31 January 2008

Tontonan Hiburan

Barusan, secara tak sengaja, ada teman saya kasih ide buat menulis soal ini. Saya pun padu padankan tulisan ini dengan komentar yang sempat saya berikan buat tulisan karya Ian Badawi pada salah satu blog, beberapa waktu lalu.

Baiklah, ini tulisan akan berputar pada urut-urutan soal logika dalam realitas industri. Lebih menjurus lagi kenyataan di dunia hiburan. Kenyataan tontonan.

Mohon diper-sori apabila ini permulaan tulisan masih berputar pada mantan Presiden Soeharto yang wafat 27 januari lalu.
Begini duduk perkaranya.

Kata teman saya itu tadi, media di Indonesia (baca televisi) sekarang ini sudah pintar mengaduk-aduk emosi penonton. Katanya, sembari saya pinjam bahasanya, itu bisa dilihat saat tayangan di seputar wafatnya Soeharto disertai "lagu sedih dan efek-efek slow motion (serta) black and white (juga) blur gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998."

Sebuah tragedi sosial yang, katanya lagi, jreng-jreng membimbing kita semakin jelas menuju krisis ekonomi. Resesi yang memuncak sejak indikasinya tercium jelas setahun sebelumnya.

Akibat itu, seluruh negeri seperti sedang mengalami efek bius dosis tinggi. Hampir semua larut dalam kesedihan massal secara berlebihan. Semua secara berlebihan. Mulai hari berkabung nasional tujuh hari berturut-turut hingga gelar sebagai pahlawan nasional.

Dari situ, saya beberkan jika pertama-tama sekali apa yang terjadi pada realitas itu adalah sebuah contoh nyata dari bias kognitif bernama halo effect. Bias yang terjadi ketika sosok Soeharto yang populer dan atraktif itu dinilai punya kepribadian dan kemampuan yang diatas "rata-rata" kebanyakan orang.

Bias akibat karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya. Bias kognitif yang terjadi gara-gara kita menginginkan segala sesuatu itu sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Bukan kenyataannya.

Kecenderungan yang terjadi pada orang-orang untuk melihat sesosok lain di luar pribadinya sebagai pribadi yang baik atau buruk semata. Bukan pada kenyataan bahwa setiap orang pasti tersusun atas berbagai karateristik yang kompleks. Sesuatu yang pasti melibatkan konsep baik-buruk.

Seolah-olah kebanyakan orang tidak ingat lagi bahwa selain kebaikan, manusia juga tersusun atas unsur keburukan. Inilah bias kognitif bernama halo effect tadi.

Pada kasus di seputar wafatnya Soeharto tadi, kata-kata teman saya soal “lagu sedih dan efek-efek slow motion (serta) black and white (juga) blur gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998,” yang dipanggungkan media (televisi) menjadi faktor utamanya.

Faktor utama berupa “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya.”

Realitas di televisi inilah yang banyak orang melihatnya, setelah nyaris sepuluh tahun orde reformasi digulirkan, sebagai “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya.”

Ada masa “kekosongan kekuasaan” selama rentang itu. Membuat banyak orang menaruh harap. Sehingga saat “realitas” yang ditunjukkan media (televisi) soal seputar kematian Soeharto, inilah yang jadi “karakteristik yang mula-mula kita lihat pada seseorang akhirnya jadi persepsi dan pemahaman kita terhadap karakteristik-karakteristik selanjutnya” itu tadi.

Kenapa kata realitas tadi saya berikan tanda kutip (“”)? Baiklah, di bawah ini kutipan yang saya copas dengan perubahan seperlunya, dari komentar saya sendiri pada artikel buah pikir Ian Badawi, yang saya terangkan di muka.

Kira-kira lima tahun lalu saat saya masih jadi tenaga lepas untuk sebuah usaha penerbitan buku, bertemulah saya dengan realitas yang waktu itu cukup membikin saya terkejut. Terkejut bukan karena saya lemah jantung, melainkan kenyataan serupa yang biasa saya temukan dalam bahan-bahan bacaan, kali ini tersaji utuh di depan indera penglihatan. Juga bisa saya dengar, saya baui, sembari menahan sesak di dada yang saya rasakan.

Ketika itu ada seorang artis cilik tersohor, yang tentu sekarang sudah besar, bercerita soal hidupnya kepada saya. Atas nama etika, saya tak bisa menyebutkan identitasnya. Jelasnya, ia tinggal bersama neneknya di Jakarta.

Kedua orang tuanya tetap tinggal di tanah kelahiran mereka. Sepanjang cerita ada nuansa janggal yang saya rasa. Ia tak seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ia memang ceria dan seperti tanpa dosa. Namun saya merasa, ada tembok besar di kanan-kirinya, yang menjaga supaya ia tetap ceria dan tanpa dosa.

Tetapi itu tembok artifisial belaka. Jadilah sepanjang cerita kami berdua, praktis tak tercipta leluasa. Tidak seperti suasana yang terbangun ketika saya dan anak-anak kecil lain saat kami bercengkerama.

Bicara dandanannya, jangan bayangkan ia seperti dalam konsep anak-anak kecil tetangga atau bocah-bocah lain di keluarga besar kita. Karena rupanya lebih mirip orang dewasa. Lengkap dengan riasan tebal yang menutupi sekujur mukanya.

Pakaiannya pun jauh dari rasa bahagia yang biasa hinggap pada anak-anak seusianya. Semuanya seperti serba terpaksa.

Tetapi kepada saya, lagi-lagi ia mengaku bahwa dirinya sangat gembira melakoni itu semua. Neneknya, hampir mau melakukan apa saja demi kesuksesan cucunya.

Jadwal kerja hingga dini hari pun bukan soal yang perlu diperdebatkan. Soalnya sang cucu dituntut lengkap. Bisa nyanyi. Pandai lenggak lenggok dan menari. Juga mesti bisa beraksi saat syuting di depan kamera televisi dan sorotan lampu beribu watt. Bahkan hingga dini hari.

Inilah watak industrialisasi. Terutama jika bicara pasar hiburan yang sarat dominasi kapitalisasi.
Ia punya logikanya sendiri, sebagai prasyarat dan syarat demi kelanggengannya. Kejayaannya. Semuanya dikomodifikasi.

Akhirnya ini meminggirkan hakikat manusia dalam kutub bernama komersialisasi. Bahkan lihatlah saat bulan suci.

Penetrasi industrialisasi tetap tak bisa dihindari. Tontonlah televisi. Banjir sekali mata acara yang seperti membuat agama masuk dalam jerat ketat industrialisasi.

Soalnya saat semua hal masuk dalam realitas pasar hiburan, semua hal itulah yang menyesuaikan diri dengan realitas pasar hiburan.

Ada rating. Ada prime time. Ada slot iklan.

Termasuk agama, saat masuk dalam realitas pasar hiburan, mau tak mau harus ikut logika dan realitas yang berlaku dalam pasar hiburan. Maka lihatlah betapa menjamurnya dominasi program televisi yang menjadikan dakwah hanya sebagai basa-basi. Jadilah agama harus rela tersubordinasi dalam pasar hiburan yang jadi inti.

Sekali lagi, inilah industrialisasi. Melahirkan anak kandung bernama budaya konsumtif yang dirumuskan dalam Collin’s Dictionary of Sociology sebagai kekuasaan kultural dalam masyarakat kapitalis modern yang berorientasi kepada pemasaran dan pemakaian barang dan jasa pelayanan.

Atau juga bisa diartikan sebagai budaya yang membedakan status dan membagi pangsa pasar dari masyarakat modern saat cita rasa individu tidak hanya merefleksikan lokasi-lokasi sosial, seperti jender, umur, pekerjaan, etnis, dan sebagainya. Tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sosial dan gaya hidup individu para konsumen.

Logika pasar hiburan adalah bagaimana menjadikan segala rupa ihwal yang masuk ke dalamnya sebagai komoditas yang laku dan bisa dijual. Jika tidak, harap minggir. Segala ihwal demi menyematkan predikat layak jual tadi pun dilakukan.

Pada fenomena sosial yang terjadi di seputar wafatnya Soeharto, saya temukan lagi “realitas” serupa. Saya katakan pada teman saya tadi yang punya dugaan dengan asas praduga bersalahnya, soal pembenaran teori konspirasi agar tayangan-tayangan di seputar wafatnya Soeharto memang dibuat indah dan agung sesuai pesanan, bahwa sejatinya ini hanyalah sekedar realitas pasar hiburan.

