30 June 2008

Warisan Generasi

Ya, saya adalah generasi TVRI. Sebagian hidup saya, tumbuh bersama stasiun televisi pertama Indonesia yang siaran pertama kali sejak 1962 itu.


Saya mengakrabi serial Si Unyil, Oshin, Rumah Masa Depan, hingga Dunia Dalam Berita. Selain serial Si Unyil, pada hari Minggu saya juga kerap menonton paket acara musik bernama Album Minggu Kita.

Pada lain waktu, serial menggambar bersama almarhum Tino Sidin sangat saya akrabi. Meskipun, saya samasekali tidak bisa menggambar dan melukis, kelincahan tangan almarhum Tino Sidin waktu itu sangat saya kagumi.

Belum lagi serial Pak Tepong hingga Boneka Si Tongki buatan Gatot Sunyoto. Ditambah rupa-rupa serial kartun seperti Flash Gordon, Silver Hawks, hingga He-Man.

Masa-masa di sekitar tahun 1980-an itu saya bisa sangat menikmati rupa-rupa mata acara itu. Bukan melulu disebabkan saat itu hanya TVRI yang mengudara.

Namun, sejumlah acara tadi memang berhasil melarutkan saya seolah berkelana jauh ke dunia yang lain. Sebut saja Si Unyil, Rumah Masa Depan, dan almarhum Tino Sidin.

Meskipun pada akhirnya, saya tetap tak bisa menggambar apalagi melukis.

Apa yang membuat saya bisa nyaman menikmati televisi pada masa-masa itu baru saya temukan jawabannya dalam lima tahun terakhir ini. Pencipta tokoh-tokoh serial Si Unyil, Drs. Suyadi yang juga jadi pengisi suara tokoh Pak Raden di serial itu, sempat saya temui di kediamannya sekitar lima tahun silam.

Rumahnya sederhana. Banyak lukisan dan hasil-hasil karyanya dipajang begitu saja.
Beberapa di antaranya bahkan ada yang seperti belum selesai. Teronggok begitu saja di atas kanvas kusam.

Banyak kucing yang bersliweran di sela-sela obrolan kami.

Dari perbincangan singkat itu, saya tahu Si Unyil adalah serial yang penuh konsep ideal. Karenanya, pemilihan tokoh dan karakter yang mengikutinya pun tidak asal-asalan.

Ada semangat untuk menuntaskan tanggung jawab sebagai pembentuk sebuah generasi.

Tahun 1989, RCTI untuk pertama kali mengudara.

Siarannya waktu itu belumlah gratis. Ada iuran yang harus dikutip dan sebuah alat bernama dekoder (decoder) yang harus dihubungkan ke televisi untuk bisa menerima siaran televisi swasta pertama itu.

Tapi rupa-rupanya Bapak saya bergeming.

Mungkin pula, ia tak rela rumah yang dibangunnya dengan susah payah harus dipasangi pelat berbentuk persegi panjang bertuliskan “Pelanggan RCTI” di bagian depannya. Paling tidak, sepanjang ingatan saya, sejumlah tetangga dan kerabat saya menaruh pelat yang merusak estetika sebuah rumah itu di bagian atas kusen rumah mereka.

Tapi, rupa-rupanya Bapak bukan takut pelat itu merusak keindahan rumah yang dirancangnya sendiri itu. Bapak saya lebih takut dampak siaran baru itu bagi perkembangan anak-anaknya.
Siaran yang, waktu itu, belum teruji kualitas sejumlah mata acaranya.

Karena itulah, saya selalu gembira bila libur sudah tiba. Soalnya itu berarti saya bisa nonton Knight Rider, MacGyver, Baa Baa Black Sheep, Ksatria Baja Hitam RX, Quantum Leap, Tour of Duty, hingga Misfits of Science.

Nontonnya dimana? Ya, di rumah saudara-saudara saya yang kusen di depan rumahnya dipasangi pelat berbentuk persegi panjang beruliskan “Pelanggan RCTI” tadi.

