Ya, saya adalah generasi TVRI. Sebagian hidup saya, tumbuh bersama stasiun televisi pertama Indonesia yang siaran pertama kali sejak 1962 itu.
Saya mengakrabi serial Si Unyil, Oshin, Rumah Masa Depan, hingga Dunia Dalam Berita. Selain serial Si Unyil, pada hari Minggu saya juga kerap menonton paket acara musik bernama Album Minggu Kita.
Pada lain waktu, serial menggambar bersama almarhum Tino Sidin sangat saya akrabi. Meskipun, saya samasekali tidak bisa menggambar dan melukis, kelincahan tangan almarhum Tino Sidin waktu itu sangat saya kagumi.
Belum lagi serial Pak Tepong hingga Boneka Si Tongki buatan Gatot Sunyoto. Ditambah rupa-rupa serial kartun seperti Flash Gordon, Silver Hawks, hingga He-Man.
Masa-masa di sekitar tahun 1980-an itu saya bisa sangat menikmati rupa-rupa mata acara itu. Bukan melulu disebabkan saat itu hanya TVRI yang mengudara.
Namun, sejumlah acara tadi memang berhasil melarutkan saya seolah berkelana jauh ke dunia yang lain. Sebut saja Si Unyil, Rumah Masa Depan, dan almarhum Tino Sidin.
Meskipun pada akhirnya, saya tetap tak bisa menggambar apalagi melukis.
Apa yang membuat saya bisa nyaman menikmati televisi pada masa-masa itu baru saya temukan jawabannya dalam lima tahun terakhir ini. Pencipta tokoh-tokoh serial Si Unyil, Drs. Suyadi yang juga jadi pengisi suara tokoh Pak Raden di serial itu, sempat saya temui di kediamannya sekitar lima tahun silam.
Rumahnya sederhana. Banyak lukisan dan hasil-hasil karyanya dipajang begitu saja.
Banyak kucing yang bersliweran di sela-sela obrolan kami.
Dari perbincangan singkat itu, saya tahu Si Unyil adalah serial yang penuh konsep ideal. Karenanya, pemilihan tokoh dan karakter yang mengikutinya pun tidak asal-asalan.
Ada semangat untuk menuntaskan tanggung jawab sebagai pembentuk sebuah generasi.
Tahun 1989, RCTI untuk pertama kali mengudara.
Siarannya waktu itu belumlah gratis. Ada iuran yang harus dikutip dan sebuah alat bernama dekoder (decoder) yang harus dihubungkan ke televisi untuk bisa menerima siaran televisi swasta pertama itu.
Tapi rupa-rupanya Bapak saya bergeming.
Mungkin pula, ia tak rela rumah yang dibangunnya dengan susah payah harus dipasangi pelat berbentuk persegi panjang bertuliskan “Pelanggan RCTI” di bagian depannya. Paling tidak, sepanjang ingatan saya, sejumlah tetangga dan kerabat saya menaruh pelat yang merusak estetika sebuah rumah itu di bagian atas kusen rumah mereka.
Tapi, rupa-rupanya Bapak bukan takut pelat itu merusak keindahan rumah yang dirancangnya sendiri itu. Bapak saya lebih takut dampak siaran baru itu bagi perkembangan anak-anaknya.
Karena itulah, saya selalu gembira bila libur sudah tiba. Soalnya itu berarti saya bisa nonton Knight Rider, MacGyver, Baa Baa Black Sheep, Ksatria Baja Hitam RX, Quantum Leap, Tour of Duty, hingga Misfits of Science.
Nontonnya dimana? Ya, di rumah saudara-saudara saya yang kusen di depan rumahnya dipasangi pelat berbentuk persegi panjang beruliskan “Pelanggan RCTI” tadi.
