29 February 2008

Penyikat Rakyat

Bayangkan situasi seperti ini. Ruang tertutup, dengan sejumlah pendingin udara beroperasi pada kemampuan maksimal.

Semua jendela ditutup. Puluhan orang duduk dalam jarak dekat satu sama lain.

Sekali lagi, semua akses keluar masuk ditutup. Demi menjaga hawa dingin yang keluar dari mesin penyejuk ruangan buatan Jepang tak dikalahkan suhu panas di luar.

Lalu, puluhan orang tadi ramai-ramai menyalakan rokok mereka. Menghisapnya dan mengepulkan asap tebal beraneka aroma.

Mulai yang tercium keras menyengat hingga yang terbau seperti tisu terbakar. Dari yang berbunyi kretek-kretek hingga yang bersuara elegan dan hanya mengeluarkan bunyi seperti sssshhh.

Puluhan orang itu sedang bicara soal hajat hidup orang banyak. Mengenai nasib rakyat.

Segala aturan hukum dibahas. Aspek yuridis formal dibumbui semua hal yang sepertinya bakal menguntungkan nasib banyak orang lagi dibicarakan.

Ruang tertutup yang sejumlah pendingin udaranya dinyalakan dengan tambahan pekatnya asap rokok beterbangan tadi adalah ruang rapat resmi wakil rakyat.

Dewan perwakilan yang katanya terhormat dan kabarnya punya kehormatan.

Dalam ruangan itu hadir pula sejumlah tokoh ahli. Tokoh yang di depan namanya punya embel-embel mentereng, profesor.

Predikat yang disematkan gara-gara jadi guru besar salah satu disiplin ilmu di perguruan tinggi tertentu. Tapi, lagi-lagi ia pun asyik masyuk dengan sebatang rokok kretek yang dimasukkan dalam sebuah pipa dari gading berwarna coklat.

Maka saya ragu. Apakah ia profesor, prosesor, atau kompresor.

Saya yang terpaksa hadir dalam ruangan itu sudah mengeluarkan semua jurus. Mulai mendehem-dehem ringan sampai batuk-batuk dalam intensitas tinggi.

Sejak menendang-nendang kursi hingga protes keras dan langsung.

Toh, asap pekat masih terus mengepul.

Membuat mata makin perih dan sesak seperti menggumpal di dada.

Situasi belum berhenti sampai disitu. Soalnya pembahasan pun melebar jauh dari fokus asal.

Minimnya penguasaan persoalan jadi biang keladinya. Belum lagi tak ada catatan yang merekam soal isi pembicaraan.

Membuat pembahasan terus berputar layaknya komidi putar di pentas pasar malam.

Semua masih ditambah dengan kehadiran nakal tak kurang dari 4.000 jenis bahan kimia beracun dalam setiap batang rokok yang dinyalakan. Racun-racun kimia yang di antaranya termasuk zat radioaktif polonium-201, DDT yang lazim jadi racun serangga, hidrogen sianida yang kerap jadi “gas maut,” serta tentu saja, nikotin, tar, juga karbon monoksida saling berebut tempat memasuki paru-paru saya.

Padahal saya tengah berupaya serius mencari peretas buat melihat jernih masalah tak jelas yang mereka semua sedang berdebat kusir dengannya. Saya sungguh berusaha untuk itu.

Apa daya, saya harus disibukkan terlebih dahulu dengan upaya meringankan dada yang semakin sesak. Belum lagi mata yang jadi berair dan kepala yang sontak mengirimkan sinyal nyut-nyut.

Tapi saya tetap harus berada dalam ruangan itu. Supaya bisa mencari peretas buat melihat jernih masalah tak jelas yang mereka semua sedang berdebat kusir dengannya.

Maka saya pun jadi tak yakin kalau mereka sedang bicara soal nasib rakyat. Mungkin mereka malah sedang berupaya menyikat rakyat.

Itu adalah kemungkinan terbaik yang mampir di benak saya.

Padahal lagi, kadang-kadang apa yang mereka perdebatkan adalah soal-soal kesehatan buat masyarakat banyak.

Tapi saya tak yakin mereka benar-benar peduli.

Sudah hampir empat jam saya berjibaku dengan gumpalan asap pekat yang menyergap ke segala penjuru. Terus bergerak mencari bangku-bangku kosong yang tak ada rokok menyala di sekitarnya untuk berpindah dan sekedar menarik nafas.

Panas.



28 February 2008

Berkah Syariah

Nyaris dua tahun ini saya gunakan jasa perbankan syariah sebagai perantara kredit kepemilikan rumah. Selama itu pula saya buktikan janji awal mereka yang menjamin takkan ada penyesuaian setoran cicilan tiap-tiap bulannya.


Sehebat apapun tingkat inflasi ataupun gejolak naik turunnya suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Tak berpengaruh karena perbankan syariah punya instrumen non SBI bernama Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI).

Pengalaman awal menggunakan jasa perbankan syariah itu diikuti pilihan serupa saat memutuskan untuk membeli produk-produk investasi lainnya, beberapa waktu kemudian.

Memang belum terlalu bergairah, karena Jakarta Islamic Index (JII) yang menjadi indeks perdagangan syariah di Bursa Efek Jakarta yang mulai jadi Bursa Efek Indonesia sejak Desember 2007 karena bergabung dengan Bursa Efek Surabaya, baru punya 30 emiten.

JII sendiri hanya salah satu indeks di BEI selain enam indeks lainnya. Masing-masing Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks Sektoral, Indeks LQ45, Indeks Individual, Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan, serta Indeks Kompas 100 yang merupakan 100 saham pilihan Harian Kompas.

Namun, kegairahan diperkirakan bakal meninggi pada tahun-tahun mendatang. Beberapa waktu lalu saya sempatkan berbincang ringan dengan salah seorang pengamat perbankan syariah di Indonesia mengenai soal-soal ini.

Katanya, pada 2009 mendatang diperkirakan akan semakin banyak bank-bank syariah asing yang beroperasi di Indonesia. Itu dengan catatan belum ada regulasi yang diterapkan oleh pemerintah untuk membatasi kehadiran bank-bank tersebut.

Ia menyebutkan, setidaknya dalam waktu dekat akan masuk Malaysian Islamic Bank yang akan bekerjasama dengan Bank Muamalat untuk beroperasi di Indonesia. Selain itu ia juga menyebut beberapa bank asing lain seperti Jordan Bank, Kuwait Financial, dan City Islamic Bank dari Bahrain.

Dijelaskannya, dana dari bank-bank asing yang akan masuk ke Indonesia tersebut berkisar antara 50 juta dollar Amerika Serikat (AS) sampai 100 juta dollar AS.

Kecenderungan ini, katanya, semakin menguat seiring dengan semakin mengalirnya Dana Pihak Ketiga (DPK) ke perbankan syariah. Menurutnya, saat ini setiap bulannya terjadi penarikan dana dari perbankan konvensional ke perbankan syariah hingga Rp 1 triliun lebih.

Soalnya, saat ini para pengusaha itu melihat jika menempatkan dananya di perbankan syariah, maka selisih efisiensi investasi (margin efficiency to invest/MEI) lebih besar dibandingkan selisih efisiensi modal (margin efficiency to capital/MEC) yang didapatnya dari perbankan konvensional.

Hal itu masih ditambah lagi dengan mulai mengalirnya DPK di perbankan syariah yang sebelumnya menganggur (iddle) di Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI). Dana-dana menganggur mulai banyak mengalir ke sektor riil, dengan besaran yang signifikan.

Soalnya jika terus dibiarkan mengendap di SWBI, di dalamnya masih terkandung apa yang dinamakan dengan Rate of Interest/ROI. Ini secara bebas bisa diterjemahkan sebagai riba atau bunga.

Bunga yang jadi prinsip dasar mengambil keuntungan dan tak dibolehkan praktiknya dalam sistem keuangan syariah.

Biasanya, pola kerjasama yang dibangun untuk mengalirkan DPK ke berbagai sektor produksi adalah dengan menerapkan productivity sharing dan product sharing.

Selain penempatan DPK di sektor perbankan, perkembangan obligasi syariah dinilai juga akan mulai marak. Pada perkembangannya, obligasi syariah itu juga digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif (production activities) yang akan memacu sektor riil.

Hari ini saya kembali mengunjungi salah satu gerai investasi syariah yang berasa teduh itu. Rasa gerah pun tak perlu menyergap saya saat keluar dari gedung sederhana itu.
Berkah.

24 February 2008

Jalan Aturan

Nyaris dua pekan silam lalu saya didapuk jadi narasumber pendamping di sebuah acara kongkow-kongkow yang disiarkan salah satu stasiun radio dengan jaringan di sejumlah kota Nusantara. Topiknya lumayan panas.

Nasib salah satu kesebelasan sepak bola yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia.

Tim ini sudah berminggu-minggu jadi sasaran empuk perhatian luas sejumlah kalangan.

Mulanya karena “serangan” sejumlah klub yang merasa memiliki kesebelasan sepak bola yang jadi ikon salah satu kota besar di Inonesia itu terhadap ketua umumnya. Lantaran alasan ketidakpuasan, sang ketua diminta mundur saja.

Tawar menawar yang dibumbui aneka manuver terjadi berhari-hari. Menimbulkan analisa dan komantar macam-macam. Seringkali justru malah keluar dari titik awal persoalan.

Paling sulit saat varian politik ikut masuk dalam perseteruan. Wajar saja, salah satu poros sepak bola nasional ini hingga tahun lalu masih disuapi oleh asupan dari duit rakyat.

Dana APBD hingga berbelas-belas miliar yang tandas ludes. Semua demi mendanai perjalanan kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi.

Prestasi yang sangat jeblok jadi titik masuk paling ideal buat menggelar upaya “kudeta” tadi.

Dicermati ujung pangkalnya, sejatinya persoalan yang timbul mula-mula disebabkan kekhawatiran belaka. Ketakutan soal panggung yang bakal tergerus tatkala era profesional mulai dijalani kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia itu tadi.

Sebelumnya mungkin perlu djelaskan, niatan PSSI buat menggelar Liga Super pada musim 2008 yang hingga kini belum jelas ujung pangkalnya, telah membuat sejumlah kesebelasan berbenah. Soal Liga Super 2008 yang menurut saya belum siap segala faktor pendukungnya dan akan lebih baik jika ditunda saja mungkin bakal saya paparkan pada lain tulisan.

Tak terkecuali persiapan yang digelar kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi.

Pagi-pagi benar sang ketua umum memaparkan rencananya buat melompat ke era profesional tadi. Dia bertekad bulat buat tak lagi mengemis dana APBD pada tahun ini.

Maka dicarilah investor yang mau jadi sponsor. Bentuk usaha buat mendatangkan untung pun dirancang.

Komposisi saham dihitung. Ada yang buat investor, terdapat pula bagian publik. Klub-klub yang sedari awal merasa memiliki kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi tak dikecualikan dalam penyertaannya.

Namun rupanya itu dinilai belum cukup.

Rasa memiliki yang dipicu beban sejarah membuat klub-klub yang sedari awal merasa memiliki kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi tak mau melepas begitu saja rencana buat jadi profesional itu. Belum lagi, ini yang sepertinya jadi faktor terpenting, rasa aman di zona nyaman yang selama bertahun-tahun ada karena gelontoran pasti uang publik dan enggan begitu saja buat dilepaskan.

