Jerman.
Membaca atau mendengar nama ini langsung banyak citra melintas dalam bayangan kita.
Penguasaan teknologi tinggi. Penemu format MP3. Diktator Hitler dengan Geheime Staatspolizei atau Gestapo yang jadi dinas polisi rahasia rezim Nazi. Hingga julukan Tim Panser bagi kesebelasan sepak bola Jerman dengan Franz “Der Kaiser” Beckenbauer yang jadi libero melegenda.
Tapi di cabang olahraga bulu tangkis? Jerman, rasanya sebuah pengecualian.
Tapi yah, perasaan, asumsi, rona, atau apalah mengenai persepsi kita yang dibangun atas dasar prasangka belaka itu rupanya tahun ini harus berujung kecewa. Tim Uber Jerman berhasil menembus babak semifinal pada laga tahun ini.
Memang, ini memang bukan kali pertama. Setidaknya pada dua tahun sebelumnya, saat perebutan piala itu digelar di Jepang, Tim Uber Jerman juga berhasil melaju ke semifinal.
Tapi, pencapaian tahun ini tetap dirasa luar biasa bagi peserta lain. Juga para penonton, yang merasa bahwa bulu tangkis adalah olahraganya “orang Asia,” sekalipun sejak bertahun-tahun lampau Denmark yang juga kampiun bulu tangkis sudah jadi pengecualian.
Namun, apa yang jadi kejutan buat orang lain ini sama sekali bukan kejutan bagi Tim Uber Jerman.
Pagi-pagi sekali sebelum perebutan piala itu digelar, pelatih kepala Tim Jerman, Detlef Poste, sudah berbisik yakin pada saya. Katanya, Jerman kini telah naik kasta dalam jajaran negara-negara yang membina atlet bulu tangkis di dunia.
Kata Detlef, dari “negara kelas tiga,” setidaknya Jerman kini telah menjadi “negara kelas dua” dalam dunia bulu tangkis.
Detlef menambahkan, semua itu dicapai dengan yakin karena Jerman tak percaya pada metode tradisional dalam pengembangan dan pembinaan prestasi atlet-atlet mereka. Semuanya dilakukan dengan berpegang pada metode terbaru yang dikembangan secara ilmiah lewat berbagai disiplin ilmu pengetahuan
Memang ada faktor Xu Huaiwen, pemain asal China yang pindah ke Jerman sejak satu dekade terakhir. Huaiwen adalah lokomotif Tim Uber Jerman. Huaiwen pula yang seperti sedang "mengasuh" Birgit Overzier, saat mereka main secara berpasangan mengalahkan ganda pertama Denmark, Mie Schjott Kristensen/Christina Pedersen di babak perempat final.
Padahal, sekitar satu jam sebelumnya, Huaiwen pula yang mengandaskan juara terbaru All England, Tine Rasmussen, yang adalah pemain tunggal putri nomor wahid di Denmark.
Tapi, Tim Uber Jerman bukan hanya Huaiwen. Martin Kranitz, yang jadi manajer tim itu berupaya meyakinkan saya, sekalipun sejak Huaiwen datang banyak perubahan drastis terjadi, tetapi sebagai tim mereka maju secara bersama-sama.
Mereka sangat percaya, inovasi adalah kunci. Tanpa inovasi, mustahil ada perubahan. Bersama inovasi, tantangan paling sulit sekalipun bukan barang musykil dihadapi.
Jadi, sekalipun akhirnya Jerman kalah atas Tim Uber Indonesia di babak semifinal, rasa-rasanya dua tahun lagi keadaan bisa jadi tak sama lagi. Apalagi, kalau Tim Uber Indonesia masih terus berada dalam kungkungan metode lama yang miskin inovasi.
Lalu, apakah hanya inovasi yang melulu membuat Jerman bisa berbangga diri di tahun ini, dan mempertahankan kebanggaan itu sejak dua tahun sebelumnya? Rupanya tidak.
Pada kesempatan yang lain Detlef Poste berkata jelas kepada saya, ada persoalan indisipliner pemain yang sempat menghantui timnya. Tapi, itu cerita usang sebelum Tim Jerman berangkat ke medan laga.
Karena akhirnya, pemain yang dianggap tidak disiplin itu akhirnya dicoret dari tim. Tak peduli betapapun bagus dan sempurna teknik yang dimiliki. Tidak ada urusan soal peringkat dunia yang dipunyai.
Dari sini, satu pelajaran penting bisa dipetik. Bahwa prestasi memang sebaiknya tidak mengenal toleransi.
Nihilkan pertimbangan suka dan tidak suka. Adakan dan pegang teguh satu standar soal aturan main.
Berikan penalti pada yang salah dan kasih hadiah bagi yang berprestasi. Segalanya berlaku bagi semua tanpa kecuali. Niscaya, prestasi puncak yang konsisten bukan barang sulit diraih.
Tanpa toleransi.
Sepintas ini terdengar mengerikan dan seperti membawa bayangan pikiran kembali mendesak saat Gestapo berkeliaran di era diktator Hitler.
Tapi kebijakan tanpa toleransi bagi prestasi pada akhirnya membawa keberhasilan. Menihilkan rasa iri dan membangkitkan motivasi.
Pada kasus Tim Uber Jerman, ini berhasil.
29 May 2008
Toleransi Prestasi
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
5/29/2008 11:04:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

2 komentar:
Nah patut dicontoh ma Indonesia. Bahkan Jerman tidak punya toleransi dalam hal pencapaian prestasi. Prestasi bukan milik mutlak kalangan tertentu, prestasi milik semua orang dan yang bisa memperolehnya adalah mereka yang mau bekerja keras dan berjuang.
Bagus :)
@yonna..betulll...jangan sampe prestasi malah bikin banyak orang seperti anak tiri..
Post a Comment