Tangis pecah lagi di rumah Munir yang berdinding batu bata merah tanpa plester dengan sebagian lantai tanah itu. Saat itu Tholib, yang adalah salah seorang kerabatnya tengah dibopong karena histeris saat pemakaman almarhumah Sujiyati, isti Munir.
Ibu dan anak saling berpeluk dalam guguran air mata. Lolongan kematian terasa begitu dekat dan mencekam.
Munir, yang sehari-hari hanya berjualan jamu tradisional di muka rumahnya, tak sanggup lagi bereaksi. Ia hanya duduk tersimpuh di teras depan rumahnya.
Tatapan matanya kosong, karena istri yang sehari-hari membantu ekonomi keluarga dengan membantunya berjualan jamu tradisional dan sesekali menerima jahitan telah tiada. Belum pulih pilu itu, sebuah godam duka menghantamnya lagi persis ketika istrinya dikebumikan.
Penyebabnya, beberapa menit sebelumnya, Tholib dikabari salah seorang kerabatnya yang tengah menunggui anak semata wayang pasangan Munir-almarhumah Sujiyati, Muhammad Burhanudin. Anak tunggal yang masih dirawat intensif di RS Baptis Kota Batu, itu disebutkan telah meningal dunia. Tholib, histeris saat jenazah Sujiyati sedang dikebumikan.
Sejumlah warga yang pagi itu tengah mengikuti prosesi pemakaman Sujiyati di Tempat Pemakaman Umum Desa Karang Diyeng, Kabupaten Mojokerto pun sontak membopong Tholib yang semaput. Tholib terus meronta sepanjang perjalanan ke rumah Munir.
Beruntung, kabar duka kedua itu salah. Anak semata wayang Munir dan almarhumah Sujiyati ternyata masih hidup.
Tapi, sekali lagi Munir tak bereaksi sekalipun kabar duka itu akhirnya diralat. Air matanya sudah kering dan hatinya kelu.
Sehari sebelumnya, Sujiyati bersama 106 orang lainnya termasuk dalam rombongan karyawisata TK Dharma Wanita Karang Diyeng, Desa Karang Diyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Mereka tengah menuju ke tempat wisata Jatim Park, di Batu.
Belum sampai di lokasi, bus yang mereka tumpangi dihentikan dua kali oleh petugas DLLAJ di jalan yang permukaannya menurun. Malang tak bisa ditolak, pada pemberhentian kedua yang hanya tinggal berjarak 500 meter lagi dari lokasi wisata idaman, bus sarat penumpang itu mundur tiba-tiba.
Sebuah warung makan ditabrak. Kompor menyala yang ada di dalam warung itu menyulut api pertama pelahap badan bus. Api menyeruak.
Anak-anak dan ibu-ibu tenggelam dalam lolongan duka. Sedih mereka terbawa angin kepedihan.
Munir tidak sendiri. Pada pojok rumah sederhana lain, yang keadaanya tidak lebih baik dari rumah Munir, terpekur sepi Ahmad Bisri (46). Ahmad Bisri adalah ayah seorang putri berusia 5 tahun 10 bulan, Agustinur Umami, yang juga tewas mengenaskan dalam kecelakaan maut tersebut.
Agustinur adalah anak bungsu dari tiga anak Ahmad Bisri yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir truk PT Karya Bersama, sebuah perusahaan ekspedisi.
“Paling kasihan juga Pak Rudin, anaknya yang bernama Husni Mubarak juga tewas, sedangkan Farida, istrinya masih dirawat dalam kondisi kritis,” kata Maemunah (47) yang adalah bibi Husni dan Umami, serta masih berkerabat dengan almarhumah Sujiyati itu. Sehari-hari, Maemunah juga menjadi buruh di perusahaan tempat Ahmad Bisri menjadi sopir truk.
Dua bocah ingusan dan seorang dewasa tewas mengenaskan. Sejumlah orang tergolek kritis di rumah sakit.
Setahun sebelumnya, wisata itu sudah masuk dalam agenda rencana. Maka, orang-orang seperti Munir dan Ahmad Bisri memompa energi mereka habis-habisan ke batas maksimum demi menggenapi kewajiban sebagai orangtua.
Ahmad Bisri harus bekerja sedemikian keras hingga terkadang melupakan waktunya bersama Agustinur. “Kadang, saya pulang sudah malam anak saya sudah tidur. Pagi pun, kadang tidak sempat ketemu,” kata Ahmad Bisri.
Ia harus bekerja keras seperti itu, demi biaya bagi putra pertamanya seorang lulusan STM dan putri keduanya yang tengah bersiap masuk SMP itu. Juga, tentu saja, karyawisata di pengujung tahun ajaran putri bungsunya yang terlihat sangat lincah di foto terakhirnya itu.
Desa itu sebagian besar hidup karena kegiatan pembuatan pembuatan batu bata yang diusahakan warga. Tambah lagi, sejumlah tanaman palawija juga diusahakan masyarakat untuk menambah penghasilan mereka.