Berminggu-minggu kedua pihak ini berkonflik. Saling adu dan lempar ancaman juga argumen. Membuat banyak orang terpancing pusaran keadaan.

Jadilah, dalam acara kongkow-kongkow tadi, hal pertama yang saya ajukan buat pembahasan adalah soal aturan dasarnya. Soal siapakah pemilih sah kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi.

Ini penting sebagai dasar pembahasan soal-soal selanjutnya. Ini penting mengingat selama berminggu-minggu lamanya tak ada sentilan, umpatan, makian, ataupun keinginan buat melongok sebentar saja soal aturan itu.

Fakta yang kemudian bulat tersaji adalah kejutan.

PSSI, lewat kepanjangan tangannya di daerah itu yang membawahi pula kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi jelas-jelas menyatakan kalau klub-klub penggugat tadi sama sekali tak ada hubungannya dengan kesebelasan yang lagi digoyangnya.

Hubungan karena fakta sejarah ada, namun relasi organisasi mestinya sudah hilang sejak empat tahun lalu. Faktanya, kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi berdiri sendiri dan tak terkait dengan klub-klub tadi.

Kenyataan yang ada, posisi kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi malah setara dengan klub-klub yang mau “kudeta” tadi. Setaraf semuanya di bawah perwakilan organisasi formal sepak bola Indonesia yang ada di kota itu.

Maka, semua pihak pun terbelalak.

Termasuk organisasi yang punya otoritas di daerah yang membawahi organisasi formal sepak bola Indonesia yang ada di kota itu tadi. Mereka terkejut juga demi menyadari keputusan mereka belum punya dampak ikutan di bawah.

Selama empat tahun itulah semua pihak berjalan dalam wilayah abu-abu.
Tidak hitam juga tidak putih.

Basisnya hanya satu. Kepentingan yang bermuara pada uang.

Jadilah, ketika muncul riak-riak kecil, dengan mudahnya semua pihak bisa mengklaim kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi sebagai milik mereka. Semua orang dengan gampang mengail di air keruh.

Segalanya gara-gara aturan yang ada tak pernah dijalankan. Jadilah, saya kembalikan lagi pokok soalnya pada aturan.

Kata sang ketua umum kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi, upaya buat mengembalikan persepsi ideal tadi bakal segera dilakukan.

Klub-klub yang semula merasa paling memiliki kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi dan sempat mau melakukan “kudeta” lalu mengiyakan posisi mereka sesungguhnya. Tensi tinggi selama beberapa minggu pun mulai turun.

Esoknya kedua kubu itu bersepakat damai. Sang ketua umum kesebelasan yang jadi ikon salah satu kota besar di Indonesia tadi, kembali bersemangat meracik timnya.

Sekalipun kompetisi sepak bola Indonesia pada tahun ini belum jelas kapan bakal diputar. Ajang adu prestasi yang menurut saya, memang sebaiknya dihentikan dulu sementara.

Calon investor kembali dibidik. Segala potensi kelemahan dan kekuatan berikut kesempatan dan ancaman diinventarisir lagi.

Saya pun menerawang dan meyakinkan diri sendiri. Bahwa jika memang ada kemauan buat kembali pada aturan, nihilnya pihak yang tersakiti bakal jadi keniscayaan.

Aturan membimbing menuju jalan keadilan. Pada titik inilah pentingnya peran pendidikan yang dipahami secara utuh.

Bahwa aturan dibuat dan disepakati untuk menciptakan keteraturan. Bukan malah dikangkangi.

Diakali. Dilanggar.

23 February 2008

Citius, Altius, Fortius, Lantas Hapus (?)

Henri Didon (1840-1900), adalah kreator moto Olimpiade Citius, Altius, Fortius yang berarti lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat. Selama lebih dari satu abad, konsep mengukur kecepatan, ketinggian, dan kekuatan yang diciptakan pastor asal Perancis itu telah jadi ukuran bagi hampir setiap atlet di muka bumi.

Sejumlah atlet dari berbagai cabang olahraga sejak itu kemudian terus menorehkan prestasi hingga ke level internasional. Mereka terus berlomba jadi yang terbaik.

Tidak terkecuali atlet-atlet dari Indonesia. Tapi, cucuran keringat serta rasa bangga usai tiba di puncak dunia, kemudian berganti perasaan cemas luar biasa.

Tumpukan piagam serta piala yang tiba-tiba jadi tidak berharga membuat segala daya dikerahkan untuk bisa sekadar bertahan. Berbagai persoalan yang membelit kehidupan atlet, dimulai ketika seseorang berkeinginan menjadi seorang atlet, berproses menjadi atlet, hingga ketika seseorang telah menjadi atlet itu sendiri.

Masalah menjadi semakin kompleks ketika atlet sudah melewati masa keemasannya, alias ketika waktu pensiunnya telah tiba.

Bonus besar yang diharapkan bisa jadi modal mereka berwirausaha amblas tak berbekas. Karena keinginan untuk memulai bisnis justru baru timbul ketika masa keemasan sudah lewat.

Sebuah pilihan rasional ketika banyak di antara mereka menuntut agar segera diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), karena jaminan hari tua yang sudah pasti. Padahal, formasi sebagai PNS belum tentu tersedia pada setiap periode tertentu.

Apalagi, banyak terjadi kasus-kasus dimana prestasi justru melorot tatkala dihadapkan pada rutinitas pekerjaan.

Perubahan paradigma untuk selalu berorientasi menjadi PNS perlu dilakukan. Tetapi itu juga bukan hal mudah, di tengah pandangan masyarakat umum yang menganggap pilihan sebagai PNS adalah yang terbaik.

Isu mutasi atlet ke luar daerah pembinaannya, jadi fenomena menarik yang sedikit tersembul. Motifnya apalagi kalau bukan soal kesejahteraan.
Apalagi buat mereka yang sudah di penghujung karir.

Jadi, karena ini adalah gelanggang terakhir, maka kompensasi terbaik mesti didapatkan.

Sayangnya, KONI sendiri belum seberapa arif menanggapi hal ini. Produk hukum yang tertuang dalam UU No 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional memang sudah ditetapkan.

Tetapi melihat prestasi atlet dalam konteks lokal tetap saja jadi acuan bagi banyak sekali KONI daerah serta induk organisasi cabang-cabang olahraga di Indonesia. Keinginan untuk mencipta atlet handal untuk berlaga di pentas internasional, tidak peduli mewakili daerah mana atlet berjuang menjadi yang lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat, hampir tidak pernah tercetus.

Tarik menarik kepentingan terus saja terjadi. Satu pihak mengejar kesejahteraan hidup, pihak lain menginginkan nama baiknya sebagai pembina atlet tetap terjaga.

Para atlet yang kebanyakan berkiprah di dunia amatir itu pun akhirnya banyak yang seperti sosok profesional. Tawar menawar antara kemampuan yang dimiliki dengan ukuran nominal semakin sering terjadi.

Sebuah praktik yang turut disuburkan pula oleh kehadiran calo atlet yang ingin mereguk keuntungan.

Disodorkanlah konsep industri olahraga yang sudah sangat matang di negara-negara maju. Persoalannya, konsep ini diadopsi secara mentah tanpa melihat masalah di lapangan. Soal-soal mendasar yang terhampar di Nusantara.

Sudah jadi hal klasik, bahwa mengurusi olahraga di Indonesia kadung dianggap sebagai proyek rugi ketimbang meraup profit. Kemudian, hampir tak ada investor yang secara serius mau menggarap ini.

Atlet sebagai aset mestilah didorong lewat sebuah proses yang mengukur serta menghargai keseluruhan aspeknya sebagai manusia. Dalam hal ini motivasi yang bernuansa psikologis, ketimbang melulu soal pencapaian target prestasi jadi sangat penting.

Kesejahteraan mesti jadi sorotan utama yang mesti diperhatikan. Persoalan pendidikan atlet, hingga kemudahan-kemudahan birokrasi saat harus berlaga mewakili nama negara juga harus jadi perhatian utama.

Pernah ada tawaran menarik dari pemerintah soal pelatihan kewirausahaan bagi para atlet. Tentu setelah itu harus pula dipikirkan soal permodalan serta jaringan pemasaran, agar program ini tidak terkesan hanya sekedar memindahkan masalah semata.

Atlet juga mesti mulai dinilai kinerjanya saat masih dalam tahap pembelajaran serta pertumbuhan. Artinya, proses mesti lebih dihargai ketimbang hasil akhir yang melulu bicara soal medali.

Perspektif pelanggan, dalam hal ini investor sebagai basis industri olahraga, juga mesti diperhatikan. Bentuknya bisa jadi macam-macam.

Sebuah konsesi saling menguntungkan untuk menggarap sebuah momen akbar keolahragaan bisa jadi pilihan. Produk baru dengan cepat bisa bermunculan, mendorong atlet menjadi bagian inti di dalamnya.

Lalu apa lagi? Tentu saja eksekusi strategi-strategi tadi secara terus menerus serta penyelarasan yang akan mencipta sinergi, akan cepat menjadikan impian jadi kenyataan, sekalipun bakal diwarnai banyak kegagalan, karena menjadi atlet terbaik bukan hanya persoalan citius, altius, dan fortius.

Jika hanya ini yang jadi ukuran takaran, tak lantas salah jika ditambahi jadi satu konsep lagi. Hapus.

Ujung soalnya, apalagi kalau bukan pemahaman pada pendidikan. Paham. Pendidikan.



21 February 2008

Sandal Pilkadal


Mesin bensin dengan sistem injeksi elektrik buatan lima tahun lalu itu menderum ringan. Putaran mesin berkapasitas isi silinder 1.800 sentimeter kubiknya saya batasi tak lebih dari 2.000 putaran per menit. Gigi transmisi hanya berkutat di nomor satu hingga urutan dua.

Dari balik kaca jendela depan, di jalan desa dengan lebar tak lebih dari lima meter itu, puluhan orang bersepeda motor menguasai badan jalan. Membuat pengendara lain tak punya kesempatan terbaik untuk mendahului mereka.

Termasuk yang punya hajat darurat, karena kecepatan yang diperagakan puluhan orang tadi dari atas motornya tadi sungguh sangat lamban.

Jagoan-jagoan tengik itu meraung-raungkan mesin yang biaya bahan bakarnya didanai kepentingan mereka menuju ke sebuah pertemuan politik di sebuah tanah lapang desa tersebut. Ada yang berdiri. Ada pula yang sambil iseng mengangkat tingi-tinggi kedua sepasang kaki, dengan bokong yang masih melekat di atas sadel.

Membuat pengguna jalan lain terpaksa minggir. Pejalan kaki yang sudah minggir jadi semakin minggir dan merapat ke pagar terdekat. Mengindari setan-setan jalanan.

Unjuk kekuatan. Mungkin itu yang mau mereka tunjukkan. Tetapi sungguh bagi saya terlihat seperti drama kebodohan.

Sebuah percik kecil dari kebodohan luar biasa besar yang membingkai utuh potongan kisah dungu para jagoan tengik tadi.

Tiga hari terakhir ini saya punya kesempatan melihat langsung proses politik di sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jatim. Proses yang akan menentukan siapa jadi pemimpin daerah itu untuk lima tahun ke depan.

Pesta menjijikan para politisi yang sering berlindung di balik topeng istilah pesta rakyat. Pemilihan kepala daerah secara langsung.

Pilkadal.

