15 July 2008

Kerabat Sahabat

Nyaris empat tahun lalu tidak ada seorangpun percaya saya bisa berlari lagi.

Bahkan, mungkin, tak ada seorangpun yang berani menaruh keyakinannya pada kemungkinan apakah saya bisa berjalan lagi.

Dua aktivitas mendasar dari sebagian besar manusia yang sekarang ini terus saya nikmati dan syukuri sensasinya.

Nyaris empat tahun lalu itu hidup saya yang biasa tiba-tiba seperti direnggut. Tanpa pemberitahuan secuilpun, saya menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

Motor yang saya kendarai nyaris terbelah jadi dua. Helm pelindung kepala hancur berserpihan.

Engkel kaki kanan saya lepas dari kedudukannya. Menjuntai. Tulang paha kanan saya hancur dan berserakan entah kemana.

Tulang hasta dan tulang pengumpil tangan kanan saya patah dan menembus keluar kulit. Kepala sebelah kanan bocor tak beraturan.

Hari itu tanggal 5 Agustus 2004.

Motor bebek saya menghajar bagian depan sebuah mobil pick up jenis Mitsubishi L-300. Peristiwa tabrakan itu saya perkirakan terjadi dalam kecepatan tinggi.

Tak tahulah bagaimana persisnya.

Karena sampai hari ini saya hanya ingat kejadian beberapa saat sebelum peristiwa itu terjadi, ketika saya berhenti sebentar di pinggir jalan. Raungan sirene ambulan yang seakan mati dan hidup, karena kondisi tubuh saya yang tidak stabil, adalah ingatan pertama yang muncul berikutnya.


Enam kantong darah segar bergolongan O masuk ke sistem pembuluh darah saya untuk menggantikan banyaknya darah punya saya yang keluar deras. Sekedar mengembalikan tekanan dan menstabilkan fungsi-fungsi organ.

Berikutnya, untuk yang pertama kali dalam hidup saya, sejumlah logam asing tahan karat berbentuk lempengan dengan lubang-lubang baut di sisi-sisinya mendekam dalam tubuh saya. Benda-benda berupa lempengan logam mengilat itu dibor dan ditempelkan dengan baut ke bagian tulang tersisa sebagai penyangga guna menunggu jaringan tulang baru tercipta.

Tapi, perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai, dalam masa tujuh bulan berikutnya.

Tempat tidur, kursi roda, tongkat kayu, tongkat besi, dan serangkaian terapi ortopedi yang melelahkan adalah hari-hari berikutnya. Kenapa saya?


Adalah pertanyaan yang terus menggumpal dalam pikiran saya sepanjang hari-hari buntu itu.

Alhamdulillah, saya punya keluarga dan sahabat-sahabat sejati. Merekalah yang mampu mengubah pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki di seputar kecelakaan tragis itu dari “mengapa saya,” menjadi “kenapa bukan saya?”

Ya, mengapa bukan saya?

Mereka membangun semangat hidup saya lagi dengan beragam cara. Mulai dari pemberian buku-buku pencerah jiwa dan pembangkit motivasi, acara kumpul-kumpul dan ngobrol yang tak kenal henti, hingga mendorong-dorong kursi roda dimana saya naik di atasnya serupa pereli.

Bahkan, mereka mengajak saya ke stadion sepak bola untuk menyaksikan pertandingan. Seolah-olah tak terjadi apa-apa dengan diri saya.

Dampaknya sungguh dahsyat.

Kepercayaan diri saya bangkit. Paling penting, saya pulih lebih cepat dari catatan biasa kebanyakan penderita trauma serupa lainnya.

Ya, mengapa bukan saya?

Kenapa saya (sebelumnya) bisa kecewa dan melarang kecelakaan tragis itu menimpa saya? Bukankah, saya sejatinya bukanlah pemilik tulang-tulang itu?

Jadi, apa hak saya untuk menuntut agar mereka terus menerus berada di tempatnya. Jika memang mereka, pada saat itu, dikehendaki buat diambil, bukan hak saya untuk merengek-rengek minta mereka dikembalikan.

Soalnya jelas. Tulang-tulang itu bukan punya saya.

Tulang-tulang itu bukan hak-hak saya yang harus saya tuntut dan perjuangkan mati-matian bila ada yang hendak merebutnya.

Saat itu tulang-tulang itu sedang diambil, dan pasti akan diberi kembali jika memang dikehendaki. Maka, apa perlunya menyesali yang tak bisa dihindari dan menangisi yang tidak bisa dijalani.

Lagipula, masih tak terhitung orang yang mengalami penderitaan jauh lebih hebat daripada saya ketika itu. Dan, mereka tidak mengeluh sehebat saya berkeluh saat pertama kali mendapat musibah tersebut.

Tapi, sekali lagi, sebelum sampai pada tahap kesadaran seperti itu saya butuh banyak sekali orang di sekeliling saya. Mereka yang mengembalikan semangat hidup dan kembali mengembalikan gelegak hidup saya.

Keluarga dan sahabat-sahabat sejati saya.

Jadi, jika ditanya apa hal paling berharga dalam hidup? Saya dengan yakin, pasti akan menjawab, keluarga dan sahabat-sahabat yang saya miliki akan berada pada prioritas teratas hal berharga dalam kehidupan saya.

Jadi, jangan sekalipun bertaruh buat mengecewakan mereka. Maaf adalah kata pertama yang mesti diucap bila suatu ketika khilaf melanda.

Sekarang saya sudah bisa berlari dengan sempurna lagi. Lempengan-lempengan logam mengilat yang bautnya menancap dalam ke bagian-bagian tulang saya yang sebelumnya patah juga telah diangkat kembali.

Saya menaruh harap, anak saya pun akan bisa jadi orang yang diandalkan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Juga memiliki sahabat-sahabat dan keluarga yang bisa diandalkannya pula.

Kerabat dan Sahabat. Mereka sangat istimewa.

Status Hak Cipta

Seluruh tulisan yang tampil di halaman ini adalah buah karya saya yang disarikan dari berbagai pengalaman nyata dengan dukungan riset pada berbagai sumber yang saya baca, lihat, dengar, cium, dan rasa. Demikian pula halnya dengan foto-foto yang ada di seluruh halaman yang tampil, seluruhnya adalah asli hasil jepretan saya. Maka, saya melarang siapapun juga untuk menjiplak sebagian atau keseluruhan materi tulisan ataupun foto yang ada di halaman ini, tanpa didahului izin saya. Silahkan berdebat dan mari kita berdiskusi terhadap soal-soal yang tersaji disini. Juga saya senang sekali jika ada yang bisa memetik hikmah dan menjadikan materi di halaman ini sebagai buah renungan. Jika dikembangkan menjadi tulisan, saya makin gembira. Tapi jika dijiplak, mungkin saja saya tidak tahu dan tak akan menuntut di dunia. Namun jika bertemu lagi pada lanjutan episode dunia fana, saya akan minta tanggung jawabnya.