31 March 2008

Menulis Gratis

Mata saya terbelalak. Udara dingin menyergap.

Pagi buta itu baru tiga jam saya terlelap dari ujung tengah malam.

Dalam balutan kaos tipis seharga sepuluh ribu per lembar saya beringsut keluar kamar. Sebelum tidur, saya memang sudah berniat untuk membuat materi sederhana sebagai salah satu bahan presentasi pelatihan tulis menulis.

Jadi, tak perlu jeritan alarm khusus buat membangunkan saya.

Sebuah kegiatan yang digelar salah satu kelompok mahasiswa yang berhimpun pada salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Ah, pelatihan yang tertera dalam ketentuan dan judul acara milik penyelenggara itu saya lebih suka membahasakannya sebagai ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Supaya saya yang masih bodoh ini bisa ikut merasakan nikmatnya mereguk sirup manis pengetahuan. Ada ilmu baru yang bisa saya peroleh.

Jadilah, penyeimbang catu daya listrik saya nyalakan. Komputer rakitan dengan otak berupa prosesor low end bertitel celeron buatan raksasa Intel kemudian berdenyut ogah-ogahan.

Saya nyalakan program aplikasi winamp buat memutar suara dan bunyi dalam format mp3. I Dont Want To Live Without Your Love, milik kelompok musik Chicago yang sempat dituntut perusahaan angkutan di Chicago saat menggunakan nama The Chicago Transit Authority meluncur manis lewat dua pengeras suara terintegrasi monitor.

Dari satu singel ke ke tembang lain, energi band berusia 41 tahun itu merayap naik dan merasuk. Saya bolak-balik bahan bacaan.

Lalu saya bayangkan kira-kira seperti apa bahan pengalaman yang bisa dibagikan sesuai dengan permintaan. Tak terasa satu jam lewat. Hanya dua paragraf berhasil rampung.

Saya lebih tenggelam dalam racikan brass rock dari Chicago yang awalnya pakai nama The Missing Link itu. Sekali dua kali saya berdiri di antara kursi. Sekedar merasakan entakan aransemen David Foster dan beningnya vokal Peter Cetera dalam beberapa nomor selanjutnya.

Setengah jam menjelang waktu subuh, energi ekstra itu datang juga. Akhirnya selesailah materi singkat dan sangat sederhana yang sebagian besar isinya saya sarikan dari pemikiran milik salah seorang mentor saya, Luwi Ishwara.

Berikut ini adalah hasilnya.

Penulisan bukan tujuan. Penulisan adalah alat untuk menyibak, menunjukkan, mencapai kebenaran.

Proses ini sangat mengutamakan kejujuran. Jadi, jujurlah sejak mula hingga akhirnya.

Jujurlah pada pilihan temanya. Jujurlah terhadap sumber-sumbernya. Jujurlah akan bahasanya. Jujurlah pada metodenya.

Mestinya sebuah tulisan tidak lebih hebat dari kejadiannya. Peristiwa, dalam hal ini, adalah ukuran pertama bahasa seperti apa yang akan digunakan dalam tulisan. Ini secara langsung berkait pada gaya tertentu yang dimiliki penulis.

Kekhawatiran adalah hal pertama harus dibuang sebelum proses penulisan dimulai. Susunlah bagian-bagian tulisan dengan berdialog pada diri sendiri soal urut-urutannya.

Fokus.

Kata Don Fry (Poynter Institute for Media Studies), ada lima langkah penulisan.

1. Menyusun gagasan
2. Melaporkan
3. Mengorganisasi (rencana dan urutan)
4. Konsep
5. Memperbaiki

Pasti, sebagaimana keunikan sidik jari dan susunan kode DNA seseorang, maka tak ada satu pun metode atau teknik menulis yang benar-benar pas untuk seorang penulis. Sebagaimana kesukaan kita yang cenderung berbeda untuk setiap genre musik dan film yang ada.

Gaya tulisan adalah pilihan. Sebagaimana uniknya lagu-lagu Benyamin Suaeb atau sudut gambar serta cara penggarapan kisah yang dipilih Garin Nugroho dalam berbagai filmnya.

Dengan mendengar dan melihatnya, kita bisa merasa tahu dan akrab dengan pemilik gaya itu. Begitulah sebaiknya penulis yang memilih identik dengan gayanya sendiri. Kita tentu tak akan pernah puas hanya dengan meniru kan?

Berbedalah.

