25 April 2008

Suvarnabhumi Membumi

Beberapa waktu lalu saya ditinggal pesawat milik maskapai asal Indonesia yang terus menerus dicekal buat terbang di atas langit Eropa. Bukan gara-gara saya terlambat. Juga bukan karena saya alpa membawa tiket.

Tapi kesialan memang sedang mampir pada saya di siang terik itu. Ceritanya, tiket kepulangan saya kembali ke Jakarta, secara tak disangka tak terbawa oleh seseorang yang sebelumnya saya percayakan untuk mengurus soal itu di Jakarta.

Jadilah, saya tercecer sendirian di Bandara Suvarnabhumi, Racha Thewa, Bang Phli, Provinsi Samut Prakan, Thailand, pada siang menggantang itu. Suvarnabhumi yang kira-kira berarti sama dengan Tanah Emas.

Saya masih mencoba jurus nekat pada detik-detik terakhir. Sambil menerobos lorong-lorong penjagaan akhir petugas imigrasi.

Mencoba menjelaskan kalau saya adalah penumpang resmi. Kalau tak percaya silahkan cek sendiri. Kira-kira seperti itulah argumentasi konyol saya ketika itu.

Mengambil jarak sejurus, saya balik kanan tatkala upaya itu gagal. Saya pijit-pijit tombol di telepon genggam. Entah siapa yang saya hubungi.

Muka saya terasa panas. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung jatuh taat pada hukum gravitasi.

Sampai pada akhirnya burung besi yang sedianya saya tumpangi itu melesat jauh melawan hukum gravitasi.

Mata saya nanar. Menatap sekeliling. Mencoba menganalisa situasi. Mengenali ancaman sekaligus peluang.

Segera saya sadari, sebenarnya ini bisa dilihat sebagai sebuah berkah. Yah, segala sesuatu memang bisa diteropong dari berbagai sisi.

Jika ada pendapat positif, pastilah ada juga yang menganggapnya negatif. Kalau ada yang bilang sesuatu itu baik, bisa dipastikan pada kutub lain ada yang bilang sesuatu itu buruk.

Jadi, semua hal nilainya memang relatif. Tak ada kebenaran absolut.

Saya telepon seorang teman yang masih tinggal sementara di Provinsi Chonburi, Thailand. Tepatnya di lokasi wisata Pantai Pattaya.

Minta tolong supaya pulsa telepon saya diisi. Sekedar jaga-jaga saja kalau-kalau saya terpaksa menginap di bandara. Atau dari kemungkinan apa saja.

Sebuah mekanisme wajar pertahanan diri di daerah yang asing adalah dengan mendekatkan identitas kita dengan berbagai karakteristik yang dikenali. Inilah yang menjelaskan kenapa organisasi bersifat kedaerahan eksis di berbagai kota.

Juga asosiasi mengenai kumpulan bangsa-bangsa tertentu yang dinamis di negara-negara yang bukan rumpun mereka.

Pulsanya masuk. Nilainya 300 baht Thailand. Atau sekitar Rp 100 ribu.

Saya duduk di sebuah kursi. Ada beberapa orang dengan tas-tas besar di kanan kiri saya. Mereka tak peduli dengan kehadiran saya.

Tampaknya mereka penumpang transit dari sejumlah negara. Itu tampak dari muka mereka yang letih. Juga aroma badan yang tak lagi segar.

Ada pria tua berseragam berusia di akhir 50 tahun yang saya lihat wira wiri. Ia petugas resmi bandara itu.

Sepasang matanya awas mengamati gerak gerik saya. Ada seorang pria gagah berusia lebih muda mendampingi. Mungkin lelaki muda ini deputinya.

Akhirnya dia tak dapat memendam hasratnya untuk tidak menanyai saya. Pertama sekali pertanyaan yang meluncur deras dengan jantan dari balik bibir keriputnya adalah, apakah saya sudah punya tiket.

Saya bilang tak kalah gagahnya. Punya.

Pikir saya, daripada panjang urusan. Berhadapan dengan birokrasi di sebuah negara yang saya belum paham betul bagaimana aturan mainnya.

Jadi sekali lagi saya bilang.

Punya.

Secepat lalat merasakan bahaya, saya pun putar haluan troli berisi ransel besar dan berbungkus-bungkus barang bawaan. Sebelum ia meminta bukti nyata ucapan saya.

Ternyata, tiket pulang yang tidak terbawa bukan hambatan bagi saya mencari tiket penerbangan lain ke Jakarta. Karena informasi panduan cukup jelas. Disajikan dalam bahasa Thai dengan aksara Brahmi dan bahasa Inggris dengan aksara Latin.

Setelah tanya jadwal tercepat penerbangan ke Jakarta pada sebuah maskapai asal negeri jiran yang maju berkat konsep low cost carrier, berikut harganya. Saya hitung persediaan duit.

Untungnya sejumlah lembar dollar Amerika Serikat masih saya kantungi. Pergilah saya ke gerai penukaran mata uang.

Lalu saya menunggu selama delapan jam. Sampai waktu keberangkatan dinyatakan.

Aktivitas menunggu di Bandara Suvarnabhumi yang dibuka resmi 28 September 2006 sebagai pengganti Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand yang dibuka sejak 27 Maret 1914 rupanya bukan persoalan.

Setidaknya bagi saya.

Tak ada calo. Tak ada petugas berkumis baplang yang bertampang menakutkan.

Cuma petugas bandara berseragam tadi. Petugas yang menanyakan tiket yang dimiliki.

Mengisi waktu selama berjam-jam itu juga bukan hal membosankan.

Dengan luas terminal 563.000 meter persegi dan menara kontrol 132,2 meter, menjadikan Suvarnabhumi sebagai bandara dengan luas terminal terbesar kedua dan menara kontrol tertinggi nomor satu di dunia.

Saya potret sana potret sini. Sampai saya ubah setelan memori kamera digital, supaya bisa lebih banyak menampung hasil jepretan.

Jadi, delapan jam pun rasanya masih kurang buat merayakan seisi bandara yang konstruksi runway paralelnya (masing-masing dengan lebar 60 meter serta panjang 4000 meter dan 3.700 meter) dan taxiway paralelnya sempat mengalami kerusakan serius itu.

Saat peristiwa itu terjadi, sejumlah penerbangan tertunda dan dialihkan pada 25 Januari 2007, menyusul perbaikan serius terhadap keretakan yang terjadi pada runway.

Tak perlu risau menunaikan ibadah lima waktu bagi umat Muslim. Terdapat mushalla yang nyaman dengan daya tampung lumayan serta akses yang mudah karena banyaknya papan penunjuk.

Ada begitu banyak deretan restoran, kafe, dan tempat leyeh-leyeh yang membuat seolah Cilandak Town Square Mall di Jakarta hadir di bandara itu. Saya bergegas ke toko buku yang penjaganya sempat tarik urat dengan saya, ketika di pagi buta beberapa hari sebelumnya saya tiba usai mendarat.

Waktu itu sikapnya tidak simpatik. Padahal saya cuma mau beli buku percakapan singkat dalam bahasa Thai yang beraksara Latin. Bukan Brahmi yang sepintas mirip aksara Hanacaraka dalam bahasa di Tanah Jawa itu.

Supaya bisa saya praktikkan.

Tapi buku yang saya maksudkan memang sepertinya tak dijual di tempat itu. Akhirnya saya putuskan buat berjalan ke jurusan lain.

Sebelum ke ruang tunggu keberangkatan, saya masih sempat mampir pula ke deretan toko yang nuansanya serupa di Pondok Indah Mall atau Plaza Senayan di Jakarta.

Tapi pasti, tak ada barang yang saya beli. Apa daya, persediaan lembaran uang di dompet sudah menipis sekali.

Saya juga tak punya solusi berupa kartu kredit, yang bagi saya masih lebih mirip serigala pemangsa di malam hari.

Informasi keberangkatan dan kedatangan dipampang di berbagai lokasi. Jadi, tak usah khawatir kelewatan informasi saat asyik masyuk berbelanja atau menikmati hidangan.

Tapi perut yang keroncongan tak bisa diajak kompromi. Jadi, saya pun mencoba hidangan nasi kare ayam seharga 85 baht yang belum termasuk pajak 10 persen, plus air mineral 15 baht.

Sayangnya, belum ada kesempatan bagi saya mengabadikan kesibukan lalu lalang pesawat di bandara yang didesain oleh Helmut Jahn dari biro arsitek Murphy/Jahn Architects itu. Tepat pukul delapan malam saya menentang hukum gravitasi.

Membran gendang telinga saya berdengung. Kombinasi raungan mesin scram jet yang menyeruak ke dalam kabin ditambah serangan influenza jadi perpaduan sempurna.

Tiga setengah jam kemudian saya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.

Kontras.

24 April 2008

Setan Pendidikan

Tiga hari yang lalu saya bangun pagi-pagi sekali. Bergegas saya sambar gagang telepon.

Anak lelaki saya yang berumur 21 bulan berceloteh girang. Istri saya yang baru saja meninggalkan zona nyamannya sebagai karyawan serta memilih jadi seorang entrepreneur dan pagi itu tengah bersiap menemui salah seorang kliennya, tak mampu menyamai agresivitas anak lelaki saya.

Dalam sekejap gagang telepon yang dilewati jaringan kabel tembaga itu sudah berpindah ke tangan anak lelaki saya.


Pagi itu saya bermaksud menelepon adik perempuan saya yang bungsu di Jakarta. Beda usia sembilan tahun memisahkan kami.

Tiga hari yang lalu, sebagai siswi kelas akhir sebuah sekolah menengah kejuruan, adik perempuan saya yang bungsu itu mulai menjalani “perang” nya sendiri.

Ia mesti mengikuti sebuah proses bernama Ujian Sekolah Berstandar Nasional atau USBN.

Banyak orang menyebutnya dengan kependekan Ujian Nasional atau Unas. Ada juga yang menyingkatnya pendek sekali dengan dua huruf saja.

UN.

Dari seberang gagang telepon, adik perempuan saya yang bungsu terdengar gugup. Tapi saya tak bisa banyak berbuat. Hanya sedikit nasihat standar yang saya semburkan. Selebihnya saya malah lebih banyak berbincang dengan Emak saya.

