Mosley berasal dari nama Max Mosley, yang adalah Presiden Federasi Otomotif Internasional atau FIA.
Moein berasal dari nama Max Moein, yang merupakan anggota Komisi XI DPR.
Kalau dibikin inisial, dua orang ini identik.
MM.
Nama depannya pun serupa.
Max.
Mosley orang Inggris. Moein asal Indonesia.
Secara langsung, saya belum pernah bertemu dan mengenal mereka berdua. Tetapi hasrat saya meletup, karena hari-hari belakangan ini keduanya mendominasi porsi pemberitaan sebagian media.
Mosley duluan.
Akhir bulan lalu Mosley diketahui terlibat skandal seks yang menurut ukuran sebagian orang menyimpang. Kata laporan tabloid Inggris News of The World, ada lima perempuan pekerja seks komersial yang berpesta bersama Mosley pada suatu hari di sebuah apartemen di Inggris.
Mereka mempraktikkan aliran sadomasokis dalam pesta seks liar itu. Sadomasokis merujuk artinya pada penghambaan terhadap perilaku sadisme dan brutalisme buat menggapai puncak kenikmatan seksual.
Kecaman datang dari berbagai penjuru. Sepertinya, dari 222 organisasi bermotor dari 130 negara di bawah naungan FIA, sudah tak ada lagi yang percaya pada Mosley.
Lomba adu cepat jet darat bertitel Formula Satu pun terancam kehilangan pamor. Jadi, ramai-ramai pabrikan mobil peserta balap F1 pun mengutuk Mosley.
Pokoknya, say no to Mosley.
Sejauh ini, Mosley masih bergeming. Sebuah pertemuan “tetua-tetua” FIA dari anggota dari berbagai negara yang bakal digelar di Paris, Perancis, pada 3 Juni besok bakal jadi penentu nasib Mosley.
Sekarang giliran Moein.
Pekan lalu, marak dikabarkan Moein punya skandal dengan salah seorang mantan sekretarisnya. Kabar itu makin mantap saat ada bukti foto Moein bersama seorang perempuan, yang kalau disebarluaskan konon bisa termasuk dalam hal-hal yang dilarang dalam Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronika (UU ITE) itu.
Tapi, sampai sekarang identitas si perempuan masih gelap. Moein sendiri sudah mengaku dirinyalah yang berfoto bersama perempuan itu.
Tapi, itu hanya foto biasa saat mau berenang.
Foto itu juga hasil jepretan orang lain. Jadi, foto yang menurut salah seorang teman saya sudah beredar sejak sepekan sebelum kabar tersebut meletus itu, berdasarkan pengakuan Moein adalah foto yang biasa-biasa saja.
Belakangan, malah muncul pengakuan adanya pelecehan seksual dari tokoh mantan sekretaris. Mantan sekretaris ini dipecat, gara-gara mengadukan soal pelecehan itu.
Hingga satu tahun sejak ia melapor, juga belum ada tanda-tanda dirinya bisa beroleh keadilan.
Tinggalah mantan sekretaris ini sendu menahan pilu. Belakangan, muncul inisiatif buat membuka lagi kasus pelecehan seksual itu.
Maka, Moein pun terancam sanksi recall alias mesti balik lagi ke partai asalnya.
Pokoknya, Moein nggak banget deh.
Saya sendiri tidak hendak membenahi soal perilaku moral kedua tokoh berinisial MM di atas. Soal utamanya, ya apalagi kalau bukan rasa, bahwa saya ini juga belumlah menjadi orang yang punya moral sempurna.
Saya hanya tertarik untuk membuktikan teori bahwa trilogi maut berupa harta, takhta, dan wanita di ujungnya bisa menemukan pembenar pada sejumlah kasus yang ada. Setidaknya, ini terbukti pada Mosley Moein.
Pada Mosley yang sudah berusia 68 tahun itu, rupa-rupanya pencarian atas ekstase kenikmatan dunia masih belum juga dicapainya. Harta dan takhta jelas Mosley miliki. Tapi, Mosley masih butuh lima perempuan sekaligus buat melengkapi kutukan triloginya.
Selain itu, dominasi ideologi laki-laki pada praktik politik yang seringkali berbuah kebijakan dengan tingkat bias jender tinggi dan meminggirkan perempuan, juga terjadi dalam hubungan profesional. Ini terjadi pada Moein, yang menafsirkan mantan sekretarisnya itu sama fungsinya dengan asbak rokok.
Padahal sekretaris adalah jabatan profesional yang punya standar kode etik tersendiri. Makanya, fungsi dan perannya juga jangan disalahartikan.
Entah kenapa, tadi pagi secara tiba-tiba saya dapat ide liar tulisan ini. Ide yang sekonyong-konyong datang waktu kedua biji mata saya masih sembab oleh limbah alami di sekitar organ penglihatan itu.
Max.
30 May 2008
Mosley Moein
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
5/30/2008 06:02:00 AM
8
komentar
Link ke posting ini
29 May 2008
Toleransi Prestasi
Jerman.
Membaca atau mendengar nama ini langsung banyak citra melintas dalam bayangan kita.