Bahwa dengan semua tontonan di seputar wafatnya Soeharto itu, yang juga membuatnya kesal karena mengganggu program-program acara lain yang biasa disaksikannya di televisi, adalah sosok Soeharto yang sebenarnya justru sedang terpinggirkan dari realitas sesgungguhnya. Dalam “realitas” itu, sosok Soeharto justru sedang termarjinalisasi.

Karena sejatinya, apapun yang masuk dalam realitas pasar hiburan pasti butuh banyak penyesuaian. Termasuk wafatnya Soeharto.

Sehingga hakikat Soeharto sebagai manusia seutuhnya justru sedang terpinggirkan dalam kutub yang bernama komersialisasi. Sehingga lagi, ketika masuk dalam realitas pasar hiburan tadi, Soeharto harus rela diiringi "lagu sedih dan efek-efek slow motion (serta) black and white (juga) blur gak jelas, bisa membuat penonton melupakan kemarahan dan kesedihan saat (kerusuhan) Mei 1998,” persis seperti kata-kata teman saya tadi.


Begitulah.

29 January 2008

Bento Soeharto

Awalnya saya malas untuk ikut-ikutan menulis soal mantan Presiden Soeharto yang tutup usia 27 januari lalu. Toh, akhirnya saya tergelitik demi menyaksikan respon banyak orang yang dalam pandangan saya, meminjam bahasa J Kristiadi, sedang memperlihatkan praktik mikul (ke) dhuwur (en), mendhem (ke) jero (n).

Ungkapan Jawa yang jika dipopulerkan artinya, berikut imbuhan di dalam kurungnya, kira-kira bunyinya seperti “amat sangat terlalu menjunjung tinggi-tinggi (jasa) dan mengubur dengan terlalu sangat dalam-dalam (salah)” Soeharto.


Kenapa bisa begitu. Apakah bangsa ini sudah menjadi bangsa pelupa, atau meminjam ungkapan M Fadjroel Rachman soal bangsa halalbihalal. Saya melihatnya ini lebih pada persoalan momentum.


Nyaris sepuluh tahun lalu, Soeharto mundur di tengah derasnya cacian di tengah-tengah resesi ekonomi yang berkepanjangan. Sepuluh tahun berlalu, nyaris tak ada perubahan berarti yang dirasakan rakyat kebanyakan.


Orde reformasi kehilangan momentumnya. Perubahan sangat luar biasa seperti kebebasan berpendapat dan kembalinya tentara ke barak tidak dilihat orang kebanyakan sebagai kemajuan.


Justru yang banyak kemudian terlihat dan bikin kecewa perasaan adalah antrean orang beli minyak tanah. Bahkan sekedar mau beli tempe dan tahu saja jadi masuk daftar tak mampu.


Sepuluh tahun berlalu, banyak rakyat kebanyakan merindukan lagi memori “indah” mereka soal hidup di bumi Nusantara. Ketika harga seliter bensin masih setara dengan mungkin, karena saya tidak merokok, sebatang sigaret kretek produk unggulan perusahaan multinasional Philip Morris hari ini.


Ingatan mendalam soal penghormatan negara-negara lain terhadap kesuksesan pembangunan di bumi pertiwi. Ketika swasembada beras dan fundamental ekonomi sepertinya baik-baik saja. Semuanya membuncah lagi.


Semua masih ditambah dengan betapa bombastisnya perhatian media massa sejak Soeharto masuk rumah sakit (lagi). Nostalgia dan simpati berbaur dan mengaduk aduk emosi.


Agaknya inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang berbondong-bondong menangis di pinggir jalan saat mantan pemimpin itu diarak ke peristirahatan terakhirnya. Banyak orang yang terhipnotis dan masuk dalam fase trance saat tak lagi mampu menahan luapan emosi kesedihannya.


Lantas banyak pula yang seperti buru-buru setuju supaya segala ihwal soal Soeharto ditutup saja pada bab puncaknya. Tidak usah diteruskan pada bagian penutup dan daftar pustakanya.


Lupakan saja betapa semua fundamen ekonomi yang seolah megah tadi dibangun dari hasil utang yang luar biasa, dan parahnya kebocoran disana-sini. Ingkari saja betapa mahalnya ongkos sosial yang mesti dibayar demi mengejar stabilitas kemananan dan ketertiban supaya pembanguan ekonomi bisa berjalan tadi.


Berapa banyak nyawa yang harus meregang dan hidup yang harus tersia-siakan akibat tertutupnya akses ke berbagai bidang. Semua hal yang bisa dengan mudah terjadi hanya dengan cap hitam. Subversif. Tanpa pengadilan, tanpa keadilan.


Banyak kawan saya berargumen, karena Soeharto sudah meninggal, maka sudahlah. Maksudnya, lupakanlah segala salah dan dosanya. Pendamlah dalam-dalam memori buruknya dan angkatlah tinggi-tinggi jasa baiknya. Mikul dhuwur, mendhem jero tadi


Itu memang ajaran yang arif, jika belum ditambahi imbuhan di dalam kurung, dan saya pun tidak mengambil posisi menentangnya. Saya setuju.


Tetapi saya juga sepakat dengan pendapat Emha Ainun Nadjib dalam soal ini, yang kira-kira berujar bahwa memberikan maaf tentu adalah persoalan yang bisa saja dilakukan.


Namun kata Cak Nun lagi, bagaimana mau memberikan maaf, jika kesalahannya secara pasti saja belum pernah diketahui. Atas kesalahan apa dan ketidakbenaran yang mana ketika maaf itu harus diberikan. Semuanya masih sangat gelap.


Kata Cak Nun, dalam hal ini proses peradilan memang harus jalan terus, demi mengungkap ujung pangkal kebenarannya. Sekalipun kebenaran punya nilai yang relatif. Jangan-jangan dari proses hukum itu Soeharto malah tidak bersalah, sehingga memang tak perlu ada prosesi pemberian maaf itu tadi.

Ini perlu. Penting sebagai landasan kita melangkah lagi ke depan. Supaya kita tahu mana yang salah, bagaimana bisa salah sehingga tak perlu lagi terjadi hal-hal seperti itu nantinya. Jangan lagi-lagi kita gagal menemukan gagasan soal kebenaran mengenai itu, sebagai bekal melaju ke depan.
Dalam hal ini suara-suara keras untuk meminta penghentian proses hukum bisa dipetakan jelas siapa pelaku dan apa motivasinya. Kroni semasa orde baru berjaya yang banyak mengorupsi harta negara buat biaya pembangunan jadi pihak-pihak yang paling santer mengampanyekan soal pengampunan tadi.

Motivasinya sangat jelas. Proses hukum berhenti, posisi kroni pun bebas lagi dari segala tuntutan ikutan di belakangnya.


Selama 31 tahun berkuasa secara de jure karena mengawali kuasa sebagai penjabat presiden pada 12 maret 1967 dan mulai jadi presiden sejak 27 maret 1968, bukan 32 tahun seperti banyak anggapan orang, Soeharto dengan sempurna menunjukkan wajah kekuasaan yang sesungguhnya.


Soeharto dengan sempurna jadi bukti teori Lord Acton bahwa, kekuasaan cenderung untuk menjadi korup dan kekuasaan yang mutlak cenderung untuk korupsi secara absolut (power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely).


Karena sejak awal saya dedikasikan blog ini ini sebagai kisah nyata pengalaman pribadi, tak akan saya singgung berbagai fakta menyedihkan soal pisau kekuasaan Soeharto yang bisa dengan mudah menebas siapa saja penentangnya. Perilaku kekerasan yang dipraktikan sebagai ongkos pembayar “stabilitas pembangunan.”


Soalnya jelas, saya tidak merasakan secara langsung berbagai peristiwa menyedihkan soal represi tentara yang berlangsung mulai ujung Sumatera hingga pojok Papua. Saya hanya mau berbagi pengalaman saya sejak kecil menjadi dewasa kini.