Sebelum anak saya menyambar gagang telepon yang dilewati jaringan kabel tembaga tadi.

Dalam tiga hari belakangan ini badan saya kemudian jadi meriang tak karuan. Tidur tak nikmat. Bentol-bentol menyerang dan rasa gatal menghebat di seluruh tubuh.

Usai hari pertama ujian itu, saya lihat tayangan televisi soal sejumlah pelajar yang menangis tiada henti usai menjalani “perang” nya di hari pertama. Mereka tak menyangka soal yang disajikan sangat sulit.

Jadi, mereka menangis. Takut tak lulus saringan UN tadi.

Saya ingat adik perempuan saya yang bungsu. Gatal saya makin menghebat. Bentol-bentol kali ini sudah sampai di kulit kepala.

Segera saja saya raih gagang telepon lagi.

Memang soalnya sulit. Gara-gara itu pula beredar bocoran soal kunci jawaban UN di sekolah adik perempuan saya yang bungsu. Entah siapa penyebarnya dan apa motivasinya. Entah benar, entah tidak bocoran soal itu.

Adik perempuan saya yang bungsu bergeming terhadap tawaran menggiurkan itu. Alasannya sederhana.

Gue takut ditangkap polisi,” itu katanya.

Jadilah ia melanjutkan “perang” nya itu dengan kejujurannya. Dengan caranya sendiri. Bersama prinsip yang diyakininya.

Ada mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika yang mesti dihadapinya dengan standar rata-rata 5,25 supaya bisa lulus. Tahun lalu, standar minimal ini masih berada pada angka 5.

Semuanya masih ada larangan tidak boleh ada nilai lebih rendah dari 4,25. Atau nilai minimal 4 pada mata pelajaran tertentu dengan mata pelajaran lain minimal 6.

Selain itu, sebagai siswi sekolah kejuruan, ia juga diwajibkan meraih nilai minimal 7 untuk sejumlah mata pelajaran kompetensi yang merujuk pada keahliannya. Nilai-nilai ini dipakai pula buat menghitung rata-rata nilai UN.

Hari ini sudah hari ketiga. Pada layar televisi saya saksikan sejumlah guru ditangkap polisi. Tuduhan membocorkan soal UN berikut kunci jawaban dengan gagah dialamatkan.

Mereka digelandang masuk ke kantor polisi. Hukuman penjara enam tahun menanti.

Seolah-olah tokoh-tokoh pengajar dan pendidik itu adalah penjahat kelas berat. Lebih jahat daripada pengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Lebih buas daripada koruptor.

Mau dikata apa. Berita yang disajikan di layar televisi tadi juga tak mencerahkan. Seolah hanya sekedar mencari sensasi.

Hanya melihat dari sudut pandang sosok guru yang semestinya di gugu dan di tiru, untuk kemudian dikontraskan dengan kelakuannya saat UN digelar. Perilaku yang dengan gagahnya disebut sebagai jahat.

Tak terpuji.

Membuat sejumlah guru yang digelandang ke dalam kantor polisi itu harus menutupi wajah mereka dengan selembar kain kecil. Atau dengan apa saja.

Tak ada ulasan tambahan. Soal gaji dan tunjangan guru yang belum sampai. Soal berbagai ancaman sanksi hingga pemecatan terhadap guru-guru itu jika ada anak didik mereka yang tak lulus UN.


Soal utang-utang mereka yang menumpuk untuk sekedar bertahan hidup. Soal janji tunjangan sertifikasi yang praktiknya tak sepenuh hati.

Soal pemotongan anggaran program pendidikan tahun ini yang besarnya mencapai 10 persen. Dari jatah Rp 49 triliun dipotong Rp 4,918 triliun, hingga jadi Rp 44 triliun lebih sedikit saja.

Soal-soal yang pasti mendegradasi kesejahteraan guru-guru tersebut.

Tujuannya penghematan anggaran. Tapi tetap saja mereka yang dengan bangga menyebut diri sebagai wakil rakyat, dan minta dihormati serta merasa punya kehormatan lebih sehingga butuh sebuah lembaga khusus bernama Badan Kehormatan, wira wiri pakai fasilitas kelas satu.

Pejabat mana yang mau hidup melarat bersama rakyat. Jadi, anggaran mana yang dihemat.

Mau dikata apa. Berita yang disajikan di layar televisi tadi juga tak mencerahkan. Seolah hanya sekedar mencari sensasi.

Diam-diam saya bertanya pada diri sendiri. Ada kemungkinan yang sangat besar bagi saya untuk gagal dalam UN, jika saya duduk di bangku kelas terakhir SMA pada tahun ini.

Bayangkan saja, dengan standar minimal yang harus dipenuhi tanpa cela itu, saya harus menyelesaikan soal-soal yang meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.

Itu kalau saya memilih program IPS, jika saya memilih program IPA maka Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi siap menghadang.

Di program bahasa ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sastra Indonesia, Bahasa Asing, dan Antropologi. Jika program Keagamaan yang saya pilih, maka Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Matematika, dan Tasawuf atau Ilmu Kalam sudah menanti.

Semua harus lolos persis dengan standar minimal tadi. Bagi saya, itu sulit.

Soalnya, pertama, saya bukanlah manusia dengan kemampuan multi-intelejensia.

Kata Howard Gardner yang punya teori soal intelejensia (kecerdasan) ganda, setelah menemukan tujuh jenis kecerdasan manusia pada dekade 80an, ada sembilan jenis kecerdasan pada manusia yakni linguistik, matematis-logis, kinestetik, ruang-visual, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan, dan eksistensial.

Dua jenis kecerdasan tambahan ditemukannya lagi pada 1999 lalu.

Semua jenis kecerdasan tadi bisa ada pada manusia. Bisa juga hanya satu atau dua di antaranya saja.

Tetapi adalah tidak mungkin jika seorang manusia tidak memiliki satu saja di antara jenis-jenis kecerdasan yang kata Gardner ada sembilan macam tadi.

Bisa jadi gabungan beberapa jenis kecerdasan, atau semua jenis kecerdasan, atau dominasi hanya satu jenis kecerdasan itu tadi yang cenderung membentuk pola perilaku sosial seseorang dalam bermasyarakat.

Nah, hal tersebut rupanya selama ini belum tersentuh oleh pengambil kebijakan pendidikan negeri ini. Fokus utama sepertinya melulu soal kecerdasan matematis-logis.

Diukur angka. Dinyatakan dalam bilangan.

Padahal setiap orang punya tiga unsur penting. Selain fisik, jiwa dan pikiran juga aset berharga manusia. Hati adalah kunci. Organ tubuh paling bertanggung jawab terhadap segala tindak tanduk dan polah perilaku manusia.

Hati bisa berubah. Hati bisa diubah.

Tentu tabir ini takkan pernah terbuka jika selama hidup, yang melulu dicekokkan hanyalah berbagai standar konyol soal pendidikan yang tengah salah membaca peta di negeri ini tadi. Jadilah banyak orang terus memendam hasrat untuk memakai topeng orang lain dan menihilkan jati diri.

Jadilah banyak sekali terjadi aneka tren tidak penting yang menggelora tiap hari di negeri ini. Jadilah kita masih terus menerus terkungkung dalam budaya konsumsi.

Padahal kita kaya potensi dan semestinya bisa berproduksi. Banyak sumber daya alami yang bikin banyak negara lain iri. Banyak kekayaan berbagai dimensi yang seringkali bikin negara lain keki.

Sayangnya kita belum mampu mandiri. Lagi-lagi ini soal pendidikan yang belum diseriusi.

Belum-belum, anggaran pendidikan yang sudah amat sangat kurang itu justru dipotong. Supaya ada penghematan pengeluaran bagi negara.

Pejabat mana yang mau hidup melarat bersama rakyat. Jadi, anggaran mana yang dihemat.

Soal kedua, saya merasa tak cukup kuat menahan beban keharusan dari model UN kini. Logika soal standardisasi yang menurut saya amat sangat tidak logis.

Bagaimana mau menyamakan ujian dengan standar nasional, jika selama tiga tahun menempuh pendidikan dan menyerap pengetahuan, tak ada standar yang bisa dirasakan.

Dari Sabang sampai Merauke.

Saya dan adik saya masih beruntung. Kami sekolah di Jakarta. Sekolah yang masih lengkap meja, kursi, dan papan tulisnya.

Sekolah yang masih punya laboratorium komputer dan perpustakaan. Sekolah yang punya lapangan olahraga dan beralaskan tegel keramik mengkilap.

Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kami yang bersekolah di sekolah-sekolah yang fasilitasnya tak selengkap seperti yang dimiliki sekolah kami. Bagaimana saudara-saudara kami yang bersekolah dengan guru-guru yang kehadirannya untuk mengajar tak bisa diprediksi, apalagi dipastikan.

Tetap saja, mereka harus menempuh UN juga. Dengan standar akhir yang disamakan!

Soal ketiga, saya merasa fokus pendidikan makin lama makin buyar. Orang semakin dituntut untuk belajar semua hal, tanpa menjadi paham akan hal-hal yang dipelajarinya.

Tanpa fokus.

Tanpa maksud meremehkan, saya merasa segala beban mata pelajaran yang saya harus hadapi selama tahun-tahun saya sejak bersekolah nyaris tanpa guna. Saya baru benar-benar merasa terfokus tatkala bertemu dengan banyak orang untuk berdiskusi.

Ketika saya main teater. Saat saya menikmati permainan lagu dan musik. Tatkala ada topik-topik yang memang merangsang saya untuk bergumul lebih jauh dengannya.

Manakala saya sedang melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah pedesaan terpencil dengan penduduk dan keadaan aslinya. Saat saya bertemu realitas.

Jadi bayangkanlah, berapa tahun waktu saya habiskan percuma untuk mempelajari hal-hal yang tak saya minati.

Tapi harus saya pelajari. Supaya dapat nilai.

Agar bisa lulus.

Kali lain saya tanya adik perempuan saya yang lain, yang sudah lulus dari sebuah institut kesenian ternama di Jakarta. Dia mengaku, rasa-rasanya tak ada hal yang bisa diingat ataupun manfaat yang dicerapnya selama tahun-tahun mengecap aneka mata pelajaran di sekolah.