Penguasaan teknologi tinggi. Penemu format MP3. Diktator Hitler dengan Geheime Staatspolizei atau Gestapo yang jadi dinas polisi rahasia rezim Nazi. Hingga julukan Tim Panser bagi kesebelasan sepak bola Jerman dengan Franz “Der Kaiser” Beckenbauer yang jadi libero melegenda.
Tapi di cabang olahraga bulu tangkis? Jerman, rasanya sebuah pengecualian.
Tapi yah, perasaan, asumsi, rona, atau apalah mengenai persepsi kita yang dibangun atas dasar prasangka belaka itu rupanya tahun ini harus berujung kecewa. Tim Uber Jerman berhasil menembus babak semifinal pada laga tahun ini.
Memang, ini memang bukan kali pertama. Setidaknya pada dua tahun sebelumnya, saat perebutan piala itu digelar di Jepang, Tim Uber Jerman juga berhasil melaju ke semifinal.
Tapi, pencapaian tahun ini tetap dirasa luar biasa bagi peserta lain. Juga para penonton, yang merasa bahwa bulu tangkis adalah olahraganya “orang Asia,” sekalipun sejak bertahun-tahun lampau Denmark yang juga kampiun bulu tangkis sudah jadi pengecualian.
Namun, apa yang jadi kejutan buat orang lain ini sama sekali bukan kejutan bagi Tim Uber Jerman.
Pagi-pagi sekali sebelum perebutan piala itu digelar, pelatih kepala Tim Jerman, Detlef Poste, sudah berbisik yakin pada saya. Katanya, Jerman kini telah naik kasta dalam jajaran negara-negara yang membina atlet bulu tangkis di dunia.
Kata Detlef, dari “negara kelas tiga,” setidaknya Jerman kini telah menjadi “negara kelas dua” dalam dunia bulu tangkis.
Detlef menambahkan, semua itu dicapai dengan yakin karena Jerman tak percaya pada metode tradisional dalam pengembangan dan pembinaan prestasi atlet-atlet mereka. Semuanya dilakukan dengan berpegang pada metode terbaru yang dikembangan secara ilmiah lewat berbagai disiplin ilmu pengetahuan
Memang ada faktor Xu Huaiwen, pemain asal China yang pindah ke Jerman sejak satu dekade terakhir. Huaiwen adalah lokomotif Tim Uber Jerman. Huaiwen pula yang seperti sedang "mengasuh" Birgit Overzier, saat mereka main secara berpasangan mengalahkan ganda pertama Denmark, Mie Schjott Kristensen/Christina Pedersen di babak perempat final.
Padahal, sekitar satu jam sebelumnya, Huaiwen pula yang mengandaskan juara terbaru All England, Tine Rasmussen, yang adalah pemain tunggal putri nomor wahid di Denmark.
Tapi, Tim Uber Jerman bukan hanya Huaiwen. Martin Kranitz, yang jadi manajer tim itu berupaya meyakinkan saya, sekalipun sejak Huaiwen datang banyak perubahan drastis terjadi, tetapi sebagai tim mereka maju secara bersama-sama.
Mereka sangat percaya, inovasi adalah kunci. Tanpa inovasi, mustahil ada perubahan. Bersama inovasi, tantangan paling sulit sekalipun bukan barang musykil dihadapi.
Jadi, sekalipun akhirnya Jerman kalah atas Tim Uber Indonesia di babak semifinal, rasa-rasanya dua tahun lagi keadaan bisa jadi tak sama lagi. Apalagi, kalau Tim Uber Indonesia masih terus berada dalam kungkungan metode lama yang miskin inovasi.
Lalu, apakah hanya inovasi yang melulu membuat Jerman bisa berbangga diri di tahun ini, dan mempertahankan kebanggaan itu sejak dua tahun sebelumnya? Rupanya tidak.
Pada kesempatan yang lain Detlef Poste berkata jelas kepada saya, ada persoalan indisipliner pemain yang sempat menghantui timnya. Tapi, itu cerita usang sebelum Tim Jerman berangkat ke medan laga.
Karena akhirnya, pemain yang dianggap tidak disiplin itu akhirnya dicoret dari tim. Tak peduli betapapun bagus dan sempurna teknik yang dimiliki. Tidak ada urusan soal peringkat dunia yang dipunyai.
Dari sini, satu pelajaran penting bisa dipetik. Bahwa prestasi memang sebaiknya tidak mengenal toleransi.
Nihilkan pertimbangan suka dan tidak suka. Adakan dan pegang teguh satu standar soal aturan main.
Berikan penalti pada yang salah dan kasih hadiah bagi yang berprestasi. Segalanya berlaku bagi semua tanpa kecuali. Niscaya, prestasi puncak yang konsisten bukan barang sulit diraih.
Tanpa toleransi.
Sepintas ini terdengar mengerikan dan seperti membawa bayangan pikiran kembali mendesak saat Gestapo berkeliaran di era diktator Hitler.
Tapi kebijakan tanpa toleransi bagi prestasi pada akhirnya membawa keberhasilan. Menihilkan rasa iri dan membangkitkan motivasi.
Pada kasus Tim Uber Jerman, ini berhasil.
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
5/29/2008 11:04:00 AM
2
komentar
Link ke posting ini
28 May 2008
PON Bloon
Nyaris tiga tahun lalu saya singgah di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Kira-kira dua jam setelahnya, waktu saya habiskan buat menempuh perjalanan darat menuju Samarinda yang jaraknya sekitar 120 kilometer dari Balikpapan.