Saya sendiri beranggapan, serial-serial yang disiarkan RCTI pada masa-masa awalnya dulu itu merupakan produk mata acara yang lumayan punya kualitas. Artinya, mungkin saja mereka dibuat dengan semangat yang sama serupa ketika Drs. Suyadi membuat Si Unyil.
Tetapi, mungkin saja Bapak saya tidak mau ambil resiko waktu itu. Membiarkan anak-anaknya tenggelam dalam serial-serial asing yang belum diketahui apa misinya.
Misi.
Itu pula yang membuat saya sempat tidak paham bagaimana jalan cerita dongeng Si Kancil. Kata teman-teman sebaya saya dulu, Si Kancil sangatlah cerdik.
Apalagi dalam “episode” saat Si Kancil mencuri ketimun Pak Tani.
Tapi, saya tak pernah mendengar dongeng itu dari Bapak dan Emak Saya. Satu hal, yang dulu sangat tak saya pahami mengapa.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun lewat, saya baru paham sebabnya. Setelah bertahun-tahun lewat, saya baru tahu kalau apa yang dilakukan Si Kancil sesungguhnya sangat terhina.
Menggunakan akalnya buat mengakali pihak lain. Ini, jauh dari pemahaman soal cerdik dan punya kecerdasan di atas rata-rata.
Culas, itu lebih tepat.
Sekarang, praktik-praktik model begini lazim saya temui. Di kalangan manusia, bukan di komunitas kancil.
Jahat, itulah ungkapan paling tepat.
Apakah ini pengaruh dongeng Si Kancil, dan cerita-cerita lain yang diperdengarkan sedari kecil. Kisah-kisah yang dibacakan dengan tujuan mula-mula supaya menghibur.
Mungkin saja.
Soalnya, Bapak dan Emak saya pernah dalam suatu waktu sangat bersemangat mengajari saya bernyanyi lagu “Balonku Ada Lima.”
Lagu yang sebagian liriknya berbunyi begini, “Meletus balon hijau..Doorr..Hatiku sangat kacau..Balonku tinggal empat..Kupegang erat-erat.”
Akibatnya sangat serius.
Sampai hari ini saya masih berjuang untuk tidak panik pada saat-saat genting. Atau berupaya untuk tidak limbung saat mesti kehilangan sesuatu.
Gara-gara lagu yang saya sukai itu, secara tidak sadar, alam bawah sadar saya memerintahkan saya untuk “segera panik” segera begitu “satu balon” yang “saya miliki” tadi meledak.
Perintah untuk segera menjadi “kacau.”
Padahal hanya satu balon saya yang meledak. Masih ada empat lagi dalam genggaman. Lagipula, tadinya balon-balon itu kan juga bukan milik saya.
Lantas, kenapa mesti harus kacau?
Lalu, ada lagi perintah untuk sesegera mungkin memegang erat-erat sisa empat balon selanjutnya. Seolah seekor lalat pun tak berhak hinggap di atas permukaannya.
Bukankah hakikat hidup ini adalah berbagi?
Pusing.
30 June 2008
Warisan Generasi
Beberapa di antaranya bahkan ada yang seperti belum selesai. Teronggok begitu saja di atas kanvas kusam.
Siaran yang, waktu itu, belum teruji kualitas sejumlah mata acaranya.
Mungkin kualitas acara-acara itu jauh berbeda dibandingkan aneka adegan tampar-tamparan dan teriakan-teriakan yang saat ini hampir setiap waktu menyesaki layar-layar televisi kita.
Mengapa harus begitu?
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
6/30/2008 08:20:00 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Status Hak Cipta
Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.

15 komentar:
Generasi TVRI? Iya gue juga, pas RCTI gak pake decoder gue jadi generasi RCTI yang demen nonton Sesame Street, film2 action kaya Mac Gyver, Wonder Woman, Airwolf, dll trus pas ada MTV gue jadi generasi MTV juga karena gue emang seneng banget denger musik.
