12 October 2008

Sudahkah Amanah

Nyaris dua pekan sudah Idul Fitri 1429 Hijriah lewat. Setelah dua pekan itu, saya buka-buka lagi isi pesan singkat di telepon genggam saya. Melihat-lihat lagi siapa pengirim dan isi pesan di seputar Lebaran.

Satu pesan menarik perhatian saya. Pesan pendek itu berasal dari KH Salahuddin Wahid atau sering disapa Gus Solah.

Pesan singkat itu merupakan balasan dari pesan yang sebelumnya saya kirimkan. Kata Gus Solah yang adik kandung KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu begini:

“Terima kasih untuk silaturrahim. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga puasa membuat kita lebih amanah, lebih manusiawi dan lebih peduli terhadap sesama.”

Saya menduga, harapan agar puasa bisa membuat kita menjadi lebih manusiawi, sedikit dilatarbelakangi pengalaman Gus Solah sebagai mantan Ketua Komnas HAM. Adapun perihal kepedulian, mungkin saja sedikit dipengaruhi tanggung jawab Gus Solah saat ini sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, sejak tiga tahun lalu.

Sedangkan harapan agar puasa bisa membuat kita menjadi amanah, saya punya analisa Gus Solah tengah gelisah soal betapa banyaknya pemimpin di negeri ini yang tidak amanah. Pemimpin-pemimpin kelas nasional yang sehari-hari tentu banyak ditemuinya. Para pemimpin yang bahkan berasal dari lingkungan keluarganya.

Amanah.

Sosok pemimpin yang amanah bisa diartikan sebagai orang yang punya keahlian atau kemampuan. Jujur dan bisa diterima secara luas.

Soalnya setiap pemimpin punya amanat yang diemban dan mesti ditunaikannya. Amanat identik dengan tanggung jawab.  

Secara singkat, pemimpin yang amanah adalah yang bisa dipercaya. Mampu mempertanggungjawabkan seluruh kata-kata dan tindakannya.

Itulah yang diharapkan Gus Solah dari puasa tahun ini. Harapan saya juga.

Harapan bagi para pemimpin. Harapan bagi kita semua. Karena setiap orang, adalah pemimpin setidaknya bagi diri sendiri.

Sudahkah saya, anda, atau kita semua menjadi orang yang amanah pada tahun ini?

Setelah Lebaran dirayakan. Sesudah THR dan ketupat lewat? Seusai berpuasa satu bulan?

Saya belum.

2 komentar:

Yonna said...

hikmah pembelajaran puasa selama ini hanya dicicipi selama bulan puasa aja, setelah lebaran, bebas euy, bagai orang yang baru bebas dari hukuman penjara.

menahan diri, mengendalikan nafsu emang paling sulit tapi itulah hikmah yang harus diamalkan setelah bertahun2 puasa :)

ingki said...

masih susaaaahh banget...

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.