di atas mereka.

Saya belum tahu data soal berapa ratus miliar lagi harus keluar buat mendanai proyek-proyek fasilitas dan arena olahraga lainnya di Kalimantan Timur yang berkaitan dengan PON XVII. Selain, tentu saja ada rupa-rupa proyek infrastruktur seperti pembangunan dan pembenahan jalan serta jembatan dengan alasan buat melancarkan akses transportasi.

Namun, saya tak pernah habis pikir, apa fungsi gebyar gila-gilaan itu semua pada akhirnya. Setelah PON berlalu, siapa mau memanfaatkan beraneka macam fasilitas olahraga prestisius itu.

Mau disewakan murah tak mungkin, sementara disewakan dengan harga mahal juga musykil. Hendak dijadikan pusat pembinaan olahraga berbagai cabang olahraga pun mustahil.


Persoalan utamanya, memang tak ada orang yang ada untuk menyewa berbagai fasilitas olahraga itu nantinya. Juga, tak ada sumber daya manusia yang bisa dibina prestasinya buat kepentingan berbagai cabang olahraga di berbagai fasilitas olahraga mahal itu dalam waktu dekat.

Sementara, biaya perawatan tetap harus diadakan.

Paling gila, tentu saja pengerjaan asal-asalan yang terlihat betul sekedar menghamba saja pada sisa dana kucuran proyeknya.

Nyaris tiga tahun lalu, saya lihat ada sebuah gedung olahraga yang salah desain. Tak punya tribun, dan langit-langitnya pun terlalu pendek buat menggelar laga olahraga. Semua olahraga yang pakai bola, pasti mentok bolanya segera setelah servis dilancarkan dalam gedung olahraga itu.

Kata pejabat penanggungjawabnya waktu itu, gampang, salah ya tinggal kita bongkar lagi saja.

Gila.

Lalu pada Hotel Atlet yang dimaksud, desainnya lebih mirip bekas Penjara Alcatraz di Pulau Alcatraz, San Fransisco, California, Amerika Serikat. Bagaimana tidak, jika tersisa ruang sangat lapang di tengah-tengahnya yang menjadikan hotel itu lebih mirip penjara ketimbang tempat buat beristirahat.

Dua pekan lalu, tiga biji bangunan bakal asrama atlet yang akan berlaga pada PON XVII/2008 di kompleks olahraga Tenggarong, Kalimantan Timur menemui ajal dini.

Ambruk.






3 komentar:

Yonna said...

hah ambruk? kok nasibnya mirip ma bangunan SD yang ambruk-ambruk itu? :D

ingki said...

@yonna..mental yang ngebangun sama siy..kentit sana kurang sini...ambruk deh..untung belom ditempatin..

ingki said...
This post has been removed by a blog administrator.

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.