Hindari gelontoran kata-kata pengabur makna. Buanglah keinginan untuk jadi seekor gurita dalam penulisan (octopus writing). Hal yang terjadi saat tinta yang disemburkan gurita dalam samudera justru bertujuan untuk mengaburkan pandangan ketimbang sebaliknya.

Kata Robert Gunning yang jadi konsultan sejumlah surat kabar harian terkemuka, ada sepuluh prinsip menulis dengan jelas.

1. Usahakan kalimat rata-rata pendek.
2. Pilih kalimat sederhana daripada yang kompleks.
3. Pilih kata-kata lazim.
4. Hindari kata-kata tak perlu.
5. Beri kekuatan pada kata kerja.
6. Tulis seperti ketika berbicara.
7. Pergunakan istilah yang bisa digambarkan pembaca.
8. Hubungkan dengan pengalaman pembaca, beri konteks.
9. Gunakan variasi.
10. Tulislah untuk menyatakan, bukan mempengaruhi.

Lantas, bagaimana upaya terbaik untuk mulai menulis?

Mulailah membaca!

Saya baca ulang lagi tulisan yang bakal jadi materi bagi-bagi pengetahuan itu tadi. Lantunan azan subuh membantu saya menghayati.

Paginya saya bergegas, dan menghitung cermat waktu tempuh supaya tidak terlambat. Saya sendiri sering merasa keki jika mendapati ada janji molor dari waktu yang disepakati.

Maka, saya berpegang teguh untuk tidak memperlakukan orang lain serupa itu. Waktu adalah hal paling mahal. Berapapun uang dimiliki, waktu takkan mungkin bisa dikembalikan lagi.

Sebetulnya, seorang rekan saya yang sedianya memaparkan soal-soal mengenai kegiatan berbagi pengetahuan yang diberi titel pelatihan tadi. Tapi, suatu dan lain hal membuat saya yang harus berdiri di depan kelas dan memberi pemaparan.

Tak banyak yang saya paparkan. Hanya materi singkat yang sudah saya buat beserta tambahan dari materi kepunyaan salah seorang rekan saya tadi.

Justru saya memohon supaya ada banyak-banyak pertanyaan. Supaya saya yang masih bodoh ini bisa ikut merasakan nikmatnya mereguk sirup manis pengetahuan.

Alhamdulillah, itu berhasil.

Mulai dari yang tanya soal metode dan teknik. Sampai pada gaya hingga ruwetnya prosedur penelitian supaya menghasilkan tulisan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pertanyaan soal mungkinkah ada kemungkinan tulisan itu jadi menarik kalau tidak bombastis. Soal bisakah tulisan itu memikat jika kalimatnya tidak beranak cucu dan bercicit canggah.

Soal-soal teknis yang saya pastikan agar jangan khawatir terhadapnya.
Soalnya setiap individu pasti punya cara, metode, teknik yang hanya akan sesuai benar untuk dirinya saja.

Soalnya setiap manusia pasti unik seperti beda sidik jari dan urutan kode DNA yang dimiliki.

Jadi, tak perlu pusing tujuh keliling soal tembok besar bernama teknik menulis dan segala metodenya. Paling penting pegang saja prinsipnya.

Jujur.

Pada bagian menjelang akhir, saya sentil sedikit mereka. Bahwa, aktivitas membaca sejatinya adalah “ibu” bagi kegiatan menulis.

Menulis dan membaca ibarat fenomena ayam dan telur. Tidak ada tulisan tanpa kegiatan membaca.

Mau baca apa kalau tidak menulis?

Menulis dan membaca. Membaca dan menulis. Ayam dan telur. Telur dan ayam.

Apa lebih dulu. Saya pun tak yakin.

Apa yang saya yakini, keduanya harus dilakukan.

Jadi, sekali lagi saya katakan, mulailah sebuah kesenangan baru dengan membaca.

Membaca bisa apa saja. Maka, menulis pun bisa soal apa saja.

Mengenai media, tak usah bingung apalagi linglung.

Lalu, lewat artikel “Berinvestasi Melalui Membaca” karya Yuki Tobing yang saya sudah minta izin kepadanya untuk bisa dipergunakan sebagai salah satu bahan ilustrasi, saya paparkan mengenai relasi semua hal yang saya terus cuap-cuap sejak mula-mula.

Saya bilang, dulu saya tidak kenal dan tidak tahu siapa Yuki. Tetapi karena tulisannya yang saya baca lewat blog, saya jadi mengetahui soal Yuki.