Bahwa benar, saya merasakan akibat-akibat pembangunan yang nyata. Tak ada kebutuhan dasar saya yang tercederai semenjak kecil hingga kini. Bahkan saya pun bisa ongkang-ongkang kaki saat menikmati TMII. Sebuah proyek “keluarga” yang sempat jadi tentangan serius pada masanya.


Tetapi bukankah memang itu yang jadi kewajiban seorang pemimpin. Itu sudah tugas. Bukan persoalan berpretasi atau tidak berhasil.


Tambah lagi, semua itu saya peroleh karena akses yang dekat, sebab saya lahir dan besar di Jakarta. Pusat segalanya. Apakah orang lain merasakan seperti yang saya alami? Tentu tidak. Lantas apakah ini yang disebut pemerataan? Pasti tidak.


Lalu, jika saya rasakan lagi, ternyata apa-apa yang saya dapatkan semasa Soeharto berkuasa semestinya bisa lebih daripada itu. Agar tak banyak melebar, saya hanya akan bicarakan soal pendidikan.


Pola dasar sistem ajar yang secara sistematis dan amat meyakinkan terbukti telah dan sedang merusak mental bangsa saat ini. Saya juga baru-baru saja tersadar, bahwa pendidikan yang saya terima sejak mula-mula memang ditujukan buat menyeragamkan semua isi kepala manusia di negeri ini. Supaya tidak ada yang berlaku subversif.


Gambar pemandangan alam yang bertema pegunungan adalah contoh konkretnya. Dari ujung timur hingga ujung barat Nusantara isi otak kanan anak-anak dibuat seragam. Sepasang gambar gunung, jalan aspal yang ada di bawah dan menuju tengah gunung, petak-petak sawah di pinggir kanan atau kiri, matahari, dan awan.


Sebuah keberuntungan untuk menemukan secercah kreativitas, ketika ada serombongan gambar burung terbang di antara awan. Suatu upaya sebelum burung-burung tadi dituduh sebagai subversif.


Itu nyata.


Belum lagi pembonsaian sejak dini, buat menihilkan daya kritis-analitis. Tak ada metode belajar yang mengedepankan observasi dan diskusi supaya terjadi proses utuh menjalani mata rantai tesis-antitesis-sintesis. Semua proses belajar berlangsung dalam ruang-ruang kelas yang diam dan kaku. Satu arah.


Pertanyaan yang diajukan pun harus dalam koridor. Bahkan, dalam soal-soal yang dikerjakan, cara yang ditempuh harus persis serupa versi guru pengajar. Jika cara yang ditempuh salah, sekalipun jawaban akhir menunjukkan kebenaran, pasti yang ada teguran.

Kamu subversif nak.


Kalau ada guru yang bijaksana dan mengerti bagaimana semestinya memperlakukan manusia, itu bisa dihitung dalam bilangan kecil. Sisanya, sekedar menjalankaan perintah atasan. Tanpa keinginan berinovasi dan bergerak maju sebagai hakikat jadi makhluk berakal.


Beruntung, saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat demokratis. Menghargai perbedaan pendapat. Mengedepankan pengetahuan. Sehingga sejak tingkat sekolah dasar, saya selalu jadi “rekan” berimbang sejumlah guru dalam adu argumentasi.


Tetapi ujung-ujungnya tetap saja ada cap hitam pada saya oleh mereka yang berhasil diinfiltrasi kebijakan penyeragaman tadi. Tukang protes. Subversif.

Walaupun pengakuan itu selalu datang tiap-tiap akhir caturwulan pada setiap jenjang kelas yang saya lewati. Nilai teratas di kelas yang tak bisa dimanipulasi.
Sayangnya, tak banyak orang yang punya atmosfer keluarga seperti saya. Sehingga, metode ajar yang diterima dari sekolah dan lingkungan yang juga banyak menerima pengaruh “seragam” orde baru, bulat-bulat membentuk karakter hidup mereka. Hingga hari ini.


Dampaknya sangat jahat bagi kehidupan kita sekarang. Siapa yang bisa bertanggung jawab soal apatisnya generasi saya sekarang. Siapa yang bisa mengacungkan jari dan memberi solusi soal betapa banyaknya rekan saya yang tak bisa banyak membuktikan potensi dirinya dan berbuat yang terbaik, setidaknya bagi dirinya sendiri.


Siapa yang mau peduli betapa banyak rekan saya yang belum-belum sudah merasa rendah diri, inferior, ketika harus menghadapi dan berhadapan dengan orang-orang lain bangsa dan negara. Siapa yang bisa menjelaskan kepada saya mengapa banyak sekali rekan-rekan saya yang tenggelam dalam jeram keputusasaan. Siapa?

Lalu ada lagi suara yang melulu setuju dari anggota dewan, konsep dan arah pembangunan di daerah yang tak jelas, kasus-kasus korupsi yang dilakukan secara berjamaah sehingga hasil korupsi dianggap jadi rezeki, hingga sikap apatis dan tak mau peduli soal berbagai hal.

Belum lagi perkara remeh temeh seperti hobi buang sampah sembarangan, sekalipun dalam banyak forum mengaku sebagai warga yang paling nasionalis. Mencintai Indonesia.


Jadi, siapa bilang orde baru tak punya warisan buruk dan jahat bagi generasi saya? Generasi yang lahir di mula-mula tahun 1980 lalu, saat Indonesia lagi "jaya-jayanya."

Oh ya, satu hal utama jadi pendorong saya menulis ini adalah kata-kata pengusaha Setiawan Djodi beberapa hari lalu, soal lagu Bento dalam album Swami bersama Iwan Fals di tahun 1989. Soal lirik Bento yang memang menggambarkan kejahatan dinasti orde baru.


Tambah lagi, seorang rekan saya kemarin mengingatkan bahwa saat Soeharto wafat 27 januari lalu, orang-orang di seluruh dunia lagi memperingati hari yang didedikasikan buat menghormati korban holocaust, yang didasari bahwa pada tanggal itulah seluruh tawanan di kamp konsentrasi Auschwitz dibebaskan. Peringatan tiap tahun yang dimulai sejak 2005 supaya tiap orang di bumi ingat soal kejahatan genosida, supaya jadi memori buruk yang mestinya jangan diulangi lagi. Nah, saya sudah mulai ngelantur.


Saya sertakan saja sedikit kutipan beserta sambungan alamat ke situsnya.


“in 2005, the (united nations) General Assembly designated 27 January (notice the date), the anniversary of the liberation of the Auschwitz death camp, as an annual International Day of Commemoration to honour the victims of the Holocaust, and urged Member States to develop educational programmes to instill the memory of the tragedy in future generations.”
http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=25418&Cr=Holocaust&Cr1=

28 January 2008

Rakyat Sekarat

Selama ini hampir-hampir tidak pernah ada gejolak di tengah masyarakat saat klub-klub sepak bola di Indonesia mengajukan dana besar dari kas APBD untuk mendanai kepentingan mereka selama satu musim kompetisi. Ribut-ribut kecil, paling hanya terjadi di tingkatan wakil rakyat, untuk kemudian selesai setelah tercapainya kesepakatan besaran dana yang bakal dikucurkan.

Polanya selalu serupa. Tiap tahun berulang, hanya besaran permintaan yang tidak pernah berulang karena hampir selalu dipastikan akan naik fantastis.


Rupa-rupanya sikap masyarakat yang cuek ini dipahami betul sebagai berkah yang mesti dipelihara, tentu oleh pihak-pihak yang berkepentingan dana itu memuncak tiap tahunnya. Dalam bahasa yang lugas, esais Jakob Sumardjo merangkum tesis sejarawan Australia, MC Ricklefs, soal bagaimana rakyat di Indonesia hanya menjadi bulan-bulanan para pemimpinnya, yang sejak 1950 hanya mempertontonkan kisah kegagalan.

Tahun 2008 ini, salah satu poros utama kekuatan sepak bola Indonesia yang lagi luntur pamornya, Persebaya Surabaya , memang tak lagi pakai dana APBD. Ketua Umum Persebaya Arif Afandi, yang juga punya jabatan sebagai Wakil Walikota Surabaya pagi-pagi sudah berikrar tegas. Persebaya mau jadi pionir supaya segera punya investor, dan ogah mengemis duit rakyat.