Nah sekarang generasi tv kabel, gue juga jadi generasi tv kabel, huahahaha....kok dari kecil kerjanya nonton TV molo yah :D
@yonna..hahaha..sekarang banyak banget orang makin terbius ama tipi..paling ngeri kalo anak-anak kecil yang blom paham latar belakangny nonton acara-acara yang nggak jelas..tabok sana tampar sini..umpat sana nangis sini..ngeriii..
Bener banget tuh, ki...
Sebagai generasi 80'an gue merasa bersyukur tumbuh di era itu. Tapi... kalo melihat generasi yang tumbuh di zaman instan ini, gue cemas.
Tipi yang sekarang bisa merusak generasi ini. Setiap melihat tipi, yang ada cuma kekesalan, kenapa sih gak ada yang bisa menyetop itu semua. Paling yang layak tonton cuma berita olahraga. Berita yang lain kadang berisi narsisme sang empunya tipi. Kapan bangsa ini bisa maju, hello...
Bro, katanya neh, serial si Unyil itu sebenernya ada "conspiracy theory" dibalik tokoh-tokohnya loh!
Nih, info lengkapnye:
1. Siapakah sebenarnya Kinoy?
Mengapa jati dirinya hampir tak pernah diungkap dalam serial ini?
Pertanyaan diatas melahirkan teori konspirasi:
Kinoy adalah hasil perselingkuhan. Antara siapa dengan siapa, belum diketahui. Pemikiran ini didasari oleh latar belakang budaya desa Sukamaju yang serba moralis. Tak mungkin rasanya mengumbar aib sesama warga. Sungguh memprihatinkan. .. padahal serial ini sarat pesan moral bagi anak-anak…
2. Apa hubungan antara Ableh, Ucrit dan Orang Gila Hutan Lindung?
Pertanyaan diatas melahirkan teori konspirasi:
Ucrit adalah anak si orang gila (who remains anonymous) yang diculik oleh Ableh. Mengapa? Karena coba Anda perhatikan anatomi wajah ketiganya yang hampir mirip. Ketika orang gila bernyanyi ‘dimana anakku, dimana istriku…’, sebenarnya kita dapat memberitahu keberadaan Ucrit yang aman jaya sentausa didalam desa Sukamaju. Mungkin Ableh pun dapat buka mulut, tetapi karena dia ada dalam bayang-bayang Pak Ogah yang selalu mendominasi, terjadi inferioritas dalam pembawaannya sehingga ia tampak cenderung sebagai yes man. Ini membawa kita ke pertanyaan selanjutnya:
3. Siapa sebenarnya Pak Ogah?
Pertanyaan diatas melahirkan teori konspirasi:
Ogah adalah seseorang yang disusupkan pihak luar untuk menyeimbangkan keadaan Desa Sukamaju yang aman tentram loh jinawi. Mengenai apa maksud dan tujuan aslinya, masih merupakan misteri hingga kini.
Mungkinkah ia ingin membentuk semacam regenerasi dengan meracuni Cuplis? Perlu kita ingat: potongan rambut, penampilan dan sebagainya.. . bagi generasi muda sangat berpengaruh. Apalagi Cuplis tergabung dalam Band Dekil. Mental anak band yang secara
tipikal sangat labil… adalah sasaran empuk bagi pihak-pihak pengacau.
4. Apakah Meilan menyimpan hati bagi Unyil?
Pertanyaan diatas melahirkan teori konspirasi:
Benar. Tetapi karena ada perbedaan kultur dan agama, hal ini tak dapat terjadi. Ini juga faktor penyeimbang dalam Desa Sukamaju. Mengenai cinta segitiga Meilan, Ucrit dan Unyil seperti pernah diparodikan di acara Extravaganza Trans TV beberapa waktu lalu, rasanya
tak mungkin terjadi mengingat gender Ucrit yang selama ini masih menjadi pertanyaan orang banyak.