Saya berharap provokasi saya berhasil. Hasutan supaya banyak di antara peserta atau juga penyelenggara yang segera mulai menulis dan membaca, membaca dan menulis.

Pada media apapun juga.

Menulis dan membaca. Membaca dan menulis.

Gratis.

13 March 2008

Rasis Najis

Mata saya mendelik. Adrenalin terpompa deras. Sekujur badan terasa panas. Degup jantung berdesir hebat.

Mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa.

Sore itu puluhan ribu kepala yang mengaku sebagai manusia sedang tenggelam dalam lautan tontonan. Mereka ada yang duduk, berdiri, bersila, dan jongkok.

Mereka sedang mengelilingi 22 manusia di depannya yang saling berebut bola dalam lapangan berukuran panjang 100 meter dan lebar 64 meter.

22 manusia itu lagi berlaga memperebutkan satu bola dengan saling serang dan bertahan. Mereka berebut untuk jadi yang pertama menceploskan si kulit bundar ke jaring gawang seterunya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang budaya.

Berbeda etnis bahkan bangsa.

Mulanya yang saya lihat dan dengar hanya sebatas teriakan tanda dukungan atau sekedar cemoohan berbau teknis dalam bingkai laga pertandingan. Lama-lama bulu kuduk di tengkuk saya merinding.

Tegak berdiri gara-gara di salah satu sudut mulai terdengar cemoohan yang nadanya menjurus pada sentimen rasial. Lama-lama ada suara-suara hewan tertentu yang saya tangkap jelas tatkala ada pemain-pemain tertentu menguasai bola.

Suara itu makin hebat. Seiring dengan posisi kurang menguntungkan yang sedang mendera salah satu tim yang lagi berlaga di depan mata. Sejalan dengan makin banyaknya kejadian-kejadian tak menguntungkan bagi salah satu tim yang langsung ditanggapi pendukung tim lainnya.

Suara-suara hewan tertentu yang saya tangkap jelas tatkala ada pemain-pemain tertentu menguasai bola, makin menggedor membran telinga saya.

Mata saya mendelik. Tensi darah saya meninggi. Sekujur badan terasa panas. Degup jantung berdesir kencang.

Mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa.

Beberapa buah kepala yang mengaku sebagai manusia menengok kepada saya. Kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia dan jadi pelaku-pelaku utama cemoohan bernada rasis tadi.

Lagi-lagi, mulut saya spontan menyemburkan rupa-rupa bisa pada mereka.

Apa yang terjadi selanjutnya hanyalah pandangan kosong serupa kerbau dicucuk hidung yang saya lihat dari berpasang-pasang mata yang menumpang pada kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi. Rupanya bisa yang saya semburkan untuk sementara belum bisa mereka buat serumnya.

Itu bukan kali pertama kejadian serupa beraksi langsung di depan mata dan telinga saya. Pada beberapa buah stadion di Indonesia yang sempat saya kunjungi, banyak pula aksi memuakkan dari kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi.

Mereka beramai-ramai mengucapkan makian bernada rasis. Mereka ramai-ramai merasa sebagai ras paling superior dan merasa berhak buat mengatur, memaki, mencemooh, mengumpat, dan menista ras yang lain.

Semuanya mereka lakukan dengan perayaan. Sembari tertawa. Sambil mengupas kacang kulit dan menghisap dalam sebatang rokok.

Lain kali ada politisi yang menyamarkan mukanya dalam benaman isu rasial. Mencoba mengambil hati calon pemilih dengan menista lawan politik berdasarkan identitas fisik berbeda yang dimilki.

Mengaduk-aduk emosi rakyat kebanyakan dengan isu orang asli, putra daerah, dan segala macam jebakan kultural bernada rasis. Mereka termasuk dalam apa yang saya sebut sebagai kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi.

Seakan perbedaan secara biologis yang dimiliki mampu jadi penentu capaian individu. Lalu bisa pula jadi indikator bagi stempel maju atau tidaknya sebuah peradaban serta budaya yang dipunyai.

Seolah perbedaan karakteristik fisik mampu membuat kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi jadi yang tertinggi dan berhak berlaku lebih tinggi.

Bukankah tak pernah ada pilihan sebelum seseorang itu dilahirkan ke dunia? Ingatkah kita pernah ada pilihan berganda yang ditawarkan saat masih dalam alam kandungan atau malah ketika di alam penciptaan?