Bukan hanya sekedar mengimplementasikan aturan Mendagri tetang larangan pakai dana APBD di musim ini. Perbaikan yang jadi tuntutan bagi tim-tim peserta Liga Super 2008, yang jika jadi dilaksanakan tak lebih hanya sekedar upaya pemaksaan kehendak yang seperti mengulang-ulang episode kebodohan kompetisi sepi makna itu.

Balik lagi pada cuek bebeknya rakyat kebanyakan, yang saya nilai bermuara pada mampetnya pemahaman pada pendidikan. Hingga tahun 2007 lalu, anggaran Persebaya Surabaya pada musim kompetisi ditetapkan naik Rp 7,5 miliar menjadi Rp 17,5 miliar dari Rp 10 miliar setahun sebelumnya, lolos nyaris tanpa hambatan. Sekalipun dana itu di bawah kalkulasi hampir Rp 21 miliar yang diajukan, ditambah “hanya” Rp 15,5 miliar yang boleh digunakan bagi kepentingan tim dengan sisanya bagi kepentingan pembinaan klub-klub anggota Persebaya, tidak ada ribut-ribut menghebohkan yang menyertainya.

Pada Proposal Program Kerja Tahun 2007, disebutkan pengeluaran terbanyak untuk pemain dan pelatih mencapai Rp 14,99 miliar. Jumlah ini naik lebih dua kali lipat dibandingkan anggaran untuk pengeluaran serupa terbanyak tahun sebelumnya mencapai Rp 6,316 miliar yang tercermin pada Laporan Pertanggungjawaban Dana APBD 2006.

Menariknya, pengeluaran terbanyak kedua untuk akomodasi dan transportasi selama kompetisi pada musim 2007 justru menurun dibandingkan musim sebelumnya, saat Persebaya berkubang di divisi satu. Pada Laporan Pertanggungjawaban Dana APBD 2006, disebutkan pengeluaran untuk itu mencapai Rp 2,89 miliar, atau masih lebih besar dibandingkan anggaran tahun ini pada Proposal Program Kerja Tahun 2007 yang turun menjadi Rp 1,96 miliar.

Musim 2006, Persebaya digelontor uang publik Rp 10 miliar, tidak kurang Rp 3 miliar tambahan diperoleh lewat jasa baik sejumlah sponsor. Beberapa yang bisa disebutkan sejumlah Rp 450 juta dari produsen kopi Kapal Api dan Rp 150 juta dari produsen rokok Lintang Enam.

Dari jumlah itu, persyaratan audit yang diwajibkan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 memang dilakukan terhadap dana Rp 10 miliar yang adalah uang publik. Akan tetapi, akuntan publik yang diserahi tugas belum melakukan audit atas pengeluaran pada November dan Desember 2006, karena pengajuan anggaran yang semestinya didasarkan pada hasil audit telah dilakukan manajemen Persebaya sejak bulan Oktober 2006.

Pada saat yang bersamaan, anggaran bagi pengadaan buku untuk sekolah dan perpustakaan hanya dijatah Rp 3,34 miliar. Insentif untuk peningkatan kesejahteraan guru di Kota Surabaya juga tidak pernah dipenuhi.

Bayangkan. Rasakan. Inilah yang bikin saya terus menerus dihimpit dendam luar biasa tatkala banyak orang foya-foya pakai duit rakyat untuk kompetisi yang tak pernah jelas arahnya.

Pada waktu bersamaan di sudut yang berbeda, banyak saudara saya mengemis dan menangis hanya sekedar untuk bisa mencicipi gerbang sekolah. Sebuah hak mendasar yang semestinya dijamin pemerintah. Tapi lihatlah kalkulasi dan alokasi anggarannya.

Sungguh, saya akan memburu mereka semua yang berkhianat pada kepercayaan yang telah dibebankan oleh rakyat. Tanggung jawab moral yang mesti digugat buktinya.

“Masyarakat tidak perduli karena mereka merasa tidak dirugikan. Dalam hal ini kan justru negara yang dirugikan,” tutur anggota DPRD Kota Kediri, Achmad Salis, dengan nada gemas. Kegemasan Salis di antaranya karena hampir-hampir tidak ada upaya untuk menuntut kerugian itu dari pemerintah daerah, yang dalam hal ini mewakili negara.

Kegemasan Salis karena sebagai wakil rakyat yang masih tajam nuraninya, ia paham di tengah naiknya pengajuan anggaran bagi Persik Kediri, yang juga kekuatan utama sepak bola Indonesia, terdapat keganjilan.

Bukan karen kenaikan pengajuan anggaran menjadi Rp 12 miliar pada tahun 2006 lalu dari Rp 3,6 miliar yang diajukan setahun sebelumnya. Bukan pula kenaikan setelah Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), ketika nilai pengajuan anggaran tahun 2006 disetujui menjadi Rp 22 miliar dari Rp 6,1 miliar yang disetujui setelah PAK setahun sebelumnya.

Juga bukan kenyatan bahwa pengajuan anggaran sementara, sebelum PAK, yang kini disetujui bagi Persik Kediri senilai Rp 15 miliar. Akan tetapi fakta bahwa pada saat yang bersamaan, anggaran jaminan kesehatan bagi warga kurang mampu justru turun drastis nyaris Rp 1 miliar.

“Selain (anggaran jaminan kesehatan bagi warga kurang mampu) itu sebetulnya masih ada lagi yang juga mencolok. Yang jelas, saat anggaran-anggaran lain turun, anggaran bagi Persik justru naik,” kata Salis. Contoh kecil disebutnya lagi, yang kali ini berupa sulitnya pemenuhan kebutuhan untuk pembelian alat-alat kesehatan, yang untuk periode November 2005 baru pada penghujung 2006 baru mulai terindikasi realisasi pemenuhannya.

Kegemasan itu semakin bertambah saat melongok kembali dana bagi Persik yang berasal dari APBD II, yang berarti murni dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada tahun 2006, dari total PAD Rp 49 miliar, Rp 30,245 miliar di antaranya disumbangkan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran.

Karena seluruh pendapatan RSUD Gambiran dikembalikan lagi, setelah dicatatkan sebagai PAD, maka menjadi pertanyaan menggelitik dari pos mana Persik Kediri mendapatkan dana untuk mengarungi kompetisi musim itu, yang mencapai Rp 22 miliar. Jika diasumsikan total PAD setelah dikurangi pendapatan RSUD Gambiran hanya sebesar Rp 19 miliar, lantas pos apa saja yang kemudian digunakan untuk membiayai sisa pengeluaran bagi Persik Kediri yang nyaris Rp 3 miliar itu?

Ya, paling mudah memang “menyunat” saja alokasi tertentu bagi rakyat banyak, seperti terlihat pada ilustrasi mengenai anggaran jaminan kesehatan bagi warga kurang mampu yang turun drastis. Karena memang ada apatisme luar biasa, yang di antara sebabnya karena pengetahuan yang kurang, di tengah masyarakat dalam menyikapi penyimpangan seperti ini. Lagi-lagi soal pemahaman pada pendidikan.

Salis berkisah, betapa sejumlah masyarakat justru lebih rela anggaran bagi klub kebanggaannya naik setiap tahun, karena lebih baik ketimbang dikorupsi secara “konvensional.” Dalam bahasa yang sederhana, Salis merumuskan bahwa perjuangan untuk itu laksana sekeranjang kebenaran yang berhadapan dengan segudang kebathilan.

Ia sendiri secara pribadi berprinsip tidak ada masalah dengan pembinaan olahraga, dan malah mendukungnya. Akan tetapi, sebelum semua itu dijalankan, persolan dasar berupa akses masyarakat luas terhadap pendidikan dan kesehatan mesti dijamin terlebih dulu.

Berupa alasan seperti, alat promosi daerah, ikon pemersatu masyarakat, dan segala rupa latar belakang artifisial selama ini sukses membius masyarakat banyak. Padahal, dunia sepak bola di Indonesia merupakan dunia multi kepentingan yang didalamnya termasuk pada kepentingan politik.

“Bisa untuk kepentingan mengumpulkan massa atau kumpulkan duit, atau juga ada kepentingan sebagai mata pencaharian bagi para kroni,” tutur Salis. Itu jika bicara klub divisi utama, pada divisi satu ke bawah kondisinya bisa makin parah karena minimnya kontrol.