Hanya dua orang yang benar-benar tahu mengenai hal ini yaitu Ucrit sendiri, dan Ableh selaku ayah angkat yang bersangkutan. Tapi sekali lagi: mereka tutup mulut.
5. Benarkah Unyil adalah tokoh sentral?
Pertanyaan diatas melahirkan teori konspirasi:
Unyil adalah kedok Pak Lurah dan Pak Raden untuk menyajikan drama kehidupan desa fantastis, dengan bungkusan cerita seputar anak. Bila kita kaji dengan seksama, Si Unyil bukan hanya bercerita mengenai Unyil semata, melainkan mengenai intrik-intrik yang terjadi di Desa Sukamaju.
Mengapa Pak Lurah dan Pak Raden? Mereka inilah otak dibalik berjalannya kehidupan sosio-kultural desa Sukamaju.
6. Ada apa sebenarnya di Hutan Lindung?
Pertanyaan diatas melahirkan teori konspirasi:
Hutan lindung adalah dunia nyata. Desa Sukamajulah yang merupakan desa percontohan -atau boleh dibilang daerah eksperimental- untuk kehidupan ideal. Bila disejajarkan dengan film barat, Desa Sukamaju itu mirip kota Stepford dalam film Stepford Wives.
Mengapa dibentuk desa eksperimental seperti itu?
Inilah misteri yang masih belum terkuak sampai hari ini.
Ya, begitulah beberapa hipotesa teori konspirasi yang terungkap berdasarkan diskusi ilmiah yang terjadi siang ini. Mungkin akan menimbulkan kericuhan, bahkan silang pendapat akut… tapi yang jelas, seperti kata Mulder pada Scully…
@andien..tidak bisa distop karena sementara ini acara-acara kayak gitulah yang paling laku..ratingnya tinggi..pemasukan duit iklannya pun banyak..kenapa laku?karena sebagian besar masyarakat kita suka yang kayak2 gitu..kenapa begitu?pasti ini salah satunya disebabkan salah urus pendidikan..kenapa banyak masyarakat kita mentok seleranya ama tontonan2 yang begitu rendah mutunya itu..menampar logika dan menabok akal sehat kita sebagai manusia..
@therry..mwahahaha..gue demen nih..perspektif baru dari penggemar The X-Files..
pendapat gue? sangat mungkin enam asumsi itu berada di balik sukses fenomenal Si Unyil. ini berdasarkan teori klasik (yang juga berkonspirasi), bahwa nggak ada yang nggak mungkin terjadi di dunia ini. hehehe.
soal kemungkinan cinta segitiga Unyil-Meilan-Ucrit seru juga niy.
cuma, dalam dunia anak-anak kayaknya peran sosial budaya ala konsep jender yang seringkali menimbulkan bias emang blom dikenal. baru pembedaan soal jenis kelamin aja yang bisa keliatan.
nah, seringkali terjadi, sayangnya konsep jender suka disalahartikan sebagai pemisahan dunia laki2-perempuan dari akar sosio-kulturnya sejak dini. misalnya, kalo anak laki2 musti pake baju biru dan maen mobil2an sementara anak perempuan kudu pake baju warna pink dan maen ama boneka.
ini terus terjadi, misalnya, dalam berbagai macam permainan yang melibatkan aktivitas fisik. "jangan maen bola ato manjat2 pohon, kamu kan anak perempuan," kata-kata itu seringkali kita denger kan.
nah, yang menurut gue seru dari Si Unyil, model-model tontonan kayak gini seinget gue nggak ada. kayakny, sepanjang yang gue inget, setiap cerita yang dibangun sandarannya pada nilai-nilai kesetaraan.
tapi emang, beberapa program punya orde baru waktu itu, secara nggak langsung emang dijadiin jalan cerita Si Unyil. soal program keluarga berencana, soal tentara masuk desa, soal siskamling, puskesmas dan lain-lain.
apalagi, serial itu kan dibuat waktu jaman represif orde baru lagi jaya. sehingga, pastilah ada beberapa jargon politik rezim itu juga yang ditampilkan.