Soal apa nama bangsa yang hendak kita diidentikkan dengannya. Soal warna kulit yang mau lekat pada diri kita nantinya. Soal jenis dan warna rambut yang ingin kita miliki di dunia. Soal bentuk serta warna mata yang mau kita punyai.

Saya ingat untuk tidak ingat bahwa tak pernah ada pilihan seperti itu yang ditawarkan pada saya. Sebelum saya dilahirkan dan hingga tulisan ini dibuat.

Saya jelas tak bisa memilih tatkala lahir dengan kulit yang kekuning-kuningan. Juga saya pasti harus menerima ketika hadir di dunia dengan bola mata hitam dan rambut dengan warna serupa. Begitupun ketika saya diidentikan dengan salah satu suku bangsa yang eksistensinya kini perlahan pelan mulai tergerus arus.

Saya dengan rela menerima dan merayakan hidup bahagia dengan semua itu.

Karena saya tak pernah bisa memilih mau pakai identitas fisik yang bagaimana dan seperti apa tatkala hadir di dunia sesaat setelah lahir.

Jadilah, mulut saya selalu menyemburkan rupa-rupa bisa kepada mereka yang mempraktikkan rasisme atau bahkan menjurus pada praktik itu.

Gara-gara sentimen rasial, muncul pelabelan tertentu terhadap komunitas suku bangsa atau bangsa, sub-etnis atau etnis tertentu. Hadir yang dinamakan stereotipe terhadap komunitas suku bangsa atau bangsa, sub-etnis atau etnis tertentu.

Sebuah keyakinan yang cenderung berlebihan sehubungan dengan kategori tertentu. Ini adalah sebuah lingkungan palsu (pseudo-environment) saat masyarakat saling berinteraksi.

Semua dibangun berdasarkan prasangka.

Prasangka ini dipelihara terus dalam sistem nilai yang diyakini bersama. Prasangka ini tak lekang bersama lingkungan primer dimana kepala-kepala yang mengaku sebagai manusia tadi hidup. Prasangka ini terus berpendar di lingkungan keluarga, teman sepermainan, dan sebagainya.

Gara-gara itu semua, terjadi pembantaian dan pembersihan etnis atau bangsa tertentu oleh etnis atau bangsa lain (genocide). Gara-gara prasangka yang berakhir pada stereotipe, ada rekan saya yang berulangkali menuai kecewa tatkala berupaya masuk dalam lingkungan keluarga pujaan hatinya yang berbeda latar belakang bangsa dan budaya.


Berkali-kali ia kecewa hingga berkali-kali pula hidupnya hanya berteman sepi.

Terjadi rupa-rupa bentuk diskriminasi sosial. Ada marjinalisasi. Terdapat pula bau anyir menyengat dari praktik itu semua.

Hidup adalah soal perbedaan dan bagaimana membingkainya dalam harmoni. Hidup menjadikan perbedaan sebagai keniscayaan yang mesti dijalani.

Beda ras, agama, dan budaya adalah hal tak sama dengan penerimaan utuh yang mesti bisa dijalani tanpa prasangka.

Macam-macam pilihan semisal untuk berbeda warna politik, genre film dan musik kesukaan, hingga makanan favorit, adalah perbedaan yang bisa saya terima dan akan saya hidup bahagia bersamanya. Tetapi, jika ada yang mengambil pilihan untuk jadi rasis, maka maaf jika kata ini yang pertama terlontar kepadanya.


Najis.




10 March 2008

Potensi Diri

Sebuah Toyota Kijang Innova hitam keluaran terbaru menyusuri jalan sempit yang hanya muat untuk papasan dua unit Morris Mini Cooper ala tunggangan Mr. Bean rancangan Alex Issigonis di tahun 1959. Pagi itu belum genap jarum jam menunjuk pukul tujuh.

Belasan warung sederhana yang berdiri di salah satu sisi jalan sempit yang diapit hamparan sawah kering itu juga masih tutup.

Ratusan buruh yang didominasi pekerja perempuan bergerombol di sekitar pintu masuk pabrik pembuat gitar hampir seluruh merek-merek premium. Mereka menunggu waktu masuk tepat pukul tujuh pagi setelah sebelumnya menggesek kartu pengenal elektronik untuk mengabsen.

Pabrik dengan luas sekitar 4.000 meter persegi itu terletak di tengah areal persawahan yang disulap jadi pusat pembuatan gitar elektrik khusus untuk pasar ekspor.