Saya sendiri beranggapan, serial-serial yang disiarkan RCTI pada masa-masa awalnya dulu itu merupakan produk mata acara yang lumayan punya kualitas. Artinya, mungkin saja mereka dibuat dengan semangat yang sama serupa ketika Drs. Suyadi membuat Si Unyil.
Mungkin kualitas acara-acara itu jauh berbeda dibandingkan aneka adegan tampar-tamparan dan teriakan-teriakan yang saat ini hampir setiap waktu menyesaki layar-layar televisi kita.

Tetapi, mungkin saja Bapak saya tidak mau ambil resiko waktu itu. Membiarkan anak-anaknya tenggelam dalam serial-serial asing yang belum diketahui apa misinya.

Misi.

Itu pula yang membuat saya sempat tidak paham bagaimana jalan cerita dongeng Si Kancil. Kata teman-teman sebaya saya dulu, Si Kancil sangatlah cerdik.

Apalagi dalam “episode” saat Si Kancil mencuri ketimun Pak Tani.

Tapi, saya tak pernah mendengar dongeng itu dari Bapak dan Emak Saya. Satu hal, yang dulu sangat tak saya pahami mengapa.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun lewat, saya baru paham sebabnya. Setelah bertahun-tahun lewat, saya baru tahu kalau apa yang dilakukan Si Kancil sesungguhnya sangat terhina.

Menggunakan akalnya buat mengakali pihak lain. Ini, jauh dari pemahaman soal cerdik dan punya kecerdasan di atas rata-rata.

Culas, itu lebih tepat.

Sekarang, praktik-praktik model begini lazim saya temui. Di kalangan manusia, bukan di komunitas kancil.

Jahat, itulah ungkapan paling tepat.

Apakah ini pengaruh dongeng Si Kancil, dan cerita-cerita lain yang diperdengarkan sedari kecil. Kisah-kisah yang dibacakan dengan tujuan mula-mula supaya menghibur.

Mungkin saja.

Soalnya, Bapak dan Emak saya pernah dalam suatu waktu sangat bersemangat mengajari saya bernyanyi lagu “Balonku Ada Lima.”

Lagu yang sebagian liriknya berbunyi begini, “Meletus balon hijau..Doorr..Hatiku sangat kacau..Balonku tinggal empat..Kupegang erat-erat.”

Akibatnya sangat serius.

Sampai hari ini saya masih berjuang untuk tidak panik pada saat-saat genting. Atau berupaya untuk tidak limbung saat mesti kehilangan sesuatu.

Gara-gara lagu yang saya sukai itu, secara tidak sadar, alam bawah sadar saya memerintahkan saya untuk “segera panik” segera begitu “satu balon” yang “saya miliki” tadi meledak.

Perintah untuk segera menjadi “kacau.”

Padahal hanya satu balon saya yang meledak. Masih ada empat lagi dalam genggaman. Lagipula, tadinya balon-balon itu kan juga bukan milik saya.

Lantas, kenapa mesti harus kacau?

Lalu, ada lagi perintah untuk sesegera mungkin memegang erat-erat sisa empat balon selanjutnya. Seolah seekor lalat pun tak berhak hinggap di atas permukaannya.
Mengapa harus begitu?

Bukankah hakikat hidup ini adalah berbagi?

Pusing.

29 June 2008

Diri Berbagi


Sebuah rumah sederhana yang mengelupas cat pagarnya, sore itu dipenuhi anak-anak kecil. Mereka berceloteh riang di bagian halaman yang tersisa lumayan luas.

Rumah kontrakan sederhana itu berada di salah satu kompleks perumahan di Kabupaten Gresik, sekitar 30 kilometer sebelah utara Kota Surabaya.

Sorot mata berpasang-pasang mata mungil itu demikian gembira. Kadang mulut mereka mengeluarkan nada-nada merdu. Seringkali tingkah malu-malu yang sungguh lucu terlihat.