Unjuk kebodohan yang dipergakan para jagoan tengik tadi hanyalah salah satu eksesnya. Akibat langsung dari niat bulus buat menguasai panggung politik dengan hasil akhir menjamah utuh ranah kekuasaan. Supaya bisa lebih banyak lagi keuntungan didapatkan.

Agar makin hebat lagi pamor kuasa yang bisa menentukan segala.

Pada kesempatan ini ada empat calon penguasa tersedia. Saya tak mau pakai istilah calon pemimpin, karena kata ini punya konsekuensi yang lebih besar ketimbang sekedar jadi penguasa.

Keempatnya sempat saya ajak buat sekedar ngobrol santai. Buat yang pertama, saya langsung mencecarnya dengan rencana mula-mula yang dimiliknya jika jadi penguasa nantinya. Ia seorang pengusaha yang dalam hajatan para politisi kali ini punya sokongan dana luar biasa besarnya.

Saya sungguh amat nelangsa melihat banyak calon warga yang bakal dikuasainya kelak punya tingkat pendidikan yang amat memprihatinkan. Jadi, dalam rumah barunya yang didesain bergaya minimalis dengan perabot yang punya roh sama namun sungguh berharga maksimalis, saya cecar ia soal isu tadi.

Dengan sebatang rokok yang asapnya terus mengganggu saya sepanjang obrolan, ia hanya katakan sepotong rencana untuk mengadakan balai-balai latihan buat memenuhi kebutuhan praktis.

Kebutuhan dunia industri. Sebuah dunia yang lapangan bermainnya saja belum ada. Belum tertata, dan bahkan tidak ada dalam rencananya mula-mula.

Jadi saya sentil ia dengan itu. Dengan bersemangat pula ia katakana akan menggandeng investor kaya buat merealisasikan itu semua. Tentu, karena banyak warganya yang jadi petani, tekanan utama perlu diberikan untuk sektor agroindustri.

Termasuk bagaimana industri pupuk dan obat-obatan buat berjenis-jenis tanaman bisa direkayasa, diproduksi, dan dijual.

Namun saya ingatkan lagi, sebagian besar lahan pada daerah yang akan dikuasainya nanti sudah masuk dalam fase kritis. Terlalu renta akibat sedemikian lama digerojok bahan-bahan kimia buat menambah unsur hara.

Saya pancing ia dengan konsep pertanian organik. Ide yang secara tiba-tiba membuatnya bersemangat, karena merasa seperti sedang dapat tepukan tangan.

Katanya, tentu saja pertanian organik jadi sebuah keharusan. Sebuah jawaban yang membuat saya makin keki, karena baru saja ia katakan buat menggerojok lahan dengan jaminan ketersediaan pada pupuk-pupuk industri.

Belum lagi saat ia katakan mau menggratiskan saja biaya pendidikan hingga tingkat menengah pertama. Kata-kata yang kemudian ia ubah lagi karena menurutnya masih akan sangat tergantung dari dari anggaran yang bakal bisa disediakan.

Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.

Maaf untuk saya katakan, jika tak ada jawabannya yang bisa membuat saya terpuaskan. Karena ungkapan yang terus melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.

Sungguh membingungkan.

Lalu saya bertemu dengan calon penguasa kedua. Ia bekas tentara. Puluhan tahun menjadi serdadu.

Seperti filosofi peluru yang melesat tanpa ragu, maka seperti itu pula kira-kira calon penguasa kedua ini.

Seorang bekas serdadu yang terbukti sukses menjalankan dwi fungsi tentara di masa lalu. Posisi terakhirnya sebagai komisaris utama dan presiden direktur dua perusahaan berbeda membuktikan itu.

Calon penguasa yang sudah puluhan tahun melanglang buana keluar dari kampungnya ini merasa sangat perlu mengidentifikasi lagi karakternya. Soalnya banyak orang sudah melupakan siapa dirinya.

Jadilah, ia demikian bernafsu mendatangi tempat lahirnya. Mendatangi satu-satu orang-orang di wilayah yang sudah berpuluh tahun ditinggalkannya.

Tanpa sungkan didatanginya pemilik rumah yang jadi tempatnya menumpang dilahirkan, dan mencoba sekuatnya mengingatkan sang pemilik rumah kalau dirinyalah si anak hilang.

Membuat banyak orang jadi makin heran. Sehingga ia berulangkali mesti menegaskan janji buat menomorsatukan tanah kelahirannya itu jika jadi penguasa kelak.

Janji yang dibungkus modus balas budi.

Pemahaman pasti soal belati yang pasti berkarat jika tak ada yang merawat. Itu pula yang terus menerus dilakukan calon penguasa ini pada orang-orang yang jadi calon penguasaannya kelak.

Saya tanya kepadanya, masih dengan pertanyaan serupa pada calon penguasa pertama. Soal pemahaman orang-orang terhadap pendidikan.

Lagi-lagi calon penguasa kedua ini hanya punya solusi parsial.

Setelah menjanjikan soal-soal pertanian yang katanya bisa diretas dengan sangat mudah jika ia berkuasa, lagi-lagi hanya sekedar balai-balai pendidikan dan latihan yang katanya bakal digerakkan. Supaya tercipta banyak tenaga-tenaga terampil yang bisa siap segera dipakai.

Calon penguasa ini juga punya rencana serupa almarhum penguasa orde baru yang terhadap BJ Habibie berpuluh tahun lalu. Memanggil pulang orang-orang berpendidikan dan berkualitas asal daerah itu supaya mau jadi motor pembangunan.

Bola mata saya berhenti berputar. Tidakkah ia sadar bahwa dunia kini tengah bergerak cepat dengan logika modal yang tak mengenal batas wilayah identitas.

Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.

Sungguh membingungkan.

Lalu secara iseng saya tanya bagaimana soal peran tentara dalam relasi kuasa dengan dirinya kelak. Hanya jawaban diplomatis yang bisa diberikan, dengan menegaskan kalau dirinya hanyalah pensiunan tentara.

Bukan lagi jadi tentara.

Ia juga pastikan banyak investor bisa diundang. Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.

Saya pindah ke calon penguasa nomor tiga. Calon yang ini punya hubungan sangat khusus dengan orde sebelumnya.

Birokrat tulen, yang didukung pengalaman puluhan tahun di bawah organisasi pohon besar.

Pohon yang kabarnya sangat rindang dan nyaman bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya dengan sulur akar menyebar ke segala arah dan terkadang menghisap habis unsur hara yang jadi keperluan pohon-pohon lainnya.

Calon yang ini didukung tim dengan intelejensia berpolitik (baca membodohi orang lain) yang sangat mumpuni. Pengalaman puluhan tahun yang didukung sulur akar menyebar ke segala arah dan terkadang menghisap habis unsur hara yang jadi keperluan pohon-pohon lainnya di berbagai tempat tadi jadi dukungan utamanya.

Jadi, sekalipun calon penguasa nomor tiga ini sama sekali tak punya kelebihan kecerdasan, di mata para pendukungnya ia tetap jadi insan paling cerdas.

Saya tanya padanya soal politik aliran dan aliran politik yang pasti mewarnai masa kekuasaannya kelak.

Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.

Sungguh membingungkan.

Kemudian saya tanyakan soal pemahaman pendidikan. Dengan bersemangat ia janjikan bakal banyak orang yang dikirim buat tugas belajar.

Jawaban yang kemudian ia ralat sendiri karena katanya masih sangat tergantung dari anggaran yang bakal bisa disediakan.

Tentu setelah ada kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.

Sebetulnya saya sudah agak malas buat berdiskusi dengan calon penguasa keempat. Namun saya paksakan juga buat bertemu dengannya.

Calon penguasa yang keempat dan juga punya latar belakang sebaga pengusaha ini langsung mengajukan rencana buat mendirikan saja sebuah universitas di daerah itu.

Itu ia katakan demi mendengar cecaran saya yang terus menerus soal buruknya pemahaman orang-orang pada pendidikan.

Namun tak ada penjelasan yang runtut soal bagaimana perhatian terhadap kualitas itu bakal diberikan. Soal yang berkait erat dengan pemahaman pendidikan itu nantinya.

Hanya ada janji politik buat meningkatkan kesejahteraan para guru. Sebuah janji yang tentu baru bisa diwujudkan setelah ada kepastian soal naiknya anggaran di bidang pendidikan.

Lalu ia pun dengan sangat yakin bakal banjir investor yang datang buat menggairahkan industri pertanian di daerah itu. Tapi saat itu ia pasti sedang lupa lupa kalau perlu kalkulasi politik dengan kaum legislatif dalam urusan pembuatan peraturan-peraturan daerah buat mendukung itu semua.

Lagi-lagi, jawabannya melambung jauh ke kanan dan kiri. Melayang ke atas untuk tiba-tiba terhempas ke bawah. Maju tiba-tiba ke depan dan mendadak mundur ke belakang.

Sungguh membingungkan.

Belum lagi potensi konflik horisontal, seperti yang baru saja saya temukan saat kampanye salah satu calon. Layaknya orang-orang yang tak paham pendidikan dan bagaimana membingkai perbedaan dalam sebuah lukisan utuh.

Hampir saja pecah konflik.

Itu terjadi tatkala ada penguasa lokal di salah satu desa yang menolak lapangan di desanya dipakai buat kampanye salah satu di antara empat calon penguasa tadi.

Alasannya sepele, sang penguasa lokal tadi bukanlah pendukung salah satu calon penguasa yang mau kampanye tadi. Ia pendukung setia calon penguasa yang lain.

Lagi-lagi ini terjadi gara-gara pemahaman yang nihil soal pendidikan. Ujung-ujungnya hampir tak ada orang yang mau menerima perbedaan.

Bukan hanya calon rakyatnya, tetapi juga calon penguasanya.

Belum lagi, di antara empat calon penguasa tadi rata-rata berangkat lewat dukungan mesin-mesin poltik yang lagi-lagi berlindung di atas nama rakyat kebanyakan.

Tentu pula, ada sokongan dana dari sejumlah pemodal yang pasti berharap banyak imbal budi yang bisa dipanen kelak saat jagonya jadi pemenang tarung kekuasaan itu.

Pasti juga, takkan ada lagi prioritas diberikan bagi rakyat kebanyakan saat kekuasaan sudah dalam genggaman, seperti yang tertuang dalam janji politik yang disemburkan hebat dari mulut berbisa saat masa kampanye dan upaya merenggut hati dilakukan.

Prioritas pertama perhatian dan kepentingan tentu saja akan dibayarkan bagi kaum pemilik modal dan penyandang dana dan dukungan sebelum calon penguasa tadi benar-benar jadi penguasa.

Intinya bagaimana upaya lebih dulu yang dilakukan adalah mengembalikan modal yang terlanjur keluar tadi. Barulah, jika ada sisa waktu dan dana, kadangkala berlagak jadi pahlawan kesiangan.

Jadilah bagi saya, proses pilkadal tak lebih dari sekedar analogi para kadal yang sedang berganti sandal.

Calon-calon penguasa picik yang bak sandal dan perlu diganti secara periodik supaya bisa dipakai para kadal buat menginjak-injak rakyat kebanyakan. Selalu dan masih saja terus begitu

Menyedihkan.

15 February 2008

Bunuh Diri

Banyak orang lalu-lalang di depan blok rumah saya dua pagi lalu. Gara-gara diburu janji, saya tak acuhkan hal tak biasa itu.

Saya baru paham beberapa jam kemudian kalau sibuknya orang berlalu lalang itu karena ada tetangga saya yang baru tewas. Ia memilih cara tragis.