Tepat pukul tujuh pagi, sang kepala satpam memanggil masuk puluhan pekerja yang masih duduk-duduk di salah satu dari enam warung yang ada di depan pabrik itu. Persis seperti guru yang memanggil masuk murid-muridnya untuk bergegas ke dalam kelas, dari warung-warung yang berjajar tutup di pinggiran sawah kering yang telah dipanen.

Lewat sepuluh menit, ada satu dua orang pekerja yang mengetuk pagar dengan sistem buka tutup elektronis itu. Biasanya, buruh yang terlambat akan langsung menghadapi peringatan dari penumpang Toyota Kijang Innova hitam tadi, yang jadi salah satu pemilik pabrik tersebut.

Tapi hari itu ada dispensasi.

Ada pula mekanisme penggeledahan seluruh tubuh bagi pekerja yang hendak keluar atau pulang di perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dari Korea itu. Sebuah tindakan preventif guna mengamankan aset yang berurusan dengan berbagai peralatan kecil yang terkesan remeh temeh namun mahal itu.

Dengan disiplin tinggi ala Negeri Ginseng, tak kurang dari 600 pekerja yang 80 persennya adalah perempuan itu mulai mengerjakan aneka order sejak pukul tujuh pagi hingga 16.00 di hari biasa, dan 07.00 hingga 15.30 saat bulan puasa. Bicara order juga tak main-main, karena pesanan minimal di tempat ini adalah 1.500 unit dengan kapasitas produksi tak kurang dari 10 ribu buah gitar lisrik per bulan.

Bicara sumber daya manusia, jangan bayangkan warga Indonesia hanya terampil jadi buruh di tingkatan perakit saja. Satu-satunya desainer produk yang punya tanggung jawab penuh terhadap proses awal produksi seluruh pesanan gitar-gitar tadi adalah pria kelahiran Kabupaten Jember, Jatim.

Dengan fasih ia menjelaskan, tak kurang prinsipal dari 15 merek gitar dan bas elektrik di seluruh dunia mempercayakan produksinya dikerjakan di tempat itu. Sebut saja sejumlah model gitar seri Gio yang masuk kategori low end dan bas seri Ergodyne dan BTB yang termasuk kelas high end dari prinsipal bermerek Ibanez.

Atau lihatlah fakta produksi ini, 100 model merek Washburn, Yamaha semi akustik model SA-500, AE 500, SA 503 dan RGX 520, Electric Sound Products (ESP), Hammer, Peavey, Schecter, Condor, Parker, Morgan, Total Music, Tradition, Grand Mystery. Belum lagi merek Daisy Rock yang dikhususkan bagi kalangan perempuan dengan desain yang atraktif serta warna-warna cerah yang turut dibikin di pabrik itu.

Adapun Yamaha yang juga punya pabrik serupa di Pulogadung, Jakarta, memesan enam model produknya di pabrik itu.

Bahan dasar gitar-gitar kepercayaan berbagai musisi handal dunia itu pun sebagian besar “lokal punya,” karena asli Indonesia. Terutama adalah kayu untuk bodi yang biasanya mengaplikasi kayu mahogani, damar, agatis, atau sonokeling.
Hanya kayu mapel buat leher (neck) gitar yang mau tak mau harus diimpor dari Kanada. Semua bahan dasar tadi diramu dengan berbagai komponen elektris, pick up, tuning peg, senar dan berbagai asesoris lain yang biasanya barang impor dalam tiga model besar setiap gitar yang ada di muka bumi ini.

Yakni model bolt on (penyambungan antara leher gitar dan bodi menggunakan baut), set in neck (penyambungan antara leher dan bodi gitar menggunakan sejenis lem), dan set through neck (leher gitar yang masuk ke dalam bodi gitar dan biasanya berharga jauh lebih mahal dibandingkan dua model sebelumnya).

Kata sahabat saya yang kebetulan berkebangsaan Korea dan jadi ketua asosiasi pengusaha asal negara itu di Surabaya, kualitas gitar-gitar tadi termasuk sempurna. Selain itu, karena dibuat dalam jumlah masif, jadilah produk-produk made in Indonesia itu tadi pemain pasar dunia terbesar nomor dua setelah produk serupa asal China.

Tapi ia menambahkan, gara-gara kualitas kayu dari alam Indonesia yang jauh lebih bagus, maka kualitas akhir gitar-gitar yang diproduksi disini pun mendekati sempurna. Faktor penunjang lain, apalagi kalau bukan ketersediaan tenaga kerja yang relatif murah.