Pengamat sepak bola dari Jatim, Andi Slamet menyebut, klub-klub di divisi satu ke bawah yang seharusnya menjadi pemasok pemain bagi klub divisi utama justru banyak mengontrak bekas pemain divisi utama. Demikian pula fenomena di klub-klub divisi utama asal Jatim yang cenderung memilih pemain jadi dibandingkan memanfaatkan hasil binaan sendiri.

“Mereka kebanyakan tidak memikirkan prograam nasional untuk membentuk timnas yang kuat. Ini sama dengan indikasi formalin (pada pengawetan makanan) yang mau hasil instan tetapi hasilnya penyakit,” sebutnya.

Akibatnya, grafik antara kepentingan politik dan pembinaan prestasi bisa digambarkan seperti orang yang menaiki gunung dan menuruni gunung pada sisi yang lain. Kondisi ini, imbuh Andi, berjalan semakin parah dari tahun ke tahun.

Menyusupnya kepentingan penyandang dana yang berbau politis, disebut Andi tidak perlu terjadi seandainya diperuntukkan secara jelas. Kucuran dana APBD yang harus habis untuk satu musim kompetisi, untuk kemudian dinaikkan besarannya pada musim selanjutnya memang jadi biang keladinya.

Andi memaparkan, seharusnya kucuran dana APBD itu dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana sepak bola, termasuk menyiapkan infrastruktur industrinya. “Tetapi kalau disini kan (dana APBD) itu adalah persoalan hidup matinya klub,” ungkapnya.

Padahal, menjamurnya jumlah klub akibat popularitas sepak bola tidak bisa dibendung. Akhirnya, banyak pemain muda tidak beroleh pembinaan maksimal akibat rendahnya kuantitas serta kualitas fasilitas.

Kembali pada orang-orang “punya nyali” yang berada di balik pertunjukan masif drama lapangan hijau di Jatim. Berdasarkan data yang dikemukakan Ketua Pengprov PSSI Jatim Haruna Soemitro, dari 38 wilayah kabupaten/kota di Jatim itu hanya Nganjuk yang kesebelasannya dikelola oleh kalangan pengusaha.

Selebihnya, dipimpin oleh para penguasa pemerintahan setempat. Tentu pertimbangan untuk menjatuhkan pilihan pada sepak bola, sekalipun sebagian besar unsur pimpinan daerah itu awam sepak bola, dilandaskan atas kalkulasi cerdas.

Sebagai cabang olahraga yang punya popularitas tinggi, tentu sepak bola jadi mekanisme redistribusi aset paling sesuai kepada rakyat jelata. Inilah panggung paling ideal bagi para pejabat daerah manapun untuk meraih simpati seluas-luasnya, dengan tujuan akhir melanggengkan kekuasaan.

Penguasa yang terus asyik masyuk dalam ekstase relasi kuasa dengan mengamini eksploitasi terhadap kebodohan dan kemiskinan rakyat kebanyakan. Sungguh, saya akan buru anda semua.

27 January 2008

Reuni Lagi

Kata-kata Albert Camus yang saya baca suatu ketika soal makna persahabatan sungguh mampu membuat saya membenamkan diri dalam renungan. Filsuf asal Perancis yang dianugerahi Nobel sastra pada 1957 itu kira-kira berujar begini “persahabatan terkadang berakhir dalam cinta, tapi cinta dalam persahabatan takkan pernah berakhir.”

Pendapat filsuf yang kerap diidentikan dengan aliran ekstensional dengan postulat bahwa dengan hilangnya kekuatan transedental maka bebas pula seorang manusia yang menjadikan ia berkuasa dan bertanggung jawab sepenuhnya. Anggapan soal identifikasi itu yang selalu ditolaknya, sehingga menjadikan Camus lebih lekat dengan filosofi absurdisme soal bagaimana upaya manusia untuk mencari arti di alam semesta ini bakal menemui kegagalan, karena sejatinya tak pernah ada arti yang benar-benar bisa dicari hubungannya, setidaknya dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Absurd. Pada Camus, absurdisme mewujud jadi dualisme ide. Soal hitam-putih, baik-jahat, kanan-kiri. Semuanya untuk memberikan tekanan supaya banyak orang mengapresiasi soal-soal kehidupan dan menghargai kebahagiaan. Bukan malah merayakan kejahatan dan hal-hal buruk di lembah hitam.

Seperti salah satu kata-katanya yang saya kutip di muka tulisan.

Baru saja saya ikut konferensi digital dalam jejaring dunia maya. Pesertanya hanya empat. Saya dan tiga sahabat yang saya kenal sedari SMA. Dalam hal ini aplikasi yahoo messenger yang punya peran besar memediasi kepentingan kami.

Seperti biasa, kami saling berbagi kabar terakhir. Soal kami atau soal siapa saja yang layak diobrolkan. Semuanya pasti diwarnai canda gila.

Sebelumnya saya perlu sedikit beri latar. Obrolan kami berempat pada waktu-waktu tertentu bisa berkembang jadi lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dan seterusnya. Bergantung pada siapa-siapa yang bisa, tertarik, dan sempat buat ngobrol soal macam-macam hal bersama.

Ini (akan saya bahas dalam lain tulisan) karena, sedari SMA memang tak ada batas ataupun sekat pergaulan dalam lingkungan kami. Siapapun bisa masuk dan pegang kendali. Soalnya memang tak ada tokoh sentral. Semuanya bisa jadi pemimpin dan pegang kontrol, sekaligus jadi pengikut dan mengamini keputusan paga saat yang bersamaan.

Jelasnya lagi, semua orang punya hak yang sama untuk dihina dan menghina. Yah, ini memang salah satu produk budaya kota besar, Jakarta, tempat kami semua rata-rata dibesarkan. Kota dimana semua kebudayaan bisa melebur jadi satu (melting pot), sekalipun percikan di sejumlah titik kota kerapkali masih kami rasakan.

Tapi, sekali lagi, rasa-rasanya saya belum pernah merasakan percikan serupa itu hadir dalam komunitas kami. Bukannya mau mencoba unggul sendiri dan menonjolkan diri kami, namun jika ada selisih paham, paling mentok hanya sekedar urusan yang lumrah terjadi di periode umur itu.

Periode umur yang kata seorang ahli perkembangan kemampuan kognitif, Jean Piaget, merupakan periode paling puncak dan terakhir dalam tahap pertumbuhan formal. Karena itulah, seorang sahabat saya yang lain dan termasuk yang juga saya kenal sedari SMA, punya teori menarik soal periode usia remaja yang dulu sama-sama kami jalani dengan ceria itu.

Kata salah seorang sahabat saya yang masih keturunan Timur Tengah itu, jika mau melihat seperti apa cermin dewasa seseorang, cukup perhatikan jejak rekamnya semasa SMA. Beberapa tahun kemudian, saya beberapa kali membuktikan kesahihan terorinya itu, meskipun terdapat juga bias di sana-sini yang menurut saya wajar saja dalam sebuah pengamatan gejala sosial.

Pada masa ini sudah ada pola pikir yang jelas dalam menghadapi dan mengantisipasi masalah. Karena itu pula, banyak ide dan imajinasi yang harus bisa terpuaskan saat menjalani periode usia ini.

Pada kasus kami (agaknya ini juga perlu saya eleborasi dalam tulisan lain), ada kelompok cheerleaders bentukan yang kami sahihkan dan merajalela di berbagai panggung ibukota. Jika bayangan orang kebanyakan soal sosok pemandu sorak yang melulu harus perempuan, maka persepsi itu sedikit kami redefinisi. Kenapa sedikit, ya, karena definisi yang berubah hanya dari soal perubahan kata “perempuan” menjadi “laki-laki.”

Soal peran maupun segala identitas sosial yang melekat dalam istilah pemandu sorak tadi tetap pada pemahaman awalnya.

Itulah sebagian fragmen kisah di masa-masa tersebut. Seolah semua hal bisa dan harus dikejar.

Meminjam sebuah kalimat dari Christina Aguilera yang kira-kira pernah ngomong begini, “gue selalu pengen album gue sendiri dirilis sebelum gue lulus dari SMA.” (I always wanted to have my own album released before I graduated from high school). Kira-kira itu kalimat diucapkan sembari menunjukkan tampang mupeng. Maka kira-kira begitulah letupan emosi kami buat menggapai segala ide yang membuncah di dada dan menggejolak terus di kepala.