Bunuh diri.

Ternyata ia tak kuat menanggung kenyataan ditinggal istri lebih dulu ke alam baka. Pasangan hidup yang lebih dulu terenggut nyawanya karena jadi korban kecelakaan maut lalu lintas.

Tetangga saya itu pilih metode antik. Malam sebelum tewas, ia masukan sepeda motornya ke dalam kamar. Mesin penyejuk udara dinyalakan, bersamaan dengan deruman mesin bensin motornya. Kamar ditutup dan beberapa pil ditenggak.

Paginya, orang-orang ramai berkerumun. Kata beberapa tetangga saya yang kebetulan tak sedang diburu janji pada pagi itu, komplek perumahan yang kami tinggali sontak jadi pusat perhatian.

Orang-orang berseragam. Pihak-pihak yang sibuk dengan urusan dan kepentingan sendiri-sendiri.

Nyaris dua pekan sebelum peristiwa itu, saya temukan pula fakta mengiris kalbu di depan mata. Seorang pria muda tewas mengenaskan.

Lagi-lagi karena bunuh diri.

Ia pilih kereta api sebagai algojonya. Saya lewat di tempat kejadian hanya berselang tak lebih dari 20 menit usai keputusan buat membuang nyawa itu dilaksanakan.

Dari kartu tanda pengenal yang saya temukan, saya tahu bahwa pria muda itu baru saja genap menembus usia kepala dua. Ia pun tercatat sebagai pekerja sebuah kelompok usaha.

Seragam yang mengidentifikasi ia sebagai karyawan salah satu perusahaan terkemuka juga masih melekat padanya.

Petunjuk utama yang membuat saya yakin ia bunuh diri adalah sepeda motor miliknya. Tunggangan roda dua keluaran baru itu masih terparkir rapi di salah satu sisi perlintasan kereta api.

Jadi saya buang kemungkinan ia sedang alpa ketika menyeberangi perlintasan gulita di malam buta itu. Juga asumsi jika saat kereta api melintas ia sedang menuntaskan salah satu hajat utamanya.

Karena petunjuk kasat mata di lokasi kejadian membimbing saya pada kesimpulan itu.

Bunuh diri.

Fakta tersaji utuh di depan mata. Apa yang tak bisa saya gali lebih dalam adalah motivasi sesungguhnya para pengambil keputusan itu.

Kata istri saya, cita-cita mereka apa sih.

Semua masih berupa asumsi. Tak sanggup menahan beban sendiri. Tak kuasa mendapati kenyataan jauhnya kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Tentu, ada literatur Sigmund Freud dan Emile Durkheim yang mengupas soal bunuh diri.

Lewat pisau bedah psikoanalisis, Freud punya pendapat bunuh diri sejatinya adalah bentuk perlawanan seseorang ke dalam dirinya sendiri.
Dalam hal ini, kata Freud, orang-orang yang bunuh diri sebetulnya sedang dalam upaya untuk membuhuh bayangan benci terhadap orang tua mereka yang bersemayam dalam diri.

Durkheim punya analisa yang diklasifikasi jadi tiga. Adalah bunuh diri altruistik, egoistis, dan anomik yang dipandangnya jadi pembeda motivasi.

Beber Durkheim, bunuh diri altruistik terkait tuntutan tradisi. Harakiri di Jepang adalah contohnya.

Bunuh diri egois terkait dengan kegagalan sesorang untuk menyatu dalam masyarakat. Kata Durkheim, ini kerap melanda orang-orang yang kesepian dan merasa seperti ditinggalkan oleh dunia yang terus melaju cepat.

Sedangkan bunuh diri anomik terjadi karena ada gangguan keseimbangan proses penyatuan sesorang dengan masyarakat. Ada sebuah krisis kepribadian. Misalnya terjadi ketika seseorang tiba-tiba tercerabut dari zona nyamannya selama ini.

Atau ketika pukulan hebat menerpa seseorang dalam hidup. Saat pukulan itu menimpa di tengah percepatan perputaran bola dunia yang cenderung mengakibatan kegelisahan.

Dunia kekinian adalah dunia yang diklasifikasi Durkheim sebagai anomik tadi. Penuh anomali. Cenderung menyebabkan kegelisahan akibat kegagalan seseorang untuk menyatu dalam sistem besar yang bergerak cepat.

Lalu bunuh diri dijadikan solusi.

Tetapi saya masih bertanya-tanya terus dalam hati, Mengapa mereka memilih cara bunuh diri. Buat meretas masalah dan berharap bersua solusi.

Bahkan mereka yang bunuh diri secara sendiri tak bisa saya pahami. Apalagi mereka yang sampai mengajak anggota keluarga dan komunitasnya dalam prosesi bunuh diri ini.

Sungguh saya tak mengerti.

Belum lagi mereka yang bunuh diri dengan tujuan untuk membunuh orang lain. Bom bunuh diri jadi nyatanya.

Saya sungguh tak paham. Heran.

Mengapa orang bunuh diri terus jadi misteri dalam hati. Ada surat wasiat ditinggalkan. Berharap bisa dijadikan petunjuk dan pegangan buat mereka yang ditinggalkan.

Tetap saja saya heran.
Mengapa mesti bunuh diri.

Bukankah menjadi hidup dan berkehidupan adalah hakikat manusia. Saya berulangkali menyaksikan berjenis tanaman dan aneka spesies hewan berjuang hebat mempertahankan hidup.

Semut dan lebah yang terorganisasi hebat dan terus bekerja tanpa henti siang malam. Pohon rambutan dan cempaka yang sesekali meranggas demi bertahan hidup dan hanya meregang nyawa di saat-saat terakhirnya karena usia yang memang sudah renta.

Mereka tak pernah bunuh diri. Hewan dan tanaman.

Manusia.

Lebih rendahkah martabat dan kedudukan manusia dibandingkan tanaman dan hewan?

13 February 2008

Terbuang Sayang

Sejumlah pemahat batu alam yang berjejer di sepanjang kawasan Trowulan, Mojokerto akhir-akhir ini sedang bekerja dalam diam. Mereka tetap giat, namun diam.

Tenggelam dalam kesenyapan lesunya pasar akibat minimnya orderan pada wilayah kerja yang di zaman dulu hiruk pikuk karena jadi pusat Kerajaan Majapahit itu.

Saya sempatkan mampir di salah satu gerai pahat yang ada di kawasan itu. Nama pemiliknya Ribut Sumiyono. Tetapi ia sungguh tidak sedang punya nafsu untuk ribut-ribut.

Lagi-lagi, ia bekerja dalam diam. Meskipun tetap giat.

Pengusaha seni pahat patung batu yang punya gerai bernama “Selo Adji” di salah satu sisi Jalan Raya Jatisumber, Dusun Jatisumber, Desa Wates Umpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu tengah bingung memutar otak.

Bagaimana tidak, jika jumlah pesanan patung yang mampir semakin sedikit dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah perajin yang bekerja padanya pun terpaksa diciutkan. Dari jumlah 25 orang, kini menjadi hanya 11 orang saja.

Patung-patung itu sendiri kebanyakan memiliki pangsa pasar di luar negeri, seperti ke benua Eropa dan Amerika. Untuk pasar lokal, sejumlah pelaku industri pariwisata seperti para pengusaha hotel dan villa kerap jadi penyerap terbesar produk-produk patung batu yang kualitas pahatannya terbilang sangat halus itu.

Ribut menyebutkan, sejak jumlah pesanan meledak pada tahun 1998, jumlah pesanan mengalami penurunan drastis sejak tragedi bom Bali terjadi pada 2002 silam. Sejak saat itulah, jumlah pesanan belum pernah lagi tercatat dalam angka tinggi.

Sembari terkekeh, Ribut bertutur jika ia lebih suka nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah kala itu. Katanya, jumlah yang bisa mencapai hingga Rp 14 ribu untuk tiap satu dollar Amerika Serikat sungguh membuatnya bisa berbahagia plus sedikit berbangga.

Bidang usaha yang digelutinya memang sangat rentan terhadap isu keamanan. Ribut menyebut, tak kurang dari 50 kelompok perajin yang secara rata-rata memiliki 20-25 orang pekerja untuk tiap kelompoknya itu, kini praktis hanya sekedar menunggu pembeli datang.

Ketiadaan akses terhadap pasar jadi sebab utama lesunya salah satu insdustri kerajinan rakyat itu kini. Kata Ribut, selama ini tidak ada perhatian ataupun kegiatan yang dilakukan instansi pemerintahan yang berkepentingan terhadap industri tersebut dalam mengatasi soal yang ada.

Ribut juga belum mengetahui sejauh mana efektivitas pemanfaatan teknologi informasi yang hanya dipergunakan pemerintah daerah sambil lalu itu terhadap peningkatan pesanan. Padahal yang dibutuhkan bukan sekedar implementasi kebijakan bernuansa proyek berbau crash program seperti itu, melainkan kebijakan menyeluruh yang berpihak pada kepentingan pelaku usaha yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah.

Padahal lagi, Ribut sama sekali belum pernah menggunakan akses ke lembaga perbankan untuk beroleh kucuran kredit. Selama ini, usaha itu dibangunnya dari nilai nol rupiah. Dari mula-mula hanya jadi pegawai rendahan pada gerai pahat serupa milik orang lain.

Hal sama dialami pula oleh Suwojo dan Ibnu, pengelola gerai bernama Wisnu Murti Art di Jalan Raya Wringin Lawang, Jatipasar, Trowulan, Mojokerto, Jatim, yang tak punya akses pada pasar. Kesibukan di gerai itu kini hanya sekedar menyelesaikan bentuk-bentuk sederhana dari bahan baku yang sudah ada, tanpa kesibukan berarti menyelesaikan pesanan yang memang belum ada.

Ketiadaan sentuhan tangan pemerintah terhadap persoalan tersebut juga mewujud runtut dengan tidak adanya inisiatif dari kalangan perajin untuk mengentaskan persoalannya sendiri. Sekalipun sangat rentan dipermainkan pihak ketiga dalam soal kesepakatan harga, di kelompok-kelompok perajin itu belum ada satupun kelompok besar, perkumpulan, atau semacam paguyuban yang menaungi mereka.

Padahal, perkumpulan besar ini bisa melindungi dan memperjuangkan kepentingan para perajin tersebut. Sebut saja soal standar harga layak yang mestinya bisa dinikmati seluruh perajin.

Ini belum lagi jika bicara kepentingan konsumen, soal standar kualitas mutu produk yang mestinya bisa diperoleh. Padahal, jika dirunut lagi setidaknya wilayah di sekitar Jatisumber sudah sejak tahun 1970 an jadi sentra penghasil patung batu. Untuk bahan bakunya didatangkan dari sejumlah daerah.

Kata Ribut, untuk jenis batu hitam ia mendatangkannya dari wilayah Gunung Kelud. Sedangkan untuk jenis batu hijau, didatangkan dari Blitar dan Pacitan. Adapun jenis batu putih, diambil dari wilayah Wonosari dan Pacitan.

Sedangkan batu putih harganya labih mahal. Bentuk patung juga tak bisa besar, karena bahan dasar batu putihnya sendiri kecil.

Harga patung jadi berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 20 juta. Semuanya bergantung pada kualitas kerja dan kerumitan desain.

Segala bentuk patung bisa dikerjakan. Asalkan ada kesepakatan pasti soal bentuk, kualitas, dan harga. Sayangnya, kemampuan luar biasa itu saat ini belum bisa dimaksimalkan seluruhnya.