Anak-anak kecil itu terdiri dari bocah-bocah laki-laki dan perempuan. Mereka punya macam-macam latar belakang.

Ada yang sudah harus kehilangan orang tuanya di usia semuda itu. Menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu sekaligus.

Banyak pula berasal dari kalangan kurang mampu, yang menurut indikator kemiskinan versi pemerintah, masuk ke dalam golongan pra sejahtera. Orang tua mereka, adalah orang-orang yang selama ini menggeliat dengan liatnya dalam berbagai usaha di sektor informal.

Rumah yang hari itu disesaki celotehan riang anak-anak kecil tersebut disewa dengan tarif Rp 4 juta per tahun. Penyewanya adalah sekelompok pemuda dan pemudi yang kebetulan sebagian besar berstatus mahasiswa, Mereka saling patungan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Salah seorang inspirator gerakan itu, Srindoyo, bercerita kepada saya soal awal mula gerakan yang dimulai dari perbincangan ringan di kantin perusahaan tempatnya bekerja. Sebagai salah seorang tenaga lepas di salah satu perusahaan, pemuda bergelar sarjana bahasa Inggris itu mengaku relatif punya banyak waktu luang.

Waktu luang yang dimilikinya itu berjodoh dengan keresahan yang dimilikinya. Keresahan yang sekarang menjadi nyata di Indonesia.

Kenyataan dari ungkapan, kalau tak ada orang miskin boleh sakit. Tak boleh ada orang miskin jadi pintar.

Soalnya jelas. Biaya kesehatan dan memperbaiki kesehatan demikian mahal. Harga untuk mendapatkan pendidikan makin membubung tinggi.

Kata Srindoyo, anak-anak kecil periang yang relatif tak punya akses untuk mengecap pendidikan itu punya peluang sangat besar untuk jadi orang-orang miskin selanjutnya. Bahkan, bisa jadi jauh lebih miskin dari orang-orang tua mereka.

Kemiskinan struktural.

Masalah sistemik saat orang miskin jadi makin miskin dan orang-orang berkecukupan jadi makin kaya. Serupa harta benda yang diwariskan.

Itu akan terjadi bila selamanya akses pendidikan tak menjangkau anak-anak yang kurang beruntung tadi. Soalnya, peluang paling besar untuk memperbaiki taraf kehidupan adalah lewat jalur pendidikan.

Karenanya Srindoyo memutuskan buat bergerak. Ia gerakkan pula potensi-potensi muda di bekas kampusnya dulu.

Ia tak acuhkan segala cemoohan. Ia hindari afiliasi dengan gerakan politik yang mati-matian berupaya menunggangi gerakannya.

Ia masih percaya gerakan kecil yang diupayakan dengan swadaya itu akan berbuah nyata. Sekalipun ia mengamini, tak menutup pintu buat bantuan yang mengalir tulus tanpa ada makna udang di balik batu.

Buatnya, kegiatan sosial-horisontal seperti itu juga sama berartinya dengan aspek transendental-vertikal, yang sering terlihat dalam ritual orang beragama. Sayangnya, kata Srindoyo, banyak orang masih percaya sekedar menjalankan aspek ritual beragama sudah cukup dianggap sebagai ibadah.

Pantas menyandang gelar sebagai orang saleh. Layak mendapatkan predikat jadi tokoh masyarakat.

Padahal, aneka persoalan sosial tidak lantas hilang atau terkurangi hanya melulu dengan melakukan ibadah ritual dan berdoa semata. Harus ada usaha.

Usaha dan doa. Itu baru imbang.

Karena juga, jika melulu usaha tanpa doa, itu sangat sombong namanya.

Srindoyo berkeputusan harus ada gerakan nyata yang dilakukan untuk menyelamatkan generasi-generasi mungil itu. Karenanya ia minta pula keikhlasan dari rekan-rekan mudanya untuk mengajar.

“Saya minta paling tidak dalam satu minggu ada satu hari yang diluangkan, dan dari satu hari itu juga paling hanya 1,5 jam. Saya percaya, jika ikhlas hasilnya juga akan kelihatan,” ucap Srindoyo.