“Rata-rata warga disini ya kerja sebagai pembuat batu bata,” kata Arif (25), salah seorang tetangga Sujiyati yang rona mukanya tampak jauh lebih renta dari usia sebenarnya. Hari itu Arif sengaja khusus libur untuk mengantar jenazah Sujiyati ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Tetapi, kerja sekeras apapun tak mungkin sanggup bagi kebanyakan orang di desa itu membeli paket wisata yang ideal, yang biasanya berbanding lurus dengan harganya yang mahal. Jadilah, karyawisata pada hari Senin dengan biaya total Rp 95 ribu itu akhirnya diadakan.
Harga itu termasuk tiket masuk ke lokasi wisata Jatim Park seharga Rp 30 ribu, atau lebih murah Rp 10 ribu dibandingkan harga saat akhir pekan atau hari libur. Kalau pernah nonton di bioskop, hari Senin itu istilahnya nonton hemat, alias nomat.
Satu unit bus yang dipakai pun dihargai sewa yang relatif murah saja. Berupaya sehemat mungkin. Itulah yang mereka lakukan dengan rencana itu.
Pada satu sisi ada masyarakat berpenghasilan relatif rendah dan pada sisi yang lain ada “kebutuhan” untuk melakukan karyawisata yang sering dipersepsikan harus mengeluarkan sejumlah uang tertentu. Semakin jauh lokasi wisata dan semakin eksklusif tempatnya, maka akan berbanding lurus dengan merangkaknya biaya.
Bagaimana mempertemukan dua kenyataan ini dalam satu titik, tentu harus ada kompromi. Namun, bagi orang-orang seperti Munir dan Ahmad Bisri, rasanya tak ada kompromi yang bisa sebanding dengan hilangnya nyawa orang-orang tercinta mereka.
Kepala Sekolah TK Dharma Wanita Karang Diyeng, Miani, yang sangat terpukul akibat gagalnya tradisi karyawisata itu pada tahun ini juga belum bisa ditemui. Rumahnya di Jalan Mayjend Sumadi, Desa Gedangan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang masih dalam tahap pembangunan terkunci rapat dengan lampu teras menyala.
Seperti biasa, orang-orang di lingkup pemerintahan hanya mengeluarkan pernyataan bernada reaktif. Penjabat Bupati Mojokerto, Suwandi, yang muncul gara-gara sang bupati yang dijagokan Gus Dur, Achmady mundur karena melaju ikut Pilkadal Jatim justru bilang karyawisata bakal diperketat.
Ia bilang bus yang dipakai harus laik jalan. Tapi tak ada solusi disana. Soal biaya lebih besar yang dibutuhkan, saat kebutuhan buat menyewa alat transportasi dalam kondisi ideal datang. Mengenai kewajiban pemerintah buat membuat kesejahteraan bagi masyarakatnya bisa terwujud.
Soal subsidi. Soal kewajiban pemerintah menjamin rasa aman. Soal-soal yang memberikan kebahagiaan bagi warganya, ketimbang kepuasan semu.
Mendung juga menggelayuti salah satu halaman rumah orangtua dan kakak sopir bus nahas yang terdiri atas tiga bagian rumah dan terletak di Dusun Sidorejo, Desa Windurejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Pada salah satu bagian halamannya, teronggok sebuah bus tua bermerek Isuzu dengan nomor polisi berdasar pelat hitam, berkapasitas 30 penumpang yang juga dioperasikan untuk jasa pariwisata.
Satu unit Jeep CJ-7 yang dimodifikasi dengan memotong atapnya dan mengganti moncongnya serupa Jeep CJ-8 Wrangler juga terparkir rapi di garasi yang sekaligus dimanfaatkan sebagai bengkel ganti oli itu.
Sang sopir sendiri tak punya rumah.
Dua bus, satunya sudah hangus terbakar, itulah yang jadi rumahnya. Kini, pemilik usaha sekaligus sopir bus-bus pariwisata itu jadi tersangka.
Terbenam.
19 June 2008
Karyawisata Nyawa
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
6/19/2008 06:38:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

2 komentar:
"Soal subsidi. Soal kewajiban pemerintah menjamin rasa aman. Soal-soal yang memberikan kebahagiaan bagi warganya, ketimbang kepuasan semu."
Heeh ki, banyak ngomong doang tapi mana realisasinya?
Giliran kecelakaan, pada cuci tangan semua, heh cape deh.
Oh ya, adek lu gimana ki?! Lulus masuk PTN pilihannya? Atau gimana? Wah gue care banget yah hehehe, gue neh sebenernya prihatin ma sisdik kita, mengenaskan!
@yonna..iye nih..bener2 memprihatinkan ini negara..wah, kalo soal ptn mah, kayaknye ntu bukan pilihan buat adek gue..kayaknye doi lebih milih buat ngebuka lapangan gawe buat orang laen..
Post a Comment