Jalan aspalnya waktu itu mulus. Bentangan alamnya berkelok-kelok dan naik turun dengan sudut elevasi yang menantang.
Nyaris tak ada kendaraan lain yang berpapasan dengan saya selama periode beberapa menit dalam perjalanan itu. Baru pada menit-menit berikutnya, satu dua kendaraan mulai terlihat.
Untuk kemudian hilang lagi pada menit-menit selanjutnya.
Untunglah waktu itu matahari persis berada di ubun-ubun. Mungkin nyali bakalan sedikit ciut jika perjalanan panjang itu ditemani bulan dan bintang, atau lebih buruk lagi, langit gelap di malam kelam.
Sampai di Samarinda, saya bergegas ke kompleks olahraga di Sempaja, Samarinda Utara, yang di antaranya terdapat Stadion Madya Sempaja. Nama Sempaja sejatinya adalah sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Samarinda Utara.
Stadion Madya Sempaja di Samarinda itu bakal jadi salah satu lokasi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional atau PON XVII yang direncanakan mulai 6 Juli mendatang. Bersama Samarinda dan Balikpapan terdapat pula sejumlah daerah lain yang masuk wilayah administratif Kalimantan Timur seperti Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau yang akan jadi lokasi berlaga atlet-atlet dari seluruh Nusantara selama sepekan lamanya.
Pada kompleks olahraga Sempaja itu berdiri pula Hotel Atlet bertingkat delapan yang setara fasilitas hotel bintang tiga berkapasitas setidaknya 600 orang. Pada kawasan bekas rawa dengan luas total sekitar 50 hektar itu, berdiri juga sejumlah bangunan lain, seperti pusat pendidikan dan latihan bagi atlet, gedung olahraga (GOR) serba guna, dua buah GOR latihan, dua gedung asrama atlet, dan fasilitas lintasan olahraga luar ruang.
Nyaris dua tahun lalu, semuanya masih dalam tahap pembangunan yang total jenderal sudah menyedot duit Rp 300 miliar. Tapi, masih dianggarkan lagi Rp 600 miliar buat membangun Stadion Utama Palaran, yang tepat berada di wilayah kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Samarinda.
Hari ini saya baca di media, sejumlah sarana olahraga itu baru siap pada pertengahan bulan depan, termasuk Stadion Utama Palaran yang belum kelar digarap. Pasokan listrik juga jadi ancaman paling serius saat PON digelar nanti, yang hingga tulisan ini dibuat belum bisa diselesaikan.
Soal pembangunan dan pembenahan infrastruktur pun setali tiga uang. Jalan berlubang yang rawan ambles di berbagai titik serta terbatasnya kemampuan Jembatan Mahakam sebagai satu-satunya penghubung antarwilayah bakal jadi kengerian tersendiri.
Barusan, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang pelatih olahraga yang sudah malang melintang mengurusi atlet. Tahu persis rupa-rupa borok dan luka yang menganga pada sistem pembinaan olahraga di Indonesia.
Kami punya kesimpulan bulat. Penyelenggaraan PON adalah sesuatu yang sangat bloon.
Mengapa? Tentu saja, cobalah lihat fungsi dan keluarannya.
Tak pernah ada tim nasional berkualitas mumpuni yang mampu berprestasi, katakanlah saja, di tingkat Asia Tenggara yang dihasilkan dari hajatan besar bernama PON. Juga, tak semua atlet tingkat nasional bisa ikut PON dan membela daerahnya dengan rupa-rupa alasan.
Argumen usang bahwa PON adalah instrumen pemersatu bangsa merupakan ungkapan lama yang tak lagi sesuai. Pada banyak sekali kasus, PON justru memicu konflik pembinaan olahraga antardaerah.
Bahkan, PON secara langsung telah menihilkan esensi olahraga itu sendiri. Bagaimana mau bicara soal sportivitas jika kasus perpindahan atlet antardaerah yang menghalalkan segala cara marak setiap menjelang PON digelar.
Membuat subur bisnis pemalsuan Kartu Tanda Penduduk dan bentuk dokumen penguat identitas lainnya yang di negeri ini seperti semudah membuat kartu nama biasa. Bagaimana mau bicara pembinaan prestasi olahraga jika dari tahun ke tahun yang terus jadi andalan adalah atlet-atlet tua.
Tiba-tiba sebuah perintah masuk di malam buta dari seorang petinggi daerah kepada seorang pembina olahraga. “Dapatkan satu emas itu pada pertandingan final yang terakhir besok, BAGAIMANAPUN CARANYA!”
Tentu perintah itu diterjemahkan juga dengan berbagai cara di lapangan laga.
Soalnya kredibilitas dan peluang si pemimpin daerah tadi dalam proses suksesi politik rutin tiap lima tahun sekali, jadi pertaruhan jika daerah yang dipimpinnya gagal di PON. Jadi, segala anasir politis pun mau tak mau ikut berjubelan dalam arena olahraga.
Sekonyong-konyong ada bisikan, skandal jual beli medali pun terjadi. Siapa sepakat dengan harga, bisa langsung dibungkus.
Peduli amat dengan bonus kemenangan yang ditawarkan, jika tawaran buat mengalah dalam suatu laga justru lebih menjanjikan. Rupiah.