Ia baru menemukan jati dirinya yang utuh tatkala memutuskan ikut pendidikan lanjutan pada sebuah institut kesenian ternama di Jakarta itu. Sejak dua semester awal sudah banyak hasil yang bisa diperlihatkannya.

Kini ia merasa itulah dunianya. Sebuah dunia yang baru ditemukannya dalam lima tahun terakhir ini.

Jadi bayangkanlah, berapa tahun waktu yang dihabiskan adik perempuan saya yang sudah lulus dari sebuah institut kesenian ternama di Jakarta itu secara percuma, untuk mempelajari hal-hal yang sebetulnya tak ia minati.

Tapi harus dipelajarinya. Supaya ia dapat nilai.

Agar ia bisa lulus.

Hari ini sudah hari ketiga. Diam-diam ada perasaan bangga menyeruak terhadap adik perempuan saya yang bungsu, yang baru saja usai menjalani UN.

Terhadap pilihannya. Terhadap prinsipnya. Terhadap kejujurannya.

Dik, apapun hasil UN bagimu nanti, entah kau lulus ataupun tidak, kau akan tetap jadi pahlawan sejati bagiku. Abangmu.

UN. United Nothing.


21 April 2008

Realitas Blues

Malam Jum’at kemarin mampir sebuah pesan singkat di layar telepon genggam saya. Sebuah informasi dari seorang sahabat saya di Jakarta.

Kabar soal jadwal tontonan yang dibawakan sejumlah pemusik blues di kota itu. Tontonan hidup yang tersaji di salah satu tempat nongkrong dan kongkow-kongkow sembari menyantap makanan dan menyeruput minuman.

Blues yang erat dengan realitas dan kejujuran fakta hidup. Blues yang mulanya banyak dibawakan kalangan tertindas di Amerika Serikat bagian Selatan.

Inilah akar bagi jazz dan rock yang dengan berbagai variannya, atau jenis musik apapun juga yang sekarang menguasai jagad hiburan dan jadi komoditas dengan ukuran utamanya pada aspek komersial.

Soal nilai jual.

Informasi yang sampai pada saya soal jadwal manggung tadi sejatinya adalah sebuah revisi. Soalnya, hampir satu bulan lalu kami berdua sedikit keki.

Setelah putar-putar beberapa lokasi hingga menjelang pagi, sajian hidup musik blues yang pada masa awalnya banyak bercerita soal kesedihan dan depresi itu tak juga kami temukan. Sebetulnya ada satu klub yang jadi andalan buat menyaksikan musik blues yang liriknya sering dinyanyikan berulang-ulang dengan sebuah larik kesimpulan itu.

Tapi, pada waktu pagi buta itu kami datang berkunjung, pintunya terkunci rapat. Ada sebuah papan penunjuk yang memastikan klub itu lagi tutup.

Kata sahabat saya, pemiliknya memang sangat moody. Keputusan buka atau tidak, tergantung juga jadwal manggung kelompok musiknya.

Yah, jadilah hari itu kami luntang luntung sampai menjelang waktu subuh.

Membaca pesan singkat di layar telepon genggam tadi, saya pun masih harus merem melek menahan keinginan buat mendengar dan menyaksikan tontonan itu secara langsung. Mau bagaimana lagi, tak kurang dari 900 kilometer jarak, kini memisahkan saya dan ekstase musikalitas itu.

Kebetulan, baru tiga hari yang lalu saya ketemu Andre Hehanussa. Kata Andre, yang dulu merintis karir sebagai salah satu vokalis Katara Singers, dia lagi bersiap meluncurkan album barunya pada bulan depan.

Mantan rekan duet Julio Iglesias lewat lagu berjudul To All The Girls I’ve Loved Before itu dengan percaya diri menunjuk dadanya dan dada saya dengan telunjuk tangan kanannya.

“Kau Adalah Aku,” katanya singkat.

Itu judul album barunya.

Digarap bersama Syarif Bastaman dan Adi Adrian. Nama terakhir adalah salah satu personel kelompok musik bernama KLa Project.

Kelompok musik yang mulai bikin saya patah hati sejak total empat personelnya berkurang pada 2001 lalu. Lalu, satu demi satu di antara mereka pun pergi.

Hingga sekarang saya belum mendengar lagi kabar baru dan baik soal KLa Project.

Padahal kalau ukurannya adalah menyukai seluruh hits KLa Project, saya ini termasuk KLanis. Sebutan yang kira-kira mirip dengan Slanker buat penggemar kelompok musik Slank atau Oi buat penggila Iwan Fals.

Kata Andre yang dulu gemar membawakan sejumlah komposisi milik The Manhattan Transfer saat bersama Katara Singers, “pertapaan” selama empat tahun menghasilkan album baru itu. Total berisi 12 buah lagu.

Namun Andre belum menjelaskan apakah album baru itu masih akan kental rasa rhytm & blues seperti ketika ia melejit lewat Bidadari, Karena Kutahu Engkau Begitu, dan Kuta Bali itu.

Tapi saya menduga referensinya tak jauh dari pengaruh jazz, rhytm & blues, dan pop. Jenis-jenis yang dilagukan The Manhattan Transfer yang dikagumi Andre karena harmonisasi komposisinya.

Jenis-jenis yang mengakar semuanya pada blues.

Tapi ada sedikit perbedaan antara The Manhattan Transfer dan KLa Project yang harmonisasi komposisinya juga saya kagumi.

Adalah fakta bahwa sejak mula berdiri pada 1972 lalu, The Manhattan Transfer tak pernah bubar hingga kini. Mereka terus eksis dan berlatih serius.

Sampai tulisan ini dibuat, komposisi vokal dua perempuan dan dua laki-laki itu masih terus eksis di jagad musik dunia.

Hanya salah seorang anggota paling awal, Laurel Massé, yang tidak lagi bergabung sejak kecelakaan mobil yang menimpa pada 1978 lalu. Cheryl Bentyne jadi pengganti Laurel Massé kemudian.

Andre yang bersungguh-sungguh soal album barunya dengan jadwal rilis pada 9 Mei nanti memastikan ada lagu dengan nuansa kritik sosial di dalam album barunya nanti. Inilah rupanya salah satu hasil pergulatan dan pertapaannya selama empat tahun.

Kembali pada akar blues yang bercerita soal realitas sosial.

Tapi lagi-lagi, suami Cut Rizky Theo itu belum menjelaskan soal perbedaan menangkap realitas sosial dan hubungan cinta asmara antar dua anak manusia.

Mungkin dia masih mau mencoba unsur kejutan.

Tapi mungkin pula karena Andre merasa tak ada bedanya antara dua hal itu. Lagipula, soal cinta kan melulu realitas sosial juga.

Ah, blues.

12 April 2008

Tipu Bibir

Ceritanya saya lagi bersantai di depan televisi. Layar berwarna dengan penampang seluas 21 inci persegi itu menampilkan seorang artis ternama lagi beraksi.

Yah, bisalah ia kita sebut artis multi bakat. Bisa menyanyi. Mampu bikin lagu dan lirik yang membius. Pandai pula memainkan berbagai instrumen musik.

Akhir-akhir ini namanya terus mencuat. Bukan karena ada album barunya yang meledak. Tetapi lebih karena persoalan di seputar wilayah pribadinya.

Kembali ke layar televisi milik saya yang tengah memancarkan siaran langsung artis tadi. Saat itu, ia tengah menyanyi. Didampingi satu kelompok pemain band muda. Nama band itu dipilihnya berbeda dengan nama band induk yang membesarkan namanya.

Sebetulnya, ia kini sudah punya beberapa band di luar band induk yang membesarkan namanya tadi. Tentu semuanya berada dalam manajemen yang sama. Kira-kira, band induk yang membesarkan namanya itu tadi serupa logika holding company pada sebuah kelompok usaha dengan gurita bisnis dimana-mana.

Nah, sepintas suara yang keluar dari sistem tata stereo televisi milik saya yang buatan China itu terdengar sempurna. Sebuah televisi multi sistem dengan tabung sinar katoda yang sudah mulai buram di pojok atas kanannya. Tetapi lama-lama, kok suara yang ada malah terdengar terlalu sempurna.

Alias, bukan ukuran sempurna. Jika klaim yang disebutkan stasiun televisi penyiar si artis yang lagi nyanyi tadi adalah siaran langsung.

Jelas bagi saya, si artis multi bakat yang namanya lagi melambung gara-gara soal seputar ranah pribadinya tadi tengah mempraktikkan teknik lip sync.

Sebuah teknik bernyanyi yang merujuk artinya pada sinkronisasi gerak bibir dengan suara yang keluar dari rekaman berkualitas sempurna yang sebelumnya sudah disiapkan. Biasanya rekaman yang dipakai adalah standar rekaman dimana produk jadi berupa lagu dilempar ke pasaran dalam bentuk cakram padat atau pita kaset.

Lip sync kependekan dari sebuah istilah bernama lip synchronization. Sebuh upaya menyamakan gerakan bibir dengan rekaman suara yang diputar dan telah disiapkan sebelumnya.

Memalukan.

Sebetulnya saya jijik buat menonton lanjutan konser, jika bisa disebut begitu, dari si artis multi bakat yang termasuk jajaran penghibur papan atas berkat predikat yang disematkan padanya oleh sejumlah media. Tapi bagi saya ini memancing rasa penasaran.

Kenapa si artis multi bakat itu mau melakukannya.

Terlepas apakah konser itu, jika bisa disebut begitu, merupakan konser gratis atau tidak, tetap saja itu sebuah bentuk penipuan. Apakah memang standar siaran salah satu stasiun televisi yang menyiarkan konser itu, jika bisa disebut begitu, memang demikian adanya.

Mengharuskan kualitas suara yang yang keluar seperti detail rekamannya.

Walaupun untuk tujuan itu, rupa si artis multi bakat tadi megap-megap tak karuan seperti sedang keracunan obat.

Berupaya menyamakan gerakan bibirnya yang terus menerus disorot dari jarak dekat dengan rekaman suara yang keluar dari sistem tata suara canggih yang dipergunakan.