Terbuang. Sayang.

Guru Hidup

Sekedar ingin berbagi, beberapa di antara sekian banyak guru hidup yang jadi tempat belajar saya.
















Menunggu untuk segera berkumpul lagi. Secepatnya.


11 February 2008

Luka Jakarta

Pandangan mata saya menatap lurus ujung sayap yang ditekuk milik pesawat Airbus A320. Bagian yang disebut winglet pada salah satu spesies buatan konsorsium Eropa Airbus Industries itu punya fungsi utama buat menghemat bahan bakar.

Cara kerja winglet adalah dengan menjadi alat handal menembus vorteks, yang secara sederhana merupakan penghambat laju pesawat di udara. Vorteks ada karena perbedaan tekanan udara antara penampang atas dan bawah bagian sayap-sayap pesawat.

Dengan winglet, tak perlu ada akselerasi mesin berlebihan yang berarti membesarnya kucuran bahan bakar saat pesawat menghadapi vorteks. Winglet adalah pisau. Alat sederhana yang hanya berupa lekukan di ujung sayap.

Namun akibatnya sungguh tidak sederhana.

Dengan winglet, lebih jauh jarak bisa ditempuh, lebih murah biaya perawatan mesin yang dikeluarkan, dan pastinya lebih banyak orang dan barang bisa terangkut dalam pesawat.

Dari ujung winglet, mata saya menembus lurus ke batas horison. Menikmati indahnya pagi dengan jarak ribuan meter dari muka air laut. Di batas paling bawah, dalam hitungan menit akan segera saya masuki wilayah ibukota negara.

Hari itu hanya berselang sehari ditutupnya Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, setelah lagi-lagi banjir yang makin hari makin parah terulang kembali. Pertunjukan kolosal yang tragis jutaan kaki kubik debit air yang enggan mengalah dari kuasa manusia yang serakah.

Banyak mobil masih tergolek tak berdaya di sepanjang tol bandara. Seebagian besar adalah angkutan taksi serupa yang sedang saya tumpangi. Kata seorang sopir taksi kepada saya, mereka itulah yang terjebak banjir dan terpaksa membiarkan mobil tunggangannya berendam dalam kubangan bercampur air laut.

Sebagian di antaranya adalah sopir-sopir angkutan umum, yang sama-sama tak berdayanya seperti mobil tunggangannya yang kebanjiran. Apakah setelah banjir surut masalah mereka pun susut? Tidak juga.

Kata sopir taksi berperawakan mungil yang mengantar saya tadi, setidaknya sopir-sopir angkutan umum tadi mesti membayar hingga Rp 5 juta yang diangsur dari potongan pendapatan mereka tiap-tiap bulannya. Itu sebagai biaya tambahan ongkos rekondisi mobil-mobil tunggangan yang mengalami mati suri usai dihajar pertunjukan kolosal yang tragis jutaan kaki kubik debit air yang enggan mengalah dari kuasa manusia yang serakah.

Soalnya tentu tak ada perusahaan yang mau menangggung rugi sendiri.
Tak ada istilah force majeure dalam dunia banjir.

Jangan-jangan, angsuran banjir kali ini belum lagi lunas, bulan depan sudah datang lagi banjir yang lebih dahysat. Semua dianggap jadi bagian rutinitas yang seolah tak bisa diretas ujung pangkalnya.

Padahal tak ada istilah force majeure dalama dunia banjir.

Entahlah. Sepertinya banyak manusia Jakarta kini makin tumpul saja otaknya.
Menganggap apa-apa yang mereka rasakan, alami, dan lakukan merupakan bagian dari nasib dan takdir yang seolah tak bisa diubah.

Lidah banyak orang seolah kelu tatkala banyak pejabat sontoloyo berlindung atas nama bencana yang merupakan kehendak penguasa semesta. Tiarap di atas kidung doa sembari berharap agar kejadian serupa takkan terulang di masa-masa berikutnya.

Tapi mereka semua lupa berusaha.

Banyak yang abai tatkala kebiasaan membuang sampah sembarangan jadi hal jamak dikerjakan. Tak ada yang peduli saat ludah berserakan di seluruh pelosok kota. Siapa yang mau perhatikan ketika banyak mayat tikus bergelimpangan di ruas-ruas jalan utama.

Itu semua disengaja.

Mereka tiarap di atas kidung doa sembari berharap agar kejadian serupa takkan terulang di masa-masa berikutnya.

Tapi mereka semua lupa berusaha.

Saya lihat makin banyak bangunan-bangunan megah berdiri sombong di tengah-tengah miskinnya akses terhadap ruang-ruang publik dan tempat bersemayamnya debit air. Tenggelam dalam kesombongan sendiri, karena toh akhirnya banyak di antara bagungan-bangunan megah itu yang mesti rela kosong melompong.

Kali waktu saya mantapkan pegangan jemari di lingkar kemudi. Mencoba waspada sembari melirik kaca spion kanan dan kiri. Semua rambu dan tata aturan saya penuhi.

Apa daya, saya hanya jadi binatang jalang di antara kerumunan setan. Saat berperilaku sopan di jalan jadi barang haram. Ketika kaca spion yang saya awasi bolak-balik justru jadi sasaran empuk hantaman pengemudi-pengemudi tak tahu diri.

Saling serobot saling sikut, jadi jamak dan bukan barang terlarang. Saat tiba-tiba ada satu spesies bajaj tua beroda tiga yang tiba-tiba mendesak ruang sempit saya di antara himpitan bus kota, pengemudinya hanya mengerling pada saya.

Di ujung sepelemparan mata saya ada satu unit hot hatch Peugeot 206 yang beken di ajang reli dunia lagi terjebak di jalur busway. Pengemudinya tak menyangka, jalur sombong yang dipaksakan membelah macetnya ibukota dan dengan percaya diri dilewatinya itu, ternyata belum selesai pengerjaannya.

Jadilah ia terjebak di tengah-tengahnya. Tak bisa melewati separator, mustahil untuk mundur, apalagi maju terus.

Saya melambaikan tangan pada pengemudinya lewat kaca jendela.

Jalan raya di saya depan tiba-tiba ditutup. Ada dua kubu suporter sepak bola sedang berkelahi dan saling amuk. Dari perkembangan selanjutnya yang saya tahu ada satu nyawa yang meregang dan menemui penciptanya di tengah-tengah peristiwa sia-sia dan tanpa makna itu.

Apa yang saya rasakan saat itu sungguh bikin sesak di dada. Ingin rasanya saya mengajak salah satu pentolan kelompok suporter itu untuk berkelahi saja.

Jalan ditutup.

Membuat perjalanan saya sebagai penjemput rombongan dari bandara ke kawasan selatan Jakarta harus memakan waktu tak kurang lima jam lamanya. Membuat salah seorang anggota keluarga saya harus merasakan dampak parah gara-gara serangan dadakan penyakit degeneratif di esok harinya. Ingin rasanya saya mengajak salah satu pentolan kelompok suporter itu untuk berkelahi saja.

Hujan tiba-tiba mengguyur.

Tak lama, hanya sekitar lima belas menit. Apa daya, tiba-tiba saja di depan saja sudah menghadang genangan sekitar setengah meter.

Jalan merayap, memaksa mesin bekerja lebih keras. Kadangkala ditingkahi suara-suara aneh dari belakang sistem gas buang.

Lalu saya lihat makin banyak anak-anak kecil berserakan di pinggir-pinggir jalan dan setiap perempatan. Mereka dieksploitasi. Dijadikan tameng orang-orang dewasa tak tahu diri yang menjadikan anak-anak kecil itu umpan buat mengail duit recehan.

Politisi dan pejabat sontoloyo ramai-ramai memanfaatkan semua isu dan kekacauan ini buat mengatrol pamor. Diliput dan diperhatikan kanan-kiri.

Memanipulasi data dan omongan bahkan pikiran supaya supaya terkenal.
Berjanji macam-macam buat menuntaskan itu semua persoalan. Memberikan harapan semu pada orang-orang yang kebetulan mereka tahu dengan persis, takkan berani melawan.

Atau setidaknya mempertanyakan soal nasibnya, soal haknya dengan lebih kritis.

Ujung-ujungnya kucuran duit. Entah darimana asalnya, pokoknya uang dan diakui industri perbankan. Bisa diinvestasikan dan dibuat alat melanggengkan umur kekuasaan. Syukur-syukur bisa dijadikan praktik sempurna pencucian uang.

Selalu berulang.

Tumpukan sampah makin menggerus sempitnya jalan raya. Tak ada lagi pengemudi dan pengguna jalan yang mau peduli. Mereka semua memakan habis daya hidup kota. Setengah mati saya coba parkir di tengah jahatnya penetrasi semua kebusukan itu.

Saya pelankan laju kendaraan ketika sekonyong konyong saya tangkap keceriaan bocah-bocah usai sekolah yang melintas di tengah jalan. Sorot mata mereka masih menyimpan banyak harapan. Setumpuk impian.

Akankah mereka saya, anda, dan kita rela sia-siakan. Terus larut dalam serakan sampah-sampah busuk ibukota. Tenggelam dan jadi bagian buruk serta ruwetnya sistem tak berujung pangkal.

Mata saya menatap lurus winglet Airbus A320. Pesawat efisien yang beken bagi maskapai penerbangan dengan konsep low cost carrier.

Winglet yang handal menembus hambatan berupa vorteks.
Perangkat sederhana yang tak rumit tapi berdampak besar terhadap keseluruhan sistem.

Saat bersamaan, makin banyak politisi dan pejabat sontoloyo berkoar soal aneka perkakas nan rumit buat meretas persoalan Jakarta. Saling beradu argumentasi dan membuat rakyat kebanyakan yang kebetulan tak paham esensi pendidikan makin melongo seperti bego.

Seolah banyak politisi dan pejabat sontoloyo itu pintar dengan gelar doktornya, seakan mereka tak ada tandingannya. Sepertinya uang menjadi inti segala.

Satu-satunya yang mereka punya dan terus mereka pikirkan untuk punya dan menambahnya. Entah dengan jalan lurus atau bulus. Soal nurani dan hati, saya kok meragukan mereka memilikinya.

Padahal, tak ada satupun perkakas rumit yang mereka ajukan tadi benar-bener menyentuh akar persoalan. Tak pernah ada yang bicara pentingnya pemahaman terhadap pendidikan.

Sebuah perkakas sederhana yang tak rumit tapi berdampak besar terhadap keseluruhan sistem.

Pendidikan. Paham.

Siapa Manusia

Awal bulan lalu saya melayat dan mengucapkan salam duka pada keluarga almarhum Njoo Kim Bie. Njoo Kim Bie meninggal dalam usia 80 tahun di Rumah Sakit Katolik St. Vincentius A Paulo, atau yang dikenal dengan RKZ (Rooms Katholiek Ziekenhuis) Surabaya.

Ia tutup usia pada 7 Januari lalu, persis pukul 22.45.

Njoo Kim Bie adalah atlet bulutangkis Indonesia yang jadi salah satu pengukir pertama nama Indonesia sebagai juara dan pengerek perdana Merah Putih ke puncak tiang bendera di pentas Piala Thomas 1958, Singapura. Lalu di tahun 1961, saat kejuaraan puncak bulu tangkis di kelompok pria yang pialanya disumbang oleh Sir George Alan Thomas pada 1939 itu diadakan di Jakarta, Njoo Kim Bie kembali mengantarkan Merah Putih ke puncak.

