29 June 2008

Diri Berbagi


Sebuah rumah sederhana yang mengelupas cat pagarnya, sore itu dipenuhi anak-anak kecil. Mereka berceloteh riang di bagian halaman yang tersisa lumayan luas.

Rumah kontrakan sederhana itu berada di salah satu kompleks perumahan di Kabupaten Gresik, sekitar 30 kilometer sebelah utara Kota Surabaya.

Sorot mata berpasang-pasang mata mungil itu demikian gembira. Kadang mulut mereka mengeluarkan nada-nada merdu. Seringkali tingkah malu-malu yang sungguh lucu terlihat.

Anak-anak kecil itu terdiri dari bocah-bocah laki-laki dan perempuan. Mereka punya macam-macam latar belakang.

Ada yang sudah harus kehilangan orang tuanya di usia semuda itu. Menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu sekaligus.

Banyak pula berasal dari kalangan kurang mampu, yang menurut indikator kemiskinan versi pemerintah, masuk ke dalam golongan pra sejahtera. Orang tua mereka, adalah orang-orang yang selama ini menggeliat dengan liatnya dalam berbagai usaha di sektor informal.

Rumah yang hari itu disesaki celotehan riang anak-anak kecil tersebut disewa dengan tarif Rp 4 juta per tahun. Penyewanya adalah sekelompok pemuda dan pemudi yang kebetulan sebagian besar berstatus mahasiswa, Mereka saling patungan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Salah seorang inspirator gerakan itu, Srindoyo, bercerita kepada saya soal awal mula gerakan yang dimulai dari perbincangan ringan di kantin perusahaan tempatnya bekerja. Sebagai salah seorang tenaga lepas di salah satu perusahaan, pemuda bergelar sarjana bahasa Inggris itu mengaku relatif punya banyak waktu luang.

Waktu luang yang dimilikinya itu berjodoh dengan keresahan yang dimilikinya. Keresahan yang sekarang menjadi nyata di Indonesia.

Kenyataan dari ungkapan, kalau tak ada orang miskin boleh sakit. Tak boleh ada orang miskin jadi pintar.

Soalnya jelas. Biaya kesehatan dan memperbaiki kesehatan demikian mahal. Harga untuk mendapatkan pendidikan makin membubung tinggi.

Kata Srindoyo, anak-anak kecil periang yang relatif tak punya akses untuk mengecap pendidikan itu punya peluang sangat besar untuk jadi orang-orang miskin selanjutnya. Bahkan, bisa jadi jauh lebih miskin dari orang-orang tua mereka.

Kemiskinan struktural.

Masalah sistemik saat orang miskin jadi makin miskin dan orang-orang berkecukupan jadi makin kaya. Serupa harta benda yang diwariskan.

Itu akan terjadi bila selamanya akses pendidikan tak menjangkau anak-anak yang kurang beruntung tadi. Soalnya, peluang paling besar untuk memperbaiki taraf kehidupan adalah lewat jalur pendidikan.

Karenanya Srindoyo memutuskan buat bergerak. Ia gerakkan pula potensi-potensi muda di bekas kampusnya dulu.

Ia tak acuhkan segala cemoohan. Ia hindari afiliasi dengan gerakan politik yang mati-matian berupaya menunggangi gerakannya.

Ia masih percaya gerakan kecil yang diupayakan dengan swadaya itu akan berbuah nyata. Sekalipun ia mengamini, tak menutup pintu buat bantuan yang mengalir tulus tanpa ada makna udang di balik batu.

Buatnya, kegiatan sosial-horisontal seperti itu juga sama berartinya dengan aspek transendental-vertikal, yang sering terlihat dalam ritual orang beragama. Sayangnya, kata Srindoyo, banyak orang masih percaya sekedar menjalankan aspek ritual beragama sudah cukup dianggap sebagai ibadah.

Pantas menyandang gelar sebagai orang saleh. Layak mendapatkan predikat jadi tokoh masyarakat.

Padahal, aneka persoalan sosial tidak lantas hilang atau terkurangi hanya melulu dengan melakukan ibadah ritual dan berdoa semata. Harus ada usaha.

Usaha dan doa. Itu baru imbang.

Karena juga, jika melulu usaha tanpa doa, itu sangat sombong namanya.