Jika memang standar yang dianut salah satu stasiun televisi yang menyiarkan konser, jika bisa disebut begitu, tersebut adalah kesempurnaan layaknya pita kaset atau cakram kompak, tetap ada keanehan. Mengapa juru sorot kamera terus menerus mengarahkan moncong kamera ke bagian muka si artis multi bakat tadi.

Membuat rupa si artis multi bakat tadi megap-megap tak karuan seperti sedang keracunan obat.

Pada titik ini saya tidak yakin, siapa yang memanfaatkan siapa. Siapa yang dimanfaatkan siapa.

Tapi jelas bagi saya, si artis multi bakat ini tak layak lagi jadi referensi. Lebih baik saya menikmati konser alami pemusik-pemusik jalanan yang menenteng-nenteng gitar bolong (baca: akustik), bas betot ukuran ekstra, serta seperangkat drum rakitan sendiri.

Kadang jika saya lagi beruntung, suka bertemu kelompok musik model begini yang melengkapi aksinya pakai harmonika dan permainan biola. Satu hal utama jadi pembeda mereka dan si artis multi bakat tadi.

Jujur.



10 April 2008

Kopi Kelam

Ada dua benda yang menghubungkan emosi saya dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam seminggu terakhir ini.


Pertama adalah kopi bubuk bermerek Ulee Kareng. Barang kedua adalah film dokumenter buatan seorang jurnalis lepas bernama William Nessen, berjudul “The Black Road.”


Film itu dibuat sejak kunjungannya ke bumi “Serambi Mekah” pada 2001 lalu hingga kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI ditandatangani di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.


Delapan bulan setelah bencana dahsyat berupa gelontoran gelombang tsunami menghajar sebagian besar wilayah NAD.


Kedua benda itu saya terima dari seorang sahabat. Seorang teman dekat yang saya kenal baik sejak kami sama-sama belajar di tingkat sekolah menengah atas. Sekolah yang sudah sama-sama kami tinggalkan sejak sembilan tahun lalu.


Sahabat saya itu bekerja pada sebuah perusahaan multinasional yang punya berbagai proyek pembangunan di banyak negara. Mulai Afghanistan hingga Indonesia.


Menjadi rekanan pihak ketiga bagi proyek-proyek yang biasanya diorder oleh organisasi non pemerintah, atau bahkan oleh pemerintah itu sendiri.
Sudah lewat satu tahun ini dia ditugaskan di NAD.


Minggu lalu kami bersua di Jakarta. Dia berikan pada saya kedua barang itu.


Benda pertama selalu bisa membuat sahabat saya itu merasa bodoh jika ia harus ikut-ikutan tren minum kopi di kedai-kedai kopi berlabel internasional yang kini marak di banyak kota besar. Soalnya sahabat saya ini sering sekali menghabiskan waktunya kongkow-kongkow dan minum kopi pada sejumlah kedai kopi tradisional di berbagai pelosok NAD.


Kebetulan, kopi yang digunakan di kedai-kedai kopi berlabel internasional dan sejumlah kedai kopi tradisional di berbagai pelosok NAD itu sama persis. Cita rasanya, berdasarkan pengakuan teman saya itu, jelas lebih nendang saat ia mereguk saringan biji-biji kopi jenis arabica itu dari tempat asalnya.


Semua masih ditambah dengan harga yang relatif jauh lebih murah dibandingkan saat biji-biji kopi itu diberi label mentereng dan masuk kedai-kedai kopi penjaga gengsi yang tersebar pada seantero Mal di Nusantara.

Sahabat saya makin merasa bodoh ketika suatu hari, tak jauh dari tempatnya ngopi di sebuah wilayah NAD, berdiri sebuah gudang penyimpanan biji-biji kopi yang baru dipanen. Biji-biji kopi hasil panen yang akan segera dipasok ke salah satu perusahaan multinasional yang gerai-gerai minum kopinya tengah jadi wabah dan tren gaya hidup di sejumlah kota besar di Indonesia.

Sahabat saya itu bingung. Kenapa kok saat ini tiba-tiba banyak orang Indonesia betah berlama-lama duduk di kedai-kedai kopi yang tersebar di berbagai Mal itu sembari membawa-bawa buku.

Kata saya, syukurlah, setidaknya pergeseran dari budaya menonton ke budaya membaca mulai terjadi. Atau, setidaknya sudah bisa ditonton sebagai seperti itu.
Saya buka segel kopi pemberiannya. Kopi dengan label Ulee Kareng tadi, yang sebetulnya adalah nama salah satu kecamatan di wilayah Banda Aceh.
Terbuat dari tanaman kopi berjenis arabica yang disebut-sebut lebih kaya rasa dibandingkan biang kafein berjenis robusta.

Saya jerang air secukupnya sampai mendidih. Saya bagi rata komposisi kopi dan gula ke dalam empat cangkir yang ada, sebelum saya tuang air yang tengah menggelegak dalam panci ke dalam cangkir-cangkir itu.

Malam itu, di teras depan rumah milik Bapak dan Emak saya, kami mengobrol sampai pagi. Bersama dua sahabat saya yang lain.

Sayangnya, karena keterbatasan pengetahuan dan keahlian saya dalam mengolah bulir-bulir kasar kopi yang idealnya disajikan dengan cara disaring itu, tak ada rasa aslinya yang keluar. Tetap saja, masih ada kenikmatan yang tanggal di langit-langit mulut.
Membekas panas di lidah.

Bulir-bulir kasar kopi bubuk itu kini masih tersisa banyak. Menunggu saya menguasai teknik terbaik untuk mengeluarkan rasa dan aroma aslinya.

Benda kedua adalah barang yang tak beredar di sembarang tempat. Sebuah rekaman gambar begerak dari petualangan jurnalistik William Nessen yang warga negara Amerika Serikat.

Pengalaman dia selama pergolakan di NAD sepanjang 2001-2005.

Plot maju mundur yang digunakan Nessen lumayan memikat. Cerita dibuka dengan gambar kehancuran masif usai tragedi tsunami pada akhir 2004.

Sebuah kontras tersaji, saat hantaman derita tengah menghajar akibat terjangan bencana, permusuhan antara GAM dan Pemerintah RI yang belum selesai membuahkan nuansa curiga dimana-mana. Ada pertanyaan. Ada pukulan dan hajaran.

Kisahnya kemudian mundur, saat Nessen yang anak seorang pengacara itu masuk ke NAD pertama kalinya pada 2001 lalu. Nessen langsung menjalin kontak strategis saat itu dengan Panglima Koops Brigadir Jenderal Bambang Dharmono.

Nessen didampingi seorang perempuan muda berdarah Aceh yang bertugas sebagai pemandu dan penerjemah, Shadia Marhaban, yang punya tekukan garis muka seperti lazimnya gadis-gadis Portugis. Perempuan cantik beranak dua yang diam-diam juga mengampanyekan perlunya Aceh supaya merdeka hingga ke luar negeri ini akhirnya jadi istri resmi Nessen, satu setengah tahun setelah Nessen masuk ke NAD.

Shadia adalah kontak utama Nessen pada gerilyawan bersenjata GAM. Berkat Shadia, Nessen akhirnya bisa hidup selama beberapa bulan bersama pasukan GAM.

Nessen ikut berlarian di belakang aksi tembak menembak bersama GAM. Bertemu juru bicara GAM, Sofyan Daoud. Berlari menyelamatkan jiwa saat kontak senjata dengan TNI terjadi.

Nessen bertemu orang tua bernama Abu yang anggota GAM. Abu pernah dilatih tentara Amerika Serikat saat zaman mudanya dulu.

Sebuah kepentingan Paman Sam saat kecenderungan pemerintah Indonesia waktu itu yang mengarah pada blok komunis. Lalu ada gambar dropping senjata dari atas pesawat transpor Amerika Serikat.

Dari sudut pandang orang pertama itu, Nessen kepingin tahu seberapa besar pengaruh dan arti tuntutan merdeka bagi masyarakat NAD. Apa sesungguhnya peran yang dimainkan GAM, yang didirikan sejak 1976 itu.

Sebuah perang panjang yang sejarahnya dimulai saat penyerbuan Belanda ke wilayah itu pada 1873. Bukti sejarahnya hingga waktu itu tertinggal di kompleks pemakaman Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Tempat Jendral Kohler dan anak buahnya dimakamkan setelah tewas dalam serangan tersebut.

Termasuk peran Amerika Serikat dalam memformalisasi GAM. Dalam sebuah wawancara, terlihat jelas kalau generasi awal gerakan itu memang dilatih oleh serdadu-serdadu Paman Sam.

Kemudian ada gambar kopi khas Aceh disaring di sela-sela itu. Becak bermotor. Shadia yang akhirnya jadi jurnalis juga.

Shadia dan Nessen. Nessen dan Shadia.

Musliadi yang adalah aktivis HAM di NAD dan salah satu kawan karib Nessen, jadi pendamping Nessen saat Nessen menikahi Shadia. Tak lama setelah itu, Musliadi diambil paksa dari tempatnya tinggal.

Musliadi dibunuh.

Mei 2003, status gencatan sejata dicabut. Operasi darurat militer.

Nessen bergabung lagi dengan sejumlah kontaknya di pasukan GAM. Selama enam minggu Nessen mendokumentasikan perang terbuka GAM-TNI.
Dari sudut pandang GAM.

Bambang tak ingin ada pemberitaan dari sudut pandang GAM, sehingga ia terus berupaya mengontak Nessen supaya kembali.
Nessen bergeming.

Kondisi putus asa dan ketidakmampuan lagi untuk membedakan batasan realitas perang membuat Nessen akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri. Ia dijemput Bambang di Desa Paya Dua, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara pada minggu terakhir, Juni 2003.

Dipotret fotografer dan direkam juru kamera televisi. Tak ada wawancara.

Setelah ditahan selama 40 hari, Nessen dideportasi. Shadia dan dua orang anaknya sudah mendapat suaka di Amerika Serikat.

Lantas Nessen dapat kabar. Abu akhirnya juga dibunuh.

Setelah tsunami, Nessen kembali ke Indonesia. Mengunjungi sejumlah kenalan lamanya. Dia lihat kehancuran dimana-mana.