Ia percaya, itulah hakikat manusia hidup. Saling berbagi.

Maka, bocah-bocah mungil yang cerdas itu pun kini mulai fasih benyanyi dalam lantunan berlafal Inggris. Dua unit komputer pun tersedia untuk sekedar memberikan pengenalan, apa itu sebenarnya komputer.

“Sayangnya satu unit komputer sedang rusak. Yah, paling penting mereka tahu dulu apa itu komputer, kasihan sekali mereka tidak tahu apa-apa. Sementara banyak anak lain sudah main laptop,” kata Srindoyo.

Dalam pemahamannya, tidak perlu menunggu otoritas berwenang, yang sebenarnya punya kewajiban menyejahterakan rakyatnya, untuk melakukan sesuatu. Jika melihat kerusakan, atau ancaman kerusakan dan merasa ada hal yang bisa diperbuat, maka lakukanlah.

Bukan soal sedikit-banyak atau besar-kecil manfaat dan bantuan yang bisa diberikan. Intinya adalah soal keikhlasan.

Percayalah, memberi dengan rasa ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Lebih besar dari perasaan saat anda menang undian atau sayembara paling besar sekalipun.

Semua itu masih ditambah bonus. Apa saja yang anda berikan dengan ikhlas, niscaya bakal kembali.

Bahkan, dalam jumlah yang berlipat dari yang pernah anda berikan dengan ikhlas tadi.

Akhir pekan lalu, anak lelaki pertama saya genap berusia dua tahun. Saya dan istri saya berkeputusan untuk mengajaknya mengunjungi rumah sederhana yang mengelupas cat pagarnya itu.

Rumah yang dipenuhi keriangan dan tingkah lucu bocah-bocah mungil tadi.

Saya mengajaknya ke rumah itu untuk merayakan hari ulang tahunnya. Paling penting untuk mengingatkannya, kalau jatah hidupnya di dunia semakin berkurang.

Juga mengingatkannya kalau dalam banyak hal, ia masih lebih beruntung dibandingkan rekan-rekan kecilnya yang makin pandai berbahasa Inggris tadi.

Tentu, paling penting adalah mengajarkannya untuk sebisa mungkin membagi keberuntungan yang dimilikinya itu dengan orang lain. Ia pun dengan cepat belajar mensyukuri dan dengan cepat menerima uluran salam persahabatan yang datang kepadanya.

Kapan pun.


26 June 2008

Pikiran Pendek

Seorang teman saya semasa kuliah yang sekarang bergiat di organisasi ini, beberapa hari lalu mengirimkan sebuah pesan. Fakta yang menyertai isi pesan itu sungguh menyesakkan.

Pesan itu berisi seruan supaya mendukung upaya penghentian penangkapan dan penyelundupan burung nuri dan kakatua di Indonesia.

Soalnya, praktik ilegal model begini disertai fakta yang nyata-nyata sudah mengancam keberlangsungan ekosistem.
Burung-burung eksotis itu dijual hingga ke Filipina untuk selanjutnya dijual ke banyak negara lain.

Lebih gila, setelah tiba di pusat-pusat perdagangan, burung-burung liar hasil tangkapan itu lantas dilabeli hasil penangkaran.

Seolah-olah burung-burung itu memang pantas diperjualbelikan sebagai salah satu komoditas eskpor. Tercatat sebagai barang ekspor dan memberi devisa pada negara.

Seakan-akan rakyat kebanyakan merestui dan dengan devisa kosong yang tak pernah ada itu, kehidupan orang banyak bisa makin sejahtera.

Sebagian besar burung liar memesona itu sejatinya sudah terancam punah. Jika satwa-satwa indah ini sudah hilang dari sistem rantai makanan, nihilnya rangkaian lain dari sistem tersebut tinggal menunggu waktu saja.

Tetapi, inilah salah satu bisnis paling menggiurkan. Salah satu roda ekonomi yang memanfaatkan kehausan sebagian manusia atas pencarian kepuasan yang seakan tak ada habisnya.