Sayangnya, memang belum ada merek lokal dengan kekhasan tersendiri yang mampu berjaya dan berkibar hingga jauh ke negeri seberang. Sementara, seperti banyak terjadi industri lainnya, kita harus terus terlena dalam lautan jadi “tukang jahit” produk kepunyaan orang lain semata.

Sedari dulu selalu saja ada ungkapan yang terucap dari bibir sebagian pengusaha dari Indonesia, di hampir segala bidang produksi, bahwa apapun bisa saja dibuat asal ada contoh produknya.

Sebuah ungkapan yang mencerminkan sikap kepingin meraup untung sebanyaknya tanpa perlu repot memikirkan urusan konsep dasar dan filosofinya. Sikap yang menihilkan upaya buat melakukan riset dan pengembangan produk terus menerus.

Sikap dasar yang jadi warisan terus gara-gara salah kaprah pendidikan yang memang tak pernah mengajarkan seseorang supaya terus mencari jawab atas segala tanya.

Padahal kualitas sumber daya manusia Indonesia sungguh tidak rendah. Semenjak saya percaya penuh bahwa tak ada itu yang namanya konsep bangsa superior-inferior.

Bohong semua itu pendapat yang menyebutkan ada bangsa yang memang diadakan supaya jadi pemalas dan sebaliknya. Semenjak saya percaya penuh bahwa hanya ada satu jenis manusia di dunia ini.

Manusia.

Sekarang tinggal niat, kemauan, usaha, dan doa. Mau menaiki dinding rintangan atau malah menghindarinya.

Pilih.

07 March 2008

Kemasan Pemasaran

Ceritanya saya lagi keki dengan kualitas sepatu olahraga buatan salah satu perusahaan multinasional yang sangat jarang saya pakai. Karena saking jarangnya saya pergunakan, warna sepatu olahraga putih besar seharga ratusan ribu itu masih berkilat hebat.

Klaim salah satu raksasa produsen perlengkapan olahraga dunia itu soal produk alas kakinya yang empuk dan seolah bisa memberikan tenaga ekstra saat berlari pun masih terasa. Tapi yang jelas bikin keki adalah sambungan antara alas berbahan busa dan tubuh sepatu yang dilengkapi bahan kain dan kulit bertali yang mulai terbuka di sana sini.

Puncaknya, tenaga ekstra yang bisa diberikan saat kegiatan berlari atau berjalan dengan drastis jadi berkurang. Belum lagi tampilannya yang serta merta jadi buruk rupa.

Ah, jelas saja saya kecewa. Jelas lagi saya tengah kecewa pada diri sendiri.

Soalnya terbius klaim mematikan dari hebatnya kemasan pemasaran yang dilakukan salah satu perusahaan multinasional raksasa produsen perlengkapan olahraga dunia itu tadi.

Pada bagian ini saya teringat salah satu isi pembicaraan dengan Hermawan Kartajaya, salah satu pakar pemasaran di Indonesia. Katanya, pemasaran (marketing) selama ini sering salah dipersepsikan oleh masyarakat sebagai urusan yang semata-mata hanya berhubungan dengan masalah kemasan (packaging) dan persepsi produk.

Padahal di dalamnya terkandung tanggung jawab untuk bisa mewujudkan persepsi masyarakat tentang sebuah produk ke dalam kenyataan. Jadi, katanya lagi, pembentukan persepsi produk tanpa memperhatikan bagaiamana realitasnya di lapangan adalah bunuh diri paling cepat yang bisa dilakukan oleh suatu perusahaan.

Jika hal itu yang dilakukan, menurut Hermawan perusahaan bisa memanen keuntungan besar dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang perusahaan tersebut akan dipersepsikan hanya sekedar menjual janji belaka. Jadi pola yang baik itu harus bisa menciptakan apa yang disebut sustainable marketing enterprise.

Hermawan mencontohkan, beberapa iklan komersial yang cenderung melebih-lebihkan keunggulan produknya, tanpa memperhatikan keadaan yang sesungguhnya dari produk tersebut. Sebab menurutnya, menciptakan persepsi dan menciptakan realitas terhadap suatu produk adalah dua hal yang berbeda.

Pada bagian ini, saya makin awas, kalau produk-produk berkualitas minimalis bukan melulu dominasi produsen-produsen yang selama ini kita persepsikan begitu. Pada kasus saya, kekecewaan justru makin menjadi karena disebabkan buruknya kualitas produk salah satu produsen yang selama ini saya anggap termasuk salah satu yang superior.