Delapan bulan setelah itu, Nessen, Shadia, dan Bambang bertemu lagi di Helsinki, Finlandia. Shadia mewakili pihak GAM.

Menyepakati perjanjian damai dengan Pemerintah RI dan setuju soal opsi otonomi yang diperluas bagi NAD.

Baru pertengahan bulan Maret lalu, Nessen dideportasi lagi untuk kali kedua. Nessen masuk ke NAD lewat Kuala Lumpur, langsung ke Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.

Status cekal terhadapnya baru ditandangani ulang pada 8 Februari lalu.

Kata sahabat saya yang kini tengah sibuk kesulitan mencari banyak tenaga terampil di NAD, mantan anggota GAM sekarang bertransformasi jadi pengusaha yang menyuplai kebutuhan berbagai proyek rekonstruksi usai bencana tsunami. Sahabat saya bilang, sampai kini sebagian besar rakyat NAD di wilayah perkotaan memang masih menikmati bantuan yang terus dikucurkan.

Tapi ia mengingatkan, tak lama lagi, banyak lembaga donor akan meninggalkan NAD. Terutama yang program-program rekonstruksi fisiknya sudah dirasa selesai.
Tinggal menyisakan beberapa proyek pembangunan komunitas yang memang butuh waktu relatif lebih lama.
Pembangunan sosial.

Kata sahabat saya, dia belum bisa membayangkan bagaimana jika waktu itu akhirnya tiba. Sekarang saja, sahabat saya itu sudah dipusingkan oleh sebagian karyawannya yang minta gajinya dinaikkan.

Saya sendiri masih penasaran dengan cita rasa asli kopi Ulee Kareng yang dibawanya. Tapi sahabat saya itu menambahkan, kalau masih ada lagi jenis kopi Gayo, yang menurut versinya dua kali lebih nendang rasanya.

Pun, membuatnya relatif lebih mudah dengan hanya diseduh pakai metode biasa. Itu sudah mampu membangkitkan cita rasa aslinya. Dengar-dengar, inilah jenis kopi organik paling unggul di dunia.

Sahabat saya juga menjanjikan akan ada lagi seri selanjutnya dari jejak rekam audio visual serupa yang dibawanya. Plus kopi Gayo tentunya.
Saya sih kepinginnya merasakan langsung di tanah aslinya.
Siapa tahu saya bisa bertemu Shadia.

09 April 2008

Gila Hormat

Pengamat politik dan aktivis sampai hari ini, M. Fadjroel Rachman, terakhir kali saya bertemu dengannya empat tahun lalu. Seorang kolega saya membawanya ke kantor mungil kami yang nyaman pada suatu malam di tahun itu.


Mereka berdua dulu satu tempat belajar pada sebuah kampus teknologi paling terkenal di Bandung. Sama-sama aktivis pergerakan. Bareng-bareng merasakan represi rezim orde baru yang totaliter.

Fadjroel berkali-kali merasakan hawa lembab penjara yang berbeda-beda. Ditahan terus gara-gara menolak kompromi dengan rezim orde baru.

Di suatu malam empat tahun lalu itu, kami semua mendengar kisah Fadjroel. Dia cerita banyak soal kondisi mutakhir politik tanah air waktu itu.

Kami diskusi hingga menjelang pagi. Sampai tak ada lagi makhluk malam yang mau melirik pada kami. Hingga detik jam dinding menjadi satu-satunya penyekat tipis di antara kami pada pagi dingin itu.

Barusan, saya nonton Fadjroel di layar televisi. Dia, dengan gaya khasnya yang selalu memamerkan deretan gigi putihnya di sela-sela argumennya, lagi berdebat keras dengan Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR RI Gayus Lumbuun.

Mereka dimoderatori seorang presenter laki-laki yang tak bisa menyembunyikan keringatnya yang mengucur deras. Entah pendingin ruangan dalam studionya yang kurang bekerja sempurna. Atau karena topik yang dibicarakan terbilang sangat panas.

Beberapa jam sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini dipimpin bekas jaksa karir Antasari Azhar, menangkap tangan seorang anggota DPR RI bernama M. Al-Amin Nur Nasution. Suami resmi pedangdut Kristina yang punya garis muka mirip Krisdayanti itu adalah anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.

Amin, sori sedikit gosip ala panggung selebriti, yang sempat mau diceraikan oleh Kristina tapi lalu rujuk lagi itu, ditangkap di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Diduga, Amin sedang terlibat tindak pidana suap menyuap.

Pasti, bukan Kristina yang sedang disuap Amin dalam hotel itu.

Sebetulnya Amin tak terkait langsung dengan debat antara Fadjroel dan Gayus. Di layar televisi yang saya saksikan barusan, Fadjroel dan Gayus sedang berdebat sengit soal lagu karya kelompok musik Slank yang berjudul “Gosip Jalanan.”

Lagu lama dari album Slank berjudul PLUR (Peace, Love, Unity, & Respect) pada 2005 lalu itu jadi heboh gara-gara sejumlah anggota DPR RI tersinggung setelah Slank yang konser gratis di kantor KPK akhir Maret lalu juga menyanyikan lagu tersebut. Lagu itu juga masuk dalam album baru mereka berjudul “Anti Korupsi” yang khusus didedikasikan buat KPK.

Ceritanya, Gayus yang bertugas sebagai pembela kehormatan para anggota dewan yang katanya terhormat itu lagi bertugas khusus mewakili rasa tersinggung sebagian anggota DPR RI terhadap lagu “Gosip Jalanan.” Kata Gayus, semua liriknya tak patut didengarkan.

Tak pantas diedarkan. Tak layak dijual.

Sebetulnya Gayus tersinggung pada lirik berbunyi, “Mau tau gak mafia di Senayan..Kerjanya tukang buat peraturan..Bikin UUD..Ujung-ujungnya duit..,”
Tetapi seakan ingin menunjukkan kalau seluruh lirik lagu itu sebagai tak bermoral lalu Gayus membacakan lirik ini dengan lantang.

“Siapa yang tahu mafia selangkangan..Tempatnya lendir-lendir berceceran..Uang jutaan bisa dapat perawan..,” Sembari mengulangi lagi kata-kata selangkangan dan lendir-lendir sebagai lirik yang tak pantas.

Fadjroel yang jago merangkai puisi itu kembali dengan gaya khasnya dan mempertanyakan lirik dan kalimat mana yang dianggap sebagai tak pantas. Tak bermoral.

Sembari mesam-mesem Fadjroel mengaku sebagai seorang slanker (penggemar Slank). Tak lupa Fadjroel katakan salam pis (maksudnya peace atau damai) yang jadi jargon wajib setiap slanker. Saya baru tahu informasi ini.

Informasi yang membuat Gayus makin keki.

Apalagi si presenter laki-laki yang tak bisa menyembunyikan keringatnya yang mengucur deras, mencecar Gayus soal ditangkap tangannya Amin. Katanya, itu seperti konfirmasi dan pembenaran lirik lagu “Gosip Jalanan,” yang Gayus sedang mati-matian berupaya menunjukkan betapa tak bermoralnya lirik lagu itu.

Tak pantas diedarkan. Tak layak dijual.

Fadjroel kembali pada argumennya. Bahwa itulah cara seniman bertindak dan menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Soal bahasanya yang terkesan hiperbolis, urakan, dan sebagainya, itulah ciri yang membedakan tiap seniman.

Gayus bergeming.
Kata Gayus, DPR RI bukan lembaga kebal kritik. Mereka tetap terbuka buat dikritik. Tapi Gayus punya syarat. Kritiklah dengan cara yang elegan.
Gitu sarannya. Sambil ngotot tentunya.

Mungkin, ini merujuk pada “permainan” anggota dewan yang katanya terhormat itu saat menelurkan sebuah kebijakan atau produk hukum dengan cara yang elegan. Cara yang teramat halus. Metode sopan yang bahkan dengannya kita kadang tak sadar kalau sedang dirampok habis-habisan.

Saat mereka enak-enakan bikin aturan soal kenaikan tunjangan diri sendiri. Ketika berbagai program tak masuk akal, seperti studi banding berharga miliaran rupiah seperti lolos begitu saja.

Padahal ada busung lapar dimana-mana. Ada kasus gizi buruk merajalela. Terdapat anak-anak putus sekolah dan tak mampu sekolah di seantero negeri.

Ini belum termasuk produk hukum yang hasil akhirnya hanya berpihak pada pengusaha dan penguasa.

Semuanya dilakukan dengan elegan. Sangat bermartabat. Sepertinya tak ada pihak-pihak yang dibuat tersinggung dan tersakiti hatinya pada saat itu semua dikerjakan. Soalnya kan mereka lembaga terhormat.

Fadjroel punya usul. Bagaimana kalau rasa tersinggung terhadap lirik lagu “Gosip Jalanan” itu dibawa ke domain hukum. Diajukan ke pengadilan. Supaya kemarahan itu bisa dipertanggungjawabkan.
Gayus ogah.
Katanya, biar rakyat banyak yang menilai soal tersebut. Soal apakah lirik lagu itu bermoral atau tidak.

Toh, kata Gayus memang banyak anggota DPR RI yang terbukti melanggar kode etik Badan Kehormatan DPR RI. Kata Gayus lagi, mereka semua, termasuk yang disangka melakukan tindak pidana korupsi, sudah ditindak. Tapi tak banyak yang tahu soal fakta itu.

Fadjroel bertanya. Kok nggak ada yang dipenjara.
Kata Gayus, kan tidak selalu harus dipenjara.
Fadjroel berucap, kok lucu ya, soalnya setahu Fadjroel orang yang melakukan korupsi harusnya ada di penjara. Senyum getirnya yang menampilkan susunan geligi putihnya nongol lagi.

Saya ngakak.

Pada akhir acara, ditampilkan prosentase survei kecil-kecilan soal pilihan responden. Apakah mereka percaya Slank atau DPR RI, atau tidak tahu mana yang mesti dipercaya.

Hasilnya, hanya nol koma sekian persen yang percaya DPR RI dan nol koma sekian persen yang tak tahu pihak mana yang bisa dipercaya.
Selebihnya, atau lebih dari 99 persen, memilih percaya pada Slank.