Balik lagi dalam obrolan via jejaring teknologi digital tadi, seorang sahabat saya yang sedari dulu tertarik pada ide soal bagaimana logika modal menemukan pelabuhan idealnya bercerita soal warung sate yang mau dibukanya. Ceritanya, awal bulan depan bakal ada soft opening rumah makan itu.

Jadilah kami berencana berkumpul di tempat itu. Saya sendiri sebelum tahu ada rencana itu, sudah punya gagasan sendiri yang nyaris pasti soal kepulangan ke Jakarta pada hari-hari pertama di bulan Februari.

Rencana pernikahan yang insya Allah akan dijalani salah seorang adik perempuan saya jadi pembenar utama rencana mudik tersebut. Sebagai saudara kandungnya, sudah barang tentu peristiwa bersejarah itu tak mau saya lewatkan.

Kembali lagi soal rencana kumpul-kumpul kami di warung sate milik salah seorang sahabat saya tadi. Rencana yang sayangnya bukan hal mudah diwujudkan.

Soal kepentingan utama yang kini sudah jadi beda-beda di antara masing-masing kami. Terutama sekali itu jadi masalahnya, karena masing-masing dari kami kini sudah punya urusan sendiri-sendiri. Belum lagi jika bicara soal jarak dan waktu yang jadi salah satu penghalang besarnya.

Yeah, rencana ini memang baru sebatas kami diskusikan. Reuni lagi. Setelah beberapa waktu terpisah jarak dalam waktu yang panjang. Saya pun tak tahu pasti, siapa saja di antara kami yang bisa ikut serta dan saling bertemu muka nanti.

Lama mengobrol, satu di antara kami minta diri. Akhirnya obrolan itu bubar dengan sendirinya. Lama juga saya tepekur lagi memahami absurditas ala Albert Camus tadi.

Friendship often ends in love, but love in friendship - never." (Albert Camus, 1913-1960)



25 January 2008

Supakan Ariya

Satu troli besar berisikan barang-barang bawaan saya sorong kesana kemari dalam lorong-lorong di Bandara Suvarnabhumi, Racha Thewa, Bang Phli, Provinsi Samut Prakan, Thailand. Saya bukan sedang bingung cari gerai buat check in atau melacak lokasi loket imigrasi.

Hari itu saya sedang mencari tiket penerbangan paling cepat ke Jakarta, setelah pesawat yang semestinya saya tumpangi dengan pongahnya meninggalkan saya. Hmmm, ini terjadi bukan karena kesalahan maskapai penerbangan itu, juga bukan gara-gara keteledoran saya.

Tepatnya ini terjadi karena kelengahan seseorang yang mestinya membawa tiket saya untuk kembali ke Jakarta, ternyata malah melupakan tanggung jawabnya. Tiket itu rupanya masih tertinggal di Jakarta. Jadilah, saya luntang-luntung mencari setitik harapan di siang bolong itu.

Untunglah, ada beberapa orang yang punya informasi berharga buat saya. Juga dibantu petunjuk-petunjuk umum yang tertera jelas di beberapa lokasi. Sampailah saya di salah satu gerai maskapai penerbangan yang terkenal gara-gara sistem operasional dengan konsep low cost yang ujung-ujungnya berakibat jadi tiket low fare bagi konsumen seperti saya.

Itulah jadwal penerbangan paling cepat yang bisa saya temukan. Tapi itupun masih harus saya tunggu dalam waktu delapan jam ke depan. Tak mengapa, mungkin saja ada hikmahnya.

Jadilah aktivitas putar-putar bandara dengan luas terminal 563.000 meter persegi dan menara kontrol 132,2 meter, yang menjadikan Suvarnabhumi sebagai bandara dengan luas terminal terbesar kedua dan menara kontrol tertinggi nomor satu di dunia itu segera saya akrabi. Jepret sana, potret sini.

Saya pun mulai naik turun eskalator berkali-kali. Sebuah upaya menangkap aura bandara baru yang dibuka secara resmi 28 September 2006 sebagai pengganti Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand yang dibuka sejak 27 Maret 1914 silam.

Hasil nyata yang segera saya tuai adalah letih. Maka saya putuskan buat sekedar duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di lantai dua bandara yang punya konstruksi runway paralel (masing-masing dengan lebar 60 meter serta panjang 4000 meter dan 3.700 meter) dan taxiway paralel yang juga sempat mengalami kerusakan serius itu.

Diam. Soalnya hanya satu dua orang yang menemani saya duduk. Itu pun tak terjadi dalam durasi lama. Rata-rata hanya lima menit. Untuk kemudian beranjak lagi.

Hanya ada seorang perempuan muda yang duduk terpisah jarak hanya satu setengah meter dari posisi saya yang sedari tadi tekun dalam pandangan lurusnya ke depan. Kami berada di bagian kursi panjang yang sama.

Tertarik buat sekedar mengobrol, saya sapa dirinya. Sempat pula ia menyangka saya sebagai orang Thai, sebelum saya pastikan kepadanya kalau saya warga negara pengekspor pesawat ke negaranya sejak bertahun-tahun lalu. Juga setelah ia yakin dengan pasti mekanisme yang dulu sempat terjadi dari alur ekspor-impor itu adalah pembayaran dengan skema imbal dagang lewat hubungan antar pemerintah (government to government) dengan komoditas beras ketan yang negara saya terima.

Kami langsung telibat perbincangan hangat. Fokusnya soal pengembangan pendidikan di negara-negara berkembang. Lebih menohok lagi di kawasan seputar Asia Tenggara.

Sebelumnya, mungkin perlu saya ceritakan siapa rekan mengobrol saya yang dari kartu namanya tertera ejaan Supakan Ariya sebagai pengenal namanya. Dari usianya, ia hanya satu tahun di atas saya yang saat ini baru menjejak umur lewat satu tahun dari batasan seperempat abad.

Di usia begitu muda, ia rupanya sudah punya posisi puncak pada salah satu perusahaan kimia berskala internasional. Belakangan saya tahu lagi, ia berencana untuk melakukan “ekspansi” dengan mundur dari pekerjaannya selama ini, demi mencari tantangan profesional yang lebih besar.

Latar belakang pendidikannya relatif bagus. Ia keluaran sebuah lembaga pendidikan tinggi di belahan barat dunia. Karena itulah, segala ide yang dicerapnya bisa dengan mudah dideskripsikannya dan diterangkannya dengan lugas kepada saya.

Setidaknya ada tiga bahasa yang dikuasainya. Selain bahasa Thai, ia juga jago berbicara dalam bahasa Mandarin dan tentu saja mahir berbahasa Inggris. Lewat tata bahasa terakhir inilah kami saling bertukar pemahaman.

Katanya kepada saya, ia terlahir sebagai anak tunggal. Sebetulnya ia punya seorang suadara laki-laki. Tetapi itu adalah saudara tiri yang berbeda orang tua dengan sepasang orang tuanya kini.

Karena saudara tiri laki-lakinya itulah ia berada di bangku panjang itu dan tengah mengobrol bersama saya. Ia rupanya tengah menunggu kedatangan saudara tiri laki-lakinya itu, yang juga menempuh pendidikan tinggi di lain negeri.

Kembali pada fokus obrolan yang kami perbincangkan. Tak pula saya menyangka, ternyata ide yang membenam di dalam kepalanya punya kesamaan dengan mimpi-mimpi yang selama ini saya punya.

Soal pendidikan. Tentang bagaimana hak dasar itu mestinya bisa diperoleh dengan mudah dan murah. Akses maksimal yang harus dibuka untuk penduduk di seluruh negeri.

Perbincangan akhirnya sampai pada konstelasi politik di masing-masing negara. Soal-soal mengenai kekuasaan yang sangat memengaruhi kebijakan fokus soal yang tengah kami diskusikan.

Anasir-anasir politik yang selalu saja berkawan karib dengan kepentingan buat merengkuh kuasa. Mengeduk keuntungan. Menihilkan nurani.

Sama saja profilnya di tiap-tiap negara, terutama pada konteks negara-negara berkembang di kawasan Asia Tenggara yang sedang kami bicarakan.

Okelah, sesekali perbincangan memang masuk pula wilayah yang pop. Perbincangan seputar mengapa logika kapitalis selalu saja punya berbagai bias di dalamnya. Hingga hal itu pula yang merasukinya.