cuma, yang menurut gue mantep dari peramu ceritanye adalah, sepanjang yang gue inget, mereka nggak terjebak buat terperosok ke dalam kubangan politis yang semu dari harapan.
justru mereka berhasil bikin jalinan kisah yang berfokus pada sisi positif program-program itu.
meminjam kalimat Goenawan Mohamad soal "mikropolitik," yang disebutnya sebagai "militansi dari aksi yang terbatas." sebuah gerak melawan di tengah tekanan yang membuat hidup tidak jadi sia-sia.
serial Si Unyil, adalah salah satu "mikropolitik" itu.
hehehe...
kenapa di lagu balonku hatinya kacau? karena biar pas rimanya ama balon hijau.
mendingan kata2nya gini aja kalo gitu ya:
meletus balon merah... DOR
hati ku pun gembira...
balonku masih 4...
kupegang sambil lompat!
(hmm yang terakhir udah gak kepikir dah kata yang rimanya sama tapi cocok apa ya.. hahaha)
btw salam kenal... :)
@arman..hahaha..boleh juga nih usulnya mas..mudah2an ada banyak guru tk dan orangtua yang sadar ye...
salam kenal juga..
Sedikit terinspirasi posting anda yg ini, saya membuat posting yang agak nostalgia di sini. Saya juga link anda, tidak apa kan?
wow..posting lo membawa gue makin kangen ama jaman2 itu..sebagai generasi yang baru lahir di taun 81, enang mantep banget deh masa2 itu..top..berkarakter..sepatu roda yang remnya di depan jempol ama gaban jangan dilupain..belom lagi si petruk "macan tumaritis" karya tatang s, trus wiro sableng pendekar kapak sakti naga geni 212 karya bastian tito..wuiiihhh..keren abis..silahkan di link rim..dengan senang hati..
wah gue udah sopan sopan anda saya karena kirain ingki udah bapaks bapaks ...
email gue lovelyrima@gmail.com
imel dong, gw juga ada bbrp pertanyaan neh yang tidak ada hubungannya sama postingan ini, tapi berhubungan dengan something else.. (hayoo.. pasti penasaran..)
hehehe mbak rima terkecoh. ingki emang bapak2 tapi bapak2 abege hehehe.
@rimafauzi...siaap
@yonna..betul kata lo yon...hehehe
Bused dah bro... otak gue kaga nyampe sama teori elo. Secara, gue dulu nonton Unyil demen aje, namanya jg anak kecil, masih belom tau perbedaan gender dan susahnya jadi perempuan di Indonesia (yang selalu diperlakukan sebagai obyek dan juga second class citizen, tapi kalo dibandingin ama Arab sih ya masih mending Indo LOL).
Gue jg udah lupa sih cerita apa aja yang diangkat di seri si Unyil, tp emang ada something slightly fishy mengenai pak Ogah, Ableh dan si orang gila. Kenapa tokoh-tokoh itu harus ada dan kenapa mereka yah? Hahaha..
gw sih demen nonton Unyil krn ada sisi creepynya (sinematografi jaman dulu cupu bgt, lightingnya lucu jadi kesannya agak mati dan mendung2 gmn), trus jg boneka2an gitu bisa "idup"..hello, chucky? LOL
masa kuliah mulai malas nonton tivi, rebutan mulu sama teman2 kost yg doyannya nonton gosip seputar selebritis atau telenovela. alamak!
awal2 RCTI, nontonnya kudu pakai parabol (di sumatra soale...) mac gyver tuh dulu favorit masa2 SMA .. heheheeh..!
bused deh ..baca komen 'therry' soal konspirasi .. dalem banget bahasannya! dulu waktu kecil nonton unyil, mana kepikiran sampai sedalem itu .. hehehehe! imajinasi dan analisanya hebat juga !
Post a Comment