26 June 2008

Pikiran Pendek

Seorang teman saya semasa kuliah yang sekarang bergiat di organisasi ini, beberapa hari lalu mengirimkan sebuah pesan. Fakta yang menyertai isi pesan itu sungguh menyesakkan.

Pesan itu berisi seruan supaya mendukung upaya penghentian penangkapan dan penyelundupan burung nuri dan kakatua di Indonesia.

Soalnya, praktik ilegal model begini disertai fakta yang nyata-nyata sudah mengancam keberlangsungan ekosistem.
Burung-burung eksotis itu dijual hingga ke Filipina untuk selanjutnya dijual ke banyak negara lain.

Lebih gila, setelah tiba di pusat-pusat perdagangan, burung-burung liar hasil tangkapan itu lantas dilabeli hasil penangkaran.

Seolah-olah burung-burung itu memang pantas diperjualbelikan sebagai salah satu komoditas eskpor. Tercatat sebagai barang ekspor dan memberi devisa pada negara.

Seakan-akan rakyat kebanyakan merestui dan dengan devisa kosong yang tak pernah ada itu, kehidupan orang banyak bisa makin sejahtera.

Sebagian besar burung liar memesona itu sejatinya sudah terancam punah. Jika satwa-satwa indah ini sudah hilang dari sistem rantai makanan, nihilnya rangkaian lain dari sistem tersebut tinggal menunggu waktu saja.

Tetapi, inilah salah satu bisnis paling menggiurkan. Salah satu roda ekonomi yang memanfaatkan kehausan sebagian manusia atas pencarian kepuasan yang seakan tak ada habisnya.

Tengoklah pasar-pasar burung di sejumlah kota besar. Jika bicara lebih luas lagi, bukan hanya burung nuri dan kakatua yang bisa disediakan.

Berbagai jenis burung, asal ada kesepakatan harga, bisa diboyong. Bahkan tawaran buat memiliki berbagai jenis satwa liar yang cenderung langka, dan dengan demikian jadi peningkat status gengsi bagi pemiliknya, juga bisa dijumpai.

Bisnis yang dengan gamblang memanfaatkan ritual manusia buat mencapai kebahagiaan dengan memperbesar kekayaan, pengaruh, dan kekuasaannya ketimbang lebih menyadari soal-soal hakikatnya.

Lagi-lagi intinya bicara soal keserakahan. Kerakusan manusia.

Sebuah sifat yang banyak manusia sendiri sudah menganggapnya sebagai hal yang manusiawi. Manusia itu memang tidak pernah puas.

Itulah pembenaran yang kerap terdengar. Meski memuakkan, itulah salah satu gagasan soal “manusiawi” yang masih diterima.

Lagi-lagi intinya bicara soal keserakahan. Kerakusan manusia.

Akhir pekan lalu, saya berkunjung ke Taman Safari Indonesia (TSI) II di Prigen Pasuruan, yang jadi lokasi TSI kedua sesudah di Cisarua, Bogor itu. Pesan yang serupa saya temukan di Prigen, yang jadi tempat kedua sebelum lokasi TSI ketiga di Gianyar, Bali tersebut.

Ancaman kepunahan. Ajakan buat menyelamatkan burung-burung itu.

Sebuah rencana operasi untuk menyelamatkan burung-burung itu pun dirancang sedemikian rupa. Rencana yang disusun jenis manusia tertentu untuk memerangi jenis manusia yang lain.

Inilah perang antarmanusia yang melibatkan burung-burung tak berdosa di tengah-tengahnya. Inilah pertarungan sempurna antara kutub pemenuhan hawa nafsu yang tiada habisnya dengan kutub pemenuhan hakikat diri sebagai inti kebahagiaan pada kutub lainnya.

Contoh sempurna konsep baik-buruk, hitam-putih, siang-malam, terang-gelap, panjang-pendek, atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan.

Pertempuran yang masing-masing pihak memakai tameng burung-burung indah tadi di tengah-tengahnya. Pada sudut yang lain, gerak roda ekonomi yang butuh dilumasi mengintip dengan tatapannya yang lapar.

Tetapi inilah salah satu hakikat lain lagi dari manusia. Bukankah jutaan sperma mesti dikalahkan terlebih dahulu oleh satu sperma juara, sebelum sel telur bisa dibuahinya.

Perang. Pembuktian.

Seringkali, ada pikiran pendek menyelinap di antaranya.






4 komentar:

therry said...

Kalo udah begini, siapa yang mesti disalahin yah? (Indonesian-thinking mode on: Blame it on others).

Bukan cuma burung aja yang udah langka, sekarang macan Sumatra sama orangutan juga terancam punah.

Gw heran yah, binatang-binatang itu ngga pernah ngejahatin manusia, kenapa sih manusia kok jahat bgt? Ada yg pake alasan binatang2 itu udah ngeganggu ketentraman hidup manusia, tapi sebenernya lagi2 keserakahan manusia yang udah ngambil habitat binatang2 tsb dan membuat mereka jadi susah hidup bebas.

gw denger soal anjing rottweiler yang ngegigit bayi umur 1 tahun sampe kehabisan darah dan meninggal - gue yakin kalo udah kaya gini yang disalahin pasti anjingnya, bukan pemiliknya.

binatang mana bisa ngebela diri mereka sendiri, jadi biar bagaimanapun mereka pasti selalu salah, selalu dijajah, apalagi sukur2 bisa dijadiin lahan cari duit ... ck ck ck

makanya gw sebenernya ngga setuju juga dengan kompetisi anjing macam show dogs gitu, karena gue piara anjing bukan tujuan supaya bisa ngebangga2in anjing gue bisa trik2 ini itu tapi gue pengen anjing gue hepi dan jadi temen gue.

soal bayi yang digigit anjing itu, gue denger jg semenjak bayinya lahir tuh anjing dikurung disuatu tempat (mungkin yang punya bayi udah parno duluan kali), padahal anjing kalo dikurung doang dan gak dikasih lepas bisa stress, dan lama2 jadi galak.

manusia memang egois!

ingki said...

@therry..yah..mustinya akal itu yang jadi pembeda utama manusia dan hewan..kalo akal nggak dipake, ya tingkatan manusia terjun bebas..lebih rendah dari hewan..

nah, ntu die..manusia kadang suka lupa..lupa kalo mereka punya akal..

therry said...

Ah keqnya kalo urusan duit mah akalnya jalan ajah koq :P~~

kan emang selalu gitu mwahahah

ingki said...

@therry..nah, yang model begini rada susah nih buat dilurusin lagi..akal yang dipake buat ngakalin orang..hehehe..akal+napsu-nurani=ancurrrr...

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.