Rupanya saya keliru dan telah termakan apa yang dinamakan persepsi produk akibat megahnya kualitas kemasan yang ujung-ujungnya bicara soal target penjualan.

Padahal, seorang pemasar yang baik menurut Hermawan tidak melulu berorientasi pada angka penjualan. Paling penting adalah bagaimana konsumen itu bisa terpuaskan oleh pelayanan yang diberikan.

Hermawan mengatakan, beberapa perusahaan besar di dunia yang berhasil adalah dengan menerapkan bahasa pemasaran yang mudah dimengerti konsumen dan tidak rumit. Perusahaan-perusahaan itu, kata Hermawan sangat menghindari penggunaan bahasa teknis walaupun dalam kenyataannya mereka sangan serius mengembangkan divisi riset dan pengembangan.

Selain itu, menurutnya pola pemasaran yang paling baik adalah dengan sesering mungkin mengasah pengalaman di bidang bisnis. Sebab intuisi bisnis, yang merupakan faktor kunci, akan dapat tercipta dari pola tersebut.

Hal yang menurutnya juga sangat penting dalam dunia pemasaran adalah permasalahan merek (brand) yang harus memiliki ciri khas. Ia menekankan adalah lebih baik untuk sedikit berbeda dibandingkan dengan menjadi sedikit lebih baik dalam melakukan pemasaran.

Yah, saya jadi tambah meyakini kalau keragaman dan perbedaan adalah modal buat mencipta kekuatan. Supaya segalanya menjadi lebih baik.

Beda.

02 March 2008

Rasa Budaya

Nyaris sebulan lalu kami sekeluarga pulang ke rumah orang tua saya di ibukota negara. Ceritanya, salah satu adik perempuan saya melangsungkan pernikahan dengan pilihan hatinya.


Jadi, sebagai saudara kandung tertua, saya sudah tiba di rumah yang jadi tempat saya dibesarkan itu beberapa hari sebelum hari pernikahan dilangsungkan.


Berbagai persiapan yang berbau budaya, saya ikut terlibat di dalamnya.

Mulai mencari janur kuning, membeli kembang setaman, hingga menjemput keluarga roti buaya yang panjangnya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia. Sedari mengantar anggota keluarga ke sejumlah pasar tradisional buat menemukan bumbu khas, sampai mengawasi tersulutnya rentetan petasan besar-besar sepanjang lima meter yang jadi ritual pembuka acara.

Saya juga terlibat diskusi soal pakaian adat yang bakal dipakai termasuk hidangan jenis apa yang disajikan bagi para tamu nantinya.

Sebagai keluarga besar dengan banyak sekali anggota keluarga, rumah orang tua saya sejak beberapa hari menjelang hari yang ditentukan, sudah disesaki banyak anggota keluarga. Saya tentu amat senang.

Soalnya kesempatan seperti ini jarang sekali terjadi. Bahkan tidak di hari raya sekalipun.

Karena kami saling dipisahkan jarak. Mulai dari beda belasan kilometer, puluhan kilometer, ratusan kilometer, hingga ribuan kilometer.

Keluarga besar saya tersebar di berbagai kantong-kantong budaya yang berbeda di berbagai titik. Penyebab utamanya, karena sebagian besar dari anggota keluarga saya memang percaya penuh pada kenyataan soal beda-beda budaya yang ada di muka dunia.

Jadi, soal saling silang budaya dalam ikatan pernikahan adalah soal yang jamak saja. Itu pula yang terjadi pada saya, juga salah satu adik perempuan saya yang mau menikah tadi.

Salah satu adik perempuan saya ini punya calon suami, saat ini tentu sudah jadi suami, dari suatu wilayah yang dikenal punya julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat. Ini tentu jadi khazanah baru lagi buat keluarga besar kami.

Hal yang bisa jadi kesempatan sangat baik untuk saling mengenal, saling tahu, dan saling memahami perihal adat dan kebiasaan masing-masing. Itu pula yang terjadi pada diri saya selama bertahun-tahun ini.

Karena itu, saya bahagia luar biasa tatkala bertemu lagi dengan anak-anak dari sepupu-sepupu saya yang punya beragam model keceriaan.

Ada yang tertawa dengan rambut kriwul dan kulit putihnya yang bak pualam. Lalu ada pula yang terus cengengesan dalam balutan warna kulit coklat legam dengan rambut lurusnya yang hitam memanjang.