Tengoklah pasar-pasar burung di sejumlah kota besar. Jika bicara lebih luas lagi, bukan hanya burung nuri dan kakatua yang bisa disediakan.

Berbagai jenis burung, asal ada kesepakatan harga, bisa diboyong. Bahkan tawaran buat memiliki berbagai jenis satwa liar yang cenderung langka, dan dengan demikian jadi peningkat status gengsi bagi pemiliknya, juga bisa dijumpai.

Bisnis yang dengan gamblang memanfaatkan ritual manusia buat mencapai kebahagiaan dengan memperbesar kekayaan, pengaruh, dan kekuasaannya ketimbang lebih menyadari soal-soal hakikatnya.

Lagi-lagi intinya bicara soal keserakahan. Kerakusan manusia.

Sebuah sifat yang banyak manusia sendiri sudah menganggapnya sebagai hal yang manusiawi. Manusia itu memang tidak pernah puas.

Itulah pembenaran yang kerap terdengar. Meski memuakkan, itulah salah satu gagasan soal “manusiawi” yang masih diterima.

Lagi-lagi intinya bicara soal keserakahan. Kerakusan manusia.

Akhir pekan lalu, saya berkunjung ke Taman Safari Indonesia (TSI) II di Prigen Pasuruan, yang jadi lokasi TSI kedua sesudah di Cisarua, Bogor itu. Pesan yang serupa saya temukan di Prigen, yang jadi tempat kedua sebelum lokasi TSI ketiga di Gianyar, Bali tersebut.

Ancaman kepunahan. Ajakan buat menyelamatkan burung-burung itu.

Sebuah rencana operasi untuk menyelamatkan burung-burung itu pun dirancang sedemikian rupa. Rencana yang disusun jenis manusia tertentu untuk memerangi jenis manusia yang lain.

Inilah perang antarmanusia yang melibatkan burung-burung tak berdosa di tengah-tengahnya. Inilah pertarungan sempurna antara kutub pemenuhan hawa nafsu yang tiada habisnya dengan kutub pemenuhan hakikat diri sebagai inti kebahagiaan pada kutub lainnya.

Contoh sempurna konsep baik-buruk, hitam-putih, siang-malam, terang-gelap, panjang-pendek, atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan.

Pertempuran yang masing-masing pihak memakai tameng burung-burung indah tadi di tengah-tengahnya. Pada sudut yang lain, gerak roda ekonomi yang butuh dilumasi mengintip dengan tatapannya yang lapar.

Tetapi inilah salah satu hakikat lain lagi dari manusia. Bukankah jutaan sperma mesti dikalahkan terlebih dahulu oleh satu sperma juara, sebelum sel telur bisa dibuahinya.

Perang. Pembuktian.

Seringkali, ada pikiran pendek menyelinap di antaranya.






19 June 2008

Karyawisata Nyawa

Tangis pecah lagi di rumah Munir yang berdinding batu bata merah tanpa plester dengan sebagian lantai tanah itu. Saat itu Tholib, yang adalah salah seorang kerabatnya tengah dibopong karena histeris saat pemakaman almarhumah Sujiyati, isti Munir.

Ibu dan anak saling berpeluk dalam guguran air mata. Lolongan kematian terasa begitu dekat dan mencekam.

Munir, yang sehari-hari hanya berjualan jamu tradisional di muka rumahnya, tak sanggup lagi bereaksi. Ia hanya duduk tersimpuh di teras depan rumahnya.

Tatapan matanya kosong, karena istri yang sehari-hari membantu ekonomi keluarga dengan membantunya berjualan jamu tradisional dan sesekali menerima jahitan telah tiada. Belum pulih pilu itu, sebuah godam duka menghantamnya lagi persis ketika istrinya dikebumikan.