Njoo Kim Bie akhirnya menyerah setelah berjuang melawan kelainan pembuluh darah pada otak (aneurisma) yang menderanya sejak tiga tahun terakhir, sebelum menjalar jadi infeksi paru-paru. Njoo Kim Bie meninggalkan dua putri, empat cucu, dan lima cicit pada akhir hayatnya. Istrinya sudah lebih dulu wafat.

Njoo Kim Bie yang saat jayanya berpasangan dengan Tan King Gwan terkenal dengan aksi smes digdayanya. Itu wajar, mengingat Njoo Kim Bie adalah sosok dengan postur tinggi besar yang ideal.

Atlet bulutangkis seangkatan Ferry Sonnevile dan Lie Poo Djian itu juga merajai ajang Malaysia Open dan Indonesia Open antara periode 1959-1963. Njoo Kim Bie juga tercatat sebagai pemain sepak bola di kelas utama POR Tiong Hwa di era 1950an.

Semasa hidupnya, Njoo Kim Bie juga punya nama asimilasi Koesbianto. Sebuah kebijakan rezim orde baru soal pembauran yang sejatinya hanyalah pengarahan hubungan antar-etnis yang berat sebelah. Kebijakan yang menginginkan hanya satu etnis saja yang diharapkan melebur dalam komunitas masyarakat etnis lainnya.

Nama asimilasi yang ditolak untuk dipakai Njoo Kim Bie. Kata sejawat karibnya, Njoo Kim Bie punya argumentasi tersendiri untuk itu. Pendapat Njoo bahwa deretan abjad Njoo Kim Bie yang diberikan orang tuanya pastilah menyimpan makna tersendiri.

Makna khusus yang tak serta merta bisa digantikan oleh penyederhanaan dalam satu kata singkat. Koesbianto. Saya setuju. Kawan karibnya tadi meneruskan ceritanya pada saya. Bakat luar biasa hebat dalam menepok bulu yang ditunjang postur ideal pada Njoo Kim Bie, rupa-rupanya tidak berhasil mulus pada kesempatan pertama.

Keinginan buat membela Merah Putih di awal-awal sejarah yang harus terhalang gara-gara kebijakan soal asimilasi tadi. Kebijakan yang dalam praktik di lapangan mewujud jadi pemberlakuan kebijakan diskriminatif di bidang politik dan budaya. Semuanya ditujukan supaya ada "keseimbangan" dengan kekuatan ekonomi bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi.

Kekuatan yang dalam perspektif orde baru memang ditujukan sebagai motor utama penghela pembangunan. Dalam cerita sejawat Njoo Kim Bie tadi kepada saya, harus ada masa penantian cukup bagi Njoo sebelum ia benar-benar diakui, dipercaya, dicap, dan distempel sebagai Indonesia. Sebuah kisah yang saya terlalu amat sering mendengar, membaca, dan merasakannya. Semua demi satu kata tujuan.

Asimilasi.

Mengapa bisa begitu. Mungkin kira-kira begini ceritanya.

Ada beberapa kata kunci yang perlu diingat dalam pembahasan ini. Di antaranya seperti orde lama, komunis, RRC, orde baru, bahaya laten, parno.

Saat orde baru berkuasa, dengan Soeharto sebagai lokomotifnya, ada kekhawatiran tersendiri bahwa orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi akan cenderung memiliki orientasi politik ke negeri leluhur. Dalam hal ini, RRC dengan sistem politik berasas komunis, dipandang sebagai bahaya laten yang mesti dijauhi.

Cabut daya hidupnya semenjak dari akarnya.

Hal itu mewujud dalam kecurigaan-kecurigaan yang dibangun berdasarkan asumsi dan prasangka. Rezim orde baru menjadi sangat parno, ketakutan jika orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi akan punya orientasi politik yang serupa.

Karena itulah sejak jauh-jauh hari tanpa perlu memandang latar belakang profesi, pendidikan, atau apapun lainnya, segala akses politik bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi segera ditutup. Paling tidak dibonsai. Wujudnya kemudian yang paling kentara dan diresmikan jadi sebuah kebijakan, ya asimilasi tadi.

Sebagai kompensasinya, ada akses luar biasa besar di lain ladang yang ditopang etos kerja maksimal orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. Tentu ya itu tadi, pembukaan akses ekonomi supaya jadi mesin utama kebijakan politik yang digariskan. Agar "seimbang."

Itu wujud resmi.

Pada bentuk-bentuk yang tidak resmi, rasa-rasanya terlalu banyak praktik kelam yang jadi torehan buruk sejarah kemanusiaan soal itu terjadi di negeri ini. Gara-gara asimilasi tadi, teramat banyak sahabat-sahabat saya semasa mengecap seragam putih-biru pada masa lima belas tahun silam, harus merasakan keganasan tetangga-tetangga mereka sendiri ketika amuk massa pecah, Mei 1998 lalu.

Karena asimilasi tadi, sungguh tercipta batas dan tembok maya yang tak kasat mata dalam berbagai upaya interaksi budaya. Akibat asimilasi tadi, sungguh tak terhitung sahabat-sahabat saya yang hingga hari ini demikian sulit menembus tembok kokoh bernama superioritas ekonomi yang tegak megah bak menara gading.

Sahabat-sahabat saya itu hingga kini hanya sanggup memikirkan bagaimana caranya memanjat menara gading superioritas ekonomi itu. Belum, belum sampai pada tahapan memikirikan cara membuat menara-menara yang lain.

Sungguh, didasari kebijakan asimilasi tadi saya seringkali sedih demi melihat banyak kenyataan betapa pembauran yang diharapkan orde baru dulu justru sedang dalam pementasan puncak makna kegagalannya. Saat dimana saya saksikan dengan mata telanjang dan demikian konfrontatif.

Kenyataan bahwa kini banyak sekali kumpulan-kumpulan sosial yang dibangun dalam sebuah wadah, hanya atas dasar-dasar kesamaan tertentu yang demikian naif dan menihilkan hakikat manusia sebagai makhluk yang sangat kompleks. Seolah tak ada lagi rasa percaya yang bisa diberikan dan diterima ketika bangunan sosial itu disusun dari berbagai macam rupa, rona, rasa, dan raga.

Saya lihat itu ketika mengantar istri dan anak saya ke sejumlah pusat perbelanjaan. Saya saksikan itu ketika memberikan materi pengajaran di sejumlah lembaga pendidikan. Saya buktikan itu saat mengunjungi berbagai kompleks perumahan.

Sayapun bisa dengan mudah membuktikan ini semua sekarang.

Semua karena pembauran yang salah konsep dan niat sejak awalannya. Pada hal yang lebih luas lagi, itu mewujud pada penerapan soal pemberlakuan SBKRI bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi.

Tak terkecuali buat Njoo Kim Bie.

Sebuah kebijakan yang berupa dokumen sebagai bukti bahwa seseorang itu benar-benar diakui ke-Indonesiannya. Tak peduli betapa tinggi prestasi yang sudah diberikan bagi Indonesia.

Jika peraih prestasi adalah orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi, SBKRI jadi harga mati. Sebuah kebijakan teknis yang jika merujuk pada sejarah awalanya berasal dari kebijakan ordonansi di zaman Belanda.

Tatkala ada empat golongan warga negara yang dibedakan dalam urusan-urusan soal pengurusan catatan sipil. Empat golongan yang dibedakan dalam ordonansi pada zaman Belanda itu masing-adalah mereka yang keturunan Eropa, Tionghoa, pribumi Kristen, dan pribumi Islam.

Bayangkan betapa rumit dan amit-amitnya, tatkala ada konsep berupa kelas-kelas manusia tersendiri yang tak masuk akal dan diadopsi, setidaknya dalam pemahaman ruang pikir, hingga kini.

Sistem inilah yang dijadikan dasar wajibnya SBKRI bagi orang-orang yang dibebani untuk mengikuti kebijakan asimilasi tadi. SBKRI lalu meluas perannnya dan jadi terkait saat mau mengurus akta kelahiran, KTP, paspor, kartu keluarga, hingga sertifikat dari proses jual beli tanah.

Tahun 2006 lalu, Indonesia memang sudah punya undang-undang baru soal ini. Namanya Undang-undang (UU) No 12 tentang Kewarganegaraan, yang diresmikan 1 Agustus 2006. Namun tidak lantas gara-gara ini SBKRI langsung mati. Hmmm, ini akan saya bahas pada lain tulisan lain waktu nanti.

Sekarang saya sedang berangan-angan dalam sepi. Sampai kapan segala prasangka ini akan lekang. Lintang pukang bersama asumsi-asumsi busuk berfondasikan diskriminasi yang menghancurkan inti kesetaraan.

Njoo Kim Bie akhirnya dibaringkan pada peti mati putihnya. Tidak seperti istrinya yang memilih dikremasi, Njoo Kim Bie meminta jasadnya dikubur.

Satu set jas yang dipakainya adalah pakaian kebesaran dengan identitas milik PBSI. Organisasi bulu tangkis Indonesia yang jadi lahan mengabdinya hingga ajal menjemput.

Pada dada kirinya tersembul lambang organisasi itu. Bagi saya, hanya ada satu jenis manusia dalam hidup ini.

Manusia.

04 February 2008

Tulus Murni

Sudah satu tahun lebih tujuh bulan ini saya punya anak lelaki. Selama waktu itu pula saya banyak sekali pelajari pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan yang sepenuhnya belum bisa saya pahami.


Akhir minggu ini, setelah terpisah di lain kota selama satu minggu, saya bisa bercengkerama lagi dengannya. Yeah, apa yang bisa saya akui disini selain perasaan bahagia yang membuncah. Rasa kangen yang terpuaskan.

Sepertinya ia pun merasakan hal serupa. Anak lelaki saya yang mulai rajin menirukan setiap suara yang mampir di telinganya itu tak mau melepaskan diri dari gendongan saya.

Padahal ia biasanya demikian gesit. Berlari kian kemari. Menggoda siapa saja. Membutuhkan upaya estra buat sekedar menggendongnya.

Kali ini ia berbeda.

Selama dalam gendongan itu, di antara tutur kalimat yang belum genap, ia seperti bercerita kepada saya. Cerita yang belum bisa saya pahami utuh. Kata-kata yang hanya bisa saya rasakan.

Badannya yang bersuhu hangat semakin didekapkan pada dada saya. Kepalanya dilekatkan pada pertemuan antara pangkal leher dan batas dagu saya.
Ia teruskan kisahnya. Cerita yang belum bisa saya pahami utuh.

Tak berapa lama, dua orang bocah perempuan cilik tiba. Anak yang satu, saya perkirakan berusia sekitar tiga tahun. Sedangkan yang lain, tak lebih dari lima tahun.

Anak saya baru pertama kali bersua dengan mereka.

Saya biarkan anak saya masuk dalam dunianya. Dunia mereka bertiga. Tangan mungil kedua bocah perempuan cilik tadi dicium oleh anak saya. Salam perkenalan dan sebuah pertunjukan rasa hormat pada yang dirasanya lebih berusia.

Lima menit pertama, saya melihat masih ada canggung di antara mereka. Sejak menit keenam hingga entah selama berapa jam mereka bermain, apa yang saya lihat hanya keceriaan khas anak-anak.

Mereka saling bekerjasama. Mereka saling menjaga.