Srindoyo berkeputusan harus ada gerakan nyata yang dilakukan untuk menyelamatkan generasi-generasi mungil itu. Karenanya ia minta pula keikhlasan dari rekan-rekan mudanya untuk mengajar.

“Saya minta paling tidak dalam satu minggu ada satu hari yang diluangkan, dan dari satu hari itu juga paling hanya 1,5 jam. Saya percaya, jika ikhlas hasilnya juga akan kelihatan,” ucap Srindoyo.

Ia percaya, itulah hakikat manusia hidup. Saling berbagi.

Maka, bocah-bocah mungil yang cerdas itu pun kini mulai fasih benyanyi dalam lantunan berlafal Inggris. Dua unit komputer pun tersedia untuk sekedar memberikan pengenalan, apa itu sebenarnya komputer.

“Sayangnya satu unit komputer sedang rusak. Yah, paling penting mereka tahu dulu apa itu komputer, kasihan sekali mereka tidak tahu apa-apa. Sementara banyak anak lain sudah main laptop,” kata Srindoyo.

Dalam pemahamannya, tidak perlu menunggu otoritas berwenang, yang sebenarnya punya kewajiban menyejahterakan rakyatnya, untuk melakukan sesuatu. Jika melihat kerusakan, atau ancaman kerusakan dan merasa ada hal yang bisa diperbuat, maka lakukanlah.

Bukan soal sedikit-banyak atau besar-kecil manfaat dan bantuan yang bisa diberikan. Intinya adalah soal keikhlasan.

Percayalah, memberi dengan rasa ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Lebih besar dari perasaan saat anda menang undian atau sayembara paling besar sekalipun.

Semua itu masih ditambah bonus. Apa saja yang anda berikan dengan ikhlas, niscaya bakal kembali.

Bahkan, dalam jumlah yang berlipat dari yang pernah anda berikan dengan ikhlas tadi.

Akhir pekan lalu, anak lelaki pertama saya genap berusia dua tahun. Saya dan istri saya berkeputusan untuk mengajaknya mengunjungi rumah sederhana yang mengelupas cat pagarnya itu.

Rumah yang dipenuhi keriangan dan tingkah lucu bocah-bocah mungil tadi.

Saya mengajaknya ke rumah itu untuk merayakan hari ulang tahunnya. Paling penting untuk mengingatkannya, kalau jatah hidupnya di dunia semakin berkurang.

Juga mengingatkannya kalau dalam banyak hal, ia masih lebih beruntung dibandingkan rekan-rekan kecilnya yang makin pandai berbahasa Inggris tadi.

Tentu, paling penting adalah mengajarkannya untuk sebisa mungkin membagi keberuntungan yang dimilikinya itu dengan orang lain. Ia pun dengan cepat belajar mensyukuri dan dengan cepat menerima uluran salam persahabatan yang datang kepadanya.

Kapan pun.


4 komentar:

therry said...

Ironisnya, justru ini kan sebenarnya tugasnya pemerintah - memperbaiki kehidupan bangsa terutama yang miskin.

Tapi kenyataannya malah rakyat2-nya yang lebih punya inisiatif pengen ngebantu sesama.

What is wrong with the world? Apa para pejabat dan anggota dewan yang terhormat itu pada nggak punya hati semua yah?

ingki said...

@therry..yup..di abad ini kita banyak menyaksikan semakin matinya nurani..justru makin banyak orang nafsu buat mengejar simbol-simbol kemakmuran dengan segala macam cara..

sebenernya nggak ada yang salah dengan dunia..mungkin, cara kita ngerespon dunia yang seringkali salah..

parahnya lagi, banyak orang seenaknya menentukan nilai salah-benar secara absolut..seolah nggak sadar kalo ada orang laen yang bisa jadi, punya standarnya sendiri soal benar-salah tadi..

kalo udah begini, semua hal jadi terkesan relatif..jika nggak ati-ati, bisa terjebak pada paham nihilisme..

bahwa segala sesuatu itu tiada yang bermakna..paham ketidakbermaknaan ini yang juga memengaruhi sebagian sesat pikir pemimpin..

jika emang segala sesuatu itu pada akhirnya nggak bermakna, ngapain juga susah-susah mendesakkan hal-hal ideal? tebang abis aja ntu hutan, alihfungsikan aja semua lahan yang tugasnya nyerap aer ujan, jual semua ntu satwa2 langka..