Meyakini bahwa lirik lagu “Gosip Jalanan” yang dinyanyikan memang seperti itulah realitasnya. Atau setidaknya, mendekati dan cenderung ke arah realitas itu.

Realitas yang kini dihadapi anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, M. Al-Amin Nur Nasution. Kenyataan bahwa memang ujung-ujungnya duit atau UUD versi Slank dalam lirik lagu "Gosip Jalanan" tadi.
Bisa jadi, Amin bakal dituntut cerai untuk kedua kalinya. Gara-gara menganggap terhormat dan minta terus-terusan dihormati, Amin sepertinya lupa bahwa ada banyak orang yang jauh lebih terhormat daripada dirinya.
Orang-orang yang tidak menerima dan melakukan suap, seperti yang sedang dituduhkan kepadanya.
Ah, kasihan Kristina.

02 April 2008

Awas Panas

Saya masih bocah ingusan ketika bunyi gemeretak terdengar dari atas genteng rumah milik Bapak dan Emak saya di Jakarta. Sejurus kemudian ada bunyi pletak pletuk datang dari atas genteng kandang ayam yang juga milik Bapak dan Emak saya di Jakarta.

Hari itu langit sedikit mendung. Saya sendiri, sepanjang ingatan saya, saat itu tengah bersiap untuk tidur siang.

Karena penasaran, saya berlari keluar. Saya kaget. Baru kali itu saya lihat ada es batu turun dari langit.

Ukurannya bervariasi. Ada yang sebesar bulir jagung. Juga ada yang sebesar kelereng seperti yang biasa saya mainkan.

Waktu itu saya belum paham kalau es batu yang datang dari langit itu dipicu kehadiran awan Cumulonimbus (Cb) yang sangat besar.

Emak saya hanya berkata singkat. Awas hati-hati, itu hujan es.

Bagian dasar awan Cb sendiri berwarna abu-abu. Formasinya bisa secara ekstrem berubah cepat. Misalnya, dari hanya seluas lima kilometer, tiba-tiba bisa drastis jadi seluas sepuluh kilometer persegi.

Es batu yang waktu itu saya katakan turun dari langit dan berpenampilan seperti kristal itu terjadi karena ada titik jenuh. Titik jenuh, atau yang dibahasakan kalangan ahli cuaca sebagai presitipasi itu terbentuk di awan Cb.

Prosesnya kira-kira begini. Air yang harusnya jatuh, terangkat oleh awan Cb gara-gara titik jenuh tadi. Air tadi semakin tertarik ke atas, hingga suhu ekstrem yang berada jauh di bawah nol derajat Celcius tercapai.

Ketika itulah, air membeku dan berubah jadi kristal es. Nah, gara-gara ada gaya tarik bumi atau gravitasi, maka hujan es pun terjadi.

Bunyinya gemeretak dan pletak-pletuk jika menghantam benda tertentu.

Sepekan terakhir ini, hujan es terjadi lagi. Kali ini menghajar Bandung, Jambi, dan Bekasi. Berdasarkan kabar yang saya baca, besar es yang tumpah ke bumi itu serupa dengan pengalaman saya saat masih bocah ingusan.

Hanya rentang waktunya menjadi lebih lama.

Hujan es yang terjadi saat saya masih bocah ingusan, tak lebih dari lima menit. Sekarang, bisa sampai lima belas menit.

Pertengahan Januari lalu, Kota Baghdad di Irak, berdasarkan berita yang saya baca disiram hujan salju. Salju langka yang terakhir kali turun 100 tahun lalu ini terjadi gara-gara angin dingin yang kering bersua dengan angin hangat dan lembab.

Maka, turunlah salju di atas negeri 1001 malam itu.

Perubahan iklim global yang ekstrem selama beberapa tahun terakhir dituding jadi biang keladinya. Gara-gara pemanasan global.

Sebuah slogan yang sekarang bahkan telah masuk dalam jerat kapitalisasi. Banyak konser musik diadakan atas nama pemanasan global.

Tak terhitung kegiatan yang dibikin dengan mengatasnamakan pemanasan global. Belum lagi politisi yang berjanji bahwa soal pemanasan global akan jadi prioritas kerjanya.

Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.

Sejumlah orang yang saya temui bahkan menyalahkan semakin banyaknya gedung-gedung pencakar langit dengan penampang kaca yang dibangun. Katanya, itulah penyebab utama pemanasan global lewat fenomena bernama efek rumah kaca.

Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.

Pemanasan global terjadi karena peningkatan suhu di bumi, laut, dan atmosfer secara rata-rata. Ini disebabkan tingginya tingkat gas-gas rumah kaca di atmosfer yang menyebakan terjadinya efek rumah kaca.

Gas-gas rumah kaca termasuk seperti uap air dan karbondioksida (CO­2). Uap air timbul karena proses alami. Tapi, konsentrasi tinggi CO2 ada gara-gara perilaku konsumsi energi, terutama energi dari bahan bakar fosil yang dilakukan manusia.

Efek rumah kaca sendiri sejatinya adalah proses ketika planet bumi dipanaskan oleh atmosfer. Akibat konsentrasi tinggi gas-gas rumah kaca, radiasi infra merah yang dipancarkan bumi akibat penerimaan energi utama dari matahari tertahan di lapisan atmosfer.

Selanjutnya, radiasi infra merah ini dipantulkan lagi ke bumi. Jika konsentrasi gas-gas rumah kaca makin tinggi, perubahan iklim berupa pemanasan global akan terjadi semakin ekstrem.

Makin cepat.

Sehingga ada spekulasi, dengan tingkat pemakaian energi yang terus meningkat seperti saat ini, suhu muka bumi akan naik hingga lebih dari empat derajat Celcius, 22 tahun dari sekarang.

Karena pemanasan global, lapisan es di kutub dan dimanapun juga mencair. membuat muka air laut meningkat. Bencana datang.

Banjir. Topan Katrina. New Orleans. Bengawan Solo. Pesisir pantai utara Jawa.

Dihantam bencana.

Karena itulah ada Protokol Kyoto.

Sebuah hasil perubahan Konvensi Kerangka Kerja PBB soal Perubahan Iklim. Ini kerja dan kesepakatan dunia soal pemanasan global. Tahap pertamanya akan berakhir pada 2012 mendatang.

Negara-negara yang setuju dan meratifikasi Protokol Kyoto punya harapan supaya emisi CO2 yang terutama akibat penggunaan energi dari bahan bakar fosil bisa dikurangi. Termasuk skema soal perdagangan karbon atau emisi tersebut.

Berupa kompensasi yang diberikan pada, biasanya, negara-negara berkembang yang masih punya hamparan lahan hutan supaya tetap menjaganya sebagai paru-paru dunia.

Sayangnya, negara adikuasa Amerika Serikat yang merupakan konsumen minyak bumi terbesar di dunia masih menolak menyetujui Protokol Kyoto. Amerika tak mau meratifikasinya.

Alasan utamanya, apalagi kalau bukan karena keserakahan ekonomi.

Tambah lagi, sejak akhir tahun lalu, negeri itu tengah dilanda resesi. Sebuah paket kebijakan ekonomi baru yang disiapkan untuk menyelamatkan negara itu dari bencana ekonomi, secara radikal akan mengubah bagaimana cara agen asuransi, calo properti, termasuk industri perbankan mereka dalam berbisnis.

Dalam hal ini, jelas tak ada prioritas bagi lingkungan.

Amerika Serikat tak mau mengurangi konsumsi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Soalnya itu akan semakin memperlambat laju ekonomi.

Terpuruk makin dalam ke jurang resesi.

Bali, akhir tahun lalu juga jadi tuan rumah Konferensi Dunia soal Perubahan Iklim. Namun, belum ada langkah maju dari pertemuan itu.

Tak ada kesepakatan soal deep cuts, atau pengurangan gila-gilaan konsumsi energi dari bahan bakar fosil penghasil utama CO2 yang tingkatnya jauh lebih gila. Soalnya, bagi negara-negara berkembang hal itu pun diprediksi akan membuat tingkat kemiskinan beranjak naik.

Apalagi bagi negara-negara maju yang makin hari kian serakah.

Sekarang, semua negara sedang berebut dan tarik menarik kepentingan soal energi yang digunakan. Berbagai macam skema kompensasi ditawarkan. Namun, tak ada tindakan nyata dilakukan.

Segala gebyar acara berbau pemanasan global dipertontonkan dengan penghamburan energi. Banyak penontonnya yang datang sendiri-sendiri dengan mobil-mobil pribadi.

Belum ada tindakan nyata dilakukan.

Dimana-mana semua orang seperti larut dalam tren pemanasan global. Tapi banyak yang tak paham makna sebenarnya.

Beberapa bulan lalu saya putuskan menjual hatchback tua berkapasitas lima penumpang milik saya yang masih empuk suspensinya. Mobil pertama yang saya beli dari pemilik sebelumnya, setelah empat tahun hasil tabungan sebagai seorang pekerja itu saya lepas dengan mata berkaca-kaca.

Saya suka velg besar dan ban profil rendahnya yang gagah. Saya menikmati tarikan mesinnya di jalan tengah malam yang lengang.

Saya juga menikmati pertanyaan setiap orang yang selalu heran bagaimana mobil setua itu masih tampak kinyis-kinyis, sangat terawat, bebas keropos, mulus, dan wangi.

Bahkan, saya sempat berniat menambahi perangkat audionya supaya makin nyaman dalam balutan interior bersihnya dengan pendingin udara yang masih bekerja baik.

Apa yang mengganggu saya adalah kenyataannya sebagai peminum bahan bakar fosil yang unggul. Saya selalu malu bila berpapasan dengan angkutan umum, dan mendapati fakta mobil saya itu lebih boros dengan temperatur yang lebih cepat merangkak naik dibandingkan sejumlah angkutan umum tersebut.

Setelah menjual hatchback tua berkapasitas lima penumpang yang masih empuk suspensinya itu, ada perasaan lega tatkala mengayuh sepeda di jalan raya. Memang, berulangkali saya mesti tarik urat dengan pengendara jalan lain yang egois dan seenaknya saja seperti mau menabrak saya.