Kebetulan tak jauh dari tempat pertemuan ketiga bocah ini, ada sebuah bangunan taman kanak-kanak. Bocah tertua berinisiatif membimbing anak saya ke sejumlah wahana permainan itu.
Saya diamkan saja mereka.

Toh, inisiatif itu dipegangnya teguh hingga akhir. Bocah perempuan itu tak melepaskan pengawasannya. Termasuk ketika tiba-tiba anak saya berlari keluar bangunan taman kanak-kanak itu demi mengejar seekor kucing dan memuaskan rasa penasarannya pada mobil-mobil yang lewat.

Mereka temukan cara mereka sendiri untuk saling menjaga. Berinteraksi. Bekerjasama.

Lama berselang, rintik hujan akhirnya memisahkan mereka. Anak saya pun kembali dalam pelukan saya.

Bukan sekali dua kali saya temukan keajaiban serupa. Kali lain saya temukan anak saya sedang bersikeras mempertahankan haknya dari serbuan teman sebayanya.

Berebut soal siapa yang paling pantas jadi pemilik suatu permainan. Saling adu kuat soal pendapat masing-masing. Teriakan-teriakan hingga tangisan bisa saja ditemui dalam proses tadi.

Jangan pisahkan mereka. Biarkan saja sebagaimana adanya. Karena percayalah, lima menit kemudian mereka akan berlaku seperti layaknya sahabat yang terpisah puluhan tahun. Main bersama lagi. Tertawa berbarengan lagi.

Tanpa dendam. Tanpa luka.

Satu pelajaran yang pemahaman saya terhadapnya belum saya kuasai utuh. Baru sebagian yang bisa saya mengerti, dengan bagian lain yang belum bisa saya identifikasi dan pahami.

Kali lain saya juga sering dibuat takjub. Betapa perasaan murni anak-anak yang terpancar dari sorot jernih matanya sungguh bukan kisah kiasan. Nurani yang memancar tulus dan sungguh bisa membedakan, siapa-siapa saja yang berniat bagus dan siapa yang punya rencana bulus.

Itu benar terjadi.

Anak saya termasuk yang bisa dengan mudahnya membedakan apakah seseorang itu punya niat yang tulus atau sebaliknya. Membuat saya terkadang merasa tak enak sendiri, saat ada sejumlah orang yang terang-terangan ditolaknya untuk mendekat.

Sementara ada sebagian besar lainnya yang justru dengan gembira disambutnya. Siapapun orangnya. Darimanapun asalnya. Tak peduli apakah baru kenal atau sudah bersamanya semenjak kali pertama ia merasai nafas di bumi.

Ia tahu. Ia sungguh tak bisa dibohongi. Ia paham.

Siapa yang tulus. Siapa yang bulus.
Murni.

03 February 2008

Bajak Pajak

Sudahkah pemain-pemain bola di Indonesia, yang katanya profesional itu, jadi wajib pajak. Jangan dulu jadi wajib pajak yang baik lah.


Tetapi, sudahkan mereka jadi wajib pajak saja?

Pertanyaan ini layak diajukan, terutama mengingat asupan terbesar bagi daya hidup klub-klub sepak bola di Indonesia adalah gelontoran dana APBD setiap tahunnya. Menjadi layak diselidiki, terutama karena tim sekelas Persik Kediri yang adalah kampiun Liga Djarum Indonesia XII/2006 saja, ternyata tidak ada pemainnya yang membayar pajak penghasilan.

Saya belum tahu fakta lanjutan mantan raksasa ini di musim 2007. Soalnya piala liga di musim ini baru akan diperebutkan di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, pada 9 Januari nanti.

Persik Kediri sudah tersingkir di gelaran babak delapan besar.
Tetapi Persija Jakarta, Persipura Jayapura, PSMS Medan, dan Sriwijaya FC yang masih mesti melakoni laga semifinal tiga hari sebelum final layak disoroti komitmennya soal ini. Empat tim yang semuanya mengemis dana APBD hingga musim ini.

Sudahkah pemain-pemain, pelatih, dan sejumlah pengurus yang disuapi dana APBD di klub-klub itu tadi jadi wajib pajak. Pernahkah mereka semua membayar pajak penghasilannya. Besaran penghasilan yang mungkin bisa sedikit saya beri gambarkan, mencapai nilai puluhan juta rupiah buat pesepakbola dengan kelas pemain nasional.

Itu didapat pada tiap-tiap bulannya.

Saya kembali pada data yang saya punya soal Persik di musim 2006 lalu. Coba dibayangkan, dalam hal kewajiban bayar membayar pajak ini, manajemen Persik hanya membayar sejumlah Rp 4 juta, yang dikategorikan sebagai pajak hiburan dan disetor tiap-tiap kali laga kandang dilakukan.

Itupun baru mulai dilakukan semenjak ditetapkannya anggaran untuk musim 2007 bagi mereka, yang untuk sementara disepakati pada bilangan Rp 15 miliar. Tahun-tahun sebelumnya, tidak pernah ada pajak serupa yang dibayarkan.

Padahal ada duit paling tidak Rp 150 juta hasil penjualan tiket pertandingan. Uang sejumlah itu tak pernah masuk kas Pemkot Kediri.

Perhitungan pajak hiburan sejak tahun anggaran 2007 itu dimulai karena ada kaitannya dengan perubahan pos anggaran yang sekarang dikategorikan lewat upaya akal-akalan supaya masuk ke anggaran subsidi. Sebelumnya, anggaran bagi Persik yang dikeluarkan lewat bagian keuangan masuk dalam anggaran keuangan berupa dana bantuan.

Akal-akalan yang tak berbudi ini dilakukan sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah pos itu diubah. Ini mengingat salah satu syarat bantuan sosial yang tercantum pada pasal 45 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 itu berbunyi bahwa bantuan sosial tidak diberikan secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran, selektif, dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya.

Akan tetapi, akal-akalan tak berbudi itu pun masih punya celah menganga.

Pasal 41 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 berbunyi bahwa subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat dijangkau oleh masyarakat banyak.

Nah, dari sini saja sudah bisa diperdebatkan, apakah tontonan laga sepak bola yang “dihasilkan” Persik Kediri termasuk pada “produksi” atau “jasa” yang dihasilkan sebuah “perusahaan” atau “lembaga tertentu.”

Lalu kita ke Persebaya Surabaya. Dalam salinan Laporan Pertanggungjawaban Dana APBD 2006, tidak disebutkan adanya pengeluaran untuk membayar pajak penghasilan tersebut. Pada bagian pajak yang dibayarkan, hanya disebutkan pajak untuk mobil dan motor.

Bayangkan. Rasakan.

Sementara pada rincian kontrak dan gaji pemain, hanya disebutkan total nilai kontrak, uang muka, serta gaji yang dibayar per bulan. Tanpa rincian sedikitpun, soal bagaimana kewajiban pajak penghasilan itu mesti dibayarkan.

Para pemain, justru lebih merasa jadi bulan-bulanan sejumlah pihak yang lebih dahulu “memajaki” mereka secara gila-gilaan, sebelum kantor pajak memakai kewenangan tersebut. Sebagian besar pemain, apalagi pemain asing yang masih lugu dan agak-agak pemalu, banyak jadi korban sistem potongan gila-gilaan yang besarannya bisa mencapai 60 persen buat agen pemain bersangkutan.

Sistem “potongan” yang memang tidak jelas ini seperti menghantui, terutama bagi para pemain pemula yang belum punya banyak jam terbang.

Maka, alih-alih masuk kas negara untuk pembangunan masyarakat banyak, lagi-lagi hanya segelintir orang dengan etika rendah saja yang bakal punya manfaat atas uang, yang sekali lagi berasal dari rakyat kebanyakan itu!

Saya kemudian bengong, demi mendapati struk gaji saya punya beberapa penjelasan soal potongan-potongan pajak yang mesti saya bayarkan kepada negara. Saya tidak digaji oleh negara, dan seumur hidup belum pernah saya disuapi duit dari dana APBD.

Lawan!

02 February 2008

Himpitan Tekanan

Beberapa orang lelaki dewasa berbadan tegap dengan raut muka tegas mendatangi kamar milik salah seorang tokoh masyarakat, tempat saya menginap ketika waktu subuh belum lagi genap.

Saat itu saya tengah bermalam di Pulau Raas, Madura. Pulau terpencil yang hanya bisa dicapai dari Pelabuhan Dungkek di ujung timur Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur dengan waktu tempuh sekitar empat jam pelayaran dengan kapal-kapal kayu renta.

Namun waktu tempuh sekitar empat jam tadi jika gelombang laut berada dalam batas normal. Artinya, jika sensasi naik perahu-perahu tadi sudah melebihi perasaan saat naik wahana kora-kora di Dunia Fantasi, Jakarta, maka waktu tempuh bisa semakin molor luar biasa.

Pasalnya, kisah-kisah mengenai perjalanan perahu-perahu tadi hingga ke perairan Australia saat badai tiba, sungguh cerita yang tak jarang terjadi.

Pintu kayu jati dengan pernis khusus pada satu di antara sangat sedikit rumah bagus dalam wilayah pulau terpencil itu berderik halus. Pemilik rumah memberi tahu, sebuah praktik kecurangan di tengah laut yang saya harus tahu.

Sebuah kain sarung bertenun yang disampirkan di atas sajadah, yang dipinjamkan pemilik rumah kepada saya, langsung saya kenakan. Tanpa cuci muka dan kumur-kumur, saya ikuti derap cepat langkah sejumlah laki-laki berbadan tegap dengan raut muka tegas tadi.

Melewati dinding-dinding kusam. Melaju terus di antara wajah-wajah kuyu yang hanya diterangi lampu temaram dari daya listrik hasil gerakan mesin diesel yang dijatah kerjanya.

Kami sampai di tepian pantai. Ada puluhan kapal kecil yang sandar, atau lebih tepatnya sengaja disandarkan. Bukan karena pemiliknya sengaja memilih waktu istirahat. Tetapi dipaksa dengan sengaja untuk beristirahat.

Tidak karena nelayan pengelola kapal-kapal kecil dan renta itu sedang sakit. Namun mereka memang sedang dipaksa menjadi sakit.

Setidaknya itu bisa saya lihat dari profil keluarga mereka. Anak-anak yang mesti rela mengecap pendidikan seadanya. Benar-benar hanya seadanya dari realitas fisik yang sebetulnya tidak ada.

Tidak ada, karena bangunan fisik sekolah yang ada umumnya menunjukkan ketiadaan. Tembok yang jebol. Atap yang hilang. Bangku dan kursi yang lenyap.

Tenaga pengajar yang raib.

Saya dekatkan tubuh saya semakin ke pinggir bibir pantai. Dalam remang-remang cahaya menjelang fajar datang, sejauh mata saya memandang ada cahaya benderang yang terpancar dari kapal super besar.

Kata sejumlah laki-laki berbadan tegap dengan raut muka tegas yang mendatangi pintu kamar saya tadi, itulah praktik yang selama ini membuat mereka lunglai. Kelakuan yang membikin sendi-sendi hidup mereka jadi linu.

Cahaya benderang tadi diproduksi dari lampu merkuri. Daya sorot kuatnya menarik perhatian berjenis-jenis ikan dari segala macam kelompok usia buat naik ke permukaan.

Masuk dalam perangkap. Tanpa seleksi. Mana ikan-ikan yang sudah senior dan layak ditangkap. Mana ikan-ikan yang masih yunior dan harusnya jadi pelapis dulu dalam mata rantai makanan ekosistem di bawah laut sana.