mikirin pendidikan?kesehatan?ngapain?..toh semua orang bakal mati..jadi akhirnya juga nggak akan bermakna kan?

tapi, benarkah semestinya begitu? tunggu dulu..

mungkin aja, segala sesuatu emang relatif nilainya..benar juga, kalo sesuatu itu bisa dibilang nggak bermakna pada akhirnya..

tapi, ada realitas hukum kodrat yang nggak bisa dilawan..mungkin, pada suatu ketika dengan pongah manusia bisa berdiri tegak dan berkata.."aku bebas, semua hukum aku taklukkan..aku adalah tuan dari keinginanku sendiri,"..

benarkah demikian? ternyata tidak..

karena pada saat bersamaan ia proklamirkan kebebasan itu, ketika itulah ada macam-macam tuntutan lain yang justru membelenggunya..

masih inget si eddy tansil?koruptor legendaris yang kisahnya menyerupai hikayat seribu satu malem itu..

setelah lari dan bebas dari jerat
hukum, nggak jelas gimana kelanjutan nasibnya..ada yang bilang pengemplang triliunan duit negara itu udah mati...

ada juga yang bilang doi udah operasi plastik buat ganti model mukanye..trus mungkin juga, udah memulai lagi kegiatan bisnisnye..

banyak info yang bilang eddy sekarang menetap di luar negeri..

tapi, apakah idup model begitu yang disebut bahagia..cemas melulu..takut kalo2 mukanye dikenalin..takut ditangkep..

mungkin, seorang narapidana yang sekarang lagi dipenjara, jauh ngerasa lebih bebas ketimbang si eddy saat ini..

Therry said...

Gila. Dalem banget.

Sumur aja kalah. Jadi mikir gini gue. Hmmm. Iya yah, kalo segala hal itu ga ada maknanya (bagi kita) ngapain juga cape2? Tapi dicuekin juga akibatnya fatal.

Ini yang kadang gue nggak ngerti ya bro - sebenernya manusia itu dilahirkan dengan hati nurani sebagai pengasih apa nggak seh, soalnya yang gue liat di dunia ini ada aja orang yang bisa seneng2 diatas penderitaan orang lain tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Bener2 "numb" (keq lagunya Linkin Park).

Kadang gue mikir, enak kali ya hidup jadi orang kaya gitu, sebodo amat ama keadaan sekitar yang penting gue hepi.

Tapi apa iya enak? Kita tau dari mana kalo mereka seneng? I mean, 100% happy? Really?

Only God knows, I guess..

ingki said...

@therry..hahaha..awas kecemplung sumur lo..

tentu aja, nurani dari hati setiap manusia akan membimbing ke jalan mulia..jalan untuk saling mengasihi dan menghormati..

tapi, dalam perjalanannya manusia ketemu banyak hal..pastinya bakalan diuji..ada ketakutan yang pasti dirasakan setiap manusia..

ya takut soal kelaparan, takut soal kehilangan harta, takut soal kehilangan pangkat dan jabatan, takut soal kematian, etc..

nah, ketakutan-ketakutan ini kadangkala membuat manusia melupakan nuraninya soal kebenaran..nurani soal berbagi, soal menghormati, soal mengasihi akhirnya dikorbankan sebagai kompensasi buat "menghilangkan" ketakutan2 itu tadi..

padahal, ketakutan2 yang sejatinya ujian itu adalah media bagi manusia buat "naik" ke tingkatan selanjutnya..yah, sama kayak ujian lah..kalo kita lulus, pasti kita naik ke kelas ato tingkatan selanjutnya kan..

yah, itulah, memang kadangkala kita ketemu manusia yang (kelihatannya) senang di atas penderitaan orang laen..(seolah) merasa senang karena berhasil menghilangkan ketakutan-ketakutannya itu dengan cara membuat orang lain harus menanggung ketakutan-ketakutan mereka..

inilah model2 manusia yang menggapai sukses dengan menginjak kepala orang laen..percayalah ther, orang-orang kayak gini nggak bakalan bahagia, meskipun kelihatannya mereka ceria..

coba aja itung, berapa banyak orang mengutuk model-model manusia tercela seperti itu?

beranggapan mereka bahagia? rasanya kok nggak ya..yakin d..

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.