Penyebabnya, beberapa menit sebelumnya, Tholib dikabari salah seorang kerabatnya yang tengah menunggui anak semata wayang pasangan Munir-almarhumah Sujiyati, Muhammad Burhanudin. Anak tunggal yang masih dirawat intensif di RS Baptis Kota Batu, itu disebutkan telah meningal dunia. Tholib, histeris saat jenazah Sujiyati sedang dikebumikan.

Sejumlah warga yang pagi itu tengah mengikuti prosesi pemakaman Sujiyati di Tempat Pemakaman Umum Desa Karang Diyeng, Kabupaten Mojokerto pun sontak membopong Tholib yang semaput. Tholib terus meronta sepanjang perjalanan ke rumah Munir.

Beruntung, kabar duka kedua itu salah. Anak semata wayang Munir dan almarhumah Sujiyati ternyata masih hidup.

Tapi, sekali lagi Munir tak bereaksi sekalipun kabar duka itu akhirnya diralat. Air matanya sudah kering dan hatinya kelu.

Sehari sebelumnya, Sujiyati bersama 106 orang lainnya termasuk dalam rombongan karyawisata TK Dharma Wanita Karang Diyeng, Desa Karang Diyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Mereka tengah menuju ke tempat wisata Jatim Park, di Batu.

Belum sampai di lokasi, bus yang mereka tumpangi dihentikan dua kali oleh petugas DLLAJ di jalan yang permukaannya menurun. Malang tak bisa ditolak, pada pemberhentian kedua yang hanya tinggal berjarak 500 meter lagi dari lokasi wisata idaman, bus sarat penumpang itu mundur tiba-tiba.

Sebuah warung makan ditabrak. Kompor menyala yang ada di dalam warung itu menyulut api pertama pelahap badan bus. Api menyeruak.

Anak-anak dan ibu-ibu tenggelam dalam lolongan duka. Sedih mereka terbawa angin kepedihan.

Munir tidak sendiri. Pada pojok rumah sederhana lain, yang keadaanya tidak lebih baik dari rumah Munir, terpekur sepi Ahmad Bisri (46). Ahmad Bisri adalah ayah seorang putri berusia 5 tahun 10 bulan, Agustinur Umami, yang juga tewas mengenaskan dalam kecelakaan maut tersebut.

Agustinur adalah anak bungsu dari tiga anak Ahmad Bisri yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir truk PT Karya Bersama, sebuah perusahaan ekspedisi.

“Paling kasihan juga Pak Rudin, anaknya yang bernama Husni Mubarak juga tewas, sedangkan Farida, istrinya masih dirawat dalam kondisi kritis,” kata Maemunah (47) yang adalah bibi Husni dan Umami, serta masih berkerabat dengan almarhumah Sujiyati itu. Sehari-hari, Maemunah juga menjadi buruh di perusahaan tempat Ahmad Bisri menjadi sopir truk.

Dua bocah ingusan dan seorang dewasa tewas mengenaskan. Sejumlah orang tergolek kritis di rumah sakit.

Setahun sebelumnya, wisata itu sudah masuk dalam agenda rencana. Maka, orang-orang seperti Munir dan Ahmad Bisri memompa energi mereka habis-habisan ke batas maksimum demi menggenapi kewajiban sebagai orangtua.

Ahmad Bisri harus bekerja sedemikian keras hingga terkadang melupakan waktunya bersama Agustinur. “Kadang, saya pulang sudah malam anak saya sudah tidur. Pagi pun, kadang tidak sempat ketemu,” kata Ahmad Bisri.

Ia harus bekerja keras seperti itu, demi biaya bagi putra pertamanya seorang lulusan STM dan putri keduanya yang tengah bersiap masuk SMP itu. Juga, tentu saja, karyawisata di pengujung tahun ajaran putri bungsunya yang terlihat sangat lincah di foto terakhirnya itu.

Desa itu sebagian besar hidup karena kegiatan pembuatan pembuatan batu bata yang diusahakan warga. Tambah lagi, sejumlah tanaman palawija juga diusahakan masyarakat untuk menambah penghasilan mereka.