Soal-soal yang membuatnya punya kesimpulan bahwa perempuan-perempuan asal Vietnam lebih memiliki aura eksotis dan wanita-wanita dari China yang disebutnya punya kulit yang lebih bagus. Semuanya jika dibandingkan dengan “kenyataan-kenyataan” serupa yang ditemuinya pada bangsa-bangsa lainnya.

Sebuah topik bicara yang saya rasa perlu waktu lama buat membedahnya, karena saya rasa ini berarti pula ada upaya saya buat mendekonstruksi ruang paham pikirnya. Bahwa apa yang disebutnya di muka, sejatinya hanyalah upaya penguasaan yang sangat sistematis dari skenario besar tata dagang dunia.

Skenario yang akhirnya mendikte selera banyak sekali budaya di dunia, jika tak mau dikatakan semua. Sebuah kenyataan miris yang bisa ditangkap justru setelah elemen-elemen lokal pada berbagai budaya tadi lelap tergerus oleh selera global yang diatur sempurna oleh logika pikir pemilik modal besar.

Jadilah, untuk sementara saya hanya mesam mesem saja demi menanggapi betapa dengan semangatnya bercerita itu semua.

Tak perlu waktu lama buat mengembalikan fokus diskusi yang tengah memanas tadi. Sampai akhirnya saya meyakinkan padanya, jika semua mimpi ideal soal pendidikan tadi takkan bisa digapai jika terus-terusan berharap pada kesadaran pemerintah dan orang lain untuk memulainya.

Kata saya kepadanya, yang mulai manggut-manggut tanda setuju, ini semestinya dimulai dari diri sendiri. Saya yakinkan, kalau orang-orang seperti kita pun bisa memulai gerakan seperti itu.

Lakukan. Berikan. Apa yang jadi kemampuan kita sementara ini. Tak usah menunggu untuk sampai di puncak sebelum mulai mencicil mimpi-mimpi ideal kita. Tak perlu menunggu hal ideal terjadi sebelum mulai menjadikan sesuatu hal lainnya menjadi ideal pula.

Telepon genggamnya berdering nyaring. Ia pun minta diri, karena yang ditunggunya sudah tiba. Saya pun kembali pada aktivitas semula.

Dorong-dorong troli ke kanan dan kiri. Berharap masa penantian delapan jam segera saya lalui.





24 January 2008

Lisensi Mengemudi

Penunjuk waktu digital di dashboard Isuzu D Max berkelir perak yang saya kendarai menunjukkan sudah 30 menit lewat dari jam empat pagi. Pagi buta itu saya sedang dalam perjalanan dari Provinsi Nakhon Ratchasima (Korat) ke Provinsi Chonburi, Thailand.

Pattaya yang terkenal dengan wisata pantai, apalagi hiburan di malam harinya, adalah titik yang mau saya sambangi di Provinsi Chonburi itu.

Di tengah lamat-lamat suara yang keluar dari sistem audio terintegrasi dengan nyanyian artis Thailand yang nyerempet-nyerempet cempreng dalam ukuran saya, tiba-tiba kampas rem mobil bongsor berkapasitas mesin diesel 2.500 cc itu mesti rela saya siksa. Berdecit, karena tanpa dinyana ada sepasukan polisi lalu lintas dalam temaram cahaya, dua di antaranya bawa senjata laras panjang, yang lagi merazia tiap-tiap pengemudi.

Dari berkali-kali pengalaman kena razia polisi di malam atau pagi buta, baru kali ini jantung saya gondal gandul luar biasa. Bukannya kenapa-kenapa, karena memang baru kali ini secara nekat saya sopiri kendaraan tanpa punya lisensi resmi internasional buat mengemudikannya.

Sepanjang hidup, saya baru punya lisensi mengemudi dengan huruf kapital A dan C di pojok kanan atas. Dua-duanya saya bikin di Sidoarjo. Tempat saya, istri, dan anak saya tinggal selama dua tahun terakhir.

Keputusan yang membawa konsekuensi seluruh dokumen resmi yang menyatakan identitas kepunyaan saya harus berubah, dari yang semula berlogo monumen nasional di Jakarta menjadi tanda tangan beberap pejabat di Kabupaten Sidoarjo. Termasuk lisensi buat mengemudi.

Saya sendiri belum pernah sempat punya lisensi mengemudi yang diakui di berbagai negara. Tak ada secuilpun dokumen izin yang mengamini kelakuan nekat saya mengemudi mobil bak terbuka berkabin ganda di pagi buta itu.

Makanya, jantung saya makin gondal gandul luar biasa. Setelah dicegat razia tentunya.

Okelah, sebelumnya saya perlu cerita dulu latar belakang kelakuan nekat saya itu. Sama sekali bukan upaya saya untuk bela diri. Semata-mata hanya usaha buat mengajak kita semua melihat seluruh soal dan peristiwa dari aneka sudut saja.

Adalah Aot Samrid, pemilik Isuzu D Max yang punya kantung udara SRS ganda buat mencegah pengemudi dan penumpang depan cedera parah jika terjadi benturan frontal itu, yang jadi alasan saya nekat. Pria paruh baya yang lebih saya akrabi dengan panggilan Sam itu menyewakan mobilnya untuk dipakai.

Seharian penuh di hari sebelum pagi buta itu, Sam menyopiri saya dan teman-teman saya, yang membayari biaya sewa mobil itu karena sejatinya saya tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk biaya sewanya, kesana kemari mengelilingi Korat. Pagi-pagi buta itu, Sam sempat pula menyopiri kami lagi dengan rute Korat-Pattaya dengan waktu tempuh rata-rata lima jam yang belum diakrabinya.

Selama hampir satu jam Sam pegang kendali di balik kemudi. Selama itu pula saya yang duduk di kabin belakang, karena kursi penumpang depan diisi kawan saya yeng terlelap, cemas dan sedikit waswas. Sebagai manusia juga, saya tahu persis bahwa Sam pasti sangat letih.

Caranya mempertahankan kesadaran dengan perlahan mengikuti nyanyian artis Thailand yang nyerempet-nyerempet cempreng dalam ukuran saya, dari sistem audio yang terintegrasi makin membikin saya yakin. Sam sedang diserang kantuk.
Kawan saya yang duduk di sebelah adalah orang yang pertama-tama mengambil alih lingkar kemudi. Tak sampai lima menit, ia meminggirkan lagi mobil rakyat dengan fasilitas ABS dan EDB terintergrasi itu. Disebut mobil rakyat karena di Thailand mobil jenis ini dikenai tarif pajak lebih murah dan harga bahan bakar yang lebih murah dibandingkan jenis mobil lain semisal sedan atau minibus.

Rupanya kawan saya mengalami keletihan serupa. Jadilah ia dan saya bertukar tempat duduk. Setelah yakin sabuk pengaman terkunci rapi, pedal gas pun langsung saya bejek.

Sepanjang perjalanan di atas aspal mulus dengan bidang jalan sangat lebar itu saya sangat terbantu oleh tata lampu mobil diesel senyap yang pakai sistem proyektor bernama “ellipsoid” itu. Fungsinya untuk meningkatkan daya terang dan meningkatkan jarak pandang pengemudi untuk obyek-obyek yang jauh sungguh berguna.

Termasuk ketika tiba-tiba saya menangkap sosok petugas-petugas berseragam di pagi buta tadi.

Kembali pada sesi pemeriksaan bernama razia tadi. Seorang petugas langsung menghampiri kaca jendela sebelah kanan tempat pengemudi, karena Thailand juga pakai sistem lalu lintas dengan kemudi di kanan yang serupa Indonesia ini.

Petugas itu menghampiri saya, saya yang kemudian dengan kikuk menekan tombol pembuka kaca elektris.

Muka saya tegang. Seperti biasa, pada situasi model-model begini, telapak tangan dan kaki saya langsung dibasahi keringat. Sebuah akibat langsung perintah dari miliaran sel otak lewat yang sukses menghantarkan pesan “bahaya” lewat jaringan dendrite dan axon, setelah sebelumnya menerima informasi yang masuk dari lima indera saya.

Sementara ini saya merasa tidak punya indera keenam, jadinya semua respon saya selama ini ya pasti diproses setelah info dari lima indera itu diterima miliaran neuron di kepala.