Sepertinya pilihan ekstrem ke sepeda kayuh masih butuh banyak penyesuaian dan pembiasaan.

Karena itulah, sekarang saya lebih sering nyemplak di atas sadel bebek beroda dua yang kapasitas silinder mesinnya tak lebih besar dari 125 sentimeter kubik.
Pastinya, bebek bermesin dengan dua roda ini jauh lebih irit.

Paling tidak, emisi CO2 yang diproduksinya lebih sediikit dibandingkan hatchback tua berkapasitas lima penumpang bekas milik saya yang masih empuk suspensinya itu.

Jalanan kini memang terasa makin panas bagi saya.

Tapi saya bisa makin awas.

Jepit Sakit

Perempuan muda itu bernama Yuli. Ia bolak-balik dalam ruang berukuran 2,5x5 meter. Kulitnya putih kecoklatan.
Wajahnya ditumbuhi jerawat.

Keadaan normal akibat perubahan hormonal dirinya yang tengah hamil. Tingginya sekitar 165 sentimeter dengan bobot yang saya taksir tak lebih dari 70 kilogram.

Dari besar perutnya dan proporsi postur tubuhnya, saya perkirakan usia kandungannya baru saja menembus enam bulan.

Yuli tengah merawat salah satu kolega saya yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit. Kolega saya itu diserang penyakit tifus.

Sakit yang disebabkan bakteri bernama salmonella typhi yang menghajar bagian usus halus sehingga terjadi infeksi akut. Biasanya, penderita tifus yang disebut juga demam tifoid atau typhus abdominalis itu harus dirawat di rumah sakit setidaknya selama satu pekan. Ini supaya usus si penderita tidak makin kacau kondisinya atau terjadi komplikasi di sana-sini.

Karena itulah, tadi siang saya sempatkan menjenguknya.

Ruang perawatan itu sendiri dilengkapi pendingin udara. Ada televisi ukuran 15 inci menggantung dari atas plafonnya. Kolega saya hanya sendirian di ruang perawatan itu. Memang ada dua tempat tidur, tapi sepertinya tempat tidur tambahan itu diperuntukkan bagi penjaga pasien.

Yuli keluar dari ruangan itu. Sejurus kemudian dia kembali lagi. Saatnya bagi Yuli menambah obat-obatan ke dalam tubuh kolega saya. Tapi belum ada cairan tambahan yang hendak disuntikkan pada kolega saya terbawa dalam genggamannya.

Jadi, Yuli kembali keluar ruang perawatan itu. Dengan seulas senyuman ia balik kanan menuju troli obat-obatan yang diparkir di depan pintu masuk.

Tak lama, cairan obat tambahan dari tabung suntik berukuran medium masuk lewat pembuluh arteri radialis yang berada di bagian pergelangan tangan kolega saya. Kali ini cairan itu masuk lewat bagian pergelangan tangan kirinya.

Sensasinya seperti ada rasa sesak sejenak saat cairan obat itu masuk. Itu pengakuan kolega saya.

Yuli keluar ruangan dengan sigap. Perawat terlatih yang diawasi dan dilindungi Komite Perawat di tempatnya bekerja itu berkeliling lagi mengunjungi pasien-pasien lain dalam rumah sakit yang pakai nama tengah internasional tersebut.

Rumah sakit yang punya berbagai fasilitas canggih seperti alat bernama MRI (Magnetic Resonance Imaging) 1.5 Tesla untuk memeriksa tubuh dengan medan magnet besar tanpa gelombang radio, nihil operasi, tidak pakai sinar X, dan tanpa bahan radioaktif lainnya itu tampak ramai. Pasien, dokter, perawat, hingga tenaga administrasi punya kesibukannya sendiri-sendiri.

Tapi, kata kolega saya yang dirawat inap di sebuah kamar bertarif Rp 550 ribu per malam, dari jendela di sebelah kirinya kadang tampak pemandangan kontras. Dari balik jendela kaca itu, katanya suka berlarian tikus-tikus besar yang melompat dari satu rumah ke rumah lainnya.

Saya lirik jendela di sebelah kirinya. Di antara rumpun tanaman bambu berbatang kecil-kecil berwarna kuning yang saya lihat, saya saksikan kalau daerah itu merupakan wilayah permukiman padat.

Kata salah seorang kolega saya yang lain lagi, daerah itu memang dikelilingi permukiman kumuh. Karena kolega saya yang diserang tifus ini mendekam di lantai pertama, jadi ia mesti rela kebagian pemandangan itu. Kalau ia tinggal pada tingkat-tingkat di atasnya, mungkin ia bisa melihat jelas aktivitas dan denyut kehidupan di wilayah permukiman dengan bangunan yang berdiri seadanya itu.

Pada kamar dengan harga sewa lebih mahal Rp 50 ribu dari batas setengah juta rupiah atau masih dua kelas di bawah harga sewa ruang rawat paling mewah di rumah sakit itu, kolega saya mesti istirahat total. Tak bisa diganggu gugat.

Tapi saya jelas tak bisa berhenti menggugat soal pandangan “mengganggu” di balik kaca jendela sebelah kiri kolega saya yang tergolek lemah akibat tifus tadi. Sebuah pertunjukan soal ketimpangan dan kesenjangan.

Jadi, dalam perjalanan pulang hati saya terus bergolak. Apa yang akan terjadi kalau salah satu penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu terkena tifus.

Apakah mereka akan dirawat pada ruang yang sama. Ruang yang persis di sebelah rumahnya. Mungkin berbatasan dengan ruang tempatnya tidur, makan, dan buang hajat sekalian.

Jika para penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu dihajar demam berdarah, maukah rumah sakit megah yang pakai nama internasional di tengahnya itu menerima mereka. Andaikata ada anak-anak penghuni rumah-rumah di sebelah kiri kaca jendela ruang perawatan kolega saya itu diserang diare, bisakah atas nama kemanusiaan mereka dirawat oleh perawat-perawat serupa Yuli di rumah sakit yang pakai nama tengah internasional itu?


Dalam hati, air mata saya menetes.

Baru sebulan lalu saya main-main ke salah satu poliklinik yang ada di sebuah desa. Bukan sebuah desa terpencil, karena masih ada aspal mulus selebar enam meter yang membelah areal persawahan di kanan kirinya.

Saya longok ke bagian dalam poliklinik desa itu. Ada seorang ibu menggendong bayinya. Saya tanya, kemana bidannya. Ibu itu menggeleng pelan dan menunjuk arah keluar.

Saya tak tahu apa keperluan ibu yang menggendong bayinya di poliklinik desa itu. Saya juga tak mengerti kemana perginya bidan, bukan dokter, yang berdinas di poliklinik desa dengan banyak sekali kambing yang lalu lalang di tanah lapang sebelah kanan bangunannya.

Apa yang saya tahu penyakit bisa bikin sakit. Pada orang-orang tidak mampu dan kurang mampu, penyakit bisa bikin kondisi makin terjepit.

Dalam hati, air mata saya menetes.

Kira-kira tiga tahun lalu saya berkunjung ke rumah Muhammad Asyarafi Hayyan. Saat itu bocah kecil yang kerap disapa Rafi itu baru berusia tiga tahun.

Waktu itu sudah lewat pukul sembilan malam. Tapi Rafi belum tidur. Ia hanya dibaringkan begitu saja pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya.

Rafi adalah salah seorang bocah penderita pembesaran kepala atau hidrosefalus. Jaringan pembuluh darah terlihat jelas di kepalanya yang membesar.

Saya sentuh kepalanya. Terasa lunak pada bagian atas dan belakangnya. Mirip sensasi menyentuh balon yang diisi air.

Kedua bola matanya menari. Tapi tak banyak ekspresi yang bisa dibuatnya. Berulangkali hanya batas garis putih yang saya tangkap dalam tatapan matanya.

Lalu saya goda Rafi.

Responnya bagus. Ia mencoba berbicara. Tapi tak ada kata yang terdengar. Kedua tungkai kakinya digerak-gerakkan, mencoba posisi yang nyaman.

Ia mencoba berbicara. Tapi tak ada kata yang terdengar.

Dalam hati, air mata saya menetes.

Gigi Rafi kala itu ompong. Luruh hancur gara-gara susunan geligi itu sering bertabrakan saat ia kejang-kejang. Guguran gigi-gigi itu larut bersama feses yang diproduksi tubuh kecil Rafi dari mekanisme ekskresi.

Kata kedua orang tuanya, Rafi lahir lewat prosedur cesar. Sebuah proses persalinan yang memerlukan penyayatan di bagian perut guna mengeluarkan bayi dari kandungan.

Pembesaran kepala itu sendiri sudah terdeteksi sejak Rafi ada di kandungan. Tapi prosedur medis guna mengatasi kelainan itu yang berharga amat mahal membuat orang tua Rafi mundur teratur.

Dengan tindakan hanya paling memungkinkan lewat operasi, biaya yang dibutuhkan jelas makin berlipat. Ayah Rafi yang bekerja pada salah satu rumah sakit sebagai seorang tenaga pengamanan tak kuasa mengejar tingginya biaya kesehatan yang menggedornya di pagi buta.

Rafi kecil hanya tergolek pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya. Soalnya akses beroleh pengobatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu masih jadi mimpi siang bolong di negeri ini.

Karena ayah Rafi tak mampu, bocah kecil itu hanya tergolek pada sebuah dipan sederhana dari kayu di ruang tengah rumahnya. Gara-gara layanan kesehatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu masih jadi janji politisi setiap hari, Rafi tergolek tanpa daya.

Akibat hasil korupsi yang dianggap rezeki, layanan kesehatan gratis atau setidaknya dengan tarif terjangkau dan pelayanan yang memenuhi standar kemanusiaan bagi masyarakat yang tidak mampu dan kurang mampu, banyak pejabat berargumen biaya kesehatan memang selayaknya mahal.

Ah, saya memang hanya bisa bermimpi Rafi dirawat oleh Yuli. Nyaman dalam ruangan berpendingin udara bertarif sewa Rp 500 ribu setiap harinya. Merasa aman dengan standar rumah sakit yang pakai kata internasional di tengahnya itu.
Apa yang saya tahu penyakit bisa bikin sakit. Pada orang-orang tidak mampu dan kurang mampu, penyakit bisa bikin kondisi makin terjepit.