Sportivitas? Itu hanya omong kosong di siang bolong.
Bagi pemenang PON, hanya terberkas eforia yang lantas cepat hilang sempurna laksana jejak di atas pasir yang tersapu ombak. Kekalahan pun tak lantas diterima dengan lapang sebagai bagian dari pertandingan.
Ujung-ujungnya konflik. Berebut dan saling klaim sebagai daerah asal pemilik atlet.
Diperebutkan, karena tanpa atlet andalan tersebut tak mungkin daerah bersangkutan bisa dapat emas dan mengalahkan daerah lain. Tanpa emas, tak ada bonus kemenangan yang siap dikucurkan dari duit rakyat bisa mengalir mulus ke kantong-kantong pengurus atau siapapun yang punya kepentingan atas itu.
Atlet dan kemenangan. Logika sapi perah lagi.
Nyaris tiga tahun lalu, saya sempatkan pula mampir ke Tenggarong yang jadi ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang kaya raya itu. Tenggarong yang kira-kira berjarak 30 kilometer dari Samarinda.
Katanya di lokasi itu ada tempat wisata bernama Pulau Kumala.
Pikir saya, bolehlah sekedar melarikan diri dari kegilaan di atas. Saya coba wahana kereta gantungnya.
Tapi apa yang saya saksikan dari atas gantungan kereta itu malah bikin saya makin gila.
Berjejerlah barisan rumah-rumah kumuh yang tak layak dengan penghuni yang jadi kelas sosial terpinggirkan dalam masyarakat di daerah yang sungguh kaya raya itu. Saya tak berani menatap gugusan bangunan rakyat yang berdiri seadanya itu.
Sungguh saya tak kuasa jika ada sepasang mata saja di antara bangunan-banguan di bawah itu yang menatap iri pada saya. Saya yang sedang berada dalam kereta, yang dengan sombongnya berjalan menggantung di atas mereka.
Saya belum tahu data soal berapa ratus miliar lagi harus keluar buat mendanai proyek-proyek fasilitas dan arena olahraga lainnya di Kalimantan Timur yang berkaitan dengan PON XVII. Selain, tentu saja ada rupa-rupa proyek infrastruktur seperti pembangunan dan pembenahan jalan serta jembatan dengan alasan buat melancarkan akses transportasi.
Namun, saya tak pernah habis pikir, apa fungsi gebyar gila-gilaan itu semua pada akhirnya. Setelah PON berlalu, siapa mau memanfaatkan beraneka macam fasilitas olahraga prestisius itu.
Mau disewakan murah tak mungkin, sementara disewakan dengan harga mahal juga musykil. Hendak dijadikan pusat pembinaan olahraga berbagai cabang olahraga pun mustahil.
Persoalan utamanya, memang tak ada orang yang ada untuk menyewa berbagai fasilitas olahraga itu nantinya. Juga, tak ada sumber daya manusia yang bisa dibina prestasinya buat kepentingan berbagai cabang olahraga di berbagai fasilitas olahraga mahal itu dalam waktu dekat.
Sementara, biaya perawatan tetap harus diadakan.
Paling gila, tentu saja pengerjaan asal-asalan yang terlihat betul sekedar menghamba saja pada sisa dana kucuran proyeknya.
Nyaris tiga tahun lalu, saya lihat ada sebuah gedung olahraga yang salah desain. Tak punya tribun, dan langit-langitnya pun terlalu pendek buat menggelar laga olahraga. Semua olahraga yang pakai bola, pasti mentok bolanya segera setelah servis dilancarkan dalam gedung olahraga itu.
Kata pejabat penanggungjawabnya waktu itu, gampang, salah ya tinggal kita bongkar lagi saja.
Gila.
Lalu pada Hotel Atlet yang dimaksud, desainnya lebih mirip bekas Penjara Alcatraz di Pulau Alcatraz, San Fransisco, California, Amerika Serikat. Bagaimana tidak, jika tersisa ruang sangat lapang di tengah-tengahnya yang menjadikan hotel itu lebih mirip penjara ketimbang tempat buat beristirahat.
Dua pekan lalu, tiga biji bangunan bakal asrama atlet yang akan berlaga pada PON XVII/2008 di kompleks olahraga Tenggarong, Kalimantan Timur menemui ajal dini.
Ambruk.
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
5/28/2008 08:10:00 AM
3
komentar
Link ke posting ini
26 May 2008
Istora Jakarta
Terakhir kali saya berkunjung ke Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada pengujung pekan lalu. Gedung olahraga itu buatan tahun 1962 yang dulu sempat pula dinamai Istora Senayan.
Istora kependekan dari Istana Olahraga. Istora berada di kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, Jakarta, yang kira-kira hanya berjarak sepuluh kilometer dari rumah Emak dan Bapak saya.
Satu pekan sebelum kunjungan saya yang paling akhir pada pengujung pekan lalu, saya datang ke Istora untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lamanya. Ingatan saya sendiri sudah samar-samar, kapankah terakhir kali saya berkunjung ke Istora sebelum kunjungan saya di dua pekan lalu itu.
Juga, untuk tujuan apakah saya kesitu, bertahun-tahun lalu itu. Dua pekan lalu, tujuan saya kesitu karena penasaran mau tahu.