Sam terjaga dari istirahatnya. Dalam bahasa Thai, dia menjelaskan kalau saya dan rekan-rekan kerja saya sedang dalam tugas resmi. Sebuah acara olahraga setingkat Asia Tenggara yang kami semua harus menginformasikannya pada orang-orang di Indonesia.

Soalnya Indonesia kan bagian dari Asia Tenggara.

Tetap saja, petugas itu minta lisensi mengemudi saya. Walaupun tak sampai menggertak, saya tahu dia sedikit memaksa. Jadilah saya buka pintu dan merogoh kantung belakang sebelah kanan celana.

Sampai disitu saya tiba-tiba teringat cerita sahabat saya sedari SMA. Ia cerita, kalau temannya pernah “lolos” dari razia serupa itu di sebuah negara, hanya dengan menunjukkan surat izin mengemudi (SIM) dari Indonesia.

Tapi upaya “gila” itu mensyaratkan penggunaan SIM dengan aksara C di pojok kanannya. Artinya hanya SIM untuk mengendarai motor di Indonesia yang bisa dipergunakan. Semuanya sambil dilengkapi kalimat “C is for car.”

Itulah yang kira-kira, secara nekat saya coba. Maka, di bawah temaram cahaya saya keluarkan SIM C made in Sidoarjo itu. Sambil saya katakan “mantra” sakti tadi.

SIM C saya segera berpindah tangan. Petugas berbadan tegap itu membawa lisensi mengemudi seukuran kartu kredit berbahan plastik tadi ke depan lampu mobil. Sambil dibolak-balik, ia bertanya dalam tata bahasa pergaulan internasional yang patah-patah, “international license?” Begitulah petugas beraut muka tegas itu bertanya kepada saya.

Dengan semangat membara, saya jawab dengan satu kata saja “yes.” Tentu sambil saya ulangi hingga beberapa kali “mantra” nan sakti tadi.

Setelah dibolak-balik lagi selama beberapa kali, lisensi mengemudi yang saya bikin di Sidoarjo itu kembali berpindah tangan. Petugas berbadan tegap itu dengan beberapa kali kata “ok” yang keluar dari mulutnya, mempersilahkan saya untuk kembali meneruskan perjalanan.

SIM C made in Sidoarjo itu pun kembali lagi ke salah satu ruang di dalam dompet kulit halus pemberian istri saya. Lingkar kemudi saya akrabi lagi. Tak banyak yang bisa saya katakan, selain sedikit cekikikan sambil kembali menekan perlahan pedal gas supaya perjalanan bisa diteruskan.

Lagi-lagi bukan upaya bela diri jika saya tulis kisah ini. Sebetulnya saya pun kepingin meminta maaf kepada petugas-petugas tadi jika bertemu kembali, yang bisa saja dihukum atasannya karena kenekatan saya, pada kisah tadi.

Namun, pikiran panjang soal kemungkinan gangguan pada keselamatan yang lebih jadi kepedulian saya. Bahwa, keputusan radikal yang kadang menuntut kenekatan memang mesti diambil. Tepat jam tujuh pagi, kami berempat sampai di gerbang Pattaya.



11 January 2008

orang kaya bodoh

Percayakah anda jika saya katakan sebagian besar orang kaya di Indonesia tidak cerdas. Banyak OKB alias “orang kaya bodoh.”


Artinya, proses mereka menjadi kaya dan punya banyak harta tidak mengandalkan pada pemahaman utuh soal ilmu pengetahuan. Bolehlah jika di antara mereka banyak pula yang berpendidikan tinggi. Tapi soal pemahaman dari kandungan filosofi berbagai ilmu yang dipelajari, sungguh nihil sekali.

Tentu saya tidak sedang asal bicara. Mari sama-sama lihat contohnya.

Wuussss. Satu unit Bayerische Motoren Werke (BMW) seri tiga yang punya garis desain sportif kuat keluaran terbaru, mengasapi muka saya pada suatu sore. Mobil bikinan Jerman yang seringkali dipelesetkan kepanjangannya sebagai Bring More Women itu melesat beribawa melewati sepeda motor yang saya kendarai.

Tertarik lekukan bodi barunya yang lebih aduhai ketimbang keluaran tahun sebelumnya, saya mencoba mendekat. Hanya berhasil merapat selama beberapa detik, saya dikejutkan ulah penumpangnya yang tiba-tiba membuka jendela kacanya yang digerakkan secara elektronik.

Mekanisme elektronis produk-produk mobil BMW yang namanya diresmikan pertama kali pada 1917 oleh Gustav Otto dan Karl Rapp itu terbilang rumit. Lanjutannya terbawa pada harga suku cadang dan biaya perbaikan yang membubung.

Bisa saja sih bi-em tadi diserahkan pada sejumlah pebengkel tanpa lisensi. Namun garansi pabrik bisa langsung gugur, dengan kemungkinan besar kerusakan awal tadi merembet jauh kepada mekanisme lainnya.

Balik lagi ke BMW seri tiga keluaran anyar yang tiba-tiba wuusss di depan saya tadi. Selagi setengah kaca jendelanya terbuka, tanpa saya duga ada “wuusss” kedua hampir mampir ke muka saya.

Mau marah, kaca jendela tadi buru-buru tertutup lagi. Mau diam saja ya gondok alang kepalang.

Bagaimana tidak, jika “wusss” kedua yang dilempar lewat kaca jendela tadi berupa sampah anorganik. Serupa plastik, karena saya pun tak yakin itu plastik. Kesal. Tentu saja rasa itu buru-buru membuncah di dada.

Padahal slogan BMW sempat dikumandangkan bekas gubernur Betawi, Wiyogo Atmodarminto. Supaya warganya makin Bersih, Manusiawi, berWibawa. Sayangnya kali ini, slogan BMW itu kabur cepat dibawa BMW seri tiga keluaran baru yang saya tak yakin warna catnya.

Cerita mirip-mirip begini saya alami berkali-kali. Kadang-kadang saya tidak sedang diasapi BMW ketika itu terjadi. Bisa jadi yang melakukannya pengendara atau penumpang berbagai rupa SUV aneka merek yang masuk kelas premium.

Modusnya sama. Jenis sampahnya berupa-rupa. Mulai kulit pisang hingga puntung rokok.

Tapi semua pelakunya punya kesamaan. Sama-sama bodoh.

Kali lain saya temukan banyak sekali selokan tergenang hebat. Aneka sampah menumpuk disana.

Ironisnya saluran buangan air kotor itu termangu malas di depan jejeran rumah-rumah megah. Kalau saya punya uang seratus juta rupiah pun, dan nekat menebus satu unit saja dari jejeran rumah disitu, niscaya anjing penjaga rupa-rupa jenis seperti terrier, hound, hingga doberman adalah yang paling pertama memburu saya.

Ah, inilah lagi potret gagal soal pemahaman pendidikan yang belum bulat. Jadi lingkaran setan, karena banyak pula yang belum berpendidikan punya anggapan utuh kalau pendidikan tadi tak bisa mengangkat nasib.

Apa yang dilihat kebanyakan memang jejeran orang kaya bodoh yang seenak perutnya memamerkan hartanya, dan mempertontonkan kedunguannya. Jadilah persepsi itu tak lekang.

Tak usah jadi pintar dan memahami ilmu kalau hanya ingin kaya. Cari jalan pintas saja. Buang saja sampah itu sembarangan.

Banjir? Kan ada bantuan dari pemerintah. Pemerintah pun setali tiga uang pemahamannya.

Banjir? Kan berarti ada proyek. Kalau mendidik banyak orang supaya mereka pintar dan punya pemahaman utuh terhadap ilmu? Tunggu dulu.

Bisa dijadikan proyek tidak? Ada untungnya nggak?

Kalo nggak ya jangan deh. Ntar kalau tambah banyak orang yang pintar dan paham ilmu, susah dong ngadalin orang-orang itu lagi. Nggak bisa dong “serangan fajar” lagi kalau pas hajatan politik digelar.

Ah BMW, kini banyak pula di antara badut-badut itu yang menumpang kenyamanan padamu. Padahal kau lebih nikmat dikemudikan.
yah, apa saya bilang kan. memang bodoh.

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.