Dalam hati, air mata saya menetes.


01 April 2008

Kerja Keluarga

Nyaris dua pekan lalu saya bertaruh di bandara. Berjudi dengan kemungkinan untuk beroleh tiket penerbangan ke Jakarta.

Hanya sekitar tiga jam sebelum jarum jam mengeksekusi pergantian hari. Akhirnya saya dapatkan kepastian tiket berjadwal paling buncit itu.

Sebagai jaminan, saya tinggalkan kartu tanda pengenal. Saya tak mau berjudi dengan uang. Jadi, tidak saya tinggalkan persekot duit.

Saya pilih tinggalkan kartu tanda pengenal saja. Secepat kijang melesat, saya bergegas pulang.

Apa yang membuat saya seperti diburu ratusan tawon pada malam itu diawali sebuah keterkejutan. Saya sendiri tidak berencana ke Jakarta pada hari itu.

Tapi keadaaan sedang memaksa.

Kira-kira dua jam sebelum bertaruh di bandara, telepon genggam saya berdering. Istri saya mengabarkan kalau anak lelaki saya, kemungkinan besar esok harinya hingga beberapa hari ke depan tak ada yang bisa menjaga.

Saya, jelas hanya baru bisa bercengkerama dengan anak lelaki saya itu pada waktu-waktu tertentu. Tanggung jawab pekerjaan kadang merenggut sebagian waktu yang harus saya sisihkan pada anak lelaki saya itu.

Istri saya, setali tiga uang. Akhir-akhir ini ia sedang sibuk dengan berbagai proyek barunya yang menuntut konsentrasi tinggi. Jadi, rasanya belum memungkinkan buat menunggui aktivitas anak lelaki saya yang sedang berada dalam usia aktifnya sepenuh waktu.

Sejak beberapa hari terakhir itu, penjaga rumah yang juga menunggui aktivitas anak saya sehari-hari sedang tak aktif. Suaminya yang sedang diserang gangguan penyakit pada kandung kemihnya, dan terpaksa harus dirawat di salah satu rumah sakit lebih membutuhkan perhatiannya.

Sebetulnya, pada beberapa hari itu, mertua saya secara khusus datang dari Malang. Kecintaan serta kerinduannya yang mendalam pada anak lelaki saya membuat dirinya jadi semakin lengket dengan anak lelaki saya pada beberapa hari terakhir itu.

Tetapi kejutan itu akhirnya datang juga.

Kata istri saya, mertua saya bersama dengan keluarga besar harus segera bergegas ke Yogyakarta untuk suatu urusan keluarga. Jadi, saat itu memang tak ada pilihan.

Saya harus ke Jakarta.

Membawa serta anak saya untuk dititipkan pada nenek dan kakeknya. Emak dan Bapak saya.

Dengan mata yang masih terlelap, anak lelaki saya tidur dalam pangkuan menuju bandara. Tapi sejumlah guncangan gara-gara rusaknya jalan yang dibangun pakai pajak rakyat itu membuatnya terjaga juga.

Saya sorongkan botol berisi susu hangat kepadanya. Saya bisikkan cerita soal pesawat yang bisa terbang. Saya ingatkan pengalaman sebelumnya tatkala ia menembus awan untuk pertama kali bersama saya dan ibundanya.

Ia tertawa.

Inilah kali kedua ia terbang malam bersama saya, setelah beberapa kali sebelumnya menikmati sensasi terbang saat sinar matahari masih hadir. Tapi cairan putih berisi susu formula itu hanya masuk sedikit saja.

Anak lelaki saya lebih tertarik pada lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang dan papan-papan iklan yang memendarkan cahaya.

Sampai di bandara, sejumlah pasang mata memerhatikan kami. Bahkan ada yang menatap serius sejak ujung kepala hingga batas kaki.

Dengan mengenakan kaos, jins coklat, dan sepatu kasual serta satu ransel besar, satu tas jinjing, dan seorang anak laki-laki berusia 21 bulan yang saya gendong, bagi mereka semua saya lebih mirip seorang penculik. Atau, paling tidak orang tua putus asa yang sedang berebut hak pengasuhan anak.

Berpasang-pasang mata itu terus menerus mengawasi gerak gerik saya.

Seorang pegawai maskapai penerbangan yang bertugas mengonfirmasi kepastian keberangkatan saya akhirnya tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.

Berulangkali dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau dua orang yang akan berangkat itu maksudnya adalah satu penumpang dewasa dan satu penumpang balita.

Bukan orang-orang dewasa.

Ia juga bertanya, kenapa kok malam sekali. Yah, saya jawab saja kalau memang saya baru pulang merampungkan semua pekerjaan. Sambil saya kibas-kibaskan lengan, berharap aroma tak sedap hasil kerja saya seharian bisa dinikmatinya sebagai bukti.

Diam-diam saya tersenyum dalam hati gara-gara asumsi yang dibangun orang-orang atas dasar prasangka tadi.

Anak lelaki saya makin aktif saat berada di ruang tunggu. Celotehnya makin ramai saat melihat rupa-rupa pesawat sedang parkir dalam jarak sekitar 20 meter dari batas dinding kaca.

Suaranya makin dominan saat tiba dalam kabin Boeing 737 seri 400 yang diluncurkan pada 1985 dan mulai terbang perdana pada 1988 berbalut interior dominan berwarna abu-abu itu. Gara-gara penjelasan saya kepadanya soal sayap pesawat beberapa waktu sebelumnya, ia ngotot menunjuk-nunjuk keluar kaca jendela sembari berucap kata sayap berulangkali.

Untung kami duduk persis di samping sayap kanan pesawat. Jadi, saya bisa tunjukkan pula mesin pesawat jet yang mencantel pada dudukan di bawah badan sayap (pylon) yang disinari lampu temaram dari area apron bandara. Tapi saya tidak yakin mau menjelaskan apa jenis mesin jet seri pesawat itu yang biasanya
beredar pada nama produsen Rolls Royce dari Inggris atau Pratt and Whitney dari Amerika Serikat.

Lepas landas, ia mulai berceloteh soal masuk awan, masuk awan, masuk awan yang terus disebutnya. Kata-kata itu diucapkannya berulangkali saat kami hendak menuju ketinggian jelajah pada jarak 33 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer di atas permukaan laut.

Tapal batas yang jadi ukuran efisien begi mesin-mesin jet komersial untuk beroperasi di lapisan atmosfer bernama troposfer itu.

Soal masuk awan itu beberapa kali memang sempat dialami anak lelaki saya saat terbang siang hari. Mulai dari kelompok awan stratus yang terdiri atas keluarga stratus, stratocumulus, dan nimbostratus yang ada di ketinggian hingga 6.500 kaki atau sekitar 2 kilometer di atas permukaan laut.

Kelompok awan menengah (alto) seperti altostratus, altocumulus pada ketinggian 6.500 hingga 18.000 kaki atau sekitar 5,5 kilometer hingga awan tinggi (cirrus) seperti cirrus, cirrostratus, dan cirrocumulus pada ketinggian di atas 5,5 kilometer dari atas permukaan laut.

Tapi malam itu ia hanya melihat gulita.

Maka, saya putuskan buat membacakan saja cerita untuknya. Ah, sialnya seluruh buku bacaan baginya lupa saya bawa.

Hanya ada satu buku tebal dalam tas saya yang bukan konsumsi bagi anak lelaki saya saat ini.

Jadi, saya raih majalah terbitan maskapai penerbangan yang saya tumpangi. Saya bolak-balik isinya, dan saya coba pilih artikelnya yang paling sesuai di antara tulisan-tulisan mencolok soal promosi gaya hidup yang menghamba pada paham hedonisme dan hasutan supaya berperilaku konsumtif itu.

Akhirnya saya temukan juga.

Sebuah tulisan soal tarian tradisional bangsa Jepang bernama Kabuki.

Ka artinya musik atau lagu. Bu bertafsir tarian. Ki punya makna akting.

Maka, kabuki berarti pula drama dengan musik dan unsur tarian yang lekat. UNESCO pada tahun 2005 menetapkan Kabuki yang eksis sejak 400 tahun lalu jadi salah satu di antara 43 karya puncak warisan budaya dunia yang tak bisa dinilai harganya.

Anak lelaki saya menunjuk-nunjuk foto-foto bercitrakan pemeran Kabuki dalam tata rias warna putih tebal di sekujur wajahnya dengan variasi warna warni merah, biru, coklat untuk menggambarkan karakter masing-masing.

Mulutnya berceloteh terus, ini apa, ini apa.

Saya pun juga berceloteh terus. Mengulangi penjelasan dari mula hingga akhirnya.

Tapi, lagi-lagi, perhatiannya teralih pada rupa-rupa foto dan gambar pesawat yang ada di majalah itu. Yah, saya turuti saja permintaannya sembari menjelaskan bagian-bagian gambar yang ditunjukknya.

Lembar majalah terbitan maskapai penerbangan yang saya tumpangi itu buru-buru saya balik ke halaman lain begitu yang dibuka anak saya adalah lembaran soal promosi gaya hidup yang menghamba pada paham hedonisme dan hasutan supaya berperilaku konsumtif tadi .

Lama-lama anak saya pun pun letih. Ia lalu memilih buat lelap saja. Toh, hak istirahatnya pada malam itu memang sedang saya rampas.

Tiba di tujuan, tak butuh lama bagi anak saya buat beradaptasi dengan keluarga besarnya di Jakarta. Membuat saya dengan hati lengang kembali lagi ke Surabaya.

Beberapa hari ke depan ini saya lagi bersiap buat menjemputnya. Dari cerita lewat sambungan telepon jarak jauh tiap harinya, saya dengar perbendaharaan celotehnya makin banyak.

Juga banyak sekali “kreativitas” usil terbaru yang dilakukannya setiap hari. Membuat saya tak sabar menunggu hari menjemputnya.

Apa yang saya takutkan, sepertinya bakal ada permintaan khusus dari Emak dan Bapak saya supaya anak lelaki saya itu tinggal saja bersama mereka seterusnya.

Wah, sepertinya ini tugas berat saya selanjutnya.





Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.