“Rata-rata warga disini ya kerja sebagai pembuat batu bata,” kata Arif (25), salah seorang tetangga Sujiyati yang rona mukanya tampak jauh lebih renta dari usia sebenarnya. Hari itu Arif sengaja khusus libur untuk mengantar jenazah Sujiyati ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Tetapi, kerja sekeras apapun tak mungkin sanggup bagi kebanyakan orang di desa itu membeli paket wisata yang ideal, yang biasanya berbanding lurus dengan harganya yang mahal. Jadilah, karyawisata pada hari Senin dengan biaya total Rp 95 ribu itu akhirnya diadakan.

Harga itu termasuk tiket masuk ke lokasi wisata Jatim Park seharga Rp 30 ribu, atau lebih murah Rp 10 ribu dibandingkan harga saat akhir pekan atau hari libur. Kalau pernah nonton di bioskop, hari Senin itu istilahnya nonton hemat, alias nomat.

Satu unit bus yang dipakai pun dihargai sewa yang relatif murah saja. Berupaya sehemat mungkin. Itulah yang mereka lakukan dengan rencana itu.

Pada satu sisi ada masyarakat berpenghasilan relatif rendah dan pada sisi yang lain ada “kebutuhan” untuk melakukan karyawisata yang sering dipersepsikan harus mengeluarkan sejumlah uang tertentu. Semakin jauh lokasi wisata dan semakin eksklusif tempatnya, maka akan berbanding lurus dengan merangkaknya biaya.

Bagaimana mempertemukan dua kenyataan ini dalam satu titik, tentu harus ada kompromi. Namun, bagi orang-orang seperti Munir dan Ahmad Bisri, rasanya tak ada kompromi yang bisa sebanding dengan hilangnya nyawa orang-orang tercinta mereka.

Kepala Sekolah TK Dharma Wanita Karang Diyeng, Miani, yang sangat terpukul akibat gagalnya tradisi karyawisata itu pada tahun ini juga belum bisa ditemui. Rumahnya di Jalan Mayjend Sumadi, Desa Gedangan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang masih dalam tahap pembangunan terkunci rapat dengan lampu teras menyala.

Seperti biasa, orang-orang di lingkup pemerintahan hanya mengeluarkan pernyataan bernada reaktif. Penjabat Bupati Mojokerto, Suwandi, yang muncul gara-gara sang bupati yang dijagokan Gus Dur, Achmady mundur karena melaju ikut Pilkadal Jatim justru bilang karyawisata bakal diperketat.

Ia bilang bus yang dipakai harus laik jalan. Tapi tak ada solusi disana. Soal biaya lebih besar yang dibutuhkan, saat kebutuhan buat menyewa alat transportasi dalam kondisi ideal datang. Mengenai kewajiban pemerintah buat membuat kesejahteraan bagi masyarakatnya bisa terwujud.

Soal subsidi. Soal kewajiban pemerintah menjamin rasa aman. Soal-soal yang memberikan kebahagiaan bagi warganya, ketimbang kepuasan semu.

Mendung juga menggelayuti salah satu halaman rumah orangtua dan kakak sopir bus nahas yang terdiri atas tiga bagian rumah dan terletak di Dusun Sidorejo, Desa Windurejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Pada salah satu bagian halamannya, teronggok sebuah bus tua bermerek Isuzu dengan nomor polisi berdasar pelat hitam, berkapasitas 30 penumpang yang juga dioperasikan untuk jasa pariwisata.

Satu unit Jeep CJ-7 yang dimodifikasi dengan memotong atapnya dan mengganti moncongnya serupa Jeep CJ-8 Wrangler juga terparkir rapi di garasi yang sekaligus dimanfaatkan sebagai bengkel ganti oli itu.

Sang sopir sendiri tak punya rumah.

Dua bus, satunya sudah hangus terbakar, itulah yang jadi rumahnya. Kini, pemilik usaha sekaligus sopir bus-bus pariwisata itu jadi tersangka.

Terbenam.



Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.