Seperti apa kondisi terakhir gedung olahraga berkapasitas paling mentok 8.500 orang, sekalipun ada juga yang bersikukuh Istora bisa menampung hingga 10 ribu manusia, yang bakal dipakai buat menggelar perebutan Piala Thomas dan Piala Uber 2008 itu.
Perebutan dua piala yang jadi lambing supremasi kekuatan bulu tangkis bagi negara perebutnya. Dua piala, yang akan dipisahkan tempat laga perebutannya, mulai tahun 2010 mendatang itu.
Kalau sempat merasakan atmosfer Jakarta pada pertengahan tahun 1980an, sontak atmosfer itu juga yang saya rasakan tatkala pertama kali menjejak lagi lantai Istora, dua pekan silam. Atmosfer Jakarta yang kala itu didominasi taksi warna kuning dengan armada Toyota Corolla generasi ketiga, bus-bus beratap setengah lingkaran dan bertingkat bermerek Leyland buatan Inggris milik perusahaan Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD), hingga gelontoran lagu-lagu almarhum Gombloh yang berkarakter itu.
Saya baui aroma khas masa lalu itu saat pertama kali masuk pintunya. Melongok-longok ruangannya. Mendengarkan dinding-dinding kusamnya berbicara.
Merasakan kedigdayaan bangunan itu sebagai salah satu “mercu suar” Orde Lama saat menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1964.
Darah saya menggelegak. Sebagian karena bangga, sebagian lagi karena merasa kecewa.
Bangga karena di masa yang sudah berpuluh-puluh tahun lewat itu, Indonesia, sempat ditakuti dan disegani dunia gara-gara insiatif dan prestasi. Salah satunya berani dan digdaya saat Soekarno memutuskan buat jadi tuan rumah Ganefo, pada 1963 lalu.
Ganefo adalah kependekan dari Games of New Emerging Forces yang diikuti ribuan atlet dari 48 negara yang lagi berkembang di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Ganefo yang berasal dari negara-negara Nefo atau New Emerging Forces ditujukan sebagai simbol lawan frontal bagi Old Developed Forces (Oldefo) yang diwakili oleh negara-negara industri kapitalis.
Kecewa, karena ingat pembangunan proyek mercu suar yang didanai oleh pinjaman dari pemerintah Uni Soviet kala Indonesia masih mesra dengan blok komunis itu dilakukan saat himpitan hidup bagi rakyat kebanyakan benar-benar dirasakan sebagai penderitaan. Masa dimana Emak dan Bapak saya sedang berjuang habis-habisan buat mempertahankan eksistensi mereka.
Kini, dua pekan lalu, rasa bangga itu tak sempat bersemayam lama. Tak menunggu satu jam setelahnya, kebanggaan itu terkikis habis.
Kecewa, makin berlipat ganda.
Bangunan gagah yang dibangun buat menunjukkan supremasi olahraga Indonesia ke mata dunia, supaya martabat bangsa ini terangkat, itu makin lekang oleh waktu yang menggerusnya. Tembok-tembok kusam enggan menatap balik sorotan tajam sepasang bola mata saya.
Saya naik ke bagian paling atas Istora, tempat dimana lampu-lampu sorot yang besinya dipasang paten dengan kerangka atap ke tengah lapangan dicantelkan.
Besi-besi kokoh memang masih menggantung dan menggenggam erat satu sama lain. Tapi landasan untuk menjejak sungguh bikin hati kebat kebit. Beberapa sambungan antarbagian sudah renggang. Menimbulkan bunyi gemeretak yang seketika menciutkan hati kalau diinjak.
Jalinan kabel berdebu yang terancam efek getas menjuntai disana-sini. Menciptakan habitat paling bagus buat binatang pengerat. Debu tebal menggumpal dan saling bergumulan tatkala sepasang kaki datang menerjang.
Turun ke bawah.
Sebagian besar bangku buat penonton yang masih terbuat dari lonjoran kayu panjang bercat kuning, sepintas mengingatkan saya pada tulang bale-bale bambu di depan rumah khas orang Betawi.
Seorang pekerja dengan santai mengayunkan sapu ijuknya yang nyaris sudah terkikis habis di antara susunan meninggi bangku-bangku kayu yang terbuat dari lonjoran kayu-kayu panjang itu. Ia berikan saya jalan melintas, yang tak segera saya indahkan.
Matanya menatap heran. Ucap saya, silahkan saja teruskan pekerjaan Bapak. Ia menyapu lagi dengan sigap. Tak kalah sigap, saya pencet berkali-kali shutter kamera yang moncong lensanya mengarah lurus ke sosok pekerja yang menyapu itu, dan efek alami etos seorang pekerja pun tercipta.
Di ujung lain pada dua minggu yang silam saat ujung-ujung persiapan itu, sejumlah panitia takzim mendengarkan taklimat dari salah seorang pemimpin mereka. Berkumpul dalam lingkaran besar sambil berdiri di atas lantai kayu yang bakal segera dipasangi empat karpet hijau sebagai tempat buat pebulu tangkis dari 16 negara berlaga.
Sejumlah pekerja lain bersiap menaikkan beberapa rangkaian lampu sorot yang disewa dari salah satu rumah produksi untuk dinaikkan sebegai penerang lapangan laga. Lampu-lampu sorot yang digunakan sepanjang kejuaraan itu digelar, karena pada akhirnya memang tak ada lampu-lampu sorot asli bawaan Istora yang dipakai.