Jika sempat mengetahui soal metode penangkapan ikan dengan pukat harimau, maka kira-kira metode penggunaan lampu merkuri punya hasil akhir yang mirip. Sekalipun lampu merkuri tidak menerjang habis terumbu karang, seperti yang dilakukan pukat harimau, tetap saja tak ada klasifikasi saat lampu merkuri beroperasi.

Semuanya disikat. Semuanya diembat.

Parahnya lagi, itu dilakukan nyaris terang-terangan. Dalam wilayah perairan yang harusnya jadi kedaulatan nelayan-pemilik perahu-perahu kecil dan renta tadi.

Dikerjakan dengan sangat rapi dan terencana. Oleh pemilik kapal-kapal besar yang tak memikirkan apa yang sedang terjadi pada penduduk pula-pulau di sekitarnya.

Kapal-kapal yang seringkali menaikkan bendera negara lain, yang hampir tak satupun orang-orang di pulau itu mengenalinya. Karena sepanjang hayat, hanya Merah Putih yang mereka tahu sebagai bendera. Pengetahuan yang didapat dari warisan tutur dari mulut ke mulut.

Bukan bangku sekolah.

Secara sistematis dan terencana, penduduk tanpa daya di pulau-pulau terpencil itu sedang mengalami apa yang dinamakan dengan perenggutan kedaulatan.Kedaulatan yang mestinya bisa dimiliki. Supaya keluarga mereka bisa merdeka dalam arti sesungguhnya.

Agar pendidikan yang harusnya dipahami sebagai modal dasar meretas kemiskinan bisa dilangsungkan dengan sempurna.Tanpa tembok sekolah yang jebol. Tanpa atap bangunan sekolah yang hilang. Dengan bangku dan kursi yang lengkap.

Dalam temaram cahaya di pinggir batuan, seorang laki-laki yang jadi perwakilan kumpulan berbadan tegap dengan raut muka tegas tadi berkata pada saya. Bahwa jika ini terus menerus terjadi, jelasnya akan ada perlawanan yang dilakukan.

Pastinya dengan kekerasan.

Saya terhenyak. Mustahil rasanya jika saya mencoba tenangkan batinnya saat itu. Hanya sedikit mencoba berempati padanya dan semua laki-laki berbadan tegap beraut muka tegas yang hadir disitu.

Orang-orang yang jadi satu-satunya ujung tombak dan harapan bagi keluarga masing-masing.

Kami kembali lagi susuri jalan-jalan kecil berpasir dan terjal berbatu. Melewati dinding-dinding kusam. Melaju terus di antara wajah-wajah kuyu yang hanya diterangi lampu temaram dari daya listrik hasil gerakan mesin diesel yang dijatah kerjanya.

Saya sampai kembali dalam kamar milik salah seorang tokoh masyarakat, tempat saya menginap tadi. Sejenak saya diam dan tepekur. Menunggu datangnya nyaringnya panggilan bagi hati, di saat pertama bagi embun terakhir melepaskan kesederhanaannya.

Kali ini waktu subuh sudah genap.

01 February 2008

Pilihan Keputusan

Namanya Nienke van der Peet. Saya bertemu dengan perempuan berkebangsaan Belanda itu pada suatu kegiatan di sebuah dusun kecil, di Kabupaten Kediri, Jawa Timur beberapa waktu silam.


Saya tak sempat ngobrol banyak dengannya. Hanya bertegur sapa sebentar, karena Nienke saat itu tengah sibuk jadi tutor bermain bagi bocah-bocah kecil. Mereka bersenda gurau di sebuah tanah lapang pada tengah-tengah kebun jagung yang ada di dusun itu.

Tutor, karena permainan-permainan itu sejatinya punya tujuan jadi medium pengajaran. Nilai-nilai dasar seperti pentingnya kerjasama, saling hormat serta percaya, dan pengutamaan untuk menggunakan logika dalam memecahkan persoalan, yang diberikan bukan lewat ucapan. Pengajaran lewat contoh nyata.

Menyenangkan, karena dibungkus dalam permainan.

Saya cuma mengamati gerak-gerik Nienke dalam kerumunan dari kejauhan. Sembari sesekali menjepretkan shutter kamera ke arah kumpulan permainan itu.

Satu dua jepretan menghasilkan fokus lumayan tajam ke titik perhatian kegiatannya. Saya amati dari jendela bidik. Lalu saya ulas lagi hasil fokus itu lewat layar kristal cair di belakang badan kamera.

Hasilnya sama.

Nienke tampak tak bisa dibedakan dari anak-anak kecil yang mengerumuninya. Ia tak bisa diidentifikasi utuh dari keceriaan bocah-bocah cilik yang bermain bersamanya. Mereka tampak serupa.

Dari sudut pandang itu semua, Nienke tampak sama dengan kanak-kanak yang saling bercengkerama dengannya. Sudut pandang sosial yang mengaduk-aduk emosi saya.

Jangan lihat Nienke dari sudut pandang fisik. Karena dengan rambut pirangnya ia tentu akan tampak sangat berbeda. Postur tinggi besarnya pastilah akan langsung memberikan kesan bahwa perbedaan itu demikian kentara. Belum lagi tutur bahasanya, yang tak diragukan lagi akan semakin mempertajam jurang perbedaan itu.

Jangan lihat dari situ.

Jadi saya teruskan kegiatan menjepret shutter kamera dengan sudut pandang sosial soal Nienke, yang saya pilih. Makin banyak foto terekam. Makin jelas lukisannya.

Gambaran utuh yang juga terefleksi dari raut gembira bocah-bocah cilik di salah satu dusun terpencil itu. Padahal, dari cerita beberapa orang di dusun itu, Nienke beserta beberapa orang rekannya baru saja usai memperbaiki saluran air.

Yah, saya memang melihat ada jalur air baru yang dibangun dengan susunan bata dan batu, beserta campuran semen dan pasir yang baru saja kering di sekitar lokasi bermain tadi. Sebagai tambahan, bangunan buat melancarkan aliran air tadi tidak berwujud seadanya.

Jangan bayangkan rupanya seperti hasil garapan proyek-proyek oleh kontraktor lokal yang menang tender dari sejumlah instansi pemerintahan. Hasil garapan yang rapuh dan renta. Bukan seperti itu.

Bangunan untuk aliran air garapan Nienke beserta teman-temannya ini demikian kokoh. Tersusun rapi dalam bentuk memanjangnya, dengan penyelesaian akhir yang digarap sempurna. Saya sungguh terpana.

Sebelum bertemu Nienke di tanah lapang dusun itu, saya berdiskusi banyak hal dengan rekannya. Namanya Wendy Wouters. Perempuan berambut kriwil dengan gaya bicara lugas dan tegas ini juga sama-sama berasal dari Belanda.

Mereka berdua punya dedikasi yang sama di dusun itu. Perbedaannya hanya pada usia. Juga kenyataan bahwa Nienke masih kuliah, dan Wendy yang sudah bekerja sebagai guru taman kanak-kanak serta pengajar kelas senam pada waktu sisa yang dimilikinya.

Tapi dua-duanya punya etos kerja keras. Memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya. Pada bidangnya.

Saya bisa pastikan itu ketika Wendy bercerita betapa keras hidup yang dijalaninya, selain apa-apa yang sudah dikerjakannya secara kasatmata di dusun tersebut. Betapa ia harus bekerja pada dua tempat berbeda, demi memenuhi tanggung jawab membayar aneka tagihan tiap-tiap bulannya.

Dua tempat kerja yang dicapainya dengan mengayuh sepeda. Mencoba bertahan di sebuah negeri yang sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Belum lagi ancaman banjir gara-gara wilayah itu dilewati tiga sungai besar.

Kenyataan yang membuat harga tanah di negara itu jadi sangat tidak rasional.
Fakta yang membuat Wendy tinggal di sebuah flat dan “bertumpuk-tumpuk” dengan orang lain.

Seperti banyak orang lain di negara Kincir Angin berpenduduk 16 juta jiwa, yang total luas wilayah negaranya masih lebih kecil dari luas Provinsi Jawa Timur itu.

Jadilah Wendy sangat heran luar biasa demi menyaksikan banyak Jaguar dan Toyota Alphard hingga Ferrari wira-wiri di jalanan Kota Surabaya. Tapi ia pun tak kalah takjubnya, saat melihat kenyataan jomplangnya taraf hidup di dusun yang kini dihampirinya.

Saat kami hiking di salah satu bukit di dusun itu, Wendy dan kawan-kawannya dari Belanda juga tak kunjung merasa percaya. Perbedaan nilai tukar mata uang yang tiba-tiba mendapuk mereka pada sebuah realitas baru.

Menjadi kaya, dalam arti punya kedaulatan dari sisi ekonomi.

Atau setidaknya memiliki uang dalam jumlah yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya saat uang milik mereka dikonversikan dalam rupiah. Perbedaaan nilai tukar yang membuat Wendy, Nienke, dan kawan-kawan mereka merasa ikut pula sebagai pemilik Jaguar dan Toyota Alphard hingga Ferrari, yang sliweran di jalan-jalan Kota Surabaya tadi.

Di tengah nafasnya yang makin tersengal-sengal akibat saya paksa naik ke bukit dengan sudut curam, Wendy berkisah soal pengalamannya mengajar di dusun itu. Bagaimana ia dengan dedikasinya merasakan, banyak potensi dan bakat luar biasa yang terpendam dan terus begitu di dusun itu.

Sayangnya, kata Wendy lagi, semua berjalan seperti dalam rutinitas lingkar setan. Antara kemiskinan dan buruknya pemahaman pendidikan.

Kata Wendy, hal ini membuat murid-murid dengan bakat dan potensi luar biasa tadi tak pernah bisa meretas jalan buat bebas dari kungkungan kemelaratan.

Akses yang sulit, karena letak sekolah yang sangat jauh, kerap dijadikan alasan.

Alasan yang turun temurun dan dianggap jadi keniscayaan. Alasan yang lantas dikuatkan oleh sistem kepercayaan. Sebuah sistem pemahaman yang lagi-lagi tak diterima utuh akibat buruknya pengertian pada pendidikan.

Lagipula tak pernah ada contoh bulat yang hadir di dusun itu. Bahwa jadi orang terdidik pasti bisa meningkatkan taraf hidup. Pasti bisa memutarbalikkan realitas sosial dan punya kehidupan ekonomi yang mapan.

Belum ada.

Itulah lingkaran setannya, kata Wendy yang punya tato bergambar kupu-kupu mungil di bagian punggungnya. Ia pun tak kalah heran, mengapa tak disediakan saja terlebih dahulu akses pendidikan itu tadi.

Toh, banyak mutiara yang nyata-nyata belum tergosok di dusun itu.

Untuk sesaat, lensa kamera saya menangkap ekspresi bingung di wajah Nienke.

Ekspresi yang hadir, kemungkinan ketika ada kekhawatiran yang tiba-tiba terlintas dalam ruang pikirnya.

Bahwa ia tak bisa ada di dusun itu berlama-lama. Bahwa pada akhirnya, ia tak bisa lagi berkarya bersama anak-anak itu semua. Bahwa akan seperti apa lagi jadinya bangunan sosial di dusun itu nanti.

Bahwa ekspresi serupa yang juga hadir di wajah Wendy, saat kami sama-sama sampai di puncak bukit terjal itu.

Peduli kini. Nanti. Pilihan. Keputusan.



Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.