Pada pojok lain ada yang terlihat sangat gembira dengan rambut pirang dan wajah khas timur tengahnya. Juga ada yang riang dengan wajah oriental dengan penanda khusus pada sudut-sudut matanya yang menyempit.

Mereka semua saling bercengkerama, layaknya karib yang tak bersua puluhan tahun lamanya.

Maka, diskusi soal pakaian adat apa yang bakal digunakan hingga hidangan apa yang bakal disajikan tak perlu lama saya ikut berdebat di dalamnya. Kami sekeluarga sepakat agar adik perempuan saya beserta calon suami, saat ini tentu sudah jadi suami, menggunakan pakaian resmi perwakilan kedua budaya.

Ditambah pakaian khusus yang kira-kira bisa mewakili semua budaya di Indonesia.

Soal makanan, nah ini yang paling saya suka. Disajikanlah rupa-rupa masakan yang menurut keluarga besar saya merefleksikan semua yang ada.

Jadi hadirlah sate, gado-gado, pempek, tekwan, laksa, hingga bakso. Tentu ditambahi jenis-jenis kuliner standar yang dimiliki perusahaan penyedia jasa katering yang dipergunakan.

Dalam pencarian rasa budaya tadi, saya dan anggota keluarga besar tak sampai harus kehilangan dan menghilangkan ciri-ciri budaya yang melekat. Sekalipun sudah puluhan tahun tinggal di lain habitat dan tercabut dari akar budaya yang membesarkan, tetap ada rasa kepemilikan yang kental.

Namun tak lantas pula itu berkembang jadi sifat chauvinis yang menjadi isme.

Bahwa karakter budaya yang ada memang selayaknya hanya dipakai buat mengenali konsep diri. Itu akan membimbing pada sebuah keputusan.
Mau jadi lebih baik, atau malah lebih buruk.

Bukan lantas mengagungkan budaya sendiri dan menghempas jatuh budaya yang lain. Atau sebaliknya.

Soalnya bukan standar budaya yang menentukan baik buruknya nilai seseorang. Tetapi lebih pada kata-kata dan perilaku seseorang itu dalam kehidupannya.
Pada pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Paling penting, soal-soal itu semua tidak ada kaitannya dengan berbagai identitas budaya dan kebudayaan yang ada. Memang, salah satu hasil kebudayaan adalah nyatanya rupa-rupa yang bisa dirasa. Seperti bahasa, alat-alat buat menopang hidup, kesenian, sistem kepercayaan, juga berbagai organisasi sosial.

Namun, budaya juga perkara ide, gagasan, aturan, dan segala norma yang tidak kelihatan. Abstrak.

Apa yang terjadi pada keluarga besar saya saat, waktu itu, pemerintah masih berkutat dengan urusan monokulturalisme yang mengharuskan adanya asimilasi kebudayaan adalah sebuah praktik multikulturalisme. Juga bukan praktik panci peleburan (melting pot) yang justru menghilangkan berbagai varian asing dari konsep kebudayaan yang dijadikan induknya.

Tapi multikulturalisme.

Perubahan-perubahan sosial seperti itulah yang kira-kira terjadi pada keluarga besar saya selama bertahun-tahun. Terjadi alami dan tanpa prasangka setelah kontak intens dijalin dengan berbagai kebudayaan lain.
Budaya yang sebelumnya dirasa asing. Tapi itulah esensi penciptaan lain rupa dan lain rona di antara kita.
Supaya saling kenal dan saling memahami. Bukan untuk tahu dan mengambil jarak darinya.
Apalagi sampai merasa paling bisa tanpa ada kemampuan untuk paling bisa merasa.

Malam itu, sehari sebelum saya sekeluarga kembali pulang ke tempat tinggal sekarang yang terpisah 900 kilometer lebih, kami sekeluarga besar berkumpul ramai-ramai di ruang tengah rumah orang tua saya yang berhiaskan akuarium besar berisi rupa-rupa jenis ikan hias.

Kami potong satu-satu anggota keluarga roti buaya yang panjangnya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia. Saya dapat bagian kepala induk buaya yang sebelumnya berulangkali dinaiki anak saya, yang menyangka roti buaya itu seperti mobil-mobilan yang biasa dikendarainya.

Anak saya dapat anggota terkecil keluarga roti buaya yang panjang tubuh kepala keluarganya menyamai ukuran bangku belakang minibus paling laris di Indonesia tadi.
Saya menerawang. Kapan lagi kesempatan tercepat mengulangi pengalaman ini.

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.