Lampu-lampu sorot baru, yang tak jelas spesifikasinya dengan salah satu penutup bola lampunya yang terbuat dari bahan mika harus pecah beberapa hari sesudahnya. Pecah, persis tatkala salah satu partai antara Tim Uber China menghadapi Jerman dan Tim Uber Denmark melawan Malaysia.
Serakan bahan mika yang kemudian jatuh di antara lapangan nomor tiga dan empat itu membuat Jerman memilih buat menghentikan saja laga. Sebuah peristiwa langka yang kemudian melahirkan analisa prematur dari penyelenggara.
Kata analisa buru-buru itu, lampu itu pecah gara-gara ketika itu terjadi, ada sejumlah orang berada di jalur besi-besi kokoh yang memang masih menggantung dan menggenggam erat satu sama lain. Jalur landasan yang untuk menjejak sungguh bikin hati kebat kebit dengan sambungan antarbagian sudah renggang, yang bisa menimbulkan bunyi gemeretak dengan seketika menciutkan hati kalau diinjak.
Jalur yang beberapa hari sebelumnya saya pijak dan jalani.
Jadi, polisi pun dipanggil sebagai petugas resmi untuk bertanya soal kronologi pada sejumlah orang yang dicurigai dan dituduh sebagai pencemar nama Indonesia sebagai penyelenggara, gara-gara disangka sebagai penyebab pecahnya mika pembungkus bola lampu sorot tadi.
Polisi yang bikin saya ngeri. Karena tiba-tiba saja saya merasa tengah berada di tengah-tengah medan pertempuran bersenjata dan bukan pertandingan olahraga.
Hanya dugaan dan prasangka. Tak pernah ada analisa dan data teknis yang mendahului.
Soal spesifikasi. Soal hitung-hitungan matematis logis yang mestinya jadi patokan.
Ketimbang hanya dugaan fisis belaka. Bahwa getaran, tak peduli seberapa besar amplitudonya, bakal jadi penyebab paling bertanggung jawab terhadap pecahnya mika pembungkus bola lampu yang disewa dari salah satu rumah produksi tadi.
Di luar, orang-orang mengantre tiket masuk tanpa kepastian. Anak-anak kecil dan bayi ditidurkan begitu saja di atas lembaran-lembaran koran dan kain yang jadi alas seadanya.
Ada yang mengantre sejak subuh. Tanpa kepastian pengetahuan kapan loket kusam yang sempit itu akan dibuka. Selepas waktu dzuhur, loket kumuh itu akhirnya dibuka.
Orang-orang mendesak. Sejumlah ibu-ibu yang datang sejak matahari terbit sepenggalah memilih mundur. Saya bisa jadi kurus kalo harus ikut-ikutan mengantre begitu, kata seorang ibu-ibu paruh baya berbadan subur kepada saya.
Tak sampai setengah jam, loket ditutup. Orang-orang berteriak kecewa.
Di dalam, penyejuk udara menggelontor angin dingin. Sedingin Istora yang membekukan prestasi bulu tangkis Indonesia.
Seolah, tak ada lagi yang ingat kalau dulu Emak dan Bapak saya dan generasi seusia mereka lainnya harus rela bertaruh rasa sejahtera dan kesempatan berbahagia supaya bangunan megah pencipta rasa bangga itu bisa berdiri.
Saya marah.
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
5/26/2008 06:56:00 AM
4
komentar
Link ke posting ini
20 May 2008
Bahasa China
Suatu malam saya diundang ke jamuan makan malam resmi. Pengundangnya Bank of China yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia.
Jamuan makan malam itu sejatinya ditujukan bagi atlet-atlet bulu tangkis China yang sedang berada di Jakarta. Para pebulu tangkis putra dan putri yang mau berjuang mempertahankan Piala Thomas dan Piala Uber yang masing-masing sudah mendekam di China semenjak empat dan sepuluh tahun terakhir.
Bank of China adalah salah satu sponsor resmi tim bulu tangkis China, selain perusahaan ekspedisi FedEx, yang makin dikenal saat muncul di film "Cast Away," dengan Tom Hanks jadi pemeran utamanya.
Jadilah, malam itu selain Pelatih Kepala Tim Bulu Tangkis China, Li Yongbo, hadir pula seluruh pemain, seperti pebulu tangkis tunggal putra urutan pertama dunia Lin Dan, yang perseteruannya lewat media dengan pebulu tangkis tunggal putra kedua Indonesia, Taufik Hidayat, sempat ramai beberapa waktu lalu.
Di salah satu ujung meja yang lain, dalam penerangan lampu yang temaran, sepertinya datang pula pebulu tangkis peringkat satu dunia, Xie Xingfang. Lin Dan serta Xie Xingfang.
Dua pebulu tangkis nomor satu dunia yang jadi sekarang jadi raja dan ratu dalam artian yang bisa disejajarkan dalam dunia nyata.
Lin Dan dan Xie Xingfang adalah sepasang kekasih. Bahkan, Xingfang yang meradang tatkala merasa Lin Dan dilecehkan Taufik pada momen Asian Games 2006 di Doha, Qatar.
Tapi, percayalah, sepanjang acara semenjak dimulai hingga penghujungnya, tak banyak yang bisa saya perbuat. Persoalan utamanya ada pada kebodohan saya.
Saya sama sekali tak memahami bahasa pengantar dan lantas dijadikan sebagai bahasa resmi dalam jamuan makan malam itu. Jamuan yang kemudian diteruskan dengan hiburan musik tradisional China yang digabungkan dengan permainan alat-alat musik modern itu.
Hanya satu lagu yang saya paham betul. Tatkala penyanyi dan kelompok pemain musiknya melagukan Bengawan Solo yang diciptakan Gesang. Selebihnya, saya hanya bisa manggut-manggut sembari cengar cengir, plus tengok kanan kiri.
Menit pertama masuk ruangan besar yang diberi titel ballroom pada salah satu hotel bintang lima di pusat Jakarta itu, saya disergap rasa cemas. Bagaimana tidak, kalau memang tidak ada hal yang saya pahami dari mereka semua yang sedang berbicara di atas panggung. Bahkan, saya tidak paham dan sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan orang-orang yang duduk di bangku-bangku elegan yang mengelilingi sejumlah meja makan besar itu.
Tapi, saya memenuhi undangan itu bukan hanya sekedar untuk menghormati pengundang. Tujuan saya adalah mengetahui segala ihwal yang mungkin saya bisa ketahui mengenai tim bulu tangkis China.
Saya mau tahu strategi mereka. Saya ingin tahu pendapat mereka soal kekuatan bulu tangkis negara-negara lain.
Saya penasaran.
Saya tahu itu bukan hal mudah. Kendala utamanya, ya itu tadi, gara-gara kebodohan saya. Malam itu, tantangannya ditambahi satu lagi, banyak sekali orang-orang yang lebih pandai dari saya karena mereka lihai berbahasa China, terus menerus mengerubungi Li Yongbo dan pemain-pemain China.
Minta tanda tangan dan foto bersama. Tak lupa, banyak di antara mereka yang kemudian terlibat dalam obrolan satu sama lain.
Tapi, saya memenuhi undangan itu bukan hanya sekedar untuk menghormati pengundang. Tujuan saya adalah mengetahui segala ihwal yang mungkin saya bisa ketahui mengenai tim bulu tangkis China.
Jadilah, dengan yakin saya hilir mudik kesana kesini. Berpindah dari satu meja jamuan ke meja jamuan yang lain. Berdiri, menguping, dan sok mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Tiba-tiba, di deretan meja paling depan, saya lihat Lin Dan lagi dikerubungi beberapa perempuan muda. Mereka berfoto bersama. Ngobrol sebentar, dan ditutup dengan suara ketawa ketiwi beberapa perempuan muda tadi. Supaya meyakinkan, saya ikut ketawa ketiwi sebentar.
Lalu saya dekatkan muka saya ke wajah Lin Dan, supaya omongan saya bisa didengarnya. Perlu begitu, karena dengan suasana yang agak berisik, rasanya mustahil bicara dengan nada suara normal dengan jarak yang terpisah seperti pembicaraan pada suasana biasa.
Bedanya, saya ngomong tidak pakai bahasa China, melainkan Inggris. Itulah kebodohan saya. Berharap Lin Dan pun fasih pakai bahasa negara yang pernah punya wilayah jajahan terluas di dunia itu.
Tapi, harapan saya tak sepenuhnya kosong. Karena yakin Lin Dan mau menanggapi saya, maka ia pun dengan terbata-bata menjawab beberapa pertanyaan saya. Tapi selebihnya, saya harus bisa berlapang dada tatkala ia berkata "sorry, no English, no English.
Yah, saya pun keliling lagi. Kali ini target saya pasti.
Li Yongbo.
Kata rumor yang beredar, pelatih satu ini sebetulnya paham Bahasa Inggris. Namun, dalam berbagai kesempatan, Yongbo lebih suka menggunakan bahasa ibunya. Lalu, buat yang berkepentingan bertanya kepadanya, Yongbo lebih memilih pakai penerjemah. Ini salah satu strategi kebudayaan yang menurut saya sangat brilian.
Saya penasaran.
Tapi, sejumlah orang tengah bercakap-cakap dengan Yongbo. Plus, tentu saja, minta tanda tangan dan foto bersama.
Pasti, langsung mendesak masuk dengan cecaran pertanyaan tak akan berhasil. Apalagi kalau bertanya pakai bahasa selain bahasa China.
Tak bisa tidak, saya pun harus menjadi salah satu di antara pemburu tanda tangan itu. Maka, saya siapkan pulpen dan buku catatan yang jadi andalan saya kapan saja. Lantas, sepasang mata saya fokuskan hanya melihat ke satu titik.
Li Yongbo.
Waktu itu Yongbo sudah duduk. Ia tengah menghadapi semangkuk sup yang jadi hidangan pembuka di atas meja makan. Yongbo pakai topi hitam.
Bagaimana cara saya menyapa Yongbo, awalnya saya pun gelap. Tak tahu bagaimana mengawalinya. Hanya saja saya ingat, ada kata kata berbunyi xie xie dalam bahasa China yang tafsirnya berarti terima kasih.
Jadi, saya sapa Yongbo dengan itu. Xie xie, dan Yongbo pun menoleh.
Tak membuang waktu, saya sorongkan buku catatan dan saya berikan pulpen kepadanya. Tak menunggu lama, Yongbo pun membubuhkan tanda tangannya di salah satu halaman buku catatan saya itu.
Mulai sejak Yongbo menerima pulpen dari saya, sejak itulah saya mulai nekat mengajaknya bicara pakai bahasa Inggris. Gara-gara keyakinan saya bahwa Yongbo akan menanggapi, maka itulah yang terjadi.
Yongbo menjawab pertanyaan saya pakai bahasa Inggris pula. Lalu ia mengatakan pada saya, saat ini kekuatan dan peluang negara-negara lain buat jadi kampiun bulu tangkis relatif sama.
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan sistem rally point sejak Desember 2005 lalu, ketimbang sistem serve point yang digunakan sebelumnya.
Dalam sistem rally point, pertandingan berakhir dalam 21 angka untuk kelompok putra dan putri. Pada sistem serve point, laga di kelompok putra berakhir dalam 15 angka dan 11 angka bagi kelompok putri.
Tak ada lagi istilah deuce dalam sistem rally point dan penyebutan set diganti dengan game. Jika skor imbang 20-20, pemain dengan keunggulan selisih dua nilai pada kejar-kejaran poin selanjutnya, jadi pemenang di game tersebut. Jika kejar mengejar poin terus terjadi, pemain yang lebih dulu mendapat 30 angka, dinobatkan jadi pemenang di game tersebut. Jika kedua pihak sama-sama menang pada dua game awal, tentu harus pula dilagakan game tambahan.
Rubber games.
Peluang yang jadi seimbang menurut Yongbo, karena dalam rally point, siapapun punya peluang serupa mendulang angka. Berbeda dengan sistem serve point, saat pengumpulan angka hanya bisa dilalakukan oleh pemain yang tengah memegang kendali servis. Jika mau mengumpulkan angka, maka pemain yang lain harus lebih dulu merebut kendali sevis.
Proses pindah servis ini bisa berjalan bolak-balik di masa lalu ketika sistem serve point digunakan. Membuat laga cenderung berdurasi panjang dan dikembangkannya kemampuan hingga batas paling maksimal.
Tapi itu tadi, peluang buat menjadi juara relatif mudah dibaca. Hal ini menurut Yongbo, tak akan terjadi dengan sistem rally point. Setiap pemain punya peluang sama. Tergantung pada kesiapan fisik, teknik, dan mental buat memanfaatkannya.
Kedua kubu punya peluang untuk merasakan sensasi penasaran dan rasa dag dig dug yang imbang.
Belakangan, pendapat Yongbo sedikit terbukti. Tak dinyana, Tim Uber Belanda mampu menyulitkan China di babak semifinal, sebelum Tim Uber China menang dengan skor ketat 3-2. Begitu pula yang terjadi saat Tim Thomas Malaysia memberikan perlawanan ketat pada Tim Thomas China di babak semifinal, sebelum Tim Thomas China menang dengan skor ketat 3-2.
Saya lanjutkan pertanyaan kepada Yongbo. Beberapa pertanyaan sempat menderas masuk dan dijawab Yongbo dengan santai. Termasuk bagaimana soal kondisi terakhir Lin Dan, yang beberapa hari sesudahnya sempat menelan kekalahan dari pebulu tangkis tunggal putra pertama Malaysia, Lee Chong Wei, di babak semifinal Piala Thomas 2008 itu.
Sebelum akhirnya hidangan utama datang dan memutus pembicaraan kami.
Sampai hari ini, itulah kesempatan pertama dan terakhir saya bercakap-cakap dengan Li Yongbo pakai bahasa Inggris. Selanjutnya, pada pertemuan-pertemuan yang lain, Yongbo selalu memilih didampingi penerjemah.
Penerjemah yang membuat saya gerah. Bukan karena penerjemah itu tidak tersumpah. Tapi sungguh, pakai jasa penerjemah bikin saya jengah.
Ada distorsi komunikasi. Itu pasti.
Barusan, saya ngobrol dengan seorang kawan yang beberapa tahun terakhir ini berkarir di Singapura. Dia mendorong saya untuk segera menguasai pinyin. Pinyin adalah cara penulisan pakai huruf latin untuk bahasa Mandarin (baca: Bahasa China).
Sistem fonetik pinyin ini dibuat Lembaga Pembaharuan Tulisan Republik Rakyat China pada 1958 lalu. Soalnya, tanpa sistem penulisan dengan aksara latin ini, akan susah bagi orang selain bangsa China yang mau menguasai bahasa China.
Pasalnya, bahasa China tidak pakai aksara latin. Bahasa China menggunakan aksara Hànzì, yang terdiri atas ribuan aksara. Aksara kanji yang satu rumpun dengan bahasa Jepang dan juga Korea.
Piala Thomas akhirnya dipertahankan China usai melumat Korea Selatan 3-1. Tim Uber China juga mempertahankan Piala Uber setelah meluluhlantakkan Indonesia 3-0.
Saya sangat tidak puas. Terutama karena kebodohan saya.
Xie xie.
Diposting oleh
ingki-rinaldi
di
5/20/2008 06:53:00 AM
11
komentar
